Masa-masa saat sekolah menjadi kenangan terindah untuk William juga Aris, keduanya memang dekat bahkan sering berbagi apapun. Tidak banyak yang bisa sedekat itu antara kakak beradik, tapi nyonya Victoria berhasil mendidik kedua putranya untuk bisa saling membantu satu sama lain. Meski karakter keduanya berbeda, bebera hal mampu mereka lewati bersama. Baik saat ujian sekolah atau mengerjakan tugas bersama di rumah.
Hari ini cuaca sedang tidak bersahabat, mendung dan sepertinya akan turun hujan badai padahal belum waktunya musim itu tiba. Perasaan nyonya Victoria jadi gelisah sejak tadi pagi melepas dua putranya sebelum berangkat ke sekolah.
"Kalian hati-hati dan jalan, ingat selalu pesan ibu. Nurut sama guru dan kerjakan pelajaran dengan baik,"
Selalu, pesan tersebut yang nyonya Victoria ucapkan. Tidak pernah terlewat satu hari pun.
"Ibu, aku minta maaf jika selama ini sudah banyak menyusahkanmu. Membuatmu repot setiap hari karena harus menyiapkan semua kebutuhan kami berdua, maaf belum bisa menjadi anak yang baik dan membuatmu bangga."
Untuk yang pertama kalinya Aris menyampaikan kata-kata haru pada ibunya, selama ini dia selalu menjadi anak yang penurut dan membuat bangga orang tuanya.
"Kamu ini bicara apa, ingat. Kamu adalah putra kebanggaanku, putra kesayanganku dan juga yang terbaik. Jadi untuk apa meminta maaf. Cepat sana berangkat, kasihan itu adikmu sudah terlalu lama menunggu."
Ucapan dari nyonya Victoria untuk Aris di pagi yang mendung, tidak ada firasat buruk apapun. Semua seperti biasanya, menyiapkan sarapan juga kebutuhan untuk anak dan suaminya, melepas tiga pria yang sangat berarti dalam hidup wanita itu. Hanya saja kali ini bukan senyuman tulus yang nyonya Victoria persembahkan, melainkan derai air mata saat kedua putranya berangkat ke sekolah.
Hari-hari yang penuh warna kebahagiaan bagi keluarga kecil itu, menjadi dambaan banyak orang. Termasuk dari lingkup tempat tinggal juga rekan bisnis suami nyonya Victoria. Bagaimana tidak, wanita itu mempunya dua putra yang tampan, cerdas, baik Budi pekertinya, penurut dan juga lemah lembut. Semua itu adalah berkah dari Tuhan untuk nyonya Victoria.
"Kakak, kamu tadi bicara apa sama ibu? Kenapa lama sekali?" William bertanya perihal keanehan yang dia lihat sebelum berangkat sekolah tadi.
Sekarang keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke sekolahnya masing-masing, dengan mengayuh sepeda setiap harinya. Satu kebiasaan yang memang sudah banyak dilakukan oleh orang-orang di kota tempat tinggalnya. Sepeda adalah alat transportasi yang ramah lingkungan juga menyehatkan, mau sejauh apapun sepeda tetap menjadi pilihan. Mobil hanya di gunakan untuk beberapa hal saja, mereka lebih sering memakai sepeda.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin meminta maaf saja sama ibu. Sebab sudah banyak merepotkan selama ini. Ibu pasti sangat lelah dan capek sekali setiap pagi bangun lebih dulu dan saat kita bertiga bangun semua telah tersedia, jadi aku merasa bersalah jika tidak segera meminta maaf."
Jabawan Aris membuat William mengedipkan bahu dan merasa jika kakaknya terlihat aneh sekali hari ini, dan William tidak terlalu menanggapinya.
Mereka sudah sampai di sekolahnya masing-masing dan mengikuti pelajaran seperti biasanya, William tidak merasa ada kejanggalan apapun dia juga tengah mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru padanya. Begitu juga dengan teman sekelasnya, suasana kelas begitu damai tidak ada suara sedikitpun. Mereka fokus di meja masing-masing mengerjakan pelajaran, sementara guru mengawasi dari balik mejanya.
Dari sekolah Aris, semua juga berjalan seperti biasanya tidak ada yang berubah. Para siswa mengerjakan tugas pelajaran dengan baik. Jam istirahat pun telah tiba, mereka berhamburan lari keluar kelas dan tujuan pertama adalah kantin. Rasa lapar dan haus yang mendominasi di jam istirahat seperti ini.
"Kamu tidak pergi ke kantin?"
Tanya salah seorang siswa pada William yang masih diam di dalam kelas seorang diri.
"Tidak, aku tidak merasa lapar. Kau saja yang ke kantin, aku mau menunggu di kelas sampai jam pelajaran berikutnya tiba." Jawab William tanpa mengalihkan fokusnya dari buku tulis yang entah dia sedang menuliskan apa.
Siswa itu keluar kelas dan tinggalah William seorang diri, setelah dia selesai dengan bukunya. Lalu memasukannya ke dalam tas, setelahnya dia berjalan keluar menuju tangga gedung sekolah.
'perasaan ini tidak ada yang mengetahuinya, hanya aku seorang diri yang merasakan. Tidak dengan orang tua atau siapapun, maaf jika telah banyak merepotkan kalian, maaf tersebeb aku belum bisa menjadi sesempurna yang kalian inginkan. Aku ingin terbang bebas, terbebas dari semua tekanan dan banyak keinginan yang aku merasa tidak bisa mewujudkannya'
Riuh ramai seketika menggemparkan satu sekolah, teriakan histeris dibarengai dengan Isak tangis dari para siswa yang meyaksikan sendiri sebuah tragedi telah terjadi di seolah mereka. Salah seorang siswa yang sangat berprestasi di temukan tewas terjun dari lantai gedung sekolah saat jam istirahat. Dia adalah Aris, si siswa yang setiap tahun menjadi juara kelas, pria baik hati, lemah lembut juga pendiam.
"Ya Tuhan, kenapa dia bisa tewa mengenaskan seperti ini? Apa yang membuatnya sampai melakukan perbuatan kejam ini?"
"Dia anak yang baik, tidak punya musuh, kok bisa sampai mati bunuh diri"
Suara-suara sumbang yang turut mengomentari kematian Aris yang sangat mengejutkan satu sekolah, kabar tentang kematiannya sudah sampai ke sekolah William. Salah seorang guru memberi tahunya.
"William, segera datanglah ke sekolah kakakmu. Dia ditemukan tewas bunuh diri terjun dari atap sekolah."
Kabar buruk itu seketika mengguncang William, dia limbung dan hampir terjerembab ke lantai jika tidak segera di tahan oleh temannya. Dia berlari setelah menguasai diri, sambil menangis dan membayangkan tentang keanehan yang dia lihat sejak tadi pagi saat berangkat sekolah.
Aria yang terlihat aneh, yang untuk pertama kalinya sebelum berangkat sekolah bicara pada ibunya meminta maaf, Aris yang tidak biasanya mengayuh sepeda dengan pelan, dan semua keanehan yang William rasakan seharian ini. Dia kehilangan satu sayapnya, penyemangat juga penjaga setiap kali dimarahi oleh ayahnya.
"Kenapa kamu pergi dengan cara seperti ini, kakak? Kenapa kamu tidak bercerita padaku jika sedang ada masalah?" William memangku jasad Aris yang berlumuran darah keluar dari kepalanya.
Pihak kepolisian segera datang juga ambulance membawa jasad Aris menuju rumah sakit terdekat, orang tua korban juga sudah di beri tahu. Nyonya Victoria menangis histeris karena baru saja kehilangan putra sulung kebanggannya.
"Aris, kenapa kamu meninggalkan Ibu secepat ini? Jadi ini alasan kenapa tadi pagi kamu meminta maaf padaku, ya Tuhan. Kenapa aku sangat bodoh sekali tidak mengetahui tentang firasat buruk tersebut."
Dengan histeris dan menangis, nyonya Victoria meracu mengatakan tentang apa yang tadi pagi terjadi pada putranya. Sebuah keanehan yang sebenarnya itu adalah pertanda dari Aris jika dia akan pergi selama-lamanya.