Langkah kaki nya semakin terasa mengambang, ketika mulai dia lihat sebuah pintu yang dituju.
Seakan dia hanya menapaki jalan yang baru saja dilalui bapak guru didepan langkahnya.
Pak guru memasuki ruangan disusul oleh Lea. Seketika anak-anak yang berceloteh langsung diam dan duduk di bangku mereka.
"Selamat pagi semuanya!"
"Pagi pakk!"
"Pagii!"
"Pagi juga pak.." balas anak-anak di kelas itu.
"Pagi ini bapak membawa murid baru yang akan belajar bersama kita." memandang Lea.
"Ayo perkenalkan dirimu."
"Selamat pagi semua. Salam kenal namaku Leanida Avalon." singkat nya dengan wajah kaku.
"Nah Lea ini pindah kemari karena suatu alasan. Bapak harap kalian semua dapat membantunya beradaptasi. Okeee."
"Lea kamu bisa duduk di bangku yang kosong disana." jelas pak guru mengakhiri perkenalan.
Dirinya mengangguk lalu pergi menuju kursinya.
Dan dimulailah pelajaran pertama hari kelas tersebut.
Ding ding ding..
"Pelajaran pertama selesai akan dilanjutkan oleh pelajaran selanjutnya.."
Ding ding ding...
Terdengar suara bel yg menunjukkan akhir dari mapel saat itu.
Anak-anak meregangkan diri mereka sembari menjawab salam dari gurunya.
"Hai Lea.." ucap seseorang.
"Ohh hai."
"Kenapa kau pindah kemari? Sebentar lagi kenaikan dan akan jadi kelas tiga. Rasanya tak tepat untuk pindahan." celoteh seorang gadis berambut ikal.
"Emm itu ada urusan pribadi."
"Well.. Apa kau membuat masalah?" seorang gadis pirang mengatakan hal buruk tentangnya.
"Sudah kubilang urusan pribadi." karena jengkel Lea tidak sengaja meninggikan suaranya. Matanya pun sedikit melotot.
Kedua gadis elit itu tampak kesal dan maju ke arah Lea. Seketika Lea pun bangun menyambut keduanya.
Tiba-tiba seorang gadis yang terlihat dewasa secepatnya berada diantara mereka.
"Cukup kalian berdua. Hai Lea mau berkeliling bersamaku?" ucap gadis itu. Dirinya langsung menggandeng Lea dan menariknya keluar.
Lea tampak bingung lalu bertanya.
"Siapa kamu?"
"Ahh kenalkan aku Eva. Aku ketua kelas."
Lea mengangguk mendengarkan.
"Emm tadi itu Jeny dan Nao. Mereka memang kadang membuat masalah. Tapi kamu gak perlu takut. Asal dikelas ku maka aku yang atur." jelas Eva sambil tersenyum.
"Okee. Thanks ya." jawab nya singkat.
Mereka berdua pun berjalan bersama menyusuri koridor.
Sekolah selesai ditandai berakhirnya pelajaran.
Eva menoleh kearah belakang tempat Lea duduk. Dirinya mendapati Lea baru saja dirundung oleh Jeny dan Nao.
"Hei kalian."
Kedua gadis itu melengos pergi meninggalkan kelas.
"Mereka melakukan apa padamu?" tanya Eva khawatir.
"Hmm sepertinya mulai saat ini aku akan dirundung." jelas nya santai.
"Duhh apa kamu gak bisa senyum dan beramah tamah sama mereka?" sambil mengusap kepalanya.
"Kenapa?"
"Mereka itu punya pengaruh besar."
"Jadi kamu nggak bisa membantuku diluar sekolah ya." ucap Lea dengan cueknya.
"Apa? Diluar? Kamu langsung pulang ya. Jangan temui mereka apapun alasannya okee." Eva yang nampak terkejut lalu pergi keluar meninggalkan Lea yang sedang mematung.
"Siapa yang bilang mau pergi." gerutu Lea. Kemudian dia menggendong tasnya dan segera pulang.
Keesokan harinya.
Brakk
"Hei kita itu nungguin lho. Mana ngilang aja!" teriak Nao setelah menggebrak ringan meja Lea.
Menatapnya.
"Tanganmu gapapa?"
"Awas ya!" dengan kesal Nao hampir melayangkan tangannya.
"Jangan belagu ya kamu." ucap Jeny sambil meninggalkannya pergi.
"Lea! Ada apa ini? Kemarin langsung pulang kan?" Eva yang datang entah dari mana.
"Iya kok. Tenang aja." jawab Lea sambil tersenyum.
"Lea kamu cantik lho kalau senyum." ledek sang ketua kelas memujinya.
"Apasih.." ucap Lea malu.
Eva pun meninggalkannya karena guru hari ini telah datang. Selepas duduk dirinya menengok kembali ke belakang. Nampaknya mengecek Lea.
Siang itu cafetaria ramai. Masakan favorit murid-murid dihidangkan hari ini.
Di keramaian itu Lea ikut mengantri makanan. Kemudian mencari tempat duduk setelahnya.
Duakk Brakk!
Seseorang menabraknya sampai nampan makanannya tumpah. Untung saja baju yang dipakainya bersih karena dia berhasil mengelak.
"Nggak liat jalan ya?" tanpa melihatpun tau itu suara siapa.
"Apa maksudmu Jeny. Kamu yang menabrak ku."
"Nggak mungkin lah.."
"Iya jangan ngada-ngada deh." tambah Nao disampingnya.
"Kalau bukan kenapa cuma nampan ku yang jatuh? Nampan makanan mu aman."
"Ya mana ku tau." ledek keduanya sambil cengigisan.
Prakkk
Lea menampar nampan Jeny sampai semuanya terguling di lantai.
"Apa apaan kamu! Cari masalah ya?! Kamu makan itu makanan mu!" teriak Jeny.
Kini mereka benar-benar pusat perhatian.
Lea perlahan mendekat ke Nao dibelakang Jeny. Mengambil mangkuk sup di atas nampan yang dibawanya.
"Ahhhh!" saking kagetnya Nao sampai berteriak. Dia takut sup itu akan mendarat di mukanya.
Lea mengambil alih nampan Nao dengan santai. Lalu menyerahkan mangkuk sup nya.
" Aku nggak suka sup nya. Aku pergi yaa. Jeny tadi menyuruhku makan." sambil berlalu.
"Hei dasar kamu! Kamu bakal tanggung jawab tahu! Hei budek yaa!"
Menoleh dengan malas.
"Maaf aku gak bisa bahasa binatang." singkatnya sambil berlalu pergi meninggalkan kekacauan itu.
Selanjutnya.
"Aku nggak suka gadis itu."
"Aku juga."
"Tapi kamu bakal lindungi kami kan."
"Tentu saja teman-teman ku. Asal kalian menurut padaku."
"Dia cantik."
"Wahh gila.."