“Ngomong-ngomong, apakah Tuan tertarik kepadanya?” tanya Dorothy menggoda.
Nicolin tertawa. “Kurasa semua pria pasti akan tertarik dengan wanita sepertinya, tapi aku hanya sekadar mengagumi pembawaannya. Lagipula, tidak mungkin orang sepertiku bisa berbincang dengan level khusus sepertinya. Dia hanya milik orang-orang kelas atas ‘kan?”
Dorothy ikut tertawa. “Benar. Tapi jangan merendah seperti itu, Tuan.”
“Daripada itu, mengapa kau bilang jika Nell Gwyn tampak berbeda? Aku benar-benar penasaran dengan rumor yang santer sedang dibicarakan, tapi seperti yang kau lihat, aku hanyalah pemula yang baru menginjakkan kaki kemari. Mungkin, aku bisa mendapatkan lebih banyak pengetahuan?”
Dorothy menggaruk tengkuknya. Ia sesekali melirik Nell Gwyn. “Aku tidak begitu akrab dengannya, um…. Kurasa memang tidak ada yang benar-benar akrab dengannya. Tapi, bukan berarti aku tidak pernah berinteraksi dengannya. Dia itu, selalu tampak bersinar kapan pun di mana pun, dia selalu baik kepada kami meski banyak dari kami yang iri dan membencinya. Mungkin ini terdengar agak klise, tapi aku mengenal tatapan matanya. Ketika dia kembali, aku tidak bisa untuk tidak merasa senang. Meski aku tidak akan bisa sepertinya, tetapi aku menghormatinya. Saat akhirnya aku memiliki kesempatan untuk berbincang dengannya lagi, pandangan matanya benar-benar dingin, seolah dia tidak pernah mengenalku. Bagaimana mengatakannya ya, rasanya dia seperti orang lain, benar-benar orang yang lain.”
Nicolin mengusap dagunya. “Hee…. Apa dia mengalami sesuatu selama pergi?”
Dorothy mengangkat bahu. “Aku tidak tahu, Tuan. Kurasa memang tidak banyak yang kuketahui. Aku hanya merasa curiga jika dia mengalami sesuatu yang buruk selama pergi.” Dorothy kembali memajukan wajahnya sembari melirik sekitar. “Sebenarnya, aku curiga Nell Gwyn dipaksa melakukan sesuatu oleh seseorang. Meski level atas sepertinya tampak diperlakukan dengan baik secara khusus, bukan berarti lepas dari dimanfaatkan bukan?”
Nicolin mengernyit. “Benarkah? Kukira wanita penghibur dengan level atas sepertinya diperlakukan layaknya wanita bangsawan. Yeah, setidaknya itulah yang kudengar dari teman-temanku.”
Dorothy mengibas-ngibaskan telapak tangannya. “Kelihatannya saja seperti itu. Aku pernah tidak sengaja mendapati Nell Gwyn dipaksa untuk membunuh bayinya sendiri atau dia yang akan dibunuh.”
“Hah? Kau yakin?”
“Aku mungkin sangat ceroboh sampai-sampai menceritakan hal-hal seperti ini kepada orang yang baru saja kutemui, tapi kurasa berada di distrik ini sejak lama membuatku terbiasa membicarakan hal-hal tabu atau rumor yang sedang ramai secara bebas. Maksudku, distrik ini bahkan tidak memiliki tata krama ‘kan?” Ia kemudian tertawa.
Nicolin tertawa. “Tenang saja, bangsawan kelas bawah sepertiku tidak bisa seenaknya melaporkan sesuatu. Kalau pun aku mengatakan bahwa kau telah mencemarkan nama salah satu bangsawan, belum tentu juga mereka akan percaya.”
Dorothy mengangguk. “Aku baru pertama kali bertemu dengan Tuan, tapi seru sekali bisa membicarakan hal-hal seperti ini. Kebanyakan pelanggan hanya butuh meniduriku. Kurasa bahkan aku sampai tidak begitu melihat wajah mereka. Wanita-wanita sepertiku hanya bagaikan toilet untuk membuang-buang benih mereka.”
