Leander tidak mengerti mengapa semua ini tiba-tiba terjadi. Selama lima belas tahun lebih ia hidup bersama Eda di hutan hingga mempunyai Sionn, sama sekali tidak ada yang mengganggu mereka. Dalam kurun waktu itu, ia juga sama sekali tidak kembali ke mansion Swinford, ia tidak pernah menginjakkan kaki di tanah keluarganya, pun mengambil harta berharga di sana padahal Leander tahu bahwa masih ada banyak simpanan harta keluarga. Ia sengaja melupakan semuanya, dan baru menceritakan tentang keluarganya beberapa waktu yang lalu. Leander yakin ia tidak pernah berurusan dengan bangsawan dan jajarannya setelah hidup bersama Eda. Sionn juga tidak pernah keluar dari hutan. Lalu mengapa? Tidak mungkin istri dan anaknya diserang secara acak oleh penjahat yang kebetulan melewati hutan. Rumah kayu mereka bahkan tidak tampak menjanjikan untuk didatangi pencuri, dan pencuri tidak akan merobek perut Eda hingga mengenaskan seperti itu.
Leander menggigit bibirnya. Beragam prasangka muncul, namun tidak ada yang sampai pada kesimpulan pasti. Ia menatap Eda prihatin, kemudian segera berlari keluar untuk Sionn.
“Sionn! Sionn!”
Sionn bernapas pendek-pendek. Ada beberapa memar di tubuhnya, tetapi sepanjang yang Leander lihat tidak ada luka yang cukup serius. Kemungkinan, pemuda itu kelelahan karena mempertahankan diri.
“Ayah….” Sionn menangis, dan hanya dengan melihat sinar mata pemuda itu, Leander tahu bahwa Sionn telah melihat hal yang mengerikan sebelumnya.
Leander menarik tubuh anaknya dan memeluknya erat-erat. Sionn semakin menangis sejadi-jadinya di pelukan Leander. Ia berkali-kali meneriakkan panggilan untuk Eda termasuk permintaan maaf berulang yang semakin merobek hati Leander. Leander bahkan sudah lupa bagaimana rupa Sionn ketika menangis karena anak itu lebih banyak menyembunyikan emosinya. Sionn yang selalu kalem bisa sampai histeris seperti ini.
“Sudah, sudah, Sionn. Tenangkan dirimu dan ayo kita obati lukamu.”
Sionn melepaskan diri dari pelukan ayahnya dan meringis kecil ketika memar di pinggangnya tidak sengaja terbentur tanah. “Aku tidak apa-apa, Ayah.”
“Kau terluka, Sionn. Jangan bilang kau tidak apa-apa di saat kau tergeletak dengan banyak memar, berdarah, dan mimisan.”
Sionn tidak menjawab apa-apa lagi ketika Leander menggendongnya dan membawa tubuhnya untuk duduk di bawah pohon beberapa meter di depan rumah mereka.
“Untuk saat ini, kau harus tenangkan dirimu dan ceritakan semuanya kepada ayah.”
Sionn mengangguk lemah. “Baik, ayah.”
---
Leander berangkat dari rumah pagi-pagi sekali untuk menjual hewan buruan dan tumbuhan-tumbuhan di hutan yang kemudian digunakannya untuk mendapatkan obat. Eda tidak menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang signifikan melainkan malah memburuk seiring waktu. Karena itulah, Leander keluar dari hutan setiap bulan untuk mendapatkan persediaan obat untuk istrinya. Sionn ditugaskan untuk menjaga Eda, dan memastikan wanita itu mendapatkan apa yang ia butuhkan selama Leander pergi untuk mendapatkan obat. Perjalanan ke kota termasuk sampai menjual habis barang-barang yang ia bawa dari hutan memakan waktu sangat lama dan Leander biasanya akan pulang ketika petang menjelang.
Hanya tidak lama usai Leander pergi, Sionn keluar dari rumah sebentar untuk mengambil air di mata air yang berada tidak jauh dari rumah mereka. Ia bisanya bersama Leander mengisi tempat persediaan air untuk beberapa hari. Tetapi karena tempat itu cukup berat, Sionn tidak bisa mengisinya sendirian. Ia tidak berlama-lama dalam mengisi air. Kondisi Eda tidak memungkinkan untuk ditinggal terlalu lama, dan Sionn juga tidak tega meninggalkan ibunya lama-lama.
Sionn baru saja hendak masuk ke dalam rumahnya ketika ia mendapati pintu kayu rumahnya yang ia ikat dari luar terlepas dan membuka sedikit. Meski Sionn tidak banyak tahu tentang orang lain karena ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam hutan, ia tahu bahwa tidak mungkin ada binatang yang secara tidak sengaja melepaskan ikatan tali itu. Tidak peduli lagi dengan air yang diambilnya, Sionn melepaskan begitu saja bambu wadah air miliknya dan segera berlari menghambur ke dalam rumah.
“Ibu! Apa kau baik-baik saj—“
Sionn membelalak. Dua orang pria dengan jubah hitam, tudung, dan juga topeng berwarna putih pucat menoleh saat mendengar suara Sionn. Mereka yang panik langsung menyerang Sionn bersamaan, memukulnya bertubi-tubi. Sionn selama ini memang tidak diajarkan untuk bela diri karena mereka pun di hutan tidak selalu bertemu dengan orang lain. Leander mengajarkannya untuk menjaga diri dari serangan hewan buas. Ajaran itu memang cukup berguna, namun tidak terlalu berhasil. Dua orang pria itu memiliki kemampuan yang mumpuni, dan Sionn dengan tubuhnya yang tidak seberapa kurang bisa mengimbangi serangan mereka.
“Kalian ini sebenarnya siapa?”
Salah satu dari mereka terkekeh. “Utusan yang akan membasmi iblis.”
Sionn tidak mengerti. Dan memangnya iblis itu ada? Leander tidak pernah mengatakan hal-hal semacam itu. Bahkan meski sebelumnya ayahnya bercerita soal keluarganya yang dituduh penyihir, pada dasarnya Sionn tidak begitu mengerti tentang pratik sihir dan semacamnya.
“Apa maksud kalian?”
“Kau ini anak si iblis itu kah? Kurasa kita juga harus membunuhmu kalau begitu. Tidak akan kami biarkan benih iblis tumbuh di dunia ini.”
Sionn semakin tidak mengerti dengan racauan penuh amarah mereka. keduanya menekan tubuh Sionn hingga pemuda itu menempel pada dinding kayu rumahnya. Dua orang dengan perawakan kekar melawan seorang pemuda bertubuh standar bukanlah hal yang seimbang. Susah payah Sionn menahan gerakan mereka. Sionn menunduk, memusatkan kekuatan tubuhnya di tangan dan tumpuan kakinya, kemudian dengan kekuatan penuh ia mendorong kedua lelaki itu hingga terlepas dari pegangannya terhadap tangan Sionn.
Sionn terbiasa melihat gerakan babi-babi hutan ketika menyusuri hutan bersama ayahnya, dan bukan hal yang jarang bagi mereka secara tidak sengaja diserang salah satu babi hutan karena dianggap mengganggu wilayah. Saking seringnya hal itu terjadi hingga Sionn hapal bagaimana gerakan mereka. Ia hanya bertaruh kepada keberuntungan saat menggunakan gerakan itu, dan bersyukur saat melihat kedua lelaki itu terdorong mundur dan terjatuh karena ketidakseimbangan tumpuan pada kaki mereka sendiri.
Sionn menarik napas kuat-kuat dan segera berlari ke ranjang ibunya. Wanita itu terbaring sekarat dengan luka tusuk cukup dalam di bagian perut. Ia memegangi bagian itu dan menatap Sionn dengan pandangan kaburnya.
“Ibu!!!”
“Si…onn.”
Eda mengulurkan tangannya yang berlumuran darahnya sendiri, meminta Sionn untuk mendekat. Sionn tidak mengabaikan hal itu dan segera saja menangkap telapak tangan Eda. Melihat ibunya yang setiap hari kesakitan sudah cukup menyakiti hatinya, dan sekarang Sionn harus melihat ibunya dalam keadaan sekarat seperti itu. Hanya dengan melihat kondisi Eda, Sionn tahu bahwa ibunya tidak akan selamat, apalagi dengan masih adanya kedua lelaki yang menyerangnya. Sionn bahkan tidak bisa menjamin nyawanya sendiri.
“Grey…. Grey harus terus hidup, ohokh.” Eda memuntahkan darah ketika ia berusaha sekuat tenaga untuk mengatakan kalimat–kalimat terakhirnya.
Sionn menggenggam telapak tangan ibunya erat-erat, menggertakkan giginya penuh amarah. Kedua pria bertopeng itu bangkit berdiri dan menarik paksa tubuh Sionn dari Eda. Sementara salah satu dari pria itu menahan tubuh Sionn, yang lainnya menarik pisau besar dari dalam sakunya, sekilas ia menoleh, menampilkan seringai samar dari balik topengnya. Hanya teriakan kesakitan yang bisa didengar Sionn ketika pria itu menancapkan pisaunya ke perut ibunya. Teriakan Eda tidaklah lama karena wanita itu langsung kehilangan nyawanya saat pria yang menusuknya menarik pisau besar itu, membentuk robekan lebar di perut Eda.
Sionn menggeram marah, menggeliar sekuat tenaga melihat ibunya dibunuh dengan keji. Kenapa? Kenapa mereka tiba-tiba datang dan menghancurkan keluarganya begitu saja? Beragam pertanyaan muncul di kepalanya. Jika itu karena ayahnya dan masalah keluarganya di masa lalu, mengapa mereka mengejar keluarganya lagi setelah lebih dari lima belas tahun seolah melupakan permasalahan itu.
Usai selesai menghabisi nyawa Eda, lelaki itu mendekat kea rah Sionn dan menarik kerah pakaiannya.
“Kau! Benih iblis!”
Sionn mengerutkan dahinya. “Apa maksudnya?”
“Kukira Leander Swinford sudah mati saat ia tidak lagi berkeliaran di kota. Kutebak, mungkin dia menjadi gila dan kemudian bunuh diri karena kehilangan keluarganya. Siapa sangka, si iblis itu mengungsi ke hutan dan bahkan memiliki anak.”
“H-Huh?”
“Beberapa penjaga di ibu kota melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Leander Swinford. Ia selalu datang ke tempat yang sama untuk membeli obat. Kami semua tidak percaya, dan berpikir mungkin saja dia hanya warga yang kebetulan mirip. Sudah lebih dari lima belas tahun berlalu sejak ia kehilangan keluarganya, tidak mungkin dia tiba-tiba muncul di kota. Tapi kami tetap menyelidikinya untuk kepentingan dan keamanan. Kami datangi toko obat yang selalu didatangi Leander, tetapi pemilik apotek itu mengatakan bahwa pembelinya yang rutin datang sebulan sekali bernama Grey. Kami memikirkan dua kemungkinan, tidak mungkin Leander akan menggunakan nama aslinya jika memang ia benar yang datang ke tempat itu, atau memang dia bukanlah Leander. Kami mengawasi gerakan pria yang mirip Leander itu, dan menemukan informasi mengenai tempat ini. Terima kasih kepada si apoteker karena kami bisa menemukan sarang iblis itu. Sayang sekali hanya ada istri dan anaknya, tapi tidak masalah. Dengan begini, dia pasti akan menunjukkan dirinya dan kami lebih mudah membunuhnya. Kasihan sekali kau, harus menerima penderitaan padahal kau tidak tahu apa-apa.” Salah satu dari lelaki yang tengah bercerita itu menggeleng prihatin. Ia menarik segenggam rambut Sionn di bagian depan dan menariknya kuat-kuat hingga memaksa Sionn mendongak.
“Mengatakan orang lain sebagai iblis padahal kau adalah seorang pembunuh keji. Apa Istana isinya orang-orang paranoid yang kemudian melakukan hal-hal keji hanya untuk menghapus ketakutan mereka huh?”
Salah satu dari pria itu semakin menarik rambut Sionn, membuatnya reflek mendesis karena sakit. “Leander mengajarkanmu caranya bicara, huh.”
Sebuah pukulan dilayangkan sekuat tenaga ke perut Sionn, membuatnya membelalak kaget karena rasa nyeri luas biasa dari pukulan itu.
“Swinford harusnya sudah mati, dan tidak ada lagi keturunan penerusanya. Siapa sangka Leander masih berpikir untuk membuat seorang anak demi penerus keluarganya.”
Sionn menatap keduanya dengan pandangan tajam. “Swinford memang sudah mati. Tidak ada lagi Swinford di dunia ini. Kau pikir kenapa ayahku memutuskan untuk menjauh dan tinggal di hutan? Takut? Tentu saja tidak, bodoh! Ayahku hanya ingin menghapus sosoknya yang dulu dan memulai kehidupan baru sebagai sosok yang baru. Beliau bahkan tidak pernah memberiku nama belakang Swinford. Tapi sepertinya ayahku memang terlalu baik, dia seharusnya merencanakan plot balas dendam untuk kalian selama lebih dari lima belas tahun ini, tapi dia tidak melakukannya. Sebaliknya, dia menyimpan rapat-rapat kisah itu dan fokus kepada keluarga kecilnya. Orang-orang yang bahkan tidak bisa memposisikan dirinya di tempat orang lain kemudian seenaknya meneriakkan panggilan iblis, bukankah lebih cocok menjadi iblis itu sendiri huh?”
Kedua terdiam, tetapi Sionn bisa dengan jelas melihat kemarahan dari tatapan mata di lubang topeng putih pucat itu. Keduanya menarik Sionn, membawanya keluar rumah kemudian membantingnya dengan keras. Tidak sampai disitu, mereka lanjut menghajar Sionn hingga ia babak belur.
“Kami ingin sekali membunuhmu, tapi kami butuh kau untuk menjelaskan semuanya kepada ayahmu itu. Berbahagialah, kau masih bisa menatap dunia kali ini. Lain kali saat kita bertemu lagi, kupastikan tubuhmu hancur lebih parah dari ibumu.”
Sionn tidak mampu lagi membalas ucapan mereka. Ia hanya menatap langkah mereka yang menjauh. Seluruh amarah dan kesediahannya bercampur menjadi satu, tetapi tubuhnya yang lelah dan kesakitan tidak mampu membantunya untuk langsung membalas perbuatan keji mereka. Sionn memejamkan matanya bersamaan dengan derasnya air mata yang mengalir meratapi kematian mengenaskan ibunya.
---
Leander kehilangan keseimbangannya dan jatuh dengan tubuh super lemah sesaat usai ia mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Eda dan Sionn. Lebih dari lima belas tahun ia berusaha melupakan semuanya, memulai hidup baru dengan orang-orang baru, sengaja melupakan nama keluarga lamanya, dan pada akhirnya mereka tetap mengejarnya. Eda bahkan harus meninggal dengan cara tragis seperti itu karena mereka tetap mengejar Leander, dan Sionn yang tidak mengerti apa-apa juga terluka.
“Maaf, ayah. Seharusnya aku melindungi ibu, tapi ibu—“
Leander mendekat dan langsung memeluk puteranya sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Leander tahu bagaimana rasanya melihat keluarga yang disayangi mati dengan cara mengenaskan tepat di depan matanya. Bertahun-tahun hal itu menjadi trauma untuknya sendiri dan ia tidak mau Sionn mengalami hal yang sama. Dia adalah satu-satunya harta berharganya, yang diberikan Eda untuk membangun keluarga baru yang lebih baik. Tapi sial, orang-orang dari istana itu tetap mengejarnya.
Suara tangis Sionn mengingatkannya pada rintihannya sendiri. Ia menangis dengan hati yang terasa sangat sakit sendirian, belum lagi dengan cemooh orang-orang di sekitarnya. Ia tidak mau Sionn mengalami hal mengerikan itu. Ia ingin Sionn menjadi seseorang yang bahagia. Tapi sepertinya, tidak semudah itu mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan di tengah zaman mengerikan seperti ini.
“Kita harus membalas mereka, ayah.”
Leander melepaskan pelukannya, menatap Sionn yang secara tiba-tiba merubah ekspresinya. “Aku tidak ingin melihat orang-orang yang membunuh ibu dengan kejam hidup bebas begitu saja.”
Leander mengangguk. Gurat lembut dan baik hati di wajahnya sirna, tergantikan dengan sorot mata tajam penuh murka. “Swinford telah lama mati, sekarang kita adalah Grey. Kita kembali ke mansion keluargaku dan merencanakan segalanya.”
-----