Mengikuti Mas Tara

1293 Kata
"Mbak Alin percaya?" tanya Satriya lagi karena aku diam membisu. "Mungkin Mas Tara pulang mendadak karena ingin mempersiapkan keberangkatan ke luar kota," jawabku sekenanya. Perkataan ini memang tidak masuk akal, aku yakin Satriya tak akan percaya. Apa yang harus kujelaskan jika ia kembali bertanya? "Alasan klise, Mbak. Anak TK saja tak percaya." Satriya mencebikkan bibir. Dengan kasar ia menjatuhkan tubuhnya di kursi. Dia tatap lurus ke depan. Tampak kekecewaan di sorot mata itu. Haruskah aku berkata jujur pada Satriya? Perlahan kujatuhkan bobot di kursi tepat di sebelahnya. Kuatur napas, tapi rasa sesak masih saja mendera. Sekuat apa pun aku pura-pura bahagia tapi nyatanya luka itu kian menggores hati, menyisakan perih tak bertepi. "Mas Tara memiliki perempuan lain." "APA!" Satriya saja terkejut, bagaimana dengan Mama? Bisa-bisa penyakit Mama kambuh, dan aku tak sanggup melihat itu. Mama memang bukan ibu kandungku, tapi kasih sayangnya sama seperti ibu kandungku sendiri. Beliau tak pernah membedakan antara anak dan menantu. Jika Mas Tara yang salah, beliau akan menegurnya dan begitu pula sebaliknya. "Mbak tidak bohong, kan?" "Apa wajahku seperti tengah bergurau, Sat?" Satriya menggeleng,tangan kanannya mengepal. Wajah yang semula humoris seketika berubah merah padam. "Harusnya dia menjagamu, Mbak. Bukan justru menyakiti. Kalau dia tak bisa menyayangi kamu. Harusnya dia bilang, biar aku gantikan." Aku menoleh, kutatap dia dengan penuh tanda tanya. "Kamu gak sedang ngelantur, kan, Sat?" "Dari mana Mbak tahu Mas Tara selingkuh?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku mulai menceritakan awal kecurigaan hingga penemuan anting di saku jas Maa Tara. Satriya diam, dia berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulutku. "Kita ikuti Mas Tara besok pagi, Mbak." "Mas Tara akan tahu jika kita mengikutinya dengan mobilku atau mobil Mama, Sat." "Tenang, sudah aku pikirkan, Mbak. Mbak hanya perlu mencari tahu jam berapa Mas Tara berangkat." "Makasih sudah mau menolong mbak. Padahal Mas Tara adalah kakak kandung kamu, Sat." "Tenang, aku akan selalu membantu Mbak Alin." Sudut bibirku tertarik ke atas hingga menciptakan sebuah lengkungan. "Tapi ingat, Mbak, ini semua tidak gratis." "Kamu minta bayaran, Sat?" Baru juga senang ketika ada orang membantuku tapi justru memanfaatkan di dalam kesempitan. "Tenang, Mbak. Aku tidak akan meminta uang sepeser pun." "Lalu?" "Akan kutagih jika misi ini selesai." Satriya beranjak lalu pergi meninggalkan aku. Aku menggeleng pelan melihat tingkahnya. Dasar anak labil. *** "Sudah siap, Mbak?" "Sudah." "Kita berangkat sekarang." Aku mengangguk. Perlahan Satriya melajukan kendaraan roda empat meninggalkan halaman rumah. Aku tidak tahu dia mendapat pinjaman mobil dari siapa. Setelah percakapan semalam Satriya pergi menggunakan motor dan kembali dengan mobil ini. Sesuai dengan rencana kami berangkat pagi-pagi sekali. Semua kami lakukan agar tidak ketinggalan Mas Tara. Meski Mas Tara mangatakan berangkat pukul delapan. Namun Satriya tak percaya. "Pelan-pelan, Sat. Ini masih terlalu pagi. Mama dan Aluna saja masih terlelap di alam mimpi." Aku menatap keluar, tak banyak kendaraan yang berada di jalan pukul setengah lima pagi. Namun beberapa kali kami berpapasan dengan motor yang membawa banyak sayuran. Mereka pasti dari pasar. "Mbak masih ngantuk, ya? Diem muluk sudah seperti patung pancoran," ledek Satriya sambil menatap lurus ke depan. "Aluna nangis gak, ya,pas bangun Mbak sudah tidak ada?" Bayangan Aluna menangis kembali hadir. Dia selalu mencari keberadaanku saat membuka mata. Kalau tak ada di pasti akan mengamuk dan menangis. "Ada Mama, Mbak. Selama ada Satriya Aluna tak akan menangis." Aku mendengus kesal lalu kembali menatap ke jalanan. Jarak antara rumah Mama dan rumahku tak terlalu jauh. Hanya sekitar tiga puluh menit saja. Satriya menepikan mobil di seberang jalan tepat di depan gapura masuk di perumahan tempatku tinggal. Suasana masih sepi, tak banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk perumahan. Kami benar-benar kepagian. "Kita kepagian, Sat. Harusnya kita berangkat jam enam dari rumah Mama bukan setengah lima." Aku mendengus kesal, menyandarkan kepala di jok mobil. "Kalau jam enam Aluna sudah bangun, Mbak. Akan susah jika ia ikut." Benar juga perkataan anak itu. Tumben otaknya encer. Menunggu itu sangat membosankan. Sesekali aku menguap karena rasa kantuk