“Jangan bicara seperti itu, kurasa bisa berbincang dengan seru seperti ini lebih menyenangkan. Aku bahkan rela membayarmu lebih banyak jika kau mau menemaniku berbicara, seperti membahas tentang hal-hal yang kau bicarakan tadi. Sekadar informasi saja, aku juga suka mendiskusikan hal-hal berbau misteri atau rumor-rumor yang tengah ramai dibicarakan. Karena dengan begitu, aku bisa ikut menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Kau tahu? Seolah sedang ikut menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.”
Dorothy tampak berbinar senang. Ia menarik telapak tangan Nicolin dan menangkupnya dengan kedua tangan. “Sungguh? Woah, aku tidak menyangka bisa menemukan teman bicara yang menyenangkan.” Ia kemudian tersadar dan melepaskan genggamannya. “Ma-Maafkan aku, Tuan. Harusnya aku tidak menyentuh bangsawan sembarangan.”
“Tidak masalah. Apa kita bisa keluar dari sini?”
Dorothy mengangguk semangat. “Kita bisa ke belakang. Di sana biasanya tidak ramai, dan bisa digunakan untuk berbincang dengan santai. Jika Tuan mau?”
Nicolin mengangguk. Ia pernah bersama dengan seorang wanita sebelumnya, ketika ia mencari informasi tentang hilangnya Nell Gwyn dan keempat p*****r lainnya. Nicolin telah memastikan bahwa area itu jarang dikunjungi dan memang tampak lebih kosong daripada di depan.
Dorothy tampak benar-benar senang dan terus bersenandung kecil selama melangkah menuju belakang bangunan. Kaki-kaki kurusnya bahkan sedikit melompat ketika ia berjalan. Surai pirangnya berayun bersamaan dengan kepalanya yang terus menggeleng kecil.
“Nona Dorothy.”
Wanita muda itu menghentikan langkah dan berbalik. Nicolin berdiri, menatapnya lurus. Pandangan ramah yang sebelumnya ia berikan berganti dengan sorot mata tajam khas iblisnya.
“Tu-Tuan? Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku tidak sopan?”
Nicolin mendekat, dan Dorothy reflek memundurkan tubuhnya. Tangan kanan Nicolin menutup wajahnya, sebuah cahaya kemerahan berpendar, mengubah wajahnya menjadi Nicolin pelayan keluarga Grey. Sementara itu, saking terkejutnya Dorothy membeku dengan kedua belah bibir terbuka lebar.
“Bekerjalah denganku, Ripper.” Nicolin mengulurkan tangannya.
Dorothy berlutut dengan kepala menunduk. Getar ketakutan tampak sangat jelas. “Si-Siapa sebenarnya kau?”
“Aku seorang pelayan.” Jawab Nicolin tenang. “Aku mengenal identitasmu sebelum kau berhenti dan memilih bekerja sebagai wanita penghibur. Katakan, kau rindu dengan kehidupanmu sebelumnya yang menantang, bukan?”
“Aku tidak melayani siapa-siapa. Aku hidup untuk diriku sendiri.”
Nicolin tertawa. “Kau yakin masih ingin mengatakan hal itu?” Nicolin berjongkok, menarik dagu Dorothy dengan jemarinya. Perlahan, wajah rupawannya yang selalu ia tampilkan sebagai Nicolin sang pelayan Gilbert Grey memudar, sepasang taring tajam tumbuh, dua tanduk besar mencuat dari kepalanya, dan sayap hitam membentang dari tulang belikatnya. “Katakan, apa kau masih tetap ingin hidup untuk dirimu sendiri?”
