“Apa kau benar-benar tak memiliki hubungan spesial dengan Harry?” tanya Saddam spontan ketika dia dan Hana sedang di dalam lift.
Hana tentu bingung dengan pertanyaan yang Saddam ajukan tiba-tiba ini. Lantas wanita ini pun menggeleng di sana. “Tidak ada, Pak. Kami hanya berteman,” jawab Hana apa adanya.
“Entah Harry sudah memberitahumu atau belum, yang jelas aku tidak suka bila ada hubungan di antara para pekerja di sini.”
Hana pun diam dan hanya mengangguk patuh. Dia juga baru tau bila ada peraturan perusahaan demikian. Sedikit aneh memang meskipun tujuannya tetaplah baik.
Kemudian Hana pun mulai menjalankan aktivitas bekerjanya lagi bersama dengan Saddam. Dia benar-benar melakukan yang terbaik dalam pekerjaan ini. Ya, dia sebisa mungkin tidak mau membuat masalah dan kehilangan pekerjaannya ini. Seperti perkataannya kepada Harry, dia akan mencoba bertahan meskipun Saddam masih terkesan dingin untuknya.
***
Terlihat Harry baru saja memasuki apartemennya. Harry memang tinggal di sebuah apartemen, yang pasti bukan milik Saddam. Harry hanya tinggal sendirian di negara ini, jadi dia seperti kurang nyaman jika membeli rumah yang mungkin hanya akan ia tinggali seorang diri. Dan menurutnya itu terlalu besar.
Harry baru saja menanggalkan jas serta dasinya. Dia mengambil minum di dapur untuk pelepas dahaga. Kemudian terdengar suara ponsel yang ada di dalam kamar. Pria ini dengan cepat bergerak ke kamar miliknya itu. Dilihatnya satu nama perempuan melakuka panggilan telepon. Harry tak perlu berpikir dua kali untuk mengangkatnya.
“Halo.”
“Halo, Harry. Aku sudah sampai semalam, dan aku lupa menghubungimu.”
“Its oke. Kalau semuanya baik-baik saja, itu bagus, Karina,” balas Harry di sana. Pria itu membuka gorden jendela di apartemennya tersebut, menatap pemandangan gedung-gedung tinggi di sekitar. “Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka baik-baik saja?” tanya Harry.
“Ya. Mereka baik, Harry. Mereka juga menanyakan tentangmu.”
“Itulah. Aku sudah katakan untuk weekend saja, kamu malah ingin pergi sendirian.”
“Sudahlah, Harry. Aku tidak ingin selalu merepotkanmu. Oh iya, apakah Saddam baik-baik saja?”
Selalu saja pertanyaan itu yang wanita tersebut ajukan. “Dia baik-baik saja, Karina. Kenapa kamu tidak langsung tanyakan saja pada dia? Jika memang hatimu masih menginginkannya, kamu harus berani untuk muncul.”
Dan Harry pun pada mode seriusnya sekarang. “Itu tidak mungkin aku lakukan, Harry. Maaf karena terlalu sering bertanya tentang Saddam. Aku hanya khawatir padanya, dan hanya kamu yang bisa aku tanyai.”
Harry mengembuskan napas beratnya. “Aku baru pulang bekerja. Jika tidak keberatan, aku akan bersih-bersih dulu,” katanya yang dalam artian bila ia ingin menyudahi pembicaraan ini.
“Baiklah. Terima kasih untuk waktunya, Harry.”
Pria ini pun mengangguk dan langsung menutup panggilan begitu saja. Kemudian Harry menuju ke kamar mandi untuk mendinginkan pikirannya.
Hana di apartemennya sedang dalam mode malas. Karena dia belum membeli TV, jadi dia tidak memiliki hiburan di sini. Hana pun memiliki ide untuk keluar sebentar, berjalan-jalan ringan misalnya di sekitar sini.
Ketika baru keluar dari apartemennya, dia berpapasan dengan Ava yang sepertinya akan baru berangkat bekerja.
“Hana?”
“Hai, Ava. Kamu mau berangkat bekerja ya?” tanya Hana di sana. Keduanya sama-sama masuk ke dalam lift mereka di mana keadaan memang sepi dan hanya ada keduanya saja di lift tersebut.
“Iya. Kamu sendiri mau ke mana?”
“Entahlah, Va. Aku bosan di apartemen.”
Ava pun mengangguk paham. “Kalau begitu, kenapa kamu tidak ke tempat kerjaku saja? Ya, mencari hiburan misalnya,” saran wanita tersebut. Hana pun terdiam, seperti mempertimbangkan ajakan tetangganya ini. “Jika tidak mau tidak apa-apa, Hana. Kamu bisa berjalan-jalan di sekitar apartemen untuk menyegarkan pikiran. Tapi, berhati-hatilah karena daerah sini terlihat sepi jika menjelang malam.”
“Terima kasih, Ava. Tapi aku akan berjalan-jalan saja di sekitar sini. Aku juga akan ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan,” kata Hana yang kembali menolak ajakan tetangganya. Ava pun mengangguk. Kemudian keduanya berpisah di depan apartemen karena arah yang akan mereka lewati berbeda.
Hana pun berjalan kaki menuju ke minimarket sembari mengamati sekitar apartemennya. Dan mengingat-ngingat jalan juga tentunya agara tak tersesat.
Harry dan Hana melakukan aktivitas mereka masing-masing, sedangkan Saddam tampak terjebak oleh seorang wanita yang akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Wanita tersebut semalam sudah datang ke rumah Saddam, dan para orang tua menyarankan untuk mereka pergi makan malam. Dan akhirnya Saddam memenuhi perkataan itu di malam ini sepulang ia kerja.
“Apa alasanmu menerima perjodohan ini?” tanya Saddam langsung to the point. Wanita di hadapannya dengan gerakan pelan meletakkan gelas yang tadi ia gunakan untuk minum.
“Karena permintaan mereka,” jawab wanita tersebut dengan santai.
“Itu artinya kamu tidak menginginkan perjodohan ini?” tanya Saddam lagi.
Kemudian terlihat jika wanita ini tersenyum sedikit di sana. “Perjodohan di jaman sekarang apakah kamu pikir masih bisa dilakukan? Itu adalah tradisi kuno para orang tua. Kita sebagai anak mereka hanya terjebak dan mau tidak mau mengikuti tradisi ini,” katanya.
Saddam mengangguk paham, jadi dia simpulkan bila wanita ini sama seperti dirinya yang dipaksa. “Mari kita batalkan perjodohan ini,” kata Saddam.
“Aku tidak bisa,” sahut wanita tersebut membuat Saddam mengernyit. “Aku tidak bisa membatalkannya, bukan berarti itu artinya aku menyukaimu. Tidak. Aku melakukan ini untuk ibuku yang sedang sakit parah. Dia ingin melihatku menikah.”
“Dan membiarkan dirimu menjalani pernikahan yang tidak kamu inginkan? Come on, aku tau kamu adalah wanita berpendidikan. Semuanya tidak akan berakhir dengan begitu saja, bukan?” seloroh Saddam.
“Ya, aku tau. Tapi aku dalam keadaan yang tidak bisa bergerak. Jika mau, kamu bisa membatalkan lebih dulu,” usul wanita tersebut. Saddam bisa saja, tetapi dia malah kepikiran tentang wanita ini. Setelah Saddam, pasti akan ada pria lain yang akan dijodohkan kepada wanita tersebut. Tapi, kenapa Saddam harus repot-repot memikirkan orang lain? Malah terlihat bukan dirinya saja sekarang.
“Apakah kamu tidak memiliki kekasih?” tanya Saddam tiba-tiba dan berhasil membuat tubuh wanita di depannya tampak kaku. Dari sini Saddam bisa tau bila wanita tersebut pasti sudah memiliki tambatan hati. “Berusahalah. Beritahu orang tuamu mengenai kekasihmu itu. Aku yakin hidupmu akan jauh lebih bahagia jika bersama dengan pria itu,” imbuh Saddam.
Terlihat wanita tersebut tersenyum simpul. “Terima kasih untuk keprihatinanmu ini, Saddam. Tapi, untuk dia, biar aku yang akan mengurusnya. Karena segala perbedaan di antara kami begitu jelas, jadi aku harus mempersiapkan segalanya dengan matang.”
Saddam mengangguk paham. Dia mengangkat gelas minumnya. “Mari bersulang. Untuk pembatalan perjodohan ini dan kelancaranmu dengan kekasihmu itu,” kata Sadddam.
Wanita itu pun ikut mengangkat gelasnya juga. “Bersulang juga untuk kebahagiaanmu, Saddam.”
Saddam terkekeh, tetapi dia mengangguk juga. Keduanya pun akhirnya sepakat untuk menjadi teman saja. Nanti Saddam sendiri yang akan memberi alasan kepada orang tuanya untuk tidak melanjutkan perjodohan ini.
Di malam nan sunyi itu, Hana nampak menikmati makanannya di depan teras minimarket. Sekali lagi dia memakan mie. Karena menurutnya itu adalah makanan yang mudah dibuat dan yang pasti tidak merogoh duitnya cukup dalam. Karena udara cukup dingin, jadi memang dia perlu yang hangat.
Ketika makanannya sudah hampir habis, Hana merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Di lihatnya di sudut depan minimarket terdapat dua orang pria yang memakai jaket denim berwarna hitam dan biru. Hana pun langsung mengubah arah pandangannya dan segera menyelesaikan makannya di sana.
Dia kembali masuk ke dalam minimarket, sembari melirik tempat dua pria tadi. Ternyata mereka masih berada di sana. Hana pun jadi takut untuk pulang. Ditambah lagi dia mengingat bila tadi Ava sudah memperingatinya jika daerah apartemen mereka sepi. Dan terpaksa Hana memilih untuk berdiam di minmarket tersebut dalam beberapa saat.
Gerak-gerik Hana yang hanya mondar-mandir dan sesekali melihat ke arah luar pun ditangkap oleh salah satu penjaga minimarket di sana. Penjaga itu pun menghampiri Hana. “Apakah ada yang bisa saya bantu?” ucapnya dengan ramah.
Hana pun jadi kelabak. Dia takut dituduh yang macam-macam. “Emm, bolehkah saya bertanya.” Penjaga itu pun mengangguk. “Apakah kamu pernah melihat dua pria di luar sana? Saya jadi takut untuk pulang karena mereka tidak kunjung pergi,” ucap Hana sejujurnya.
Penjaga itu pun melihat arah di mana Hana tadi menunjuk. Terdapat dua pria yang sama seperti tadi. “Saya belum pernah melihat mereka. Apakah Anda tidak membawa teman?”
Hana menggelang. “Kalau begitu pesan taksi saja,” saran si penjaga.
“Saya tinggal di apartemen dekat sini. Jadi saya rasa tidak memerlukan taksi.”
Lagi pula Hana sedang dalam mode berhemat sekarang. Dia tak ingin menghabiskan uang dengan cepat. “Maafkan saya. Tetapi saya harus kembali bekerja. Atau Anda bisa menunggu di sini lebih dulu hingga mereka pergi.”
“Ya, kamu benar. Saya akan menunggu di sini saja.”
Hana pun terpaksa berada di minirmarket itu. Padahal jam sudah menunjukkan semakin malam. Tahu begini dia tak akan pergi keluar tadi dan berdiam diri di apartemen saja.
Sesekali Hana pun menguap. Dia kembali melihat ke arah luar, ternyata dua pria tadi sudah tidak ada. Mungkin mereka lelah menunggu Hana. Wanita ini pun bernapas lega. Hana memutuskan untuk pulang dan tak lupa berterima kasih kepada penjaga minimarket untuk diijinkan tinggal lebih lama.
Hana menatap jarum jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengan sembilan lebih. Dia pun juga sudah mengantuk. Besok dirinya harus pergi bekerja juga.
Hana melewati jalan yang tadi dia lewati. Di sini cukup banyak bangunan berdiri. Tidak hanya apartemen, terdapat rumah-rumah juga. Hana pun sesekali memperhatikan sekitar, berjaga-jaga takut bila ada orang jahat di sekitarnya.
Kemudian di tengah jalan dia kembali melihat dua pria tadi yang dilihatnya. Mereka pun tampak melihat sosok Hana juga. Tau bila ada bahaya mendekat, Hana pun berlari ke arah lain, sepertinya dia akan memutar jalan untuk sampai ke apartemen miliknya.
Akan tetapi, gerakan Hana diketahui oleh dua pria tadi. Wanita ini pun sekuat tenaga langsung berlari. Dan dua orang pria itu pun ikut berlari juga. Hana tidak bisa berpikir panjang, dia harus segera mencari tempat persembunyian di sekitar sana.
Napas Hana naik turun. Dia melihat ada seperti lemari yang tak terpakai. Dengan segera wanita ini bersembunyi di belakang lemari itu. Dia mendengar ada langkah kaki yang mendekat. Dalam beberapa saat wanita ini mencoba sebisa mungkin untuk tak membuat suara. Karena keadaan sedikit gelap, Hana hanya bisa melihat bayangan mereka.
Menunggu beberapa saat, bayangan itu perlahan hilang dan membuat Hana bernapas lega. Wanita ini bergegas keluar dari tempat persembunyian. Hana kembali berjalan dan mempercepat langkah kakinya. Dia harus segera sampai di apartemen. Karena tadi dia memutar jalan, jadi jalan menuju apartemen sedikit lebih jauh sekarang. Tetapi setidaknya dia bersyukur masih selamat.
Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik dan didorong ke arah dinding. Bola mata Hana pun membulat ketika sadar jika dua pria tadi mengikutinya. “Apakah kau pikir kami bodoh?” cibir salah satu dari mereka.
Hana pun memberontak, akan tetapi kekuatan mereka jauh lebih besar. “Lebih baik kita bawa dia ke markas,” usul salah satu dari mereka. Temannya pun mengangguk dan langsung mengeluarkan lakban dan menutup mulut Hana saat itu juga. Kedua tangan wanita ini diikat dengan lakban di belakang tubuhnya. Hana pun didorong untuk terus berjalan.