yang mendera. "Minum dulu, Mbak." Satriya memberikan satu cup kopi. "Dari mana?" "Ada deh, Mbak ngantuk, kan?" Aku mengangguk lalu menerima kopi pemberiannya. Uap kopi masih mengepul, perlahan kuseruput kopi pemberian adik iparku itu. "Memangnya kamu keluar, Sat?" Satriya menatapku lalu menggelengkan kepalanya. "Mbak saja molor, pantas gak tahu aku pergi." Aku hanya tersenyum malu. Aku memang sempat tertidur karena rasa kantuk yang tidak tertahankan. Dari semalam aku sama sekali tak bisa tidur. Bayangan Mas Tara dengan kekasihnya kian menari-nari dalam angan. Membuat rasa kantuk itu hilang. Sekarang baru terasa rasa kantuk itu. Untung saja Satriya memberiku kopi. "Ngantuk, Sat. Semalam Mbak gak bisa tidur." "Hem," ucap Satriya. "Mbak." Aku menoleh ke samping kanan hingga mata kami saling bertemu. "Kenapa?" "Kalau misalkan Mas Tara benar-benar selingkuh. Mbak Alin akan memaafkan atau cerai?" tanyanya sedikit ragu. Aku menghembuskan napas, mengurangi rasa sesak yang kian memenuhi rongga d**a. Kutatap lurus ke dapan. Angan melayang kemudian memasuki dimensi waktu. Bayangan saat bertemu dengan Mas Tara hingga akhirnya memutuskan menikah kembali menari-nari. Kenangan-kenangan terdahulu kembali di putar, bagai sebuah film yang ditonton di depan layar bioskop. Apa yang harus kuputuskan jika Mas Tara benar-benar mendua? Memaafkan atau berpisah? Kedua pilihan itu sangat berat untukku. Ditambah ada Aluna di antara kami. Bertahan lalu memaafkan tak menjamin hubungan kami akan sehangat dulu. Pasti ada jarak yang semakin membentang di antara kami. Rasa percaya akan hilang sering waktu berjalan. Namun jika berpisah, bagaimana dengan Aluna? Perpisahan bukan hanya menjauhkan dua orang tapi juga mematahkan tiga buah hati. Tuhan... Apa yang harus kulakukan jika Mas Tara mendua? "Mbak!" Sebuah sentuhan di pundak membuatku tersentak. "Aku tak bisa memutuskan, Sat? Ini terlalu berat." Hening, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Keadaan ini membuat rasa canggung kembali hadir. Aku benci berada dalam situasi seperti ini. "Kalau kamu berada di posisiku, apa yang kamu lakukan?" "Aku belum menikah, Mbak. Mana bisa aku menjawab pertanyaan itu." "Kamu,kan pernah pacaran, Sat." Aku mendengus kesal. "Aku belum pernah pacaran Mbak. Tapi mencintai seorang wanita. Tapi sayang dia justru memilih orang lain." Satriya menatapku dengan sorot mata yang sulit untuk kuartikan. Situasi kembali kaku, aku memilih diam. Begitu pula Satriya. Panggilan telepon dari Mama membuat kami terkejut. "Siapa, Mbak?" "Mama." "Angkat saja!" Dengan ragu kugeser gambar telepon ke atas. "Kalian di mana?" Kulirik Satriya tapi lelaki itu justru mengangkat bahu ke atas. "Ke pasar, Ma." Alasan tak masuk akal lagi. Semoga Mama dan Aluna percaya. "Cepat pulang, Aluna nangis cariin kamu, Lin." Aku bernapas lega karena Mama tak lagi bertanya yang macam-macam. Setidaknya kali ini aku aman. "Itu mobil Mas Tara, kan, Mbak." Seketika kutoleh ke arah gapura. Benar saja, mobil Mas Tara berjalan ke arah kami. "Ngapain?" tanya Satriya kala aku menundukkan kepala agar tak terlihat oleh Mas Tara. "Nanti ketahuan." "Astaga, dari luar gak kelihatan, Mbak." Aku mulai mengangkat kepala. Lalu menatap ke arah luar tepat ke arah mobil Mas Tara. "Pasang sabuk pengaman, Mbak." Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Satriya sedikit memberi jarak agar Mas Tara tak mencurigai keberadaan kami. "Ini baru jam setengah tujuh, Mbak. Tapi Mas Tara sudah pergi. Jangan-jangan dia akan menjemput selingkuhannya." Kenapa terasa sakit meski aku tahu kenyataanya seperti yang Satriya ucapkan. Aku memilih membisu sambil terus menatap ke arah depan. Mobil Mas Tara melaju ke arah timur. Lalu belok ke arah utara, aku masih menerka-nerka ke mana Mas Tara pergi. Ini jalan menuju arah keraton Solo. Mas Tara membelokkan mobilnya ke kanan. "Lebih cepat, Sat!" Satriya semakin mempercepat laju mobil. Namun sayang jalanan yang macet membuat kami tak mampu menyalip mobil yang ada di depan kami. "Yah, lampu merah, Sat." Aku menghembuskan napas kasar. Hanya tinggal sedikit lagi kami akan mengetahui siapa wanita itu. Namun lampu merah menghentikan langkah kami. "Sabar, Mbak. Nanti akan ketemu." Satriya berusaha menghiburku. Lampu lalu lintas sudah berwarna hijau, Satriya kembali melajukan mobil. Namun sayang mobil Mas Tara sudah tak bisa kami temukan. Tuhan, kenapa sulit menemukan wanita itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN