4. Akademi Bachalpsee

1789 Kata
Di bagian barat Wilayah Timur terdapat satu akademi yang cukup terkenal bernama Akademi Bachalpsee. Orang-orang di sana lebih senang memanggilnya Akademi Bach karena lebih singkat dan mudah untuk diucapkan. Akademi Bach merupakan sebuah perguruan yang berfokus untuk menggali dan mengembangkan keahlian serta bakat terpendam pada anak. Di sana ada berbagai macam bidang keahlian, salah satunya bidang yang berfokus pada pengembangan keahlian dan bakat beladiri. Bima merupakan salah satu siswa yang mengambil bidang tersebut. Bima Panthera, orang-orang lebih suka memanggilnya Bima. Ia merupakan pelajar angkatan ke-3 di Akademi Bach yang kurang lebih telah menempuh pendidikan selama 3 bulan di sana. Bima merupakan pelajar yang dikenal genius dalam menangkap semua materi. Dia juga lebih unggul dari anak-anak lainnya, baik dari segi teori maupun praktek. Saat berada di akademi, Bima agak tertutup dan terkesan dingin pada orang-orang. Ia tidak terlalu suka bergaul ataupun bersosialisasi dengan anak lain. Ia lebih suka menyendiri, duduk di kursinya sambil membaca buku kesukaannya, karena itulah Bima tidak mempunyai banyak teman di sana, bahkan bisa dibilang tidak mempunyai teman. Tidak sampai ia mengenal Arga. Remaja seumurannya yang merupakan satu-satunya teman yang cukup akrab dengan Bima. Karena suatu kejadian yang melibatkan mereka berdua, membuat mereka menjadi teman dekat. Untuk sampai ke Akademi Bach, Bima harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan harus melewati jalan hutan yang masih lebat. Namun, itu tidak pernah menjadi masalah untuknya. Ia justru memanfaatkan hal itu untuk melatih stamina dan daya tahan tubuhnya. Setiap pagi, ia selalu berjalan kaki menuju ke akademi. Tidak jarang, ia juga melatih kecepatannya dengan berangkat menuju akademi sambil berlari pagi. Hal itu sangat berguna untuk menambah kapasitas oksigen dalam paru-parunya. Dan karena rutinitasnya, Bima tumbuh dengan optimal. *** Pada suatu pagi, Bima baru saja sampai tepat di depan gedung Akademi. Bima menghentikan langkah kakinya saat mendengar teriakan seseorang dari arah belakang. Ia menoleh dan melihat tiga pemuda seumurannya tengah berjalan kearahnya sambil menatapnya. Tatapan mata dan senyum meremehkan di bibir mereka terkesan ditujukan kepada Bima. Mereka menghentikan langkah tepat di hadapan Bima. Mereka bertiga menatap tajam pada Bima. "Hei, apa yang kau lihat, Bodoh?" tanya salah satu pemuda. "Tidak ada," ucap Bima datar sambil menatapnya dingin. Pemuda itu menatap Bima dari atas sampai bawah, lalu kembali menatap matanya. Dengusan remeh keluar dari hidungnya. "Jangan banyak tingkah, atau kau akan kuhajar," ucapnya terdengar mengancam. Bima tidak membalas ucapannya, ia hanya menatap datar pemuda tersebut. "Ayo masuk! Si Bodoh ini hanya pecundang," ajak pemuda itu kepada kedua temannya kemudian berjalan masuk menuju kelasnya. Bima hanya menatap kepergian mereka. Ia menghela nafas lalu menyusul masuk menuju kelas. Bima sudah sampai dikelasnya, dia menarik kursinya kemudian duduk di sana. Ia merogoh tasnya untuk mengambil sebuah buku dan mulai membacanya. Tidak lama setelah itu, seorang pemuda terlihat memasuki kelas lalu berjalan menuju kursinya yang berada tepat di sebelah kanan Bima. Ya, pemuda itu bernama Arga. "Buku itu lagi, Bim?" tanya Arga sambil menarik kursinya lalu mulai duduk. "Iya, Ar," balas Bima tanpa menoleh. "Hei, memang itu buku apa? Sepertinya seru, sampai-sampai kau membacanya setiap hari. Bolehkah aku meminjamnya?" pinta Arga. "Iya, aku akan meminjamkannya setelah selesai membacanya," balas Bima. Arga tersenyum lebar. "Baiklah, cepat selesaikan ya." "Ya," jawab Bima singkat. Suasana hening untuk sesaat. "Bim?" panggil Arga. "Hm?" sahut Bima melirik singkat. "Kau sudah dengar berita tadi malam?" tanya Arga dengan nada serius. "Berita apa?" "Berita pembunuhan." "Tidak, aku tidak tahu." "Jadi ... kau belum dengar soal penemuan mayat perempuan di halaman belakang akademi?" Bima menoleh dan menatap Arga dengan serius. "Mayat?