Am I Ready?

2028 Kata
Gilbert terdiam mendengarkan semua kisah yang diceritakan oleh Leander Grey. Pria dengan wajah yang nyaris serupa dengannya itu mengakhirinya dengan wajah murung. Sedikit banyak, Gilbert mengerti mengapa Kerajaan begitu memperhatikan keluarganya. Mereka lebih memilih memberikan kehidupan yang layak dan bagus untuk keturunan Grey agar tetap dalam kendali mereka. Raja merasa ketakutan selama generasi ke generasi dengan keluarga Grey, karena itulah, daripada memusnahkan keluarga Grey yang kemungkinan besar berdampak kepada mereka, Raja dan keluarganya memilih memperlakukan Grey secara istimewa. Ada dua cara dalam mengendalikan orang lain. Pertama, dengan menggunakan kekerasan, dan kedua dengan menggunakan kenikmatan yang tidak bisa ditolak sehingga orang tersebut merasa bergantung kemudian berada dalam kendali. Gilbert terkekeh pelan. "Kepercayaan Raja kah?" Gumamnya pelan. "Sekarang ini malah lebih terdengar seperti peliharaan Raja." Selama Gilbert hidup, ia selalu diberitahu oleh Ayah dan Kakeknya bahwa keluarga Grey sangat terhormat, keluarganya adalah kepercayaan Raja, keluarganya memiliki kemampuan yang tidak dimiliki bangsawan lain, keluarganya adalah yang terbaik makanya pihak Kerajaan mengistimewakannya. Ayah dan Kakeknya selalu mengatakan hal yang sama, berkali-kali, berulang-ulang hingga terkadang Gilbert muak mendengarnya. Nyatanya, semua keistimewaan dan kebaikan yang diberikan Raja kepada Grey tak lain hanya untuk mengendalikan Grey, membuat Grey tetap dalam kontrol Kerajaan. Sangat disayangkan karena Grey tidak pernah menyadari hal itu selama banyak generasi. Malah, sekarang ini Gilbert memandang leluhurnya seperti sekumpulan orang polos yang bodoh. Gilbert menatap Leander dengan pandangan tajam. "Bagaimana kau tahu semua itu? Kau mati lebih dulu sebelum Sionn menjadi seorang Marquess." Leander tertawa kecil. "Aku selalu melihat apapun yang berhubungan darah denganku dari sini, Gilbert. Tempat ini, dimensi gelap ini menahanku dari dunia dan dari kematian. Itulah mengapa iblís yang memiliki kontrak darah denganku masih belum bisa memakan jiwaku. Jiwaku akan tetap berada di sini sampai dendam itu benar-benar dibalas sepenuhnya." "Puteramu sangat bodoh. Sionn sangat bodoh sampai-sampai ia terlena dengan kenikmatan yang diberikan Raja padanya dan melupakan semua pengorbanan yang sudah dilakukan olehmu dan keluargamu. Apa kau tidak pernah berpikir bahwa sekian generasi terlahir dan dendammu belum juga terbalas karena Sionn?" Leander tersenyum kecut. "Kau mungkin benar. Sionn tidak sepandai dirimu, tidak pula memiliki tekad sebesar dirimu. Sionn hanyalah pemuda biasa yang tumbuh di hutan. Kupikir, sama sekali tidak seimbang membandingkan Sionn dengan dirimu. Kau jelas jauh berada di level yang lebih tinggi. Malahan, kau adalah level tertinggi dari kepala keluargaGrey yang pernah lahir ke dunia." Gilbert tertawa sinis. "Ini semua karena karakter, Leander. Kau pikir aku memiliki cukup banyak waktu untuk belajar? Aku menangani semuanya sendiri setelah kebakaran itu, setelah orang tuaku dibunuh. Aku juga menangani semuanya sendiri saat tubuhku hendak dijadikan tumbàl pemujaan. Lihat, aku bahkan sekarang bersama seorang iblís yang melayaniku. Sionn memiliki banyak kesempatan untuk membalas dendam, tetapi dia tidak melakukan apa-apa dan malah menikmati semua kemewahan yang diberikan Raja kepadanya. Dia mungkin masih ingin membalas dendam, namun dari kisah yang kau ceritakan, aku tahu dendam yang tidak benar-benar ia genggam itu perlahan lepas darinya. Dendam itu menghilang begitu saja sampai bertahun-tahun. Sampai kemudian, tragedi keluargaku mengembalikan dendam itu dan membuat kita bertemu dalam kegelapan ini." Gilbert benar-benar kecewa setelah mendengarkan kisah masa lalu Leander. Sebanyak itu dia menderita, tetapi Sionn melepas semua kesempatan untuk membalas dendam. Sionn bahkan melihat Ibunya sendiri mati dengan cara yang mengenaskan. Apakah dia sama sekali tidak merasa marah? Apakah nyawa Ibunya hanya seharga gelar Marquess yang ia terima dari Raja? Dan apakah Sionn tidak berpikir bahwa tindakan bodohnya itu berdampak kepada keturunannya selama generasi ke generasi. "Mungkin, itulah alasannya aku masih terjebak di dimensi gelap ini sampai bertemu denganmu. Hanya kau yang layak dan mampu untuk menyelesaikannya." Gilbert menatap Leander. Ia benci melihat wajahnya, karena rupa di hadapannya itu benar-benar sama dengan wajahnya sendiri hanya saja dalam versi yang lebih dewasa. Gilbert seperti melihat impian yang tidak mungkin, karena ia tidak akan pernah sampai ke umur yang sama dengan Leander. Gilbert yakin dia akan menyelesaikan dendamnya selama masa waktu yang relatif singkat. Ketika dendam itu akhirnya terpenuhi, Nicolin akan datang dan siap menyantap jiwanya. Gilbert memang nyaris tidak pernah memikirkan tentang kehidupannya sebagai seorang pria dewasa seperti bangsawan-bangsawan lainnya. Baginya, tidak ada gunanya memikirkan sesuatu yang jelas-jelas tidak akan terjadi. Namun terkadang, melihat wajah Leander membuatnya memikirkan hal itu tanpa bisa ia cegah. "Ada banyak generasi, Leander. Mengapa Raja masih memperlakukan keluarga Grey dengan sama? Maksudku, darimu sampai aku, itu sudah sangat lama. Ratusan tahun, Leander." Leander memejamkan matanya. "Ada satu ramalan yang dipegang oleh keluarga Kerajaan mengenai keluarga Grey. Dendam di masa lalu belum selesai, Gilbert. Mereka memperlakukan Sionn untuk mengendalikannya, tetapi mereka sebenarnya juga ketakutan. Mereka yang ketakutan akan melakukan cara apapun untuk menutupinya." "Ramalan?" "Kau lihat tanda heksagonal yang mirip denganku di tubuhmu?" Gilbert mengangguk. "Selamat, kau resmi menjadi seorang Ipsissimus sepertiku." Gilbert melebarkan matanya. "Apa?" "Ya. Aku melihat semua keturunanku dari dimensi gelap ini selama ratusan tahun, tetapi tak satu pun yang bisa menjadi Ipsissimus. Ayahmu, aku sempat hendak menampakkan diri kepada Ayahmu karena ia sangat cerdas dan kuat, tetapi hatinya terlalu suci untuk bertemu denganku. Tidak kusangka, kau dengan hati segelap itu lahir dari benih seorang pria yang sangat suci." Gilbert masih tidak mengerti. Ya, dia tahu Ayahnya sangat baik. Bahkan terkadang Gilbert kesal dengan kebaikannya itu. Ayahnya selalu menanggapi orang-orang yang membencinya dengan santai. Tidak sekali dua kali ia dijebal bangsawan lain, digunjing, difitnah, dan semacamnya. Tetapi pria itu selalu melupakannya dengan cepat, menganggapnya angin lalu dan kembali kepada kehidupannya sendiri tanpa dendam sedikit pun. Gilbert bahkan bertanya-tanya mengapa Ayahnya bisa bertahan di dunia mengerikan ini dengan hatinya yang sangat baik itu. Sementara itu, Gilbert sangatlah berbeda dengan Ayahnya. Bahkan sebelum tragedi kebakaran itu terjadi, hati Gilbert sudah dipenuhi hal-hal negatif. Seperti, hatinya memang diciptakan seperti itu. Skeptis, defensif, dan sikap-sikap lain yang intinya Gilbert tidak akan mudah percaya dengan orang lain. Ah, bahkan ia tidak pernah percaya kepada Ayah dan Ibunya sendiri meski keduanya sangat baik. Gilbert pikir, orang baik terlalu mudah dibodohi, dan ia tidak ingin berakhir seperti itu. Ia akan jadi sejahat mungkin jika memang itu satu-satunya cara bertahan pada dunia yang bóbrok ini. "Kau ditakdirkan, Gilbert. Ratusan tahun aku menunggu, akhirnya aku bertemu denganmu. Waktu yang sangat lama untuk penatian yang panjang." Gilbert melirik dingin. "Ramalan itu, apa yang dikatakan di dalam ramalan itu?" "Pada kegelapan yang pekat, bunga mawar merah akan mekar dari batang yang telah lama mengering, berduri sangat tajam. Siapa pun yang menyentuhnya, akan mati tertusuk duri. Aromanya sangat wangi, namun juga beracun. Sebelum kuncup itu mekar, tangkainya harus segera dipatahkan." Gilbert mengeryit. "Terdengar seperti puisi. Kau yakin ramalan yang dipercayai Raja dari ratusan tahun lalu berbunyi seperti itu?" "Bunga mawar merah adalah kau, Gilbert. Batang mawar yang telah lama mengering adalah keturunan Grey yang dikendalikan Raja selama generasi ke generasi. Duri-duri tajam nan beracun adalah jati dirimu. Kau sendiri yang mengatakan bahwa hatimu tidak akan pernah sebersih hati Ayahmu. Kau sangat indah, tetapi mematikan." Gilbert terdiam. Bunga mawar tidak ada yang beracun, atau setidaknya itulah yang ia tahu. Namun duri mawar memang seperti sisi lain dari keindahannya. Cantik, namun berbahaya. Gilbert sering mendengar Nicolin menyebutnya seindah mawar. Bibir Gilbert semerah bunga mawar, dan perjanjian kontraknya dengan Nicolin terpatri di lidahnya yang mana itu membuat Nicolin sering sekali mengusap bibir Gilbert ketika ia dalam mode iblisnya. "Lantas, bagaimana mereka tahu bahwa bunga mawar itu merujuk padaku?" Tanya Gilbert bingung. Leander tersenyum tipis. "Kau seharusnya tahu bahwa kau adalah keturunan Grey yang paling berbeda. Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa Ayah dan Kakekmu selalu mengatakan bahwa kalian istimewa di mata Raja? Lantas, kau, Gilbert, apa kau pernah berpikir seperti itu?" Gilbert menggeleng. "Aku tidak melihat hal itu sebagai keistimewaan. Maksudku, sebagai Marquess aku juga melaksanakan seluruh kewajibanku dengan sangat baik. Bahkan, beberapa bangsawan tua dan bodóh yang hanya mementingkan perut mereka tidak pernah melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga aku yang harus membenahinya." Leander mengangguk. "Gilbert, kau tidak pernah berpikir bahwa kebakaran mansion dan pencúlikan dirimu untuk tumbal pemujaan hanyalah kebetulan bukan?" Aura di wajah Gilbert mendadak gelap. Ia tidak pernah terbiasa membicarakan mengenai tragedi keluarganya. Tidak ada lagi perasaan sedih di hatinya, namun yang tersisa hanyalah dendam. Saat ini, jika pun ingin mengatakan apa yang membuat Gilbert tetap bertahan di usia belia dan sudah harus menjadi kepala keluarga Grey, maka jawabannya adalah hasrat balas dendam itu. Begitu besarnya rasa dendam yang terkumpul di hatinya sampai ia bisa menarik minat Nicolin untuk menawarkan kontrak darah dan menyelamatkannya dari ajal. Perjanjian darah memiliki syarat yang sangat kuat. Tidak sembarangan manusia bisa menarik perhatian sang iblís dan membuatnya bersedia melayani manusia meski bayarannya adalah jiwa. Hanya jiwa-jiwa tergelap yang begitu harum dalam penciuman sang iblís. "Kau baik-baik saja, Gilbert?" Gilbert mendongak. "Yeah." Ia kemudian menghela napas panjang. "Aku tidak akan berada di sini dan bertemu dengan arwahmu jika aku menganggap kebakaran itu tidak disengaja. Lagipula, orang bodoh mana yang berpikir bahwa kebakaran itu hanya kecelakaan. Terlebih, aku langsung dibawa untuk dijadikan tumbal hari itu juga." Leander tersenyum. "Baguslah, akhirnya aku bertemu dengan mawar berduri yang dimaksud." "Leander, bagaimana Kerajaan tahu bahwa mawar berduri yang dimaksud dalam ramalan itu adalah aku? Maksudku, ramalan itu sudah ada sejak masa Sionn yang artinya ratusan tahun silam bukan? Dari Raja di masa Sionn sampai Raja di masaku, tidak mungkin mereka memiliki pikiran yang sama. Menuduhku langsung rasanya juga tidak mungkin. Pasti ada alasan lain mengapa mereka langsung menyerangku dan keluargaku." Leander mengangguk. "Itu benar. Namun ramalan itu sudah ditafsirkan oleh para pendeta di masa Sionn. Ada banyak tanda untuk mengetahui siapa mawar berduri yang dimaksud. Pertama adalah kelahiranmu. Anak laki-laki keluarga Grey yang lahir ketika bulan merah terjadi adalah pertanda bahwa ia membawa kutukan bagi keluarga Kerajaan. Sampai saat ini, setelah Sionn mati dan Grey diteruskan oleh anak-anaknya, tidak ada satu pun anak laki-laki Grey yang lahir ketika bulan merah terjadi, dan tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki kekuatan Ipsissimus. Kedua, fisikmu. Sesuai dengan kalimat pada mawar merah yang indah namun berduri, hal itu menggambarkan visualmu yang begitu indah namun berbahaya. Kulitmu yang merona, bibirmu yang semerah darah, dua bola mata berwarna ruby darah merpati. Apa kau tahu bahwa keturunan Grey selalu memiliki warna mata biru, coklat, atau hitam dan tidak pernah bermata ruby darah merpati seperti dirimu? Lalu—" "Tunggu dulu." Sela Gilbert tiba-tiba. "Tidak ada yang pernah menjadi Ipsissimus setelah Sionn? Tapi aku juga bukan Ipsissimus, Leander. Aku memiliki tanda Ipsissimus itu hanya setelah kau terus-terusan menarikku ke dimensi gelap ini." "Ya, tetapi bukan berarti Ayahmu, atau Kakekmu, atau leluhurmu bisa menjadi Ipsissimus hanya karena aku berusaha menemui mereka. Jujur saja Gilbert, ratusan tahun aku melihat seluruh keturunanku dari dimensi gelap ini, hanya kau yang berhasil kutarik masuk ke dalamnya. Selain itu, kau juga penasaran denganku setelah sekali bertemu denganku dalam pikiranmu. Apa kau masih berusaha menyangkal bahwa kau adalah sosok dalam ramalan itu?" "Aku tidak meragukannya, aku hanya merasa aneh." Leander menghela napas. "Aku mengerti. Lagipula, kau juga tidak mungkin langsung menerima seluruh kisahku hanya dalam sekali dengar. Hanya satu hal yang perlu kau ingat, Gilbert. Kau telah bertemu denganku. Kau adalah keturunanku yang ditakdirkan. Keluargamu dibunuh karena mereka tahu kau adalah sosok dalam ramalan itu, yang akan menghancurkan seluruh keluarga Kerajaan. Karena itulah mereka membakar mansion Grey, berharap Ayah dan Ibumu serta satu-satunya keturunan Grey musnah. Bukankah mereka bertanya-tanya mengapa kau masih hidup beberapa hari usai kebakaran itu? Ada banyak yang menggunjing dirimu bukan? Lalu, tidak lama setelah kau kembali ada banyak masalah di seluruh wilayah Kerajaan yang sulit untuk dijelaskan secara logika. Lantas, apalagi yang ingin kau sangkal dari semuanya?" Gilbert tidak menyangkal—atau setidaknya ia berusaha untuk tidak menyangkal. Gilbert hanya ragu. Apakah sosok di hadapannya ini benar-benar leluhurnya? Apakah kebakaran mansion Grey benar-benar karena ramalan tersebut? Gilbert tidak bisa untuk tidak percaya. Ia bahkan memanggil sesosok iblís untuk melayaninya. Bertemu jiwa yang tersesat rasanya bukan hal yang aneh. Namun sekali lagi, hatinya masih belum bisa menerima sepenuhnya apa yang ia dengar dan lihat. Ia belum bisa sepenuhnya percaya pada apa yang sedang terjadi. Gilbert melirik Leander yang juga menatapnya. Ah, wajah serupa itu. Gilbert benar-benar melihat wajah yang begitu sama dengannya. Semua yang diceritakan Leander memang masuk akal, dan Gilbert sebenarnya juga tidak benar-benar mengabdi kepada Raja. Ia hanya melaksanakan apa yang harus ia laksanakan. Sekarang ketika segalanya terungkap, apakah ia benar-benar siap untuk melawan seluruh keluarga Raja? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN