Mati Kejatuhan Celana

897 Kata

"Semua pertolongan itu nggak ada yang gratis, suatu saat ada masanya semua akan dibayar, mau nggak mau, suka nggak suka." Berdedai-dedai celana olahraga terjemur di samping rumah itu, lebih dari sepuluh jumlahnya, namun satu warna saja, yaitu biru tua. Rama dan Andika dapat melihatnya dengan jelas, meski dari seberang jalan. Rumah tetangga yang dulu pernah mereka temui, kini sepi bagai kuburan cina. Andika menepis bagian belakang pundak Rama. "Ram, lo yakin tadi Ajeng sudah pulang duluan dari kita? Lo nggak salah lihat, 'kan?!" "Takutan banget, sih, lo jadi orang," kemudian Rama menarik paksa tangan Andika sambil melirik kiri-kanan. "Sudah, jangan banyak cincong! Kita harus ngintipin rumahnya Ajeng lebih dekat lagi. Kalau perlu kita masukin aja pagarnya." Terpaksa Andika ikut menyebra

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN