-Alesha POV- Langkah gadis itu dengan pongahnya menjauh dari rumahku, setelah meneriakkan kebencian yang sangat padaku juga pada Rayyan, pengakuan laki-laki yang kini masih menggenggam erat jemariku membuat gadis itu mengutuk semua yang telah kulakukan, seakan aku lah biang dari kerusakan keluarganya, seakan aku lah pengatur permainan itu. Ya Rabbi, saat seperti ini aku berterimakasih Engkau mengirimkan laki-laki yang tak ada bosannya melepas jemariku, mengalirkan setiap energi untuk aku lebih kuat. "Maafkan aku Sha." Suara itu akhirnya kudengar. Aku melihat matanya, pandangannya menyiratkan penyesalan. "Kenapa meminta maaf?" "Kenapa waktu aku bertemu Shena dan Kakaknya, aku malah mengaku sebagai saudaramu, kenapa aku tidak jujur kalo memang kita dulu dalam masa perjodohan. Sekarang ke

