Dyra mendongak.
"Rudra." ujarnya. Ia tidak menyangka laki-laki ini adalah Rudra. Dyra lantas melirik motor yang dibiarkan diterpa hujan oleh pemiliknya. Itu benar motor milik Rudra. Rudra melirik malas pada Dyra yang tengah menatapnya. Ia lantas mengalihkan pandangan dengan menatap lurus ke depan. Menatap rintik-rintik hujan yang jatuh membasahi bumi.
----
Dyra menghela napas. Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya mampu bertahan tanpa bicara sedikitpun. Berteduh di halte menanti hujan segera reda. Namun nyatanya rintik-rintik hujan yang turun masih tetap sama, deras. Dyra menoleh. Lelaki di hadapannya ini masih saja menatap lurus. Tidak terlihat ingin membuka pembicaraan untuk mengusir kejenuhan. Dyra merasa suhu hari ini terlalu rendah. Hujan yang deras ditambah manusia datar di sebelahnya semakin menambah kesan dingin yang dirasakan Dyra.
Dyra menatap Rudra dengan lekat. Lelaki itu sangat tampan meski raut wajahnya datar dan dingin.
'Kenapa gue bisa suka sama lo.'
Dyra berdecak kesal. Ia tidak tahu apa yang membuatnya menyukai Rudra. Padahal selama ini Rudra selalu bersikap dingin, lagi,
Dyra berdecak kesal. Ia tidak tahu mengapa Rudra selalu bersikap dingin padanya. Padahal, selama ini Dyra sudah terbiasa bersikap baik pada Rudra. Rudra hanya diam saja. Ia benar-benar terlihat tidak ingin mengajak Dyra mengobrol. Sangat menyebalkan. Dyra mengalihkan pandangannya. Melihat sepeda motor Rudra yang telah basah kuyup di terpa hujan. Seandainya Dyra membawa sepeda motor. Ia pasti lebih memilih berkendara dalam hujan. Sambil menyelam minum air. Ia bisa pulang sekaligus merasakan dinginnya tetes air hujan yang menerpa kulitnya. Dyra tersenyum. Ia jadi ingin berjalan kaki disaat seperti ini. Sepi, sunyi. Hanya ada suara rintik hujan yang terjatuh di bumi.
"Lo darimana?" Rudra tiba-tiba bersuara.
Dyra tersenyum, akhirnya pria beku di sebelahnya mengeluarkan suara. Ia langsung menoleh ke arah Rudra dan berniat menjawab pertanyaannya. Namun Dyra menjadi diam seketika.
Pertanyaan itu. Bukan untuk Dyra. Melainkan untuk seseorang yang sedang Rudra hubungi saat ini. Iya, Rudra tengah menempelkan ponselnya di telinga. Pertanda ia tengah menelpon seseorang. Dyra bahkan tidak menyangka disaat hujan seperti ini, Rudra masih bisa menelpon. Dyra mengalihkan pandangannya. Ia teringat akan ponselnya. Mungkin ia bisa meminta Dero untuk menjemput.
"Yah.." Dyra menggerutu saat tahu jika baterai ponselnya habis. Ponselnya pun mati. Membuat Dyra benar-benar merasa kesal. Dyra kembali menghela napas. Jika saja hujannya tidak sederas ini. Pasti Dyra akan memilih pergi berjalan kaki untuk kembali ke rumah. Daripada berteduh di halte bersama patung bernapas.
"Ya udah. Lo cepet mandi, abis itu istirahat. Gue nggak mau lo sakit."
Dyra mengerutkan keningnya. Siapakah yang Rudra telepon itu? Hati Dyra terasa teriris. Ia baru saja mendengar suara Rudra yang begitu lembut dan perhatian. Juga terdengar sedikit khawatir. Dyra tidak pernah tahu Rudra si Pluto bisa bersikap lembut. Dyra menerka-nerka dalam hati. Siapa orang yang beruntung mendapat perlakuan begitu lembut dari Rudra. Dyra bersumpah, orang itu adalah manusia yang cukup beruntung. Tidak seperti Dyra yang selalu mendapat respon dingin dari Rudra.
Atau itu pacarnya?
Dyra menggelengkan kepalanya. Pikirannya melanglang-buana terlalu jauh. Ia belum siap jika Rudra benar-benar sudah memiliki kekasih. Tapi, terdengar sangat masuk akal jika Rudra perhatian seperti itu kepada orang yang di sayanginya.
"Lo darimana?" Dyra mendengar ucapan itu lagi. Sepertinya tadi Rudra tidak mendengar jawaban dari orang yang di telponnya, hingga Rudra mengulangi kalimat itu lagi.
"Lo darimana?" Dyra masih diam. Sepertinya suara jatuhnya hujan terlalu keras hingga mengaburkan pendengaran lelaki dingin di sebelahnya.
"Ck." Dyra dapat mendengar decakan sebal dari Rudra. Ia menoleh. Dan mendapati Rudra menatapnya dengan begitu dingin. Rudra juga sudah tidak memegang ponsel lagi.
"Kenapa?" tanya Dyra saat Rudra menatapnya begitu intens.
"Nggak." sahut Rudra.
Dyra terdiam. Ataukah, pertanyaan yang tadi ia dengar adalah pertanyaan dari Rudra yang ditujukan untuknya.
"Lo tadi nanya ke gue?" tanya Dyra. Ia menyesal tadi tidak menyahut saja.
"Menurut lo?"
Dyra berusaha menabahkan hatinya. Ia tidak yakin orang yang baru beberapa menit ini berbicara sangat lembut di telepon, adalah Rudra. Rudra yang dingin dan menyebalkan.
"Menurut gue, iya." sahut Dyra.
Rudra menatap Dyra dengan dingin, lalu membuang pandangannya.
Dyra berdecak sebal.
"Karena lo tanya. Gue akan jawab. Gue tadi dari.." Dyra terdiam sebentar. Dyra tidak mungkin mengatakan bahwa ia baru saja mendatangi sebuah rumah sakit jiwa dan berbaur dengan para pasiennya.
"Gue tadi abis jalan-jalan di sekitar sini. Cuma iseng aja sih. Pas gue jalan, tiba-tiba hujan mulai tu-"
"Nggak penting." ujar Rudra.
Dyra langsung terdiam. Padahal ia hanya berusaha membuat suasana menjadi sedikit menyenangkan dengan celotehannya. Tapi ia menyesal, karena orang yang saat ini bersamanya. Adalah orang yang tidak menyenangkan.
"Oke. Karena jawaban gue nggak penting. Ya udah."
Rudra hanya bungkam. Pandangannya masih menatap lurus ke depan.
"Kalo gitu, gue yang nanya. Lo darimana?" tanya Dyra. Ia benar-benar penasaran bagaimana bisa secara kebetulan, Rudra berteduh di halte ini.
"Bukan urusan lo." ujar Rudra dengan menatap Dyra dingin. Setelah itu, Rudra mengalihkan pandangan.
Dyra langsung terdiam. Benar apa yang diucapkan Rudra. Ini bukan urusan Dyra. Dyra tidak. berhak mengetahui apapun tentang Rudra. Bahkan hanya sekedar bertanya untuk mengikis kesunyian di antara mereka. Dyra menghela napas. Ia benar- benar menyesal telah berbicara kepada Rudra. Jika ucapan Rudra sedingin itu. Lalu untuk apa tadi Rudra bertanya.
---
Udara terasa semakin dingin. Dyra jadi teringat adegan di film yang sering ia tonton. Dimana laki-laki dan perempuan berteduh saat derasnya hujan. Si perempuan merasa kedinginan dan mengusap bahunya. Laki-laki pun segera melepas kemeja yang ia kenakan untuk menyampirkannya di bahu perempuan. Berniat mengurangi rasa dingin yang di rasakan perempuan itu.
Dyra berdecak. Itu hanyalah adegan dalam film. Dyra tahu diri bahwa kejadian itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Meskipun ia sudah mengalami 50% adegan seperti itu. Terjebak hujan bersama laki-laki tampan. Merasa kedinginan dan mengusap bahunya. Namun Dyra yakin, Rudra tidak akan melakukan apa yang ada di bayangannya saat ini.
Dyra hanya bisa menggigit bibir bawahnya di saat hawa dingin semakin merasuk ke tubuhnya.
Sebuah mobil terhenti di depan halte. Dyra dan Rudra memandang mobil itu bersamaan.
Keluarlah seorang pria dengan membawa payung berwarna merah. Dyra membulatkan matanya.
Dero. Itu Dero.
Dero melangkah menghampiri Dyra. Dan saat ia sudah berada di tempat yang teduh, Dero menurunkan payungnya. Jantung Dyra berdetak sangat kencang. Dero bisa saja membongkar penyamarannya saat ini. Dero melangkah mendekati Dyra. Dyra pun bediri dari duduknya. Maju beberapa langkah untuk mendekatkan dirinya dengan Dero. Sedangkan Dero menatap tajam pada Dyra.
"Kenapa lo nggak bisa di hubungi?" tanya Dero.
Dyra mendelik pada Dero. Berusaha memberi kode pada kembarannya itu agar tidak mengatakan bahwa mereka adalah saudara.
"Hp gue mati." sahut Dyra dengan datar. Ia menengok ke arah Rudra. Rudra memperhatikannya. Memperhatikan Dyra yang tengah berbincang dengan Dero.
"Lo bikin gue khawatir tau nggak. Harusnya tadi lo bilang kalo pergi. Jadi gue bisa nganterin."
Dyra merutuk dalam hati. Dero memang marah saat ini. Tapi ia yakin saudara kembarnya itu hanya sedang cemas. Dero memerhatikan Dyra yang tengah menggigit bibir bawahnya dan memeluk dirinya sendiri. Ia tahu betul kembarannya itu tengah kedinginan sekarang. Dero yang saat itu tengah memakai kemeja dengan sigap melepas kemejanya. Meninggalkan kaos putih polos yang menempel di tubuh atletisnya. Dero lantas menyampirkan kemejanya di pundak Dyra. Berusaha membuat adiknya itu merasa lebih hangat.
Rudra sedikit terkejut melihat apa yang dilakukan Dero.
"Dero.." ujar Rudra.
Dero menoleh. Ia bahkan baru sadar jika Dyra tidak sendiri di sini.
"Rudra, lo di sini?"
"Gue neduh. Lo kenal dia?" tanya Rudra lalu menunjuk Dyra dengan tatapan matanya.
"Iya. Gue ke sini mau jemput Dyra. Mamanya nyuruh gue nyari dia. Dia belum pulang dari tadi." ujar Dero.
Dyra bernapas lega. Setidaknya Dero tidak melakukan kesalahan dengan mengatakan kebenaran tanpa disengaja.
"Yaudah. Yuk, kita pulang." ajak Dyra.
Ia menggandeng tangan Dero. Berniat mengajaknya segera pergi dari tempat itu karena Dyra sudah tidak tahan dengan aura dingin Rudra. Juga tubuhnya yang terasa menggigil.
Dero menahan Dyra sebentar, seolah ia belum ingin beranjak dari sana.
Lo nggak bawa jas hujan?" tanya Dero. Rudra hanya menggeleng.
"Gue bawa mantel di bagasi. Gue saranin lo pake jas hujan gue aja buat pulang. Tadi gue lihat prediksi cuaca, hujan ini bakalan lama. Bisa sampe malam. Jadi daripada lo neduh di sini sampe malem. Mending lo pake jas hujan gue." ucap Dero.
Dyra menoleh dan membulatkan matanya. Ia tidak percaya bahwa Dero akan menawarkan jas hujan untuk Rudra.
"Boleh." ucap Rudra.
"Dyr. Tunggu bentar ya. Gue ambil jas hujan dulu di bagasi."
Dyra hanya mengangguk kaku.
Dero segera melangkah menuju bagasinya. Dyra memerhatikan gerak-gerik Dero di bawah hujan deras.
"Lo ada hubungan apa sama dia?" tanya Rudra.
Deg..
Ini. Inilah yang Dyra takutkan. Jika pertanyaan seperti ini muncul, Dyra bingung harus menjawab apa. Terkadang ia harus berpura-pura untuk mengakui Dero sebagai temannya. Tapi kini di hadapan Rudra. Ia tidak mungkin mengakui Dero sebagai temannya. Apalagi jika dilihat dari interaksi antara Rudra dan Dero. Keduanya terlihat saling mengenal. Dyra berdehem. Ia berusaha tenang.
"Bukan urusan lo." sahut Dyra acuh.
Berhasil. Dyra dapat melihat sedikit raut keterkejutan di wajah Rudra. Namun secepat kilat, raut terkejut itu kembali berubah menjadi raut dingin. Dero kembali dengan jas hujan di tangannya.
Nih, Dra." Dero memberikan jas hujan itu kepada Rudra.
"Thank's ya. Gue pinjem dulu." ucap Rudra sambil menerima jas hujan tersebut.
"Oke. Gue duluan ya. Kasian Dyra udah kedinginan." ujar Dero.
Rudra mengangguk dengan wajah datarnya.
Dero dan Dyra melangkah menuju mobil di bawah payung yang sama. Membuat jarak antara keduanya cukup dekat. Belum lagi, Dero yang menyentuh lengan Dyra saat mereka berdua berjalan. Rudra memperhatikan mereka berdua dengan lekat.