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi. "Ya, dari kabar yang beredar, katanya dia korban pem—" BRAK!! Tiba-tiba, terdengar suara benda keras yang jatuh ke lantai. Seisi kelas langsung melihat ke arah suara itu berasal. "Kan sudah kubilang, nanti aku ganti, sekarang aku pinjam dulu uangmu, cepat berikan!" bentak seorang pemuda dengan kasar. Orang itu bernama Dion Lycaon, dia pemuda yang bertemu Bima sebelumnya di depan Akademi Bach. Dion merupakan pemuda yang paling ditakuti di kelasnya (1-5). Ya, dia sekelas dengan Bima dan juga Arga. Ia ditakuti karena ayahnya adalah anggota geng yang terkenal kejam di Wilayah Timur. Geng itu bernama CanisLupus Nigreos. "Ta—Tapi, aku benar-benar tidak punya uang sekarang. Kan uang jajanku sebulan sudah kau ambil semuanya," ucap remaja yang jatuh dilantai bersamaan dengan kursinya setelah Dion menendangnya dengan keras. Dion berjongkok lalu memegang kerah remaja tersebut dan langsung melayangkan satu pukulan keras tepat mengenai hidungnya. "Siapa yang suruh kau bicara, hah? Aku pinjam uang, bukan nyuruh kau bicara! Sekarang aku mau pinjam uangmu lagi." "Ta-Tapi, aku benar-benar tidak punya uang," ucap remaja itu sekali lagi. Satu lagi pukulan mendarat di wajah remaja itu sampai hidungnya mengeluarkan darah segar. "Kau bicara apa, hah?" Dion mulai menjambak rambut remaja itu dengan kasar. Anak itu mulai meringis kesakitan. Raut wajahnya terlihat ketakutan, ditambah rasa sakit akibat pukulan Dion. Tak ada satu pun yang berani menghentikan Dion karena mereka takut akan terkena masalah jika sampai berurusan dengannya. Dion juga terkenal sebagai salah satu siswa yang kemampuan bela dirinya di atas rata-rata. Namun, masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Bima. Dion berdiri sambil menarik rambut remaja itu, dia kemudian menatap seisi kelas. "Kalian lihat ini? Kalian lihat, hah? Inilah yang terjadi kalau kalian berani melawanku? Aku Dion Lycaon. Ayahku adalah anggota Geng CanisLupus Nigreos. Kalian pasti tahu geng itu, 'kan? Geng terkejam yang ada di wilayah ini. Jangan macam-macam denganku! Sekarang jangan lihat kesini, Sialan!" Kata demi kata yang diucapkan Dion menggetarkan ketakutan seisi kelas. Tanpa peringatan kedua, seisi kelas langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dan seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi. Mereka ketakutan oleh ucapan Dion, apalagi dia membawa-bawa nama Geng CanisLupus Nigreos, geng yang terkenal karena kekejaman dan sifat keji mereka. Banyak rumor mengatakan bahwa ketua Geng CanisLupus Nigreos adalah orang terkuat di Wilayah Timur yang memiliki semacam kekuatan istimewa. Terdengar juga kabar bahwa pihak keamanan di Wilayah Timur pun berada di bawah kekuasan geng tersebut. Sementara itu, di sisi lain dalam ruangan kelas. "Jangan sampai kita terlibat masalah dengannya, Bim. Kalau sampai kita terlibat masalah dengan anak itu, hidup kita tidak akan tenang," ucap Arga pelan kepada teman disampingnya. Alih-alih merespon ucapan Arga, Bima masih terpaku pada Dion, dia menatap tajam pada Dion yang mulai memukuli remaja malang itu tanpa belas kasihan. "Hei, hei alihkan pandanganmu, Bim! Jangan sampai dia melihat kita sedang menatapnya, kita akan dapat masalah!" pinta Arga pada Bima. Disisi lain, Dion terus memukuli remaja malang itu dengan senyum puas tergambar di bibirnya. "Bim, dengarkan kata-kataku! Jangan sampai kita terlibat masalah dengan anak itu, kita akan dapat masalah!" Sekali lagi Arga memperingatkan Bima. Bima menghela nafas kasar. "Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak tahan melihat penindasan seperti ini." Bima bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Dion yang tengah menghajar remaja itu habis-habisan. "He-Hei! Kau mau kemana, Bim? Hei!" panggil Arga berusaha menghentikan Bima. "Rasakan ini! Mampus kau! Mampus!" Dion terus memukuli anak itu tanpa ampun diselingi tawa puasnya. "Hei, kau!" ucap datar seseorang dari arah belakang terdengar mengganggu telinga Dion. Seketika Dion menghentikan pukulannya lalu menoleh ke arah suara tersebut. "Rupanya kau, Si Bodoh yang aku temui tadi pagi. Mau apa kau?" tanya Dion dengan senyum remeh di bibirnya. "Lepaskan anak itu!" ucap Bima datar tanpa rasa takut sedikit pun. Seisi kelas menjadi geger melihat Bima yang dengan mudahnya berbicara seperti itu kepada orang yang paling ditakuti di kelasnya. "Hah?" Dion menatap heran pada Bima kemudian tertawa lebar mendengar ucapannya. "Siapa kau, Sial*n? Mau jadi jagoan di sini, hah? Berani-beraninya mengaturku! Kau mau kuhajar seperti anak ini, hah?" Dion menunjuk remaja yang telah dia hajar sampai terkulai lemas di lantai. Bima hanya menatap dingin pada Dion tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan yang dapat menggetarkan siapa saja yang menatapnya. Dion mendengus kesal. "Cih, Sial*n! Si Bodoh ini meremehkanku rupanya," batin Dion kesal. "Kau pikir kau siapa, Bodoh?" Dion mulai bangkit dari jongkoknya. Tanpa peringatan, ia langsung melayangkan pukulan mengarah ke wajah Bima yang hanya berjarak beberapa kaki saja darinya. Lagi-lagi seisi kelas dibuat terkejut oleh Bima, dengan mudah dia menangkap pukulan Dion yang terkenal mempunyai pukulan tercepat di kelasnya dan jarang ada yang bisa menghindar dari pukulannya. Dion tersenyum sinis. "Boleh juga kau. Bagaimana dengan ini!" Dion langsung memukulkan tangan satunya ke arah rusuk Bima, Bima mundur satu langkah ke belakang dan pukulan Dion lagi-lagi meleset. Seisi kelas mulai hening, seakan-akan terhipnotis oleh kemampuan Bima yang mampu berhadapan dengan Dion yang terkenal hebat bertarung. Walaupun kemampuan Bima sangat hebat, namun hanya sedikit yang mengetahuinya karena dia sangat tertutup sehingga tidak pernah ada yang memperhatikannya. Bahkan, teman dekatnya sekalipun, Arga, masih belum mengetahui kemampuan bertarung yang dimiliki oleh Bima. Dion menarik kepalan tangannya dari genggaman Bima "Kau mungkin bisa menghindar beberapa kali, tapi tidak untuk kali ini." Dion melakukan lompatan sambil melayangkan pukulannya kearah Bima. Seseorang yang tidak diketahui kedatangannya tiba-tiba berada di antara mereka untuk melerai pertarungan keduanya. Dalam sekejap, ia datang dan langsung menangkap pukulan Dion. "Siapa yang bilang kalian boleh berkelahi di dalam kelas, hah? ucap seorang pria dewasa yang merupakan salah satu Pembimbing di Akademi Bachalpsee. Pembimbing tersebut bernama Arya Acynonix. Saat diluar ia biasa dipanggil Arya, namun saat di akademi ia dikenal dengan panggilan Nix. Berusia sekitar 30-an tahun yang merupakan salah satu pembimbing yang mengajar di Bidang Keahlian Beladiri. "Ada yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi disini?" tanya Nix pada seisi kelas. Namun tak seorang pun menjawab pertanyaannya. Lalu tiba-tiba, "Lepaskan, Sial*n!" Dion menarik lengannya dari genggaman Nix lalu melangkah keluar meninggalkan kelas dengan perasaan kesal dan sedikit malu karena tidak bisa menghajar Bima sama sekali. Nix hanya menatap kepergian Dion sambil menghela nafas kasar. "Hmm, lagi-lagi anak itu." Tatapan dingin Nix masih terpaku kearah pintu kelas. Kemudian dia memalingkan pandangannya kepada Bima. "Hei, kau, siapa namamu?" tanya Nix "Bima," jawabnya singkat. "Bima? Hanya itu?" tanya Nix lagi. "Bima Panthera." "Panthera? Terdengar tidak asing. Baiklah, kembali ke kursimu." Bima mengangguk singkat kemudian berjalan ke kursinya dan kembali duduk. Nix menatap remaja yang baru saja dihajar Dion sesaat sebelum mengangkatnya untuk berdiri. "Aku akan membawa anak ini ke Ruang Penyembuhan, jangan sampai ada perkelahian lagi di dalam kelas ini, mengerti?" *** Di Akademi Bach ada yang namanya Ruang Penyembuhan. Sesuai dengan namanya, ruang tersebut merupakan tempat penyembuhan untuk pelajar akademi yang cedera ataupun terluka saat berada di Akademi Bach. Namun, tempat tersebut cukup berbeda dengan UKS Sekolah ataupun Rumah Sakit, karena waktu penyembuhan yang sangat singkat bahkan untuk luka parah sekalipun. Namun, ada beberapa luka yang tidak dapat disembuhkan dengan cepat di Ruang Penyembuhan, salah satunya adalah luka dalam akibat pancaran tenaga yang kuat. Biasanya, luka ini dialami oleh para pelajar yang bertarung menggunakan tenaga dalam. *** Setelah berkata demikian, Nix berjalan keluar kelas sembari membawa remaja tersebut menuju Ruang Penyembuhan. "Panthera ya ... Sorot matanya terlihat tidak asing. Sepertinya aku harus mulai mengawasi anak itu," gumam Nix sambil berjalan menuju Ruang Penyembuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN