"Sebenernya hubungan lo sama Dero itu apa?"
"Maksudnya?" tanya Dyra. Otaknya berpikir keras mencari alasan. Ia merasa bingung mengapa tiba-tiba Dea menanyakan hal seperti itu.
"Gue kira selama ini gue sahabat lo, Dyr. Tapi gue bahkan enggak tau apapun tentang lo!" Dea melangkah meninggalkan Dyra yang masih terpaku. Ucapan Dea sukses membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dyra mulai merasa panik. Sepertinya rahasianya terbongkar, tetapi bagaimana bisa. Tersadar dari lamunannya, Dyra segera berlari mengejar Dea.
"Tunggu. Maksud lo apa?" tanya Dyra.
"Rudra udah cerita semuanya."
Semuanya? Rudra?
Dyra membulatkan matanya. Apakah Rudra mengetahui sesuatu. Ah! Tentu saja itu mungkin mengingat kemarin ponselnya sempat berada di tangan si Rudra. Mustahil jika laki-laki itu tidak mengutak-atik untuk mengetahui isi ponselnya.
"Semuanya? Emang dia cerita apa?"
Demi Tuhan! Dyra harap-harap cemas dalam hatinya. Dea nampak menghela napas.
"Tentang HP lo yang hilang. Tentang Rudra yang nemuin Hp lo. Dan tentang Dero. Dero yang ngambil Hp lo ke rumahnya Rudra."
"Lo pasti punya hubungan khusus kan sama Dero? Kalo enggak, mana mungkin dia mau nyamperin Rudra ke rumahnya cuma buat ngambilin hp lo."
"Emh, itu." Dyra tergagap.
Dea berdecak sebal. Ia melihat sekeliling sembari menanti jawaban Dyra. Semua orang tampak bergegas pulang. Lain dengan dirinya dan Dyra yang terlihat serius karena sedang membahas masalah.
"Lo marah? Maaf ya. Soal itu-"
"Gue nggak marah. Tapi. Dyr, kalo lo deket sama cowok cerita sama gue. Nggak sembunyi-sembunyi gini. Pokoknya kalo lo naksir sama siapapun, deket sama siapapun. Jadian sama siapapun, cerita sama gue. Gue tuh ngerasa nggak guna banget tau nggak sebagai sahabat lo. Gue nggak tau apa-apa tentang lo, Dyr. Gue nggak tau rumah lo, keluarga lo. Oke fine, kalo lo bilang keluarga lo enggak ada di sini dan lo tinggal sendiri. Tapi seenggaknya kasih tau alamat rumah lo. Dan ya, pantes aja selama ini lo pelit kalo di pinjemin Hp. Ternyata lagi deket sama fan gue."
"Maaf ya, Dea. Gue nggak bermaksud. Tapi-" Dyra menggigit bibir bawahnya.
"Tapi gue nunggu saat yang tepat buat cerita," imbuhnya.
"Oke. Kalo gitu kita bicarain besok lagi, ya. Gue buru-buru, Rudra udah nungguin. Dan masalah ini, gue nggak marah. Tapi bete aja sama lo. Gue duluan, ya." Tanpa perlu menunggu persetujuan dari Dyra, Dea segera melangkah meninggalkannya. Dyra baru bisa bernapas lega setelah Dea melangkah menjauh. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat ketika ia berbohong.
"Mati. Kalo udah kayak gini, pasti panjang urusannya."
Entah bagaimana lagi ia harus menghindar dari pertanyaan Dea tentang kehidupannya. Yang menyebalkan adalah, Dea mengira jika Dyra menjalin hubungan dengan Dero. Padahal yang sebenarnya adalah mereka adalah kembaran. Tapi setidaknya opini Dea adalah mereka hanya dekat. Sehingga Dyra bisa beralasan sudah tidak dekat lagi dengan Dero. Bagi Dyra ini hanya masalah waktu.
----
"Maaf ya, Dra. Lo jadi nunggu lama," ujar Dea ketika tiba di parkiran.
"Iya." Rudra memberikan helm kepada Dea.
Dea menerima helm tersebut. Ia naik ke boncengan motor Rudra kemudian memakainya sembari berkata, "Soalnya tadi gue klarifikasi dulu sama Dyra soal kemarin."
Gerakan Rudra yang tadinya ingin menghidupkan motornya menjadi terhenti. Ia pun merasa penasaran akan apa yang terjadi antara dua teman sebangku ini.
"Dyra ngomong apa aja?" tanya Rudra penasaran.
"Dia cuma bilang minta maaf."
"Emang lo nggak nanya hubungan dia sama Dero?"
"Nanya sih. Tapi rencananya besok lagi diomongin," sahut Dea.
"Oh." Rudra terdiam sejenak. Hingga tepukan di bahunya membuat ia menoleh.
"Apa?" tanyanya.
"Jadi nggak? Kok nggak jalan?" tanya Dea karena sedari tadi Rudra belum juga menyalakan motornya.
"Oh iya. Jadi." setelah itu Rudra melintas meninggalkan pekarangan sekolah bersama Dea di boncengannya. Hari ini ia berniat menemui seseorang. Seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Seseorang yang sangat ia cintai.
----
"Kampret!" Dyra menggeram kesal mengingat kejadian tadi. Ia tidak menyangka tipe ketus seperti Rudra akan menceritakan peristiwa kemarin kepada Dea. Apalagi sepertinya Rudra menceritakan begitu detail dan jelas. Dyra menjatuhkan tubuhnya di atas kasur setelah melempar tasnya hingga terjatuh di atas meja. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan geram. Teringat peristiwa kemarin ia mengambil ponselnya.
"Nggak mungkin Hp gue nggak dibuka-buka. Apalagi nggak ada kodenya gini." Dyra menatap fisik ponselnya dari depan hingga belakang. Bawah hingga bagian atas.
Kemarin setelah Dero memberikan ponselnya. Ia sempat mengecek riwayat aplikasi yang terbuka. Bersih, ponselnya belum membuka aplikasi apapun. Biasanya itu terjadi karena dua hal. Pertama karena ponselnya memang benar-benar belum membuka aplikasi apapun. Atau kedua, riwayatnya telah dibersihkan setelah membuka banyak aplikasi. Dan Dyra lebih setuju kepada opsi kedua.
"Dyr, ntar kan satnight. Kita ke luar, yuk."
Dyra hampir saja terbangun dari posisinya jika saja ia tidak bisa mengendalikan diri. Kemunculan Dero secara tiba-tiba mampu membuatnya terkejut. Meski begitu, rasa kesal Dyra mampu menepis keterkejutannya.
"Emang dibolehin sama Mama?"
"Gue udah izin. Tenang aja. Yang penting jangan pulang malem," ujar Dero.
"Jangan pulang sekalian, katanya."
Bukkk..
Dero segera mendapat hadiah pukulan bantal dari Dyra.
"Itu mah berarti nggak dikasih!"
"Di kasih, kok. Kan gue udah bilang asalkan jangan pulang malem. Batas jam 9 malam."
Dyra melirik jam dindingnya. Masih menunjukkan pukul 4 sore. Tapi sepertinya akan mengasyikkan jika ia menghabiskan waktu di luar. Agar ia bisa melupakan sejenak masalah yang membuatnya kesal.
"Kita ke luar sekarang, yuk." ajak Dyra dengan semangat 45.
"Yakin? Gimana kalo hunting foto?" ajak Dero dengan menaik turunkan alisnya.
"Ogah, bosen. Nonton film aja. Film horror," saran Dyra. Baginya hunting foto adalah kegiatan yang membosankan. Berpose di hadapan kamera atau memotret pose Dero. Begitu saja terus hingga mendapatkan foto yang sesuai. Dan itu tidak mengasyikkan.
"Kita ke luar sekarang. Terus balik jam 9 malem. Yuk, Kak."
Dero mengerutkan keningnya.
"Tumben lo nakal."
"Lagi boring. Yuk, siap-siap."
Dyra mengubah posisinya dari tiduran menjadi duduk bersandar. Ia memandang Dero yang kini tengah menatap dirinya dengan raut wajah heran.
"Kenapa?" tanya Dyra bingung.
"Lo sehat, Dek?"
"Sehat walafiat. Udah deh, Dero Anggara. Mending sekarang mandi, siap-siap. Dandan yang paling kece biar orang-orang di mall pada klepek-klepek liat lo. Oke. Sekarang cus ke kamar lo." Dyra bangun dan mendorong Dero agar mau kembali ke kamarnya.
"Bentar." ucapan Dero membuat Dyra terhenti.
"Empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan." Dero menghitung kemudian senyumnya merekah menatap Dyra.
"Berarti sekitar enam jam ke depan, kita ngedate nih?" tanya Dero dengan seringaiannya.
"Boleh juga. Ya udah sana buruan siap-siap!"