Part 29

1020 Kata
To : Rudra Jam berapa?     Dyra memutuskan menanyakan pukul berapa besok ia harus pergi mengunjungi Bu Rahayu. Meski ia sudah tahu jika ia tidak akan pergi. Setidaknya ia bisa memanfaatkan keadaan untuk berkirim pesan dengan Rudra. Ia ingin tahu, seperti apa si Pluto jika sedang chattingan. From : Rudra 10     Dyra menghela napasnya ketika membaca pesan angka dari Rudra. Benar-benar tidak ingin berbasa-basi. To : Rudra Gue gk bisa. Sibuk!     Dyra berharap pilihannya untuk menghabiskan waktu bersama sang ayah tidaklah salah. Toh, ia masih bisa bertemu Rudra setiap hari di sekolah. From : Rudra Senin. Plng sklh kesana     Dyra menganggukkan kepalanya. Ia akan tetap pergi bersama Rudra, meski harinya ditunda.                                                                                         -------------     Senin..     Dea melepaskan helm yang ia kenakan dan memberikannya kepada Rudra. Setelah itu memperbaiki rambutnya yang berantakan akibat memakai helm.     "Nanti lo pulang sendiri, ya. Gue ada urusan." gerakan tangan Dea terhenti ketika Rudra berucap demikian. Ia menatap Rudra sesaat. Rudra tampak turun dari motornya.     "Urusan apa?" tanya Dea dengan mengernyitkan keningnya.      "Ya, urusan penting." Dea menganggukkan kepalanya. Ia ikut melangkah ketika Rudra melangkah.     Sebuah motor melintas dihadapannya. Tentu saja Dea mengenalnya. Pengemudi motor tersebut adalah Dyra.     "Dea, tungguin." teriak Dyra ketika telah memarkirkan motornya.     Dea menghentikan langkahnya dan hal itu membuat langkah Rudra ikut terhenti.     "Kenapa?" tanya Rudra.     "Nungguin Dyra."     Rudra mengalihkan pandangannya ke arah Dyra. Ditatapnya gadis itu yang baru saja melepas helm dan mencabut kunci motor dari tempatnya. Dyra yang kini melangkah mendekati Dea sempat bertatap mata sekejap dengan Rudra. Mata mereka bertemu, namun Rudra memutuskan pandangan terlebih dahulu.     "Gue duluan, ya." Rudra melenggang pergi ketika Dyra hendak mendekat. Dea hanya mengangguk. Setelah Dyra tiba di sampingnya. Ia pun melanjutkan langkah, diikuti Dyra yang berusaha mensejajarkan langkahnya.     "Nggak ada tugas, kan?" tanya Dyra yang sibuk merapikan rambutnya seraya melangkah.     Sembari melangkah, Dyra menatap punggung tegap Rudra yang semakin menjauh. Dyra juga mengalihkan pandangannya ke arah Dea.     "Nggak."     "Kayaknya, sih."     Dyra bingung harus bagaimana. Ia sebenarnya sangat penasaran dengan latar belakang keluarga Rudra. Dan satu-satunya tempat penggalian informasi paling akurat adalah Dea. Karena setahu Dyra, hanya Dea yang selalu terlihat berada di dekat Rudra. Tetapi Dyra tidak tahu harus mulai dari mana ia menanyakan mengenai tentang Rudra. Terlalu rumit, lagipula selama ini ia tidak pernah membicarakan mengenai Rudra bersama Dea.     "Gimana hubungan lo sama Dero?" tanya Dea.     Dyra tersadar dari pikirannya.     "Baik." sahut Dyra cepat. Ia bahkan belum sempat menyaring apa yang bibirnya ucapkan.     "Kayaknya fans Dero pada kebakaran jenggot gara-gara kedeketan lo sama Dero." Dea tertawa.     "Termasuk ciwi-ciwi kelas kita," imbuhnya.     "Termasuk lo, Dea? Kan lo juga ngefan sama Dero."     Dea masih tertawa.     "Tapi gue udah pernah foto dan ig gue udah di follback sama dia. Jadi gue santai aja."     "Tapi kayaknya hari ini udah pada agak reda, Dyr. Apa karena Dero ngehapus foto lo, ya?"     Dyra menganggukan kepalanya. Ia tersenyum. Ucapan Dea memang benar. Dyra merasa lega jika sudah seperti ini. Setidaknya ia tidak perlu menjadi bahan gosip lagi atau dihujat habis-habisan.                                                                                          ------     Sepulang sekolah Dyra menyempatkan diri untuk berdiam diri di kelas. Motornya terletak di parkir bagian dalam sehingga sulit jika ingin keluar lebih dulu. Ia memutuskan menunggu di kelas, seorang diri. Pelajaran terakhir adalah jam kosong. Tepatnya pelajaran bahasa inggris dan sang guru tidak hadir. Jadilah siswa siswi kelas XII IPA 3 berpencar mencari tempat yang pas. Ada yang bergerombol ke kantin. Ada yang sibuk membuat bioskop mini di bagian belakang kelas, ada yang pergi ke perpus. Ada yang tidur, dan lain sebagainya. Ketika bel pulang berbunyi, kelas seketika sepi karena para penghuninya berbondong-bondong menuju parkiran. Tersisalah Dyra dalam kesunyiannya di kelas ini.     Mengenai jadwalnya hari ini untuk pergi bersama Rudra. Ia tidak ingin ambil pusing. Toh, Rudra juga tidak mengabarinya untuk melakukan sesuatu. Jadi Dyra hanya perlu menunggu hingga parkiran sepi dan ia akan pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Selepas itu ia akan mengunjungi Bu Rahayu untuk membantu Rudra agar bisa berinteraksi dengan mamanya.     "Ais." Dyra mendongak dan terkejut ketika mendengar langkah masuk. Ia menatap Tama yang nampak tengah kelimpungan.     "Kenapa, Tam?" tanya Dyra.     "Lo belum pulang, Dyr?"     Dyra menggelengkan kepalanya. Ia berdiri dari duduknya ketika Tama tampak gusar membungkukkan badan untuk melihat isi setiap laci meja.     "Nyari apa?" tanya Dyra karena merasa penasaran.     "Hp gue. Disumputin Yuda. Katanya sih di kelas."     "Ya udah, gue bantuin." Dyra mulai ikut memeriksa setiap laci yang ada di ruang kelasnya. Tidak lupa ia memeriksa laci meja guru.     "Kok nggak ada, ya." keluh Tama ketika menemukan ponselnya di laci manapun.     "Di loker mungkin."      Pandangan Dyra tertuju pada loker yang berjejer di bagian belakang kelas. Loker tersebut terkunci rapat dan bisa saja Yuda menyembunyikannya di sana.     "Enggak. Nggak ada yang berani make loker buat mainan." Dyra mengangguk paham. Meski rekan laki-laki di kelasnya bisa terbilang jahil, mereka tidak pernah menjadikan loker sebagai brankas kejahatannya. Karena bagi mereka, loker adalah tempat yang khusus dan keramat.     Dyra melangkah menuju bagian depan kelas. Di sana terdapat almari yang menyimpan berbagai perlengkapan kelas.     "Mungkin di sini."     Tama mendekat ke arah almari. Bisa saja di dalam almari tersebut, ada ponselnya.     Dyra sedikit terkejut ketika mendapati Tama telah berada di sebelahnya dan tampak serius mencari ponselnya di dalam sana. Merasa tidak menemukan apapun, Dyra memutuskan berhenti mencari. Ia lantas menarik kursi guru, memindahkannya agar terletak di depan almari. Sedangkan Tama masih sibuk mencari di dalam almari. Di antara tumpukan buku yang cukup tebal.     Dyra naik ke atas kursi yang terletak di sebelah Tama. Ia mulai meraba-raba bagian atas lemari. Dyra merasa sedikit kesulitan karena meski ia sudah naik di atas kursi, bagian atas lemari tetap tidak bisa ia lihat. Sehingga dengan keadaan berjinjit ia mengandalkan rabaan tangannya untuk menelusuri bagian atas lemari.     "Ini dia." Dyra berusaha meraih benda pipih yang menurutnya adalah sebuah ponsel. Posisi benda pipih tersebut berada di bagian sudut yang sulit terjangkau sehingga Dyra harus menyerongkan badannya ke arah kanan agar tangannya sampai. Tanpa sadar, keadaan tubuh Dyra mulai tidak seimbang.     Brugg...     Dyra memejamkan matanya. Ia dapat merasakan melayang meski posisinya tidak terlalu tinggi. Dyra berusaha mencari-cari rasa itu. Rasa sakit. Seharusnya badannya sudah terbentur tembok dan tersungkur di lantai namun ia tidak merasakan apapun.     "Kalian ngapain?" suara itu. Suara yang membuat Dyra seketika membuka matanya. Suara milik Rudra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN