6. Mencari

2066 Kata
Suara menggigil dari arah sampingku membangunkan ku dari tidurku, aku langsung menatap wajah putraku yang kini tengah menggigil kedinginan. Aku tau ini pasti akan terjadi setelah ia terpapar sinar matahari terik dalam jangka waktu yang lama, seharunya aku sudah biasa menghadapi itu semua. Namun tetap saja rasa cemas ku tidak dapat hilang ketika melihat kini Aldi putraku merasa sangat kedinginan, ku raba keningnya yang ternyata terasa sangat panas. Anakku demam dan kini aku bingung bagaimana mencari uang untuk membeli obat Aldi, ku selimuti tubuhnya menggunakan kain yang aku bawa. "Ma, dingin .... " gumam Aldi yang terasa seperti gumaman penderitaan dipendengaran ku. "Sabar ya, Sayang?" Aku tidak tega melihat Aldi jatuh sakit seperti ini, ku usap keningnya yang mulai menimbulkan bulir-bulir keringat. Herannya meskipun dia mengatakan bahwa ia kedinginan, suhu tubuhnya mengatakan sebaliknya. "Aldi tunggu disini sebentar ya? Mama mau ambil air kompres untuk Aldi." Aku beranjak meninggalkan Aldi untuk menyiapkan air hangat dan lap seadanya untuk mengompres dahi Aldi. Tiada henti Aldi merasa kedinginan, aku tak tega melihatnya. Kalau saja aku masih berada dirumah Mas Devan mungkin saja Aldi kini sudah mendapatkan asupan obat untuk menyembuhkan demamnya, ah aku tidak boleh menyesal atas apa yang telah aku putuskan. Untuk apa juga aku bertahan jika Mas Devan akan menikahi wanita lain, sudah jelas Mas Devan berselingkuh. Aku masih bisa mentolerir kekerasannya padaku dan Aldi namun aku tidak dapat bertahan ketika ia telah menduakan ku. Mungkin aku sekarang dianggap istri yang tidak tau diri oleh Mas Devan karena dengan tidak tau malunya pergi dari rumah setelah kami membina rumah tangga lebih dari enam tahun lamanya, dan dalam waktu itu dia telah menghabiskan sedikit harta kekayaannya untuk menghidupiku dan Aldi. Di samping aku tidak mau dimadu olehnya, aku juga sudah tidak kuat jika melihat Aldi beberapa kali disiksa oleh Mas Devan. "Ya Allah, kenapa panasnya tidak turun-turun?" gumam ku setelah meraba dahi Aldi yang panasnya bukannya turun malah semakin bertambah. Aku merasa sangat cemas sekali, apalagi bibir Aldi sudah sangat pucat sekali. Ya Allah, semoga Aldi baik-baik saja. Aku hanya memiliki Aldi di dunia ini, aku tidak ingin jika sampai kehilangan Aldi. Untuk itulah dengan cepat aku menggendong Aldi keluar dari rumah, dengan penuh kepanikan aku mencari-cari kendaraan umum yang lewat. Aku tidak peduli saat aku tidak memiliki uang sepeserpun, aku akan mengusahakannya nanti. Asalkan Aldi bisa segera diobati dan selamat, tanpa sadar air mataku menetes bersamaan dengan Aldi yang mulai terasa lemas di dalam dekapanku. "Aldi bangun, Sayang. Jangan buat Mama khawatir." Aku menepuk-nepuk pipi Aldi agar mata anakku itu bisa terjaga. Hingga tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti tepat dihadapan kami, aku mendongak untuk menatap seseorang yang mengenakan jas hitam yang kini berdiri dihadapan ku. Pria itu bersimpuh untuk melihat keadaan Aldi, ada raut cemas yang bisa aku tangkap dari matanya. "Tolong, bawa Aldi ke rumah sakit" pintaku dengan suara lirih sarat akan permohonan. Pria itu mengangguk sebelum membawa tubuh Aldi beralih pada gendongannya, pria itu memberikan kode agar aku ikut menaiki mobilnya. Aku sangat bersyukur masih ada orang baik hati yang tidak sungkan untuk menolongku saat ini, pria yang beberapa waktu lalu pernah memberikan sapu tangannya padaku. * * * Sepertinya aku merasa gila saat ini, sedari tadi yang aku pikirkan hanya Geana dan Geana. Hingga pekerjaanku banyak tidak selesai karena aku tiada henti memikirkan wanita yang sudah bersuami itu, aku meremas rambutku. Mengacak-acaknya dengan perasaan yang bercampur aduk. Bukan tanpa alasan aku menjadi begini, aku mencoba mencari Geana kesana kemari namun aku tak jua menemukannya. Bodohnya aku yang tidak meminta nomor ponsel wanita itu dan kini membiarkan aku yang gila sendiri karena tak tau kabarnya saat ini. Sedangkan kondisi perusahaan sedang tidak stabil karena dari laporan yang aku baca dan dengar Devandra Group mengambil beberapa investor besar dari kami, entah apa yang dikatakan oleh mereka hingga para investor mulai mencabut dananya pada perusahaan kami. Sepertinya kini kami akan menjadi perusahaan yang bersaing, semenjak aku menolak penawaran kerjasama dari Devandra Group perusahaan itu seakan ingin menghancurkan perusahaan kami. Aku tidak peduli atas apa yang dilakukan Devandra pada para investor kami, meskipun dia mencoba menghasut sebagian besar investor kami namun masih banyak investor yang menaruh rasa percayanya pada perusahaan yang telah diembankan olehku mulai saat ini. Sebagian besar aku sudah mempelajari caranya memimpin perusahaan dari Kak Fahri, tak diragukan lagi kemampuanku akan aku pastikan para investor itu pasti akan kembali pada kami. "Permisi Pak .... " Angel, sekretarisku memasuki ruanganku sambil menenteng berkas ditangannya. "Ada beberapa laporan dari karyawan kalau pendapatan perusahaan kita semakin menurun Pak, beberapa perusahaan dan investor ada yang membatalkan dan menarik kembali saham-saham mereka diperusahaan kita." Aku mengepalkan tanganku dengan kuat setelah mendengar penjelasan dari Angel, akan aku pastikan Devandra akan menerima ganjaran karena telah bermain-main denganku. Hanya karena aku menolak bekerjasama dengannya tak lantas membuatnya memanipulasi keadaan seperti ini. "Kamu atur pertemuan saya dengan beberapa pemimpin perusahan dan investor yang membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita," tukasku dengan mata yang menajam. "Baik Pak, saya akan menghubungi pihak-pihak yang bersangkutan. Kalau begitu saya permisi." Angel meninggalkan ruanganku setelah menaruh beberapa berkas diatas meja kerjaku. Jam makan siang telah tiba, pertemuanku dengan beberapa pihak yang telah membatalkan kerja sama dengan perusahaanku akan dilakukan setelah jam makan siang. Aku memilih makan di luar kantor daripada harus makan di area kantor, tiba-tiba nama Geana dan Aldi terlintas di kepalaku. Lantas aku menjalankan mobilku menuju alamat rumah dimana Geana dan Aldi tinggal, aku sudah dua kali mengantarkan Geana dan Aldi pulang jadi aku sudah lumayan hafal dengan jalannya. Aku menghentikan mobilku beberapa jarak dari rumah besar itu, mataku memicing ketika melihat ada tiga orang dewasa tengah berdebat bersama satu orang anak kecil. Setelah mataku melihat dengan jelas siapa itu, aku ingin sekali menghampiri mereka namun aku memilih diam karena ini bukan urusanku. Aku sadar aku tidak ada hak ikut campur urusan itu, hatiku sakit ketika melihat seorang wanita berhijab didorong oleh wanita yang memakai dress pink seksi. Ya dia Geana dan Aldi, pria dewasa itu adalah Devandra, aku tidak tau siapa wanita berdress pink itu. Hingga aku melihat Geana dan Aldi pergi dari rumah itu dengan tas yang berisi baju-baju, tunggu sebentar ... Aku tidak mengerti apa yang terjadi, apakah Geana dan Aldi diusir oleh pria itu? Rasanya aku ingin sekali melayangkan pukulanku pada Devandra saat ini juga. Namun segera kutahan keinginan itu, aku mulai menjalankan mobilku mengikuti langkah Geana dan Aldi. Kulihat Geana mulai menggendong Aldi yang terasa sudah lemas, mereka mampir disebuah warteg dan membeli makanan. Aku hanya melihat tanpa berani untuk menghampiri, ku ikuti langkah Geana dan Aldi yang pergi kesana-kemari mencari kos-kosan. Baru saja aku ingin menghampiri mereka, suara ponsel berdering menginterupsi pergerakanku yang ingin membuka mobil. "Halo .... " "Pak, para pemimpin perusahaan dan beberapa investor sudah tiba..." Astaghfirullah, mengapa aku bisa melupakan itu? "Iya, saya akan segera kesana." Tuut, pandanganku beralih pada Geana dan Aldi yang sekarang menghilang entah kemana. "Maaf, mungkin besok aku akan mencari kalian" gumamku setelah itu mulai menjalankan mobilku menuju kantor, kutahan rasa lapar yang mendera perutku karena aku tak sempat makan siang. Semua masalah sudah beres, para investor dan perusahaan yang membatalkan kontrak kini meminta maaf pada kami atas kesalahpahaman yang terjadi. Akhirnya mereka kembali memulai kerja sama bersama perusahaan kami, aku bersyukur akan itu. Satu masalah telah selesai, dan kini aku harus menyelesaikan masalah yang lainnya yaitu mencari Geana dan Aldi. "Terima kasih Pak, karena sudah mempercayai perusahaan kami" ucapku sambil menjabat tangan mereka satu-persatu. "Ah tidak perlu berterimakasih Pak Anan, semua ini hanya kesalahpahaman saja. Kami malah sangat berterima kasih karena Pak Anan berkenan untuk menjelaskannya." Aku hanya tersenyum simpul, pikiranku gelisah memikirkan keadaan Aldi dan Geana. Dimana mereka sekarang? Apakah mereka baik-baik saja? Hari ini begitu mengesalkan bagiku, aku yang akan mencari Geana dan Aldi tertahan di kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku. Pekerjaanku begitu menumpuk hingga aku tak sempat keluar barang satu detikpun, untunglah Angel peka dan memesankanku makan siang yang tertunda. Hari ini kuhabiskan untuk bekerja, biarlah besok aku akan mencari mereka berdua. Walaupun pikiranku sedikit tak fokus karena selalu memikirkan Geana dan Aldi, namun sebisa mungkin aku berusaha fokus supaya pekerjaanku cepat selesai. Tidak mudah menjadi pemimpin perusahan sebesar ini, apalagi ini perusahaan milik keluarga. Pantas saja Kak Fahri dan Kak Aby lebih memilih dibidangnya masing-masing ketimbang harus memimpin perusahaan, ternyata ini alasannya. * * * Keesokan harinya aku menyempatkan diri untuk mencari keberadaan Geana dan Aldi, rencananya aku akan menemui mereka sebelum aku berangkat ke kantor. Mataku menajam ketika melihat seorang wanita menangis sambil menggendong seorang anak, bukankah itu Geana? Mobilku mendekat kearah mereka hingga berdiri tepat dihadapannya. Aku langsung turun dari mobil dengan wajah panikku, Geana mendongak menatapku dan masih dapat kudengar suara lirihnya ditelingaku. "Tolong, bawa Aldi ke rumah sakit." Tanpa aba-aba aku mengambil alih Aldi dan menggendongnya menuju mobil. Kulihat dirinya masih diam mematung disana membuatku memberikan kode melalui mataku supaya ia ikut masuk ke mobil, saat aku menggendong Aldi tadi badannya terasa sangat panas. Bibirnya pucat, sebenarnya Aldi sakit apa? "Ada apa dengan Aldi?" tanyaku yang kini sedang menyetir, sesekali aku melihat kearah spion belakang dimana Geana duduk sambil memangku kepala Aldi. "Sebenarnya Aldi alergi terkena sinar matahari terlalu lama, dia akan menjadi demam sepeti ini jika itu terjadi" Jelas Geana yang dapat aku pahami. Kami tiba di rumah sakit terdekat, aku langsung menggendong Aldi membawanya memasuki rumah sakit. Kupanggil suster yang lewat hingga dia menuntunku ke ruangan dokter yang khusus menangani anak, aku melirik sekilas Geana yang sama paniknya denganku. "Semua akan baik-baik saja," gumamku mencoba menenangkannya, Aldi masih berada di dalam sedang ditangani oleh Dokter. "Terima kasih sudah menolong saya membawa Aldi datang kesini, saya akan mengganti uang administrasinya tapi nanti setelah saya punya uang." Aku mendengar suara Geana yang begitu lirih. "Tidak perlu menggantinya, aku ikhlas membantumu dan Aldi." Geana menggeleng dengan wajah sembabnya. "Tidak, saya akan tetap menggantinya nanti." Aku menyerah dan akhirnya mengangguk, terserah dia nanti mau mengganti bagaimanapun caranya toh aku tidak akan menerima uang darinya. Apa salahnya aku membantunya atas kepedulianku padanya? "Iya, tidak usah dipikirkan hal itu. Sekarang kita harus tenang dan berdoa untuk Aldi," ucapku bijak dengan senyum menenangkan. "Bagaimana dok keadaan anak saya?" Geana langsung berdiri menghampiri Dokter ketika pintu dibuka, aku pun ikut berdiri untuk mendengar penjelasan dari Dokter. "Jadi begini Pak, Bu. Anak kalian mengalami alergi yang sangat berat, apa Ibu tau sebelumnya kalau anak Ibu mempunyai alergi pada sinar matahari dalam jangka waktu yang lama?" Kulihat Geana mengangguk. "Untuk itu saya mohon ya Bu, jangan lagi membawa anak Ibu terpapar sinar matahari yang begitu terik karena itu bisa membahayakan keselamatan anak Ibu dan Bapak. Kondisi anak Ibu saat ini sudah membaik, namun butuh penanganan dan perawatan beberapa hari disini. Untunglah tadi Bapak dan Ibu segera membawanya kesini kalau tidak saya tidak tau apakah nyawa anak Ibu akan selamat." Aku tidak tau jika penyakit alergi seperti itu bisa berakibat fatal pada keselamatan Aldi, kulihat Geana meneteskan air matanya sambil mengucap syukur. "Terimakasih Dokter, apakah kami bisa menemuinya sekarang?" tanyaku mewakili Geana yang tak dapat berkata-kata. "Iya silahkan, kalau begitu saya permisi dulu ya Pak, Bu." Aku dan Geana menatap Aldi yang terbaring di brankar rumah sakit dengan infus yang terpasang dilengan kecilnya, mata itu masih terpejam rapat. Aku membiarkan Geana duduk di dekat Aldi sedangkan aku berdiri disampingnya, Geana mulai memegangi tangan kecil Aldi. "Ya Allah Aldi, untunglah kamu selamat. Mama sangat menyayangimu Nak, Mama tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu." Aku masih dapat mendengar ucapan Geana meskipun itu sangatlah lirih. Aldi masih senantiasa terpejam tanpa ada tanda-tanda bahwa mata yang tertutup itu akan membuka, aku ikut sedih melihat Geana yang menangis tergugu di depan Aldi. Aku berdoa semoga saja Aldi cepat sadar agar Geana tak menangis lagi, perasaanku bukanlah hal main-main yang dapat aku permainkan. Ini pertamanya bagiku jatuh cinta pada seorang wanita, wanita yang masih menjadi istri orang lain. Istri dari pesaing perusahaanku, pemimpin Devandra Group. Aku berjanji akan merebut Geana jika hanya luka yang pria itu torehkan untuknya dan Aldi, kejadian kemarin cukup untukku melangkah maju mendapatkan hatinya. Tidak ada yang bisa menghentikanku untuk memberikan kebahagiaan pada Geana dan Aldi, mereka pantas menerima semua kebahagiaan itu. Tidak ada lagi duka yang akan mereka rasakan, aku akan pastikan bahwa aku akan melindunginya saat ini sampai nanti. Meskipun harus mengorbankan apapun akan aku berikan, tidak peduli jika aku harus berurusan lagi dengan Devandra akan masalah ini. Devandra harus menyesal karena memperlakukan istri dan anaknya seperti ini, itu janjiku pada diriku sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN