Hana dan Saddam menuju perjalanan pulang. Saddam mengantar Hana, itu adalah perintah dari sang ibu. Padahal wanita itu datang bersama Harry tadi. Dan Saddam tidak bisa menolak karena dia terus didesak. Alhasil keduanya mendapat rasa canggung di dalam sini.
“Jangan terlalu memikirkan perkataan ibuku. Dia selalu begitu jika bersama orang baru, apalagi jika itu adalah wanita,” ungkap Saddam.
Hana mengangguk paham. “Mungkin ibu Anda berharap yang terbaik untuk Pak Saddam. Beliau hanya ingin melihat putranya menikah, mengingat sekarang Anda sudah berada di usia matang,” balas Hana. Dia bisa berbicara demikian karena ibu dari Saddam lah yang memberitahu perihal keinginannya untuk melihat putranya membina rumah tangga.
“Menikah akan berada di list terakhir dalam hidupku,” balas Saddam yang bisa Hana berikan gelengan di sana.
“Pak Saddam tidak boleh berkata begitu. Menikah itu artinya menyempurnakan setengah dari ibadah kita. Selain jauh dari perbuatan dosa, menikah akan membuat dua keluarga menjadi satu.”
Saddam terkekeh mendengar penuturan wanita yang ada di sebelahnya ini. “Lantas bagaimana denganmu, Hana? Jika kata perceraian terjadi dalam sebuah pernikahan, apakah ibadah orang tersebut juga tidak menjadi sempurna?”
Hana terdiam kala Saddam malah mengkaitkan perihal perceraiannya. Perceraian yang Hana alami bukanlah keinginannya. Setiap wanita selalu menginginkan pernikahan sekali dalam hidupnya.
“Perceraian bukanlah keinginan saya sendiri, Pak. Jika boleh memilih, maka saya akan memilih untuk tidak menikah saat itu. Namun, karena usia yang matang, calon yang menurut saya dan keluarga sangatlah bagus, ditambah lagi keinginan saya untuk membahagiakan kedua orang tua, maka saya memilih jalan untuk menikah, meskipun saya belum mengenal dekat pria tersebut.”
Saddam tertegun. “Apakah kau menikah hasil dari sebuah perjodohan?”
Hana mengangguk. “Sudah aku duga. Perjodohan tidak selamanya akan berjalan bagus,” kata Saddam.
Hana tertawa kecil. “Sepertinya harus kita luruskan dulu di sini, Pak. Tidak semua perjodohan berakhir buruk. Ada mereka yang membina rumah tangga hingga maut memisahkan berasal dari sebuah perjodohan. Semua tergantung dari individu masing-masing dan bagaimana cara mereka menekan ego sendiri.”
“Ya kau benar. Mungkin memang kata menikah belum cocok untuk diriku sekarang.”
“Entahlah, Pak. Saya juga kurang tau mengenai konteks kapan seseorang siap menikah. Yang jelas jika umur sudah matang, calon sudah ada, serta yang paling penting adalah rasa ingin membina rumah tangga hingga akhir lebih besar, maka tidak salahnya melakukan pernikahan.”
Saddam memberhentikan mobilnya tepat di gedung depan apartemen Hana. Wanita itu pun bersiap untuk keluar. “Terima kasih untuk makan malam dan sudah mengantar saya, Pak. Keluarga Anda sangatlah baik.”
“Sama-sama. Terima kasih juga untukmu karena sudah memberitahuku perihal pernikahan, ya meskipun aku belum memikirkan hal itu dulu.”
Hana tersenyum kecil. “Jika kita ragu untuk melakukan segalanya, lebih baik bercerita kepada sang pencipta. Karena sebijak-bijaknya manusia, hanya Tuhan yang bisa menentukan takdir kita seperti apa. Pak Saddam islam, kan?”
Saddam mengangguk. “Itu artinya sholat adalah jalan keluar. Bapak bisa melakukan sholat tahajud di malam hari karena menurut saya di saat itu suasana terasa sunyi, dan saya bisa bercerita banyak kepada-Nya.”
Saddam tertegun mendengar bagaimana wanita ini mempercayai perihal Tuhannya. “Kalau begitu saya turun ya, Pak. Terima kasih sekali lagi.” Hana turun dari mobil meninggalkan Saddam yang masih terbengong di tempatnya.
Perkataan Hana ternyata malah dipikirkan betul oleh Saddam, bahkan ketika sampai di rumah pun dia masih saja memikirkan hal itu. Ayah dan ibunya yang masih belum masuk kamar pun mengernyit bingung melihat ekspresi putranya yang baru pulang.
“Saddam.” Panggilan wanita paruh baya ini membuat Saddam tersadar dan reflek menoleh. “Duduk dulu,” perintahnya sembari menempuk area sofa yang kosong. Saddam berjalan mendekati kedua orang tuanya. Pikiran pria ini berkecamuk.
“Kamu sudah mengantar Hana sampai di apartemen, kan?” tanya sang ibu yang diangguki oleh Saddam. “Ibu sangat suka sekali dengan wanita itu, Saddam. Ibu melihat tidak ada hal yang dibuat-buat dalam dirinya. Sepertinya tidak ada salahnya kamu memulai hubungan baik dengan Hana.”
Saddam menoleh. “Ibu … bukankah waktu itu aku pernah bilang jika sekretarisku sudah menikah? Kenapa Ibu masih saja menginginkan sosok Hana bisa menjadi calon istriku?” tanya Saddam terlepas dari dia tau jika Hana telah bercerai.
Sang ibu pun tertawa di tempatnya. “Saddam. Saddam. Apakah kamu pikir Ibu bodohh? Ibu yakin jika Hana bukan berasal dari sini. Dan, apakah wajar seorang istri berada di negara lain sedangkan suaminya tidak? Ibu adalah seorang wanita, Ibu tau apa yang terjadi di sini.”
Saddam mengembuskan napas berat. Susah sekali membodohi ibunya perihal sosok Hana. “Jadi … Ibu sudah tau jika Hana telah bercerai?”
“Tidak tau. Tapi, setelah kamu mengatakan ini, Ibu jadi tau. Jadi benar jika dia telah berpisah dengan suaminya?”
Sial. Saddam telah dijebak. Ia pikir sang ibu sudah tau. “Jangan terlalu kesal. Cepat atau lambat juga Ibu sudah tau. Tapi, menurut Ibu tidak ada salahnya menikahi seorang janda muda. Kamu tau bukan jika umur kalian itu tidak beda jauh? Mungkin Hana belum mendapatkan suami yang tepat sehingga dia harus mengalami pahitnya sebuah pernikahan.”
Saddam mengangguk membenarkan. Dari perkataan Hana tadi, Saddam bisa menangkap apa yang dialami oleh sekretarisnya itu.
***
“Dasar anak tak tau diri. Untuk apa kamu kembali ke sini?!” hardik ayah dari Hana.
Hana yang baru pulang ke rumah orang tuanya pun malah mendapat sambutan yang tidak baik. Semua orang terlihat menatapnya marah, terutama sang ayah.
“Aib. Kamu benar-benar aib di dalam keluarga ini, Hana. Segala perceraian tidak dapat diterima di keluarga ini.”
Tak terasa air mata Hana mulai keluar di sana. Aib? Bahkan dia sama sekali tak menginginkan perceraian. Hana sudah mempertahankan rumah tangganya, tapi Fahri …
“Ayah … Hana tidak ingin ini semua terjadi, Yah. Hana selalu menjalankan tugas Hana sebagai istri.”
“Lalu maksudmu Fahri yang salah? Iya? Seorang suami tidak akan melirik wanita lain jika istrinya sudah bisa memberikan apa yang ia mau,” sindir kakak tertua dari Hana. Melihat sang kakak berkata demikian membuat perasaan Hana menjadi sedih.
“Mungkin itu karena Hana tidak memiliki anak. Sebulan menikah tapi belum ada tanda-tanda hamil. Aku saja langsung hamil,” sambung kakaknya lagi. Padahal perihal anak, Hana dan Fahri sepakat untuk menunda. Dan Hana tidak menyangka penundaan itu dilakukan agar Fahri bisa menikah lagi.
“Jangan-jangan dia mandul,” ucap sang ibu yang malah menambah luka di batin Hana.
“Ibu … itu tidak benar, Ibu. A-aku sama sekali tidak mandul. Mas Fahri—”
“Lihat! Bahkan di saat begini saja dia masih menyalahkan suaminya. Maksudnya mantan suami.”
Hana tak bisa berkata-kata lagi. Yang bisa wanita itu lakukan adalah menangis. “Pergi kamu! Kamu benar-benar menjadi aib bagi kami, Hana. Mulai sekarang kamu tidak diterima lagi di keluarga ini!” usir sang ayah dengan teganya. Hana pun hanya bisa terus menangis dan menangis.
Hana terkejut ketika mendengar alarm di ponselnya. Wanita ini mengerjapkan matanya beberapa kali setelah mematikan alarm tersebut. Dia menatap plafon apartemen miliknya. Untung saja itu hanya mimpi. Sepertinya ini mimpi buruk karena Hana lupa berdoa sebelum tidur.
Hana pun merubah posisinya menjadi duduk, melakukan peregangan sebentar sebelum pada akhirnya melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.
Hana tak menyangka jika kekhawatirannya mengenai respon keluarga besar akan sampai menuju ke mimpi. Dan yang tak Hana inginkan adalah respon demikian. Dia takut jika benar-benar dianggap sebagai aib keluarga.
Hana memoleskan lipstiknya ke bibir, kemudian mengecek tampilannya sekali lagi. Wanita ini menuju ke pintu keluar dan tak lupa mengunci pintu apartemen. Dia akan menunggu Harry di bawah. Sesekali Hana mengecek ponsel. Siapa tau keluarganya atau Fahri kembali menghubungi Hana. Tapi, sepertinya belum ada tanda-tanda itu.
Beberapa saat kemudian mobil Harry pun datang. “Pagi,” sapa Hana lebih dulu.
“Selamat pagi.” Harry mengemudikan mobilnya menuju ke kantor. “Sepertinya hari sangat cerah. Semalam Saddam mengantarmu sampai ke apartemen bukan?”
Hana terkekeh mendengar pertanyaan random pria di sampingnya. “Tentu saja, Harry.”
“Syukurlah. Semalam sepertinya kamu diterima sekali di keluarga Saddam, Hana. Sepertinya ibunya akan terus mendesak Saddam untuk mendekatimu.”
Hana kembali tertawa mendengar perkataan Harry itu. “Apa yang kamu katakan, Harry? Meskipun ibunya sangat tertarik padaku, tetapi tidak untuk Pak Saddam.”
“Hei, jangan salah. Saddam itu tidak bisa berkutik jika sang ibu sudah angkat bicara. Ibunya itu bagaikan ratu dan penguasa di dalam hidup Saddam. Jika sang ibu mengatakan A, maka Saddam harus melakukan hal tersebut sesuai intruksi ibunya.”
Hana mengangguk paham. “Jadi … apakah Pak Saddam bisa disebut sebagai anak mami?” tanyanya ragu.
Harry tak bisa menyembunyikan tawanya, Hana meringis, tak bisa membayangkan jika Saddam tahu mengenai ini. Dirinya pasti akan dipecat. “Sepertinya sebutan itu mungkin tepat untuknya, Hana. Astaga, aku baru kepikiran. Kamu benar, dia memang terlihat penurut sekali kepada ibunya.”
“Menurutku seorang anak laki-laki yang dekat dengan ibunya adalah kabar yang baik, Harry. Dia pasti sangat menyayangi ibunya. Dan itu artinya dia pasti juga akan menyayangi wanita yang akan menjadi istrinya kelak.”
“Yang kamu katakan ada benarnya, Han. Dulu Saddam itu sudah memiliki kekasih, mereka saling mencintai satu sama lain dan Saddam sudah berencana akan mempertemukan kekasihnya kepada keluarga sekaligus membicarakan pernikahan,” cerita Harry. “tapi … hubungan mereka kandas karena ibu dari Saddam tidak menyetujui wanita pilihan Saddam. Ditambah lagi mengenai Saddam yang akan pindah agama, itu semakin ditentang oleh kedua orang tuanya.”
Hana melotot ketika mendengar cerita ini. Saddam sampai rela pindah agama demi kekasihnya. “Dan seperti kataku tadi, Saddam tidak bisa membantah sang ibu. Dia terpaksa memutuskan hubungan tersebut dan memilih untuk tidak memikirkan perihal hubungan lagi. Pernikahan? Sepertinya dia juga tak akan memikirkan hal tersebut meskipun sang ibu terus saja mendesaknya dan mencarikan jodoh untuknya.”
“Aku tidak tau jika kisah Pak Saddam rumit seperti ini. Pasti dia sangat terluka.”
“Tentu saja. Dia mulai membatasi dirinya semenjak saat itu,” ungkap Harry hingga akhir.