“Dia cukup lumayan juga. Malam ini kita pasti sangat puas,” kata salah satu dari mereka. Hana terus berdoa agar tiba-tiba saja muncul pahlawan di depannya.
Dari jauh Hana melihat ada dua orang yang di salah satu sudut jalan sedang berjalan sembari mengobrol. Hana hendak berteriak, namun mulutnya sudah ditutup dengan lakban. Sadar dengan adanya orang lain. Salah satu dari mereka pun mendorong tubuh Hana hingga tak terlihat karena tertutupi tempat sampah. Salah satu dari mereka mencoba mengamati sekitar agar tindakan mereka ini tidak diketahui.
Hana sudah ingin menangis saja. Kenapa dia malah tertimpa hal seperti ini? “Sudah aman,” ucap orang yang menjaga tadi. Hana pun diminta untuk berjalan lagi.
“Bukankah kita malam ini belum makan?”
Hana mendengar obrolan kedua pria itu. “Ya. Itu karena kita tidak memiliki uang. Tapi, wanita ini sepertinya memiliki uang banyak. Nanti kita ambil saja uangnya.”
Hana menggeleng. Dia saja sedang dalam mode berhemat. Keduanya kembali mengobrol satu sama lain dan sedikit lengah kepada Hana sekarang. Hal itu dimanfaatkan oleh Hana. Dia mendorong salah satu dari mereka hingga terjatuh, sedangkan satunya lagi ia tendang. Hana langsung berlari sekuat tenaga dengan tangan yang masih terikat. Dia harus segera mencari jalan raya agar bisa bebas.
Hana pun dikejar oleh dua pria tadi. Hana melihat ada beberapa mobil di jalan yang lewat. Dia langsung berlari ke arah sana. Namun, jalan itu hanya di lewati oleh beberapa mobil saja. Dan sepertinya mereka tidak peduli dengan keadaan Hana sekarang.
“Apa yang kau lakukan?! Dasar menyusahkan!” Dan pada akhirnya Hana pun tertangkap lagi. Hana memberontak hingga dia tersungkur ke jalan. “Wanita ini benar-benar menyusahkan. Kau ambil saja dompetnya,” perintah salah satu dari mereka yang memegani Hana. Hana pun harus merelakan uangnya pergi.
Kemudian kegiatan mereka terhenti ketika ada salah satu mobil yang berhenti tepat di depan mereka dengan lampu yang menyilaukan mata. Hana berdoa agar orang di dalam mobil itu mau menolongnya.
“Apa yang kalian lakukan?!” ucap seorang pria. Hana mereka mengenali suara itu, tetapi pandangannya terhalang oleh lampu mobil.
“Ck, ini bukan urusanmu, man. Pergilah,” usir salah satu dari dua pria tadi.
Orang itu pun bergegas mendekat namun didorong kuat oleh mereka. “Hei! Sudah aku katakan ini bukan urusanmu. Kau pergilah. Jangan ganggun kami.”
“Baiklah. Aku akan menghubungi polisi sekarang,” ancam pemilik mobil itu.
“Ck, dia benar-benar menyusahkan. Hei! Kita pergi,” teriak pria itu. Hana pun dibiarkan begitu saja dengan tangan yang masih terikat, serta mulut yang masih tertutup lakban.
Pria pemilik mobil itu pun menghampiri Hana. Ketika lampu mobil sudah tertutup, barulah Hana bisa melihat wajah si penolong.
“Hana?”
Deg. Hana terkejut ketika sosok Saddam yang muncul. Saddam yang sadar jika itu Hana pun langsung membantu melepas lakban di tangan dan mulutnya. Hana sedikit mengaduh ketika lakban di mulutnya dibuka.
“Apa yang kau lakukan di sini?” cecar Saddam.
“Saya tadi ingin pulang, tapi mereka mengikuti saya. Kemudian saya berlari dan bersembunyi, tapi mereka menangkap saya.”
Saddam yang tadi mengemudi mobil untuk pulang pun tidak menyangka jika akan menemukan Hana dalam keadaan bahaya seperti ini. “Ck. Seharusnya kau tau bila apartemenmu berada di lingkungan sepi dan rawan.”
Hana hanya diam. Dia memilih apartemen murah juga untuk menyesuaikan dengan uang yang ia miliki. “Ya sudah. Ayo masuk ke dalam mobil. Aku antar pulang,” perintah Saddam. Hana mengangguk dan segera bergerak ke mobil Saddam saat itu juga. Hana merasa canggung karena bertemu bosnya dalam keadaan seperti ini.