Iris sewarna crimson mengilat tajam. Jemari yang digunakan Nicolin untuk menarik dagu Dorothy berubah memiliki kuku-kuku tajam berwarna hitam legam. Tarikan itu menggores kulit dagu Dorothy dan menteskan darah darinya. Tubuh Dorothy bergetar hebat, kedua matanya melotot dengan napas tersengals-sengal. Rasa takut memuncak, membuatnya bahkan sama sekali tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Katakan, kau akan mengabdikan dirimu untuk Tuanku.” Kalimat itu dilontarkan dengan suara tajam dan berat seolah berada dari dasar tenggorokan.
Dorothy tidak memiliki kekuatan bahkan hanya untuk menjawab, dan rasa takut dari melihat wujud asli Nicolin membuatnya hanya mampu mengangguk kecil dengan pasrah. Nicolin tersenyum puas, seluruh wujud iblisnya perlahan memudar tergantikan dengan wujud pelayannya yang biasa.
Dorothy berjengit ketika Nicolin mengusap bahunya. “Kau tidak akan menyesali ini, Ripper. Dapatkan informasi apapun itu tentang kembalinya Nell Gwyn.”
Wanita muda itu hanya mampu mengangguk lemah, kedua matanya mengikuti langkah Nicolin yang menjauh hingga sirna ditelan kegelapan.
---
Distrik lampu merah selalu menyediakan berbagai hiburan yang diinginkan orang-orang kaya. Keberadaan distrik itu seolah benar-benar kontras. Ada batasan di mana mereka memisahkan antara kehidupan aslinya dengan saat-saat di mana melepaskan penat. Karena itulah, distrik hiburan selalu menjadi tempat yang memiliki banyak sekali informasi. Banyak orang datang dan pergi dengan beragam informasi.
Dorothy memejamkan matanya, ia berdiam diri di ruangannya sejak Nicolin meninggalkannya dalam ketakutan hebat. Segala hal berubah dengan cepat, termasuk rasa senang dan tertarik dalam diri Dorothy yang langsung terganti dengan rasa takut dan terancam. Ia sangat bahagia ketika menemukan seorang bangsawan yang lebih memilih berbicara daripada hanya sekadar menidurinya. Dengan santai ia mengikuti perkataannya, berharap akan mendapatkan topik yang seru dan teman bicara yang menyenangkan, tanpa waspada sama sekali. Dorothy tidak pernah bertemu dengan seseorang—ugh, jika bisa dikatakan sebagai manusia, yang memiliki aura intimidatif setinggi pria itu.
Dorothy mengusap wajahnya. “Mahkluk apa dia itu sebenarnya?” gumamnya pelan.
Dorothy berniat menghapus masa lalunya dengan menjual dirinya sendiri kepada bangsawan-bangsawan m***m yang mengunjungi rumah hiburan tempatnya bekerja. Ia memiliki masa lalu yang cukup menyeramkan meski dirinya sama sekali tidak menyesal dengan hal itu.
Suatu hari ketika dirinya berumur lima tahun, ia terbangun pada sebuah ruangan bawah tanah bersama dengan anak-anak seusianya yang lain. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya berada di tempat itu. Ia tidak begitu ingat detail kejadian masa lalunya. Yang jelas, Dorothy ingat dibawa untuk diasuh kepada seorang wanita gemuk yang selalu merias wajahnya dan memakai gaun berwarna-warni. Nama Dorothy sebenarnya adalah pemberian wanita gemuk itu karena ia entah mengapa tidak ingat namanya sendiri.
Ia tidak tahu apapun yang terjadi hingga dirinya yang berumur sepuluh tahun mulai dipaksa untuk melayani pria-pria m***m yang mengunjungi rumah si wanita gemuk itu. Dua tahun ia melakukannya, hingga suatu hari ia merasa benar-benar tidak tahan dan menyembunyikan pisau dapur di bawah bantal sebelum seorang pria yang mengunjungi rumah si wanita gemuk itu bertemu dengannya. Tepat ketika pria itu hendak menyentuhnya, Dorothy langsung menusuknya dengan pisau dapur tepat di bagian d**a kiri sekuat tenaga. Dorothy tidak hanya menusuknya sekali, tetapi menarik pisau itu dan menusukkannya secara acak berkali-kali. Ia bahkan dengan kejam menarik tusukan pisaunya dari d**a pria itu sehingga membentuk luka menganga yang menguncurkan banyak darah.
Ia kabur setelahnya, berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu. Ia menyadari ada rasa aneh di dadanya usai melakukan itu. Rasa tertarik yang amat besar, kebebasan, dan…. Rasa bahagia yang sangat sulit dideskripsikan. Dorothy menyukai sensasinya. Ia tahu jika membunuh adalah tindakan yang salah, tapi sisi lain dirinya berpikir bahwa membunuh orang jahat tidak salah. Jika tidak ada orang baik yang bisa membunuh orang jahat, maka biarkan sesama orang jahat saja yang membunuhnya. Maka, mereka yang termasuk orang-orang baik itu tidak perlu mengotori tangan mereka.
Didorong oleh pemikiran seperti itu, Dorothy meneruskan aksinya. Ia tidak memiliki tempat tinggal yang pasti dan hanya berjalan kemana saja ia mau. Ia mengamati sekitarnya, melihat tingkah laku orang-orang disekitarnya dan merobek tubuh mereka yang jahat. Dorothy benar-benar merasa puas ketika merasakan cipratan darah korbannya membasuh wajah dan tubuhnya. Bau anyir menyengat, rasa lengket, dan warna merah yang indah. Warna merah pekat darah tampak berkilau di kegelapan malam, dan Dorothy benar-benar menyukainya. Hingga ia tak lagi menganggap tindakannya sebagai bantuan kepada mereka yang termasuk orang-orang baik, melainkan hanya memuaskan hasrat di dalam hatinya.
Kesenangan.
Kriminal-kriminal atau orang-orang busuk yang bersembunyi di balik topeng wajah berwibawa ia bereskan dalam sekejab mata. Dorothy pikir, ia tidak begitu kejam karena ia selalu mengeksekusi korbannya dengan cepat, tanpa ada penyiksaan. Memastikan mereka mati hanya dengan robekan dari pisaunya. Ya, dia tidak jahat. Dia hanya membalas orang-orang jahat.
Lalu, kematian-kematian yang identik itu menjadi ramai dibicarakan. Seperti biasa, orang-orang akan mulai membuat rumor versinya masing-masing dan menebak-nebak siapa sebenarnya yang melakukan itu. Tapi toh, tidak ada dari mereka yang tampak keberatan. Karena pada dasarnya, orang-orang itu lebih baik mati daripada menyusahkan orang lain.
Dan nama Ripper tercipta setelahnya karena tidak ada yang pernah mengungkap siapa pembunuh yang sebenarnya. Mereka memakai nama itu karena Dorothy selalu merobek tubuh korbannya. Bertahun-tahun ia melakukannya, bertahun-tahun ia berlumuran darah, hingga rasanya ia sampai hapal bagaimana aroma darah bahkan ketika ia tidak sedang melakukan pembunuhannya.
Lalu rasa bosan mulai menyerangnya. Rasa b*******h yang ia terima ketika pertama kali ia melakukan pembunuhan tak lagi muncul. Ia tetap melakukannya selama beberapa tahun kemudian, hanya karena ia mendengar orang-orang diam-diam senang karena dengan kehadirannya di balik nama Ripper mereka bisa terbebas dari orang-orang jahat yang munafik bertampang wibawa. Hari demi hari, ia semakin merasa bosan. Tidak ada lagi sensasi menegangkan ketika merobek tubuh korbannya, tidak ada lagi sensasi menyenangkan ketika terciprat darahnya, semuanya terasa biasa saja. Dan Dorothy semakin kehilangan hasrat untuk meneruskan hal itu.
-----