Cinta bersemi dalam keanehan. Cinta juga bisa bersemi dalam ketidaknormalan. "Jeng," Rama mengejar Ajeng sambil menenteng rok sekolah bernoda darah haid itu. "Ajeng, plis, Jeng, tunggu! Gue mau jelasin. Lo salah paham." Ajeng sama sekali tak berpaling. Dia terus menyusuri koridor dengan langkah yang cepat. Awalnya dia berharap banyak pada Rama, tapi semenjak pernyataan cinta di kantin tadi, dia jadi berpikir kalau ternyata Rama menyukainya hanya karena ingin tahu tentang celana olahraga itu. Mungkin lain kali dia tak boleh tertipu dengan rayuan kaum adam. Mendengar suara langkah berlari dari belakang, Ajeng pun ikut berlari. Namun ketika sampai di depan perpustakaan, dia tak mampu lagi membendung kondisi tubuhnya yang tak boleh kelelahan. Dia ingat pesan mamanya, Ajeng, ingat, nggak

