Anting? Kenapa ada anting di saku jas Mas Tara?
Seketika pikiran buruk memenuhi isi kepalaku. Apa mungkin kecurigaanku benar, Mas Tara memiliki wanita lain di luar sana.
Tanpa permisi rasa sesak kembali datang. Mataku memanas air bening hampir saja jatuh.
"Ayo, Alin! Jangan cengeng!" Aku menatap langit-langit kamar, berharap air mata tak jadi meluncur.
Ya, aku harus kuat meski kenyataan pahit di depan mata. Setelah cukup tenang kuambil jas kotor Mas Tara yang ada di keranjang baju kotor. Satu persatu saku kuraba, kucari pasangan anting berbentuk hati itu. Namun hingga aku lelah membolak-balikkan jas, pasangan anting itu tetap tak kutemukan.
Satu anting meyakinkanku jika benda itu bukan untukku. Tak mungkin Mas Tara membelikan anting satu, bukan sepasang. Lagi pula model anting itu terlalu muda untukku. Apa ini milik Imelda? Atau justru perempuan lain?
Lagi dan lagi kecurigaan itu muncul. Sekuat apa pun aku menolak tapi realita bertolak belakang. Mas Tara telah bermain api di belakangku.
Kuambil anting itu kemudian kusimpan di tempat aman. Jangan sampai Mas Tara tahu, akan kujadikan bukti suatu saat nanti.
Aku termenung, memikirkan ujung pernikahan ini. Akankah aku bertahan jika benar Mas Tara telah membagi hati untuk wanita lain? Ah, aku tak mampu menjawab pertanyaan yang terus menghantui.
Dering ponsel menyentakku dari lamunan kelam. Kuambil benda pipih yang tergeletak di atas ranjang. Panggilan dari guru Aluna.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Bun. Badan Aluna sedikit panas, Bunda bisa tolong menjemputnya sekarang? Kasihan Aluna terlihat lesu."
"Saya segera ke sana, Ust. Tolong jaga Aluna hingga saya tiba."
Sambungan telepon segera kumatikan setelah mengucapkan salam. Aku segera beranjak, kusambar jaket dan hijab yang menggantung di sebelah lemari. Tak lupa kuambil dompet dan kunci mobil.
Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi, jarak antara sekolah dan rumah sekitar sepuluh kilometer. Lima belas menit waktu yang kubutuhkan untuk sampai ke sana. Itu pun jika tidak terhalang macet.
Mobil kutepikan di depan gerbang sekolah. Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju kelas Aluna yang terletak di lantai bawah.
"Mari, Bunda. Aluna berada di ruang UKS. Saya belum memberinya obat karena dia tidak mau."
Putri kecilku tertidur di atas ranjang kecil. Tubuhnya panas, wajahnya juga terlihat pucat.
"Terima kasih, Ust. Saya akan membawa Aluna ke klinik atau rumah sakit terdekat." Bu Devi mengangguk.
Aku gendong Aluna menuju mobil. Sementara Ustadzah Devi berjalan di depan sambil membawakan tas Aluna.
"Terima kasih, Ust," ucapku setelah Bu Devi membukakan pintu depan.
"Hati-hati di jalan jangan ngebut, Bunda. Syafakillah Kak Aluna."
Aluna hanya diam, tak ada senyum yang biasa ia berikan. Dia pasti merasakan badannya tak enak. Kasihan kamu, Nak.
Kendaraan roda empat pemberian Mas Tara kulajukan menuju rumah sakit terdekat. Sesekali kulihat Aluna yang sudah terlelap sambil menahan rasa sakit. Rasanya ingin cepat sampai tapi tak mungkin mobil kujalankan dengan kecepatan tinggi. Kasihan Aluna jika sampai terjatuh.
Mataku fokus menatap ke depan. Hingga sebuah mobil menyalip dari belakang. Seketika fokusku berubah, mobil itu kenapa ada di sini? Kenapa mobil Mas Tara ada di jalan raya saat jam kerja?
Lagi pikiran buruk semakin menghantui. Ingin aku mengikuti ke mana Mas Tara pergi. Namun aku tak mungkin membiarkan Aluna menahan sakit terlalu lama. Dengan terpaksa kubelokkan mobil menuju klinik.
"Suster, tolong!" Aku membopong tubuh Aluna masuk ke ruang IGD.
Seorang suster segera mengecek suhu tubuh Aluna.
"38,8°C, sejak kapan panasnya, Bu?" tanya suster itu.
"Baru saja, Sus."
Setelah memeriksa keadaan Aluna suster itu segera pergi. Tak lama seorang dokter wanita mendekat, disusul suster yang membawa sebuah obat berbentuk serbuk.
"Diminumkan dulu, Bu biar panasnya berkurang."
"Aluna, Sayang bangun, minum obat dulu, Nak." Perlahan Aluna membuka mata. Dengan hati-hati kubantu ia untuk minum obat.
Awalnya Aluna menolak dan hampir menangis. Namun akhirnya ia mau meski terpaksa.
"Obatnya berbentuk puyer, diminumkan tiga kali sehari, Bu. Semoga lekas sembuh." Seorang apoteker memberikan obat sesuai resep dokter.
Semenjak melonjaknya kasus kematian balita karena kasus gagal ginjal, pemerintah melarang sejumlah obat berbentuk cair termasuk paracetamol. Sehingga dokter memberikan obat berupa puyer. Semoga Aluna tak menangis saat minim obat.
***
Aluna sudah tertidur setelah minum obat. Mungkin ada efek kantuk pada obat yang dokter itu berikan. Aku bersyukur Aluna tak rewel hanya sesekali meminta gendong lalu akhirnya terlelap.
Deru mobil terdengar berhenti di depan rumah. Aku hafal betul siapa pemiliki kendaraan roda empat itu, Mas Tara.
Aku duduk sambil di ruang keluarga. Rasa kesal dan marah membuatku enggan menyambut kedatangan lelaki yang yang berstatus suamiku itu.
"Sayang, tumben tidak menyambut, Mas?" Mas Tara menjatuhkan bobot tepat di sampingku. Dia lepas jas yang menempel di tubuhnya.
"Tidak dicium ini?" Mas Tara mengulurkan tangan kanannya. Dengan terpaksa kucium punggung tangannya itu.
Ternyata bersikap biasa saja di hadapan suami yang berselingkuh itu tidak mudah. Aku bukan Kinan atau tokoh utama dalam sinetron yang diam ketika suaminya mendua. Dadaku bergemuruh ingin kutumpahkan segera. Namun lagi-lagi akal sehat memberontak.
"Lagi PMS, ya, Lin?" tanya saat melihat ekspresi wajahku yang datar bahkan cenderung masam.
"Mendekati tanggal merah, Mas," jawabku sekenanya. "Mas mau teh panas atau kopi?" Aku beranjak berdiri. Menghindar mungkin lebih baik dari pada bersebelahan dengan rasa marah yang mau meledak.
"Kopi saja, Sayang. Mas ke atas dulu, mau mandi." Aku mengangguk kemudian meninggalkan Mas Tara menuju dapur.
Sebuah kopi instan kubuka lalu kutuang ke dalam cangkir. Mas Tara tak menyukai kopi hitam, kopi shasheet adalah solusi jika ia menginginkan minuman itu.
"Alin... Sayang!" teriak Mas Tara dari lantai atas.
Cepat-cepat aku berlari menuju kamar. Jangan sampai teriakan Mas Tara membangunkan Aluna.
"Alin!"
"Mas, jangan teriak-teriak," ucapku seraya mengatur napas yang tersengal. "Aluna tidur, Mas. Dia sedang sakit."
"Aluna sakit?" Mas Tara segera melangkah menuju kamar Aluna yang berada di sebelah kamar kami.
Mas Tara menempelkan tangannya di kening lalu mencium pipi Aluna. Pelukan dan ciuman Mas Tara membuat Aluna sedikit bergerak tapi tak membuka mata. Dengan hati-hati Mas Tara melangkah pergi.
"Kenapa kamu tidak bilang Aluna sakit, Lin?" tanyanya setelah kami berada di dalam kamar.
"Aku sudah kirim pesan, tapi ponsel kamu tidak aktif."
Mas Tara segera mengambil ponsel di saku jas. "Maaf, tadi Mas meeting di kantor."
"Meeting di kantor atau meeting dengan gundikmu, Mas?" tanyaku tapi hanya di dalam hati.
Mas Tara pikir aku akan percaya dengan ucapannya barusan. Jelas-jelas aku lihat mobilnya ada di jalan. Ah, percuma aku katakan, dia pasti kembali berbohong.
"Kamu lihat jas Mas kemarin?" Mas Tara membalikkan bantal guling yang sudah kususun rapi.
"Ada di keranjang kotor, Mas. Aku belum sempat bawa ke laundry."
Tanpa menjawab dia cepat mengambil jas itu. Dirogohnya saku jas, bahkan pakaian itu ia kibaskan. Percuma kamu mencari, anting sudah berada di tanganku, Mas.
"Cari apa, Mas?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Bukan apa-apa."
Mas Tara berlalu sambil mengacak rambutnya. Tenang, Mas akan kuberikan tapi nanti.