Ajeng mondar-mandir saja sejak tadi. Langkah kakinya menyundul barang-barang bekas menjadi suara yang mendominasi di dalam gudang sekolah ini. Sesekali ia mencoba mengintip di jendela bujur sangkar yang terletak sedikit di atas kepalanya. Dia panik dan bingung. Matanya hampir berkaca-kaca.
"Ram, gue teriak, ya!"
"Jangan, Jeng," larang Rama yang berusaha bersikap santai.
"Trus, gimana caranya kita bisa keluar dari sini coba kalo kita nggak teriak?"
"Percuma, Ajeng! Kita ini dikunciin sama kakak kelas itu. Otomatis dia yang megang kuncinya. Sekali pun ada yang dengar teriakan lo dari luar, mereka juga nggak bakal bisa bukain pintunya," Rama berusaha memberi penjelasan agar Ajeng bisa tenang sedikit.
"Ya, setidaknya mereka bisa lapor sama guru atau penjaga sekolah, kan, kalo dengar teriakan minta tolong gue."
"Ajeng, gudang ini letaknya di belakang sekolah. Mana mungkin ada yang bisa dengar teriakan lo. Udah, deh, sekarang lo tenang aja dulu. Gue juga masih mikir, nih."
Kalut, itulah yang dirasain Ajeng sekarang di saat tak ada lagi yang dapat dilakukannya. Dia memilih untuk duduk kembali sebagai wujud kepasrahannya terhadap nasib. Dia berusaha percaya bahwa Rama bisa membebaskannya dari gudang ini. Dia harap Rama memiliki ide yang cemerlang.
"Ya, lo duduk aja dulu,"
Rama menyetujui wujud kepasrahan Ajeng. Dia memegang-megang gagang pintu sambil menggoyang-goyangkannya dengan harapan bisa terbuka dengan keajaiban. Tapi sayangnya, itu tidak berhasil. Itu adalah ide yang kurang masuk akal.
Berharap ada sesuatu yang bisa dilakukannya lagi sebagai wujud mencari solusi, Rama mengitari sudut-sudut gudang. Satu-satunya jalan adalah lewat jendela kecil berbentuk persegi di atas kepala Ajeng tadi itu. Namun, jendela itu terlalu kecil untuk menampung tubuh manusia yang terkurus sekali pun. Jendela itu hanyalah serupa lubang sebesar kotak kardus mie, yang kelihatannya sengaja dibuat oleh pihak sekolah untuk membuang kotoran dari dalam.
Pada akhirnya, tak ada jalan keluar apa pun. Tapi bukan Rama namanya kalau tidak santai dalam menghadapi suatu permasalahan. Ajeng memang dapat melihat jiwa santainya itu, tapi entah kenapa dia juga ingin sekali mematahkan prinsip itu dari dalam diri Rama.
"Lo juga bingung, kan!" begitulah cara Ajeng mencari celah kepanikan Rama.
Rama malah mendekati Ajeng, lalu duduk di sampingnya seperti tadi. Dia mendesah dan tersenyum menatap cewek eksentrik itu. "Ya, gue emang bingung karena ternyata nggak ada jalan keluar sama sekali di sini, tapi gue bakal lebih bingung lagi kalo cuma lo yang ada di dalam sini. Setidaknya, lo sekarang lagi sama gue dan itu adalah jalan keluar terbaik dari masalah yang kita hadapi sekarang."
Ajeng terpana menatap Rama. Kata-katanya barusan itu sungguh sangat menenangkan hati Ajeng. Yang dikatakan Rama itu benar, setidaknya Rama berada di sisinya sekarang. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kalau seandainya Rama tidak ada di gudang ini. Walaupun dia baru beberapa hari mengenal cowok itu, entah kenapa Rama bagaikan sebuah keajaiban yang diciptakan Tuhan untuknya sebagai wujud pertolongan.
Ajeng berdeham sejenak. "Ram!"
Rama menaikkan alisnya. Dia belum berhenti menatap Ajeng. "Ya!"
Ajeng tak seperti Rama. Dia hanya sesekali saja menatap mata Rama. Dia belum berani menatap cowok di hadapannya ini dalam waktu lama. Entah apa yang dia takutkan. Mungkin saja dia takut jatuh cinta. Kalau memang benar demikian, berarti sekarang dia telah melupakan rasa takutnya terhadap ruangan gelap ini.
"Makasih, ya, lo udah bikin gue tenang."
"Bukan gitu caranya bilang makasih sama orang."
Ajeng mendongak dan menatap Rama sejenak. "Maksud lo?"
"Ya, cara lo salah."
"Iya, trus yang betul gimana?"
Rama meraih ujung dagu Ajeng lalu mengangkatnya dan tak berpikir untuk melepaskannya. "Lihat mata gue dan tunjukin kalo lo serius ngucapin makasih sama gue!"
Ajeng tak punya pilihan selain menatap sepasang bola mata yang sendu menghanyutkan itu karena tangan Rama menahan dagunya untuk tidak bergerak turun. Jantung Ajeng berdegup kencang saat mereka beradu tatap dalam tempo yang lumayan lama. Bahkan dia telah lupa harus mengulangi ucapan terima kasihnya.
Rama mendekatkan wajahnya ke wajah Ajeng sampai tak sadar ujung hidung mereka hampir saja bersentuhan. Mereka sama sekali tak berpikir untuk saling menjauh. Bisa jadi justru sebaliknya, mereka ingin semakin mendekatkan wajah-wajah itu.
Rama kemudian mendesiskan kata dengan lembut, mirip sebuah bisikan halus. "Ayo, sekarang ucapin!"
Ajeng terlalu terpana dengan keadaan sedekat ini dan itu mendadak menjadikannya pengidap amnesia sementara. "Ucapin apa?"
"Tadi, kan, katanya lo mau ngucapin makasih sama gue."
Ajeng hampir terbangun dari buaian itu. Namun, ketika dia hendak mengucapkan terima kasih kepada Rama, tiba-tiba pintu gudang terbuka lebar dan sebuah cahaya dari luar membuat mereka menoleh dengan cepat. Kakak kelas itu sekarang berdiri tepat di depan pintu. Dia tidak sendiri, tapi ditemani oleh dua orang temannya. Di tangan-tangan mereka terlihat memegang sebuah benda yang masih samar dalam pandangan Rama dan Ajeng.