2. Perasaan Gila

2084 Kata
Siang telah berganti malam, itu artinya Anan sudah boleh pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya hingga ia harus lembur. Angel senantiasa menemani Anan yang lembur, Anan sangat beruntung memiliki sekretaris se-sopan Angel. Tak pernah sekalipun Angel berniat untuk menggodanya ataupun sekedar mencari perhatiannya, Angel bekerja dengan begitu serius. Pekerjaannya pun bagus dan cepat sekali terselesaikan, padahal baru beberapa hari ini Angel bekerja dengannya. Anan merapikan setelan jasnya setelah mematikan layar komputernya kemudian berjalan keluar dari ruangannya, Angel yang melihat sang atasan pun bangkit berdiri dan menyapa Anan ramah yang dibalas sapaan ramah pula dari Anan. "Kamu tidak pulang Angel? Ini sudah malam..." "Setelah Pak Anan pulang saya juga akan pulang Pak." Balas Angel sambil tersenyum ramah. "Saya sudah akan pulang, kamu bersiap-siaplah juga untuk pulang" ucap Anan yang dibalas anggukan kepala dari Angel. "Saya duluan ya?" "Baik Pak, selamat malam." Anan menganggukkan kepalanya kemudian meninggalkan Angel untuk menuju lift. Didalam mobil Anan tak lantas menjalankan mobilnya, pria itu malah menyandarkan kepalanya sambil memandangi bangku penumpang disebelahnya. Beberapa jam lalu ada wanita cantik yang duduk dibangku itu, aishh sekarang Anan malah memikirkannya. Dasar perasaan gila!! Sadar Anan, dia itu masih istri orang. Lo mau jadi pebinor? Dosa tau. Batinnya bergejolak mengingatkan, namun yang namanya pikiran tidak bisa diatur kita harus memikirkan apa. Nyatanya Anan masih saja memikirkan Geana, bahkan dia sampai meremas rambutnya sendiri karena pikiran itu tak hilang-hilang. "Gue udah mulai gila nih, sekalinya suka malah sama istri orang" gumam Anan frustasi. Setelah lama menenangkan hati dan pikirannya yang tiada henti memikirkan wanita bersuami, Anan yang mulai tenang pun menjalankan mobilnya untuk pulang kerumah. Jangan kalian pikir jika pria seperti Anan pulang dari kerja atau sedang ada masalah ia akan pergi ke club malam, Anan pria baik-baik. Pria itu tidak pernah menginjakkan kakinya satu kali pun di tempat haram itu, bahkan meskipun pergaulannya yang terkadang bergaul dengan macam-macam orang Anan bisa menjaga dirinya. Sepertinya didikan Papa dan Mamanya sangat dijunjung tinggi oleh anak-anaknya, diantara ketiganya tidak ada yang pernah salah dalam pergaulan. "Assalamualaikum." Anan memasuki rumah setelah mengucapkan salam. "Waalaikumsalam..." Balas suara dari dalam. "Loh? Mama belum tidur?" tanya Anan ketika melihat sang Mama masih duduk disofa ruang keluarga sambil menonton televisi, Anan memilih duduk disebelah Mamanya setelah mencium punggung tangannya. "Mama nungguin kamu, ada yang mau Mama bicarakan." Balas Mama sambil tersenyum. "Papa mana Ma?" "Papa sedang ada dikamar, heran tuh Mama. Papa tidak keluar-keluar, apa Papa tidur ya?" Anan bertanya Mama malah balik bertanya membuat Anan menggelengkan kepalanya. "Mama mau ngomong apa?" Mama meraih tangan Anan untuk ia genggam. "Minggu depan Mama dan Papa akan ke Surabaya, rencananya kami akan menetap disana. Rasa-rasanya Mama dan Papa ingin menghabiskan masa tua kami disana, di kampung halaman kita dulu." Raut wajah Anan yang ceria berubah menjadi sedih setelah mendengarkan ucapan sang Mama. "Terus Anan sama siapa di sini?" tanya Anan sedikit sedih, Mama yang melihatnya tertawa. "Kamu sudah besar Anan, menjaga perusaahan besar saja kamu bisa. Pasti kamu juga bisa mengurus diri sendiri." Tapi tetap saja Anan ingin agar kedua orangtuanya tinggal di rumah ini bersamanya. "Papa dan Mama apa tidak bisa tinggal di sini saja bersama Anan?" "Mama ingin kamu mandiri, sepertinya Mama sudah terlalu lama memanjakan anak bontot Mama ini." Mama mengusap kepala Anan dengan sayang. "Jadi izinkan Mama dan Papa pindah ke Surabaya minggu depan ya?" Pinta Mama penuh harap, Anan menghela nafas sebelum menjawab. "Iya Anan kasih izin Mama dan Papa pergi ke Surabaya." Apa boleh buat? Anan tidak bisa memaksa Papa dan Mamanya tetap tinggal bersamanya. "Gitu dong anak Mama." Mama kembali mengusap kepala Anan seperti anak kecil yang sedang ditenangkan oleh sang Ibu karena menangis. "Mama, Anan bukan anak kecil lagi." Protes Anan sambil menjauhkan tangan Mama dari kepalanya, Mama tertawa karena ekspresi Anan yang terlihat lucu. "Kalau Anan sudah dewasa, mana dong calon mantu buat Mama?" "Mama lihat aja nanti, Anan pasti bawain calon mantu sekaligus satu cucu untuk Mama" balas Anan sambil tersenyum ketika mengingat Geana dan Aldi yang disalahartikan oleh Mamanya. "Anan, jangan aneh-aneh ya disini tanpa Mama-Papa!!" tegur Mama yang dibalas tawa renyah Anan. "Tidak Mamaku sayang, Anan cuma bercanda kok." Anan menyengir ketika melihat Mama memelototinya. "Anan ke kamar duluan ya Ma? Mama tidurnya jangan malam-malam." Anan mengecup pipi Mamanya kemudian beranjak menuju kamarnya. "Katanya tadi sudah dewasa tapi masih saja cium pipi Mama." Anan yang mendengar ucapan Mamanya tertawa sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya berada. Anan membaringkan tubuhnya diatas kasur empuknya setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, pikirannya menerawang ke arah masa depan. Jika saja ia bertemu lebih dulu dengan Geana daripada pria itu ia pasti sudah hidup bahagia bersama Geana dan anak mereka, jika saja Geana belum menikah ia pasti akan maju teratur untuk mendapatkan hati Geana. Namun status wanita itu yang masih menjadi istri dari orang lain membuat Anan sedikit kesusahan dalam mengekspresikan perasaannya, lama-lama ia bisa menjadi gila karena perasaannya pada Geana. "Kapan ya dia bisa berbaring disini, disamping gue?" gumam Anan sambil memikirkan jika Geana kini tengah berbaring disampingnya saat ini ia pasti akan memeluk dan mencium Geana dengan mesra, tapi setelah statusnya tersegel halal ya. "Ah elah, hidup lo gini amat sih An? Sekalinya suka kok sama istri orang? Gak sekalian sama janda aja?" gerutu Anan pada dirinya sendiri. Malam itu Anan tiada henti memikirkan Geana hingga alam mimpi menghampirinya, bahkan mungkin di mimpinya saja ia masih memikirkan Geana. Memimpikan indahnya bahtera rumah tangga yang ia bangun dengan Geana dan Aldi yang menghiasi pernikahan mereka, ah sungguh indahnya mimpimu Anan. Namun itu hanya sekedar mimpi dan ketika nanti ia bangun, kesenangan itu berakhir tergantikan dengan rasa frustasi karena perasaan gila yang menggebu meminta balasan namun balasan itu mungkin akan lama datang atau malah tidak akan pernah ada? Entahlah semua itu hanya Allah-lah yang tau. Manusia hanya berencana, berusaha dan berdoa, semua itu kita serahkan lagi kepada Allah sang maha kuasa. * * * Dilain tempat, Geana Gevara Ayunda tengah menunggu kepulangan sang suami padahal hari telah menjelang dini hari. Namun tanda-tanda kepulangan sang suami tak kunjung ada, Geana harap-harap cemas menunggu kepulangan sang suami. Karena seiring yang ia lihat semakin hari tingkah Devandra semakin buruk, pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Sepertinya saat ini Geana harus mengurus suaminya yang mabuk. Ketika mendengar bel pintu rumahnya berbunyi, lantas wanita itu membuka pintu rumahnya. Dan benar saja, ia mendapati Devandra berjalan sempoyongan memasuki rumah. Tercium bau alkohol yang menguar, ia menutup hidungnya karena tak tahan dengan bau menyengat itu. "Mas habis darimana? Pulang-pulang mabuk lagi," ucap Geana sambil menarik lengan Devandra agar bersandar pada lehernya, Geana menuntun Devandra menuju kamar mereka setelah mengunci pintu rumah. "Jangan banyak nanya ha...ha...ha... Seenaknya saja dia menolak kerjasama dengan perusahaan besar seperti milikku ha...ha.. Nanti akan ku balas ha...ha.." Devandra tiada henti meracau, Geana membaringkan tubuh sang suami diatas ranjang. "Mas... Mass... Coba sedikit saja kamu berubah," ucap Geana ketika Devandra telah menutup matanya. Geana beranjak untuk mengambil handuk dan baskom berisi air hangat, ia kembali menemui Devandra yang mungkin tertidur pulas. Perlahan-lahan Geana membuka pakaian suaminya dan mengelap tubuh Devandra menggunakan handuk yang telah ia celupkan kedalam air hangat, setelah selesai ia memakaikan kaus serta celana selutut untuk Devandra. Wanita itu tersenyum miris ketika melihat keadaan suaminya yang tertidur dalam keadaan mabuk, dalam hati Geana merasa sangat sedih sekali. "Kapan Mas kamu bisa menjadi imam yang baik untukku dan Papa yang baik untuk Aldi?" gumam Geana sambil mengusap kepala Devandra. Meskipun sikap sang suami kadang kasar dan rasa cinta itu telah hilang namun rasa sayangnya pada Devandra masih ada, Geana masih berharap agar suaminya mau berubah. Geana masih berharap agar Devandra mau sedikit saja memberikan waktu untuk Aldi, memberikan kasih sayang pada anak mereka. Rasanya sedih ketika mengingat sudah bertahun-tahun Geana menjalani pernikahannya yang seperti ini, harapan selalu ada di bait doa yang ia sematkan setiap sujudnya. Harapan kelak ia dan Aldi akan bahagia, harapan kelak Devandra akan menjadi imam yang baik untuknya dan harapan kelak Aldi akan mendapatkan kasih sayang yang utuh dari Papanya. "Mama..." Tiba-tiba Aldi membuka pintu kamarnya, Aldi muncul dengan wajah takutnya. "Ada apa, sayang?" tanya Geana ketika telah berada dihadapan Aldi. "Aldi takut Ma, Aldi tidak mau tidur sendirian." Ucap Aldi sambil memeluk Geana. "Oke, kita ke kamar Aldi lagi ya? Mama temani Aldi tidur." Geana menggiring Aldi menuju kamar Aldi yang berada disebelah kamarnya. "Sekarang Aldi tidur, kan sudah ada Mama ya sayang?" ucap Geana sambil mengusap kepala Aldi yang kini telah berbaring di atas tempat tidur. "Ma .... " panggil Aldi ketika Geana ikut berbaring disamping sang anak. "Hhmm, iya ada apa sayang?" Geana membawa Aldi dalam pelukan hangatnya. "Kenapa Papa tidak seperti Om Anan yang menyayangi Aldi?" Geana mematung mendengar pertanyaan yang mungkin akan sulit dijawab olehnya. "Papa sayang kok sama Aldi, cuma Papa sibuk. jadi tidak ada waktu untuk menemani Aldi main." Geana berusaha memberikan pengertian pada anaknya. "Tapi kenapa Papa selalu memukul Mama dan Aldi kalau Papa sedang marah? Papa selalu kesal kalau melihat Aldi, Papa tidak pernah tersenyum pada Aldi seperti Om Anan." "Aldi, cara seseorang menyampaikan kasih sayangnya berbeda-beda. Jika Om Anan menyayangi Aldi seperti itu maka Papa menyayangi Aldi dengan caranya sendiri." Meskipun Geana sudah bingung sekali ingin menjawab pertanyaan Aldi namun sekeras mungkin ia mencoba memberikan pengertian pada anaknya bahwa Papanya sangat mencintai anaknya. "Kenapa bukan Om Anan saja yang menjadi Papa Aldi Ma?" Setelah Aldi menanyakan hal itu Geana tidak dapat berkata-kata lagi. Anan yang bersikap lembut pada Aldi, Anan yang terlihat menyayangi Aldi, Anan yang terlihat ceria, Anan yang mengantarkan mereka pulang, Anan yang tertawa bersama Aldi, Anan yang membelikan Aldi es krim. Semua tentang Anan bergejolak menembus hati dan pikirannya, Geana bingung ingin menjawab apa pertanyaan anaknya. Geana bisa melihat jika Anan memberikan kasih sayang pada anaknya itu tulus tanpa kepura-puraan, mungkin karena itulah Aldi berharap bahwa Anan-lah yang menjadi Papanya. "Sudah takdirnya Mama untuk menikah dengan Papamu Nak, jika Mama tidak menikah dengan Papa Aldi pasti tidak ada disini. Semua sudah takdir dari Allah, jodohnya Mama itu adalah Papamu." Aldi tidak mengerti apa yang Mamanya ucapkan, anak itu masih terlalu kecil untuk mengetahui tentang apa itu takdir dan jodoh. "Kenapa Mama tidak meminta pada Allah agar jodoh Mama itu Om Anan saja?" "Aldi, sudah ya sekarang tidur! Sudah malam." Tanpa sadar Geana menaikkan nada suaranya membuat Aldi sedikit takut, Geana yang sadar akan sikapnya pun memeluk Aldi sambil mengusap kepalanya. "Maafin Mama ya, Sayang? Makanya Aldi sekarang tidur. Jangan tanyakan lagi tentang Om Anan, Papanya Aldi itu Papa Devan ya sayang?" Dalam pelukan Geana, wanita itu dapat merasakan kalau Aldi mengangguk dalam peluknya. Geana memikirkan segala pertanyaan Aldi, kasihan sekali putranya. Aldi terlalu berharap mendapatkan kasih sayang dari Papanya hingga berharap kalau orang lain adalah Papanya, Geana sangat memahami apa yang Aldi rasakan. Tak mudah menjadi Aldi, diusianya yang masih sangat belia ia sering diabaikan dan bahkan mendapat siksa fisik dari Papanya. Wanita itu mengelus luka lebam di lengan kiri Aldi, siapa lagi kalau bukan suaminya pelakunya. Semua masalah yang Devandra alami selalu dilampiaskan segala emosinya pada Geana dan Aldi, Geana tidak bisa melawan ketika melihat Aldi dipukul oleh Devandra. Wanita itu tidak memiliki kuasa untuk melawan. Sapu tangan!! Satu benda terlintas dipikiran Geana ketika mengingat Anan, ia lupa belum mengembalikan sapu tangan yang pria itu pinjamkan. Mungkin lain kali jika mereka bertemu kembali Geana akan mengembalikan barang pemberian Anan itu, pria yang sepertinya lebih muda darinya itu selalu dapat membuat Aldi tersenyum di dua kali pertemuan mereka. Geana menggeleng berusaha menepis segala rasa kagum yang tersemat dihatinya untuk Anan, suaminya adalah Devandra bukan Anan. Berdosa dirinya jika memikirkan atau bahkan mengagumi pria lain sedangkan statusnya kini adalah istri Devandra dan Ibu dari Aldi. Ketika merasakan bahwa Aldi telah tertidur pulas, perlahan-lahan Geana melepaskan pelukannya dari tubuh Aldi. Wanita itu mematikan lampu kamar Aldi, menutup pintu kamarnya perlahan kemudian beranjak pergi menuju kamarnya. Disana Devandra masih tertidur dengan pulas-nya, Geana lebih memilih melaksanakan shalat malam sambil menunggu waktu subuh tiba. Beruntunglah tadi ia sempat tidur selama beberapa jam, tak ada waktu bagi Geana tertidur dengan pulas. Kesibukannya melebihi kesibukan para pekerja kantor, ia harus memasak, membereskan rumah sebesar ini dan mengurus Aldi. Aldi nanti akan sekolah dan ia harus mengantarkannya, mana mau suaminya itu mengantarkan Aldi ke sekolahnya. Pria sesibuk Devandra tidak punya banyak waktu hanya untuk sedikit memberikan perhatiannya pada sang putra. "Semoga saja kamu dapat merasakan bahagia ya, Nak?" gumam Geana menatap Aldi yang tertidur dari pintu kamarnya yang dibuka, setelah itu Geana pergi menuju dapur untuk memasak sarapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN