79 Lembayung senja menyelimuti dunia. Udara yang cukup dingin membuat jalanan menjadi lengang. Hujan yang sejak pagi turun menciptakan genangan air di beberapa tempat di luar halaman. Aku berselimut tubuh Aa' Andre, duduk bersandar di dadanya yang empuk. Menikmati degup jantungnya yang teratur seperti musik lagu dangdut. "Pi, filmnya ganti atuh," pintaku dengan manja. "Nggak, ini film favorit papi, dulu nontonnya di stasiun televisi swasta. Mana rebutan lagi sama kakak-kakak," tukasnya. "Emang dulu telivisi cuma satu?" "Ada dua, yang satunya dikuasai ayah nonton bola." Aku manggut-manggut. "Ehm, Pi, kalau mami perhatiin, keluarga Papi kayak menjaga jarak dengan keluarga besar ayah dan ibu. Kenapa?" tanyaku dengan rasa penasaran yang sangat tinggi. Aa' Andre terdiam sesaat.

