Part 31

1091 Kata
    Tokk tokk     "Dyr, gue mau masuk." Dero berteriak di depan pintu kamar Dyra. Ia sudah selesai belajar dan ia ingin mengajak Dyra menonton film. Tidak lupa ia membawa laptop. Menonton film sepertinya akan menjadi aktivitas yang menyenangkan.     "Masuk."     Dero segera memutar knop pintu ketika kembarannya itu mengizinkan. Yang pertama kali ia lihat adalah raut wajah serius Dyra yang tengah rebahan di atas kasur empuknya. Dyra sangat fokus memainkan ponselnya.     "Nonton film yuk." ajak Dero dengan semangat. Ia duduk bersandar sembari menghidupkan laptopnya.     "Film apa?" tanya Dyra.     "Horror."     Dyra menoleh dan mengerutkan keningnya. Menatap Dero yang kini memainkan ponsel sembari menunggu laptop menyala. Dyra mengalihkan pandangan ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Ia memiliki cukup waktu untuk menonton film. Tetapi ia merasa malas saat ini.     "Ogah ah. Lagi seru koar-koar di grup, nih."     Dero berdecak sebal.     "Ya udah. Tapi gue nontonnya disini."     Dyra menganggukkan kepalanya. Ia kembali memusatkan pikiran pada ponsel.     Keheningan sempat terjadi. Kakak beradik itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dero nampak serius menyaksikan film horror. Sedangkan Dyra kini memainkan aplikasi instagramnya.     Rudra punya ig nggak ya?     Dyra menggumam dalam hati. Jika pun ia mengetikkan nama Rudra dalam kolom pencarian, kemungkinan akan muncul banyak nama dan Dyra harus memeriksanya satu persatu. Dyra memutuskan menstalker akun milik Dea. Siapa tahu ada akun Rudra disana. Berbicara mengenai i********:. Dyra jadi ingat bahwa akhir-akhir ini pengikutnya naik cukup banyak. Ia pun menatap Dero. Sedikit menyenangkan memang membuat para penggemar Dero merasakan sakit hati. Namun ada resikonya, yaitu Dyra harus siap-siap dilabrak dan dihujat habis-habisan.  Dyra tersenyum ketika terlintas ide di benaknya. Ia ingin mempermainkan beberapa para penggemar alay Dero. Sepertinya akan menyenangkan.     "Kak, pinjem hp dong."     Masih dengan fokus pada monitor laptop, Dero menyerahkan ponselnya pada Dyra. Tanpa suara, wajah Dero terlihat menegang. Dyra segera mengambil ponsel milik Dero. Membuka aplikasi i********: dan ia menganggukkan kepala ketika ada banyak notifikasi likes dan komentar yang masuk. Serta puluhan pesan menumpuk dari para penggemarnya yang tidak ia baca. Dyra segera memilih fitur insta story. Setelah muncul kamera, Dyra segera memotret dirinya sendiri. Dia mengusahakan wajahnya terlihat secantik mungkin. Tidak lupa ia menambahkan tulisan 'miss u'.     "Makan, nih!" Dyra segera mengunggah foto tersebut. Ia berani bertaruh, sebentar lagi akun i********: Dero akan kebanjiran komentar. Dyra mengedikkan bahunya acuh. Lagipula hampir satu sekolah mengetahui perihal foto romantis yang Dero upload tempo hari. Meski sudah dihapus, tetap saja tidak membersihkan nama Dyra secara instan. Bagi Dyra, daripada ia dihujat karena dicampakkan oleh Dero. Lebih baik ia dihujat karena dikira berpacaran dengan Dero. Hitung-hitung membalas perilaku Gebby dan orang-orang yang melabraknya.     Kini Dyra memainkan ponselnya. Dyra kembali membuka grup kelasnya. Dyra terkekeh membaca beberapa pesan yang dikirimkan oleh rekannya. Ia memutuskan mengabaikan itu. Kini pikirannya kembali fokus kepada ponsel Dero. Satu pesan masuk ke ponsel Dero. Membuat Dyra mengernyitkan keningnya kemudian menatap Dero sebentar. Ia memutuskan membuka pesan tersebut. From : Dea Lg duduk. kalo lo lg ngapain?     Dyra membulatkan matanya ketika ia membaca pesan tersebut. Tertera dengan sangat jelas bahwa ada nama Dea disana. "Kak, lo chat'an sama Dea?" tanya Dyra langsung, ia masih merasa tidak percaya. "Iya." "Kok bisa?" "Ya bisalah, kan usaha."     Dyra menatap ponsel Dero sejenak, ia lantas kembali menatap Dero yang masih fokus menonton film. "Lo suka sama Dea? Lo lagi ngedeketin dia?" tanya Dyra. "Ya cuma deket aja."     Dyra dibuat terdiam oleh ucapan Dero. Dero dan Dea sudah sering berkirim pesan. Namun Dyra tidak mengetahui apapun. Bahkan Dea tidak ada bercerita sama sekali. Ia tidak keberatan jika kembarannya ini mendekati gadis, hanya saja ia merasa marah karena tidak diberitahu. Apalagi yang Dero dekati adalah sahabatnya, Dea.     "Kok lo nggak bilang, Kak?"      "Lo juga nggak bilang kalo jalan sama cowok." Deg..     "Maksudnya?"     Dero tampak menghela napas. Ia mengalihkan pandangan dari filmnya. Kini badannya menghadap ke samping, ke arah Dyra.      "Lo tadi jalan kan sama cowok. Tapi lo nggak izin dulu sama gue."     Dyra berdehem singkat. Tiba-tiba ia merasa grogi. Bagaimana Dero bisa tau jika ia pergi bersama laki-laki tadi sore.     "Kalo ada apa-apa gimana? Lain kali kalo lo jalan, laporan. Biar gue enak juga ngelapornya sama Pak Bos dan Bu Bos."     Dyra membulatkan matanya ketika mendengar ucapan Dero. Jika sampai Papa dan Mamanya tahu, Dyra bisa-bisa diberi hukuman karena pergi bersama laki-laki tanpa izin dari Dero.     "Ya, maaf. Gue tadi buru-buru."     Dero berdecak sebal.     "Ck. Lain kali jangan di ulangin. Untung mata-mata gue banyak."     Dero kembali fokus pada film yang tadi sempat ia abaikan.     "Bdw, tuh cowok nggak romantis banget. Ngajak kencan kok ke RSJ."     Dyra terkekeh. Ia dan Rudra tadi bukan melakukan kencan. Mereka sedang dalam tahap mengabulkan keinginan Rudra untuk berinteraksi dengan Bu Rahayu.     "Gue nggak kencan. Cuman ngebantuin Rudra aja biar bisa berinteraksi sama Mamanya."     Dero menoleh ke arah Dyra dengan cepat. Seketika Dyra tersadar dan menutup mulutnya dengan tangan.     "Lo jalan sama Rudra?" tanya Dero dengan raut wajah terkejut.     "Rudra? Beneran?" kini Dero mematikan laptopnya.     Ia menghadap Dyra dan menatap Dyra dengan serius.     "Kok lo bisa jalan sama Rudra?"     "Buruan ceritain, Dyr. Nanti gue ceritain deh gimana gue bisa chat'an sama Dea."     Dyra mengangkat satu alisnya. Entah mengapa Dero mendadak terlihat antusias.     "Lo suka sama Dea, kak?" tanya Dyra.     "Kalo lo, lo suka nggak sama Rudra?" tanya Dero balik.                                                                                 ------     Dea mengetuk pintu rumah Rudra berulang kali. Namun tidak kunjung terbuka. Suasana rumah juga terlihat sepi.     "Apa Rudra nggak di rumah, ya?"     Dea mengelus-elus dagunya. Batal sudah rencana untuk berkunjung ke rumah Rudra malam ini. Bundanya sedang tidak ada di rumah dan Dea merasa sangat bosan berdiam diri di rumah. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mengunjungi rumah Rudra. Namun sepertinya laki-laki itu sedang tidak ada di rumah. Terbukti dari tidak terbukanya pintu meski Dea sudah mengetuk dan berteriak memanggil sedari tadi. Biasanya Rudra akan dengan cekatan membukakan pintu jika Dea berkunjung.     Dea mencari-cari kontak Rudra dalam ponselnya. Ia harus menelpon untuk mengetahui keberadaan laki-laki itu. Terdengar nada sambung ketika Dea menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Cukup lama namun tidak ada tanda-tanda bahwa telepon akan diangkat.     Dea berdecak kesal. Ia memilih mengirimkan pesan untuk menanyakan dimana keberadaan Rudra. Setidaknya Dea harus tahu bagaimana keadaan Rudra. Dea teringat Tama. Biasanya Rudra akan pergi bersama Tama, karena memang hanya Tama sahabat yang Rudra miliki. Dea segera menghubungi Tama.     "Halo. Kenapa, De?"     Belum sempat terdengar sambungan namun telepon sudah diangkat. Benar-benar cepat.     "Lo lagi sama Rudra, kan?"     "Enggak."     "Loh, trus Rudra kemana? Dia nggak ada di rumah."     "Gue nggak tau. Paling ngeluyur"     "Ya udah, deh. Makasih, Tam."     Dea mengakhiri sambungan telepon. Ia memutuskan kembali ke rumahnya. Rudra memang terkadang seperti itu. Pergi tanpa memberitahu sehingga membuat Dea merasa cemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN