Five

2534 Kata
Darah mengalir diujung bibirnya. Air matanya mengalir deras. Kepalanya seperti mati rasa akibat tarikan Leo yang sangat keras. "Wanita jalang sialan!" Umpat Leo kemudian masuk ke dalam kamar mereka. Meninggalkan Fefe yang sedang menangis dengan luka lebam dibeberapa bagian kakinya karena dihempaskan Leo cukup keras. Dengan sangat perlahan ia mencoba berdiri. Tetapi karena kakinya yang terasa sangat sakit dia tak mampu untuk sekedar bangun. "Auwww.." Rintihnya kecil. Namun sakit pada kakinya benar-benar tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya. Lelaki yang ia cintai tega menyiksanya hanya demi gadis yang juga mencintainya, tetapi tidak memiliki hak atas dirinya. Lelaki itu keluar dari kamar mereka. Tak seperti wanita yang membawa kopernya. Kini ia sudah merubah kemejanya dengan polo shirt berwarna hitam. Wajahnya terlihat lelah. Lelaki itu berjalan melewati Fefe seperti tak ada manusia yang sedang kesakitan disana. "Leo.." Lirih Fefe. Sayang sekali, Leo tak mendengarnya. Mungkin mendengarnya, tetapi menghiraukannya. Lelaki itu berjalan menuju pintu kemudian pergi meninggalkan Fefe. Fefe yang tak mampu berdiri itu lantas mengesot untuk menuju kamarnya. Tak perduli dengan lantai kotor yang mengotori hot pants santainya. Wanita itu berusaha naik ke ranjangnya dengan merambat kesisi ranjang. Kemudian duduk diranjang sambil menangis. Membiarkan darah menetes di sprei berwarna birunya. Fefe tertawa miris. Menertawakan pernikahannya yang sial. Menertawakan kebodohannya. Menertawakan apa yang sudah dilakukan oleh Leo barusan. ~~~ Luka Fefe sudah lebih baik daripada tadi malam. Semalaman ia menangisi hidupnya yang tak cukup baik. Sejak ia dan Leo mengucapkan janji suci. Fefe berjalan terseok-seok. Kakinya masih terasa sakit walaupun tidak sesakit kemarin. Wanita itu butuh air dingin untuk mendinginkan kepalanya. Menjernihkan pikirannya. Semalaman ini Leo tidak pulang. Dan ntah keyakinan darimana ia yakin bahwa Leo tak akan pulang dalam waktu dekat ini. Air dingin membasahi kepala dan tubuhnya yang sedikit memar. Sudut bibirnya juga meninggalkan bekas biru walaupun tidak begitu kentara. Setelah mandi air dingin tersebut kini Fefe memilih kaos dan celana hot pants berwarna salem. Wanita itu berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan. Hanya roti tawar dengan selai stroberi, sekedar mengganjal perut. Perutnya akan terasa sakit jika ia lapar. Mencoba hidup tanpa adanya Leo memang sulit. Tetapi ia bisa mencobanya. Dia bisa mencoba menjadi kuat. Dia bisa. Ini tidak begitu sulit. *ting tong* Fefe berjalan dengan cepat dan berharap itu adalah Leo. Tetapi lelaki itu tidak akan menekan bel. Ia akan langsung membuka pintu. "Mau apa kemari?" Tanya Fefe dingin. "Ya Tuhan.. jangan sombong begitu kak. Walau bagaimanapun aku tetap adik kakak." Ucap Dylan santai kemudian menerobos masuk dan sengaja mendorong Fefe perlahan agar menyingkir dari pintu. "Aku sedang tidak menerima tamu." Ucap Fefe kemudian mengikuti adik tirinya yang kini menuju kulkas. "Kak, aku diusir Mama." Ucap Dylan sambil meneguk soda yang ia temukan didalam kulkas kakaknya. "What?" Kini Fefe membulatkan matanya. Dylan hanya melirik sekali. Namun kini lirikannya berubah menjadi pekikan terkejut. "Kak.. kok Kakak pucat ya hari ini? Kakak sakit?" Tanya Dylan khawatir. Fefe hanya menggeleng lemah. "Lalu?" Kini Dylan memegang kedua bahu kakaknya. "Kakak ada masalah?" Fefe hanya menunduk. Tak mampu menatap mata yang serupa dengan miliknya dan Daddynya. Karena jika Fefe memandang Dylan, lelaki jenius itu akan dengan cepat memahaminya. "Jangan bohong, Kak.." Ucap Dylan pelan. "Yasudah, terserah kakak jika tidak mau berbagi cerita." Fefe menatap Dylan kemudian memeluk adik lelakinya. Dylan mengusap lembut rambut Fefe yang sangat lembut. "Tetapi, ijinkan aku menginap disini ya, kak.." Ucap Dylan memelas. Fefe mengangguk. Pelukan Dylan sama nyamannya seperti pelukan Daddynya. Hanya saja jika Daddy Nico akan memberikan kata-kata bijak yang akan membuat hati Fefe mengahangat. Sedangkan Dylan hanya mengusap lembut rambutnya saja. Tapi tak apa. Toh sama saja. "Kenapa Mama bisa mengusirmu?" Kini Fefe sudah merenggangkan pelukannya. "Hehehe.. Aku berkelahi dengan seorang siswa." Fefe menaikan sebelah alisnya. Memahami raut wajah sang kakak, Dylan pun segera menceritakan kronologinya. "Astaga! Jadi kamu berkelahi hanya karena membela seorang gadis? Dan gadis itu adik kelasmu?" Tanya Fefe. Dylan hanya cengengesan tak jelas. "Siapa yang diam saja jika melihat seorang gadis dipaksa-paksa? Kakakku seorang wanita dan Mamaku seorang wanita pula. Dia ditarik-tarik seolah-olah dia adalah barang, Kak." Fefe tersenyum kecil. "Kamu yang sedang jatuh cinta kepada gadis itu atau kamu memang kasihan karena aku dan Mama seorang wanita?" Fefe mengamati Dylan yang saat ini sedang memandang langit-langit apartemen mewah milik kakaknya. Remaja itu tidak merespon godaan dari kakaknya. "Kak, aku menginap disini ya?" Karena mood Fefe sedang tidak baik, maka wanita itu hanya mengangguk kemudian mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Jika ada apa-apa, kakak ada dikamar, ya." Dylan mengangguk. Fefe berjalan dengan sedikit terseok karena kakiny yang masih terluka. Dan kali ini barulah Dylan menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan kaki kakaknya. Punggung Fefe sudah berlalu dan menghilang dibalik pintu kamarnya. "Terjadi sesuatu, heum?" Gumam Dylan dengan menaikan sebelah alisnya. ~~~ Fefe tersenyum sambil mendengarkan curahan hati mamanya tentang adik bungsunya, Dylan. "Mama sudah berulang kali mengingatkan. Sampai rasanya Mama lelah.. padahal seingat Mama, Daddy kamu tidak seperti itu." Ucapan Bev diseberang sana membuat Fefe tersenyum geli. "Mungkin Mama tidak tahu bagian Daddy seperti Dylan sekarang." Ucap Fefe. "Mama masih ingat dengan jelas. Oh.. mungkin ada benarnya juga. Mama mungkin tidak tahu." Ucap Bev lagi. "Istirahat ya, Sayang. Mama titip Dylan disana, ya. Sampai jumpa, princess." "Bye, Ma.." Ucap Fefe lirih.  Sambungan telepon mereka terputus. Fefe menaruh ponsel mahalnya dinakas. Kini pikirannya kembali kepada Leo. LEONARD b*****t! Fefe mengusap lembut foto pernikahan yang tertempel didinding kamarnya. Menampilkan dirinya dengan balutan gaun cantik sedang tersenyum, begitu pula dengan Leo yang tersenyum sambil memeluk pinggangnya. Dan Fefe tau, senyuman itu tak tulus. Pernikahan itu tak berarti apa-apa. Air matanya mengalir lagi mengingat betapa kasarnya Leo semalam. Seakan-akan Fefe adalah sampah yang dibuang ketika sudah tidak digunakan lagi. Tubuhnya luruh sudah diatas lantai dingin. Fefe sudah lelah. Hatinya terasa sangat sakit. Dadanya terasa nyeri. Dia lelah hati dan pikiran. Fefe yang menyedihkan. Fefe yang malang. Fefe yang tidak beruntung. Tertawalah para dewi-dewi yang bersemayam ditubuh Fefe. Tertawalah dengn puas diatas penderitan Fefe. "Leo b******n" Lirih Fefe sambil menngis. "Leo sialan" Ucap Fefe lirih. ~~~ Fefe menatap pekerjaan didepannya dengan sangat tidak berminat. Rasanya malas untuk sekedar membacanya. Mungkin suasan mendung diluar sana membuat hatinya ikut bersedih. Terlebih mengingat bahwa Leo tidak pulang selama seminggu ini. Leo pun juga tidak mengabarinya mengenai keberaannya saat ini. Fefe tak mau membohongi dirinya sendiri bahwa ia sangat merindukan lelaki itu. Tak perduli lebam, luka, dan darah yang lelaki itu torehkan. Fefe masih akan tetap mencintai lelaki itu. "Ada masalah, sweety?" Tanya Marcel ketika melihat anak sahabat yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu murung. "Tidak ada, Uncle. Mungkin aku hanya lelah." Ucap Fefe kepada Marcel sambil tersenyum. "Kamu yakin? Kamu bisa berbagi cerita kepada Uncle jika kamu butuh cerita." Ucap Marcel yang saat ini sedang duduk dihadapan Fefe. Fefe hanya masih belum yakin apa yang terjadi nanti jika ia menceritakan masalah rumah tangganya ke orang lain. Ia belum siap jika kisah yang ia bagi akan berakibat fatal pada pernikahannya. Fefe akan tetap mempertahankan pernikahannya semampu yang ia bisa. Tetapi manusia selalu memiliki batas lelah dan kekuatan. Akan menyerah sendirinya tanpa diperintah dan akan mundur langkah tanpa disuruh. Fefe percaya akan hal itu. Tetapi saat ini ia masih kuat untuk memperjuangkan pernikahannya yang hanya ia sendiri yang mempertahankan. Terlihat sulit, tetapi kenyataannya lebih sulit dari bayangan yang ada dibenaknya. "I'm okay, Uncle." Ucap Fefe sambil tersenyum. "Okay, uncle percaya. Oh iya, datanglah ke Rumah Uncle bersama Leo. Aunty memasak untukmu nanti malam. Ia begitu merindukanmu." Ucap Marcel. "Okay, Uncle." Ucàp fefe sambil tersneyum kecut. Bersama Leo? Yang benar saja, bahkan dis tidak tahu kabar lelaki itu saat ini. Masih hidup atau sudah dipanggil yang maha kuasa bahkan Fefe tidak tahu. "Uncle kembali ke ruangan Uncle dulu. Bye princes." Fefe hanya merespon dengan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Marcel menghilang bersamaan dengan pintu ruangan yang ditutup. ~~~ Seorang lelaki tengah duduk di Taman sekolahnya sambil mengamati seorang gadis cantik yang saat ini sedang membaca novel. Gadis itu nampaknya tak tahu jika ia sedang diamati diam-diam. Tubuh gadis itu mungil, mungkin hanya hampir mencapai bahu lelaki itu. Tetapi wajah cerianya membuat lelaki itu tergila-gila. Disana gadis itu sendirian. Lelaki itu, Dylan. Mengamati seorang gadis yang bahkan namanya saja ia tak tahu. Yang Dylan tau hanya adik itu adalah juniornya. Lama kelamaan gadis itu pun menyadari jika saat ini ia sedang diamati. Gadis itu terlihat gelisah dan mencari-cari. Tepat. Mata gadis itu dan Dylan bertemu. Gadis itu memancarkan mata yang berbinar melihat Dylan. Dengan segera gadis itu bangkit dan berjalan mendekati Dylan. "Halo, Kak." Sapa gadis itu kemudian duduk disamping Dylan. "H-halo" Ucap Dylan tergagap. "Makasih ya, kak, Karena sudah menolongku beberapa hari yang lalu. Maaf jika akhirnya kakak mendapat masalah. Seharusnya kakak tidak usah menolongku, aku sudah biasa diperlakukan begitu oleh kekasihku." Ucap gadis itu sambil menunduk menyesal. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak menyesal menolongmu. Ya.. walaupun akhirnya Mamaku mengusirku dari rumah. Tapi itu tidak masalah." Ucap Dylan sambil tersenyum malu-malu. Gadis itu tersentak, "A-apa diusir Mamanya Kakak?" Gadis itu terlihat panik. Mata gadis itu terlihat ketakutan dan menyesal. "Tidak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir." Ucap Dylan tersenyum sambil memegang bahu gadis itu. "Kakak tinggal dimana sekarang?" Ucap cepat gadis itu. "Di Apartemen Kakakku." Ucap Dylan. Gadis mungil itu mengangguk-mengangguk. "Siapa namamu?" Tanya Dylan yang saat ini sangat mengingat informasi penting itu. "Karina, nama kakak siapa?" Tanya balik gadis itu. "Dylan." Ucap Dylan santai. Gadis itu mengangguk ringan. "Kak, aku masuk kelas dulu. Sebentar lagi bel masuk. Permisi." Dylan terlihat kecewa dengan kepergian Karina. Tapi toh akhirnya membiarkan juga. Gadis itu segera pergi. Dan Dylan melihat ada yang aneh. Tangan gadis itu kosong. Sedangkan tadi Dylan melihat gadis itu membawa novelnya. Dylan melihat ke sisi lain tempat duduknya. Lelaki itu menyeringai. Novel gadis itu tertinggal. "Dasar gadis ceroboh." Kekeh Dylan. ~~~ Leo menatap kosong bangunan-bangunan dihadapannya yang tingginya menyaingi gedung pencakar langit miliknya. Tak ada semangat hidup. Leo ingin bahagia bersama gadis yang ia cintai. Tetapi nampaknya tak bisa. Sebab gadis itu sudah menyerah. Ini sudah seminggu ia tidak pulang. Apalagi sekedar memberi kabar kepada Fefe. Bahkan dia sudah lupa jika di dunia ini ada makhluk bernama Ferdina tersebut. Bayangannya hanya dipenuhi Tari. Mentari adalah matahari. Dan Leo adalah buminya. Tanpa Mentari bumi akan gelap dan tak bercahaya. Dan saat ini Leo sedang merasakan dirinya redup tak bercahaya. Dia setengah mati merindukan gadis itu. Bahkan rasanya ingin ia mengembalikan semua harta yang ia punya kepada keluarga Fefe hanya agar ia dapat bersama dengan Mentari. Tetapi ia tak mungkin melakukan itu. Sebab perusahaan ini adalah milik Papanya. Dia tidak mau Papanya kecewa. Dia sangat mencintai kedua orang tuanya, dan dia tidak mau orang tuanya marah. Leo mengacak rambutnya kasar. Sudah seminggu pula ia tidak dapat bekerja dengan baik. Semuanya kacau. Dia lelah dan sedih. Beberapa kali sudah ia mendatangi tempat tinggal Tari. Dan sayang sekali, Tari sama sekali tidak mau keluar. Leo tak bodoh. Lelaki itu sangat yakin bahwa sang pemilik rumah berada didalamnya. Namun sang pemilik rumah memilih mengurung diri. Tak mau bertemu dengannya sama sekali. Mentari membencinya. Mataharinya membencinya. Dunianya menjadi gelap. Suram dan tak bercahaya. Jika matahari sudah tidak terbit apa tujuan manusia setelahnya? Tak ada. Sebab, jika matahari sudah tidak terbit lagi, berarti seluruh dunia akan berakhir. Dan dunia Leo berakhir. Ia tak memiliki tujuan hidup. Dia dan hidupnya yang kelam. Dia yang masih mencintai gadis itu. Dia yang tak bisa melupakan gadis itu begitu saja. Dia yang melupakan bahwa kini statusnya sudah sah milik orang lain. Dia yang ntahlah.. "Jika semesta tak mengijinkan kita bersama, mengapa semesta tak mengijinkan aku melupakanmu?" Bisik Leo lemah. "Aku mencintaimu, sangat." Bisik Leo lemah. "Ternyata menyakitkan ketika kita saling mencintai, tetapi bertahan untuk tak memiliki." Leo bermonolog seorang diri. Membiarkan seluruh barang yang ada di Ruangannya menjadi saksi bisu kesedihannya. *tok tok* Leo segera membalikan tubuhnya, bersamaan dengan teriakan mengijinkan tamunya untuk masuk. "Masuk!". Sekretarisnya berjalan mendekati Leo. Tak terlalu dekat. Berjarak beberapa meter dari Leo berdiri saat ini. "Ada yang ingin bertemu dengan anda, sir." Ucap sekertaris wanita itu. "Siapa?" Tanya lelaki itu datar. "Pak Nico Bintang Leviando." Leo terdiam. "Daddy?" Gumamnya. "Pak Nico akan datang beberapa menit lagi. Tadi sekertarisnya menghubungi saya." Ucap sekertaris Leo. Leo mengangguk lemah. Bagaimanapun ia menyiksa Fefe, ia tetap seorang menantu yang menghormati mertuanya. Ia memang memendam kebencian kepada keluarga Fefe yang menganggap dirinya barang. Tetapi sama sekali Leo tak ada niatan untuk melakukan hal jahat. "Oke, kamu boleh keluar." Ucap Leo. Tanpa menunggu lama sekertaris itu segera pergi dari hadapan Leo. Leo menghempaskan dirinya di kursi singgasananya. Mengurut keningnya yang terasa pusing. Benar, tak butuh waktu satu jam. Ayah dari istrinya itu datang. Kini lelaki separuh baya yang masih terlihat tampan duduk dengan tenang dihadapannya. Sisa-sisa kejayaan masih nampak. Wajahnya masuh terlihat tampan. Dengan kemeja berwarna hitam, dipadukan dengan jas abu-abu dan celana yang senada dengan jasnya. "Apa aku menganggumu, Leo?" Suara Nico terdengar ramah. Tak ada suara akan syarat dingin. "Tidak, Dad." Ucap Leo sambil tersenyum formal. "Bagus jika begitu." Ucap Nico sambil mengangguk. ~ Leo pov ~ Aku pernah mendengar dari Papa bahwa Daddy Nico sebelumnya adalah seorang penganut one night stand. Ntah bagaimana ceritnya seorang lelaki dihadapanku ini dulunya mantan playboy. Daddy adalah salah satu CEO yang diimpi-impikan oleh wanita manapun dimasanya. Sebelum akhirnya memilih menikah dengan Mama Bev yang saat itu adalah seorang mahasiswi yang terpaksa menjadi pemimpin perusahaan karena perusahaannya yang hampir bangkrut. Kemudian datang kepada Daddy dan meminta bantuan. Itu yang kudengar dari Papaku. Tak lebih. "Saya tidak akan membicarakan pernikahanmu dengan Fefe. Saya merasa itu adalah privasi kalian. Saya disini hanya akan membahas tentang kerja sama perusahaan untuk membangun resort disalah satu pulau yang belum berpenghuni. Sudah pernah saya jelaskan kepada kamu beberapa bulan yang lalu." Ntah mengapa aku merasa sangat lega. Sebenarnya aku tidak merasa ketakutan jika ayah mertuaku akan membicarakan pernikahanku dengan Fefe. Namun aku juga tidak memungkiri bahwa aku merasa sangat lega dengan hal yang akan dibahas oleh ayah mertuaku ini. "Setelah saya pelajari dan amati, pulau itu sebenarnya jarang sekali dikunjungi oleh wisatawan, tetapi menurut saya jika kita membangun resort dan membuat pulau itu menjadi lebih menawan, sudah pasti menarik wisatawan untuk datang." Aku sudah memelajari tentang pulau tak berpenghuni itu tepat setelah Daddy memberikan proposalnya kepadaku. Segera aku langsung memelajari dan mencari tahu. Sebenarnya cukup sulit karena disana tak banyak orang yang mengetahuinya. Namun wisatawan akan datang jika ketidak tahuan mereka membuat mereka menjadi penasaran. Daddy tersenyum. Aku lega melihat senyumnya yang terlihat bangga dengan penjelasanku. "Lalu apa yang akan kamu buat untuk menarik wisatawan?" Tanya Daddy. "Saya akan membuat hotel yang dimana mereka dapat melihat dalam laut dari kamar mereka masing-masing. Jadi mereka dapat merasakan tidur dibawah laut. Saya rasa itu cukup menarik." Jelasku dengan ide-ide yang sudah lama ada diotakku. "Saya setuju dengan usul dan ide kamu. Secepatnya mari kita wujudkan ide kamu tersebut." Ucap Daddy kepadaku ntah mengapa membuatku bangga sendiri. Daddy adalah orang yang sangat pemilih dalam memilih perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaanya. "Iya, Dad. Saya akan bekerja keras untuk membangun resort tersebut." Daddy menepuk pelan bahuku. "Boleh saya berbicara tentang Fefe kepada kamu? Jika kamu mengijinkan." Aku sebenarnya tidak tertarik. Tetapi aku tetap memiliki rasa ingin tahu tentang wanita yang menjadi istriku tersebut. Aku hanya mengangguk lemah. Kemudian dengan seksama mendengarkan cerita Daddy. Tak banyak ekspresi yang aku perlihatkan. Hanya sedikit, hanya menunduk dan merenung. ~ To be Continue ~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN