Kutukan Celana

877 Kata
Jam pertama kelas 10-1 hari Rabu ini adalah pelajaran Penjaskes praktik. Satu kelas sudah siap dengan setelan olahraganya, karena pelajaran ini memang paling disukai oleh mereka, oleh siswa-siswi manapun di sekolah ini. Kenapa? Karena selain menyehatkan badan, anggaplah pelajaran ini sebagai pelarian mereka yang sudah jenuh selalu belajar di dalam kelas dan menghadapi guru-guru yang membosankan. Namun ada yang aneh. Hingga hampir setengah jam menunggu, Pak Firman tak kunjung datang. Seisi kelas mulai resah. Mereka jenuh dan kesal. Tak terkecuali Rama dan Andika. "Bah, gue udah bawa bola lagi buat kita main nanti. Mana, sih, Pak Firman ini?" Andika mengeluh sambil memantul-mantulkan bola kaki yang terbuat dari plastik itu ke atas mejanya. "Biasanya Pak Firman selalu on time, ya, Dik," sahut Rama yang kemudian meraih bola milik Andika itu, lalu memain-mainkannya dengan ketangkasan kaki. "Iya. Kok, tumben, ya, Pak Firman belum kelihatan sampe jam segini," Andika melangak-longok ke arah jendela di sampingnya, berusaha mengintip ke arah kantor dengan harapan guru olahraga itu akan muncul, tapi nihil. "Ya, udah, Dik, sambil nunggu Pak Firman datang, kita main oper-operan bola aja dulu. Lo berdiri di sana, dekat pintu." Andika setuju. Dia berjalan menghampiri pintu, lalu berdiri sejajar dengan Rama. "Tendang, Ram!" Rama pun menendang bolanya dan operan itu langsung ditangkap dengan sigap oleh kaki kanan Andika. Sesekali dia memerhatikan seisi kelas yang mulai melakukan kegiatan aneh-aneh, ada yang mengikutinya main oper-operan bola juga, ada yang membentuk semacam grup tukang gosip, ada yang main hom pim pa, ada yang main batu gunting kertas, ada yang main kejar-kejaran, dan ada pula yang diam saja seperti merenung memikirkan kapan sekolah ini lulus karena dia sudah pusing dengan tugas-tugas yang mulai menumpuk dan teman-teman yang hampir semuanya gila. Seisi kelas melakukan kegiatannya masing-masing, hingga datanglah seorang guru yang tak mereka kenal. Guru itu langsung menertibkan mereka seperti pemimpin barisan saja. "Selamat pagi, anak-anak!" sapa guru itu ketika mendapati seisi kelas sudah tenang. "Perkenalkan, nama saya Burhanudin, biasa dipanggil Pak Bun. Bapak adalah guru baru di SMA Paradiso ini, menggantikan Pak Firman." Ternyata namanya adalah Bun. Guru baru itu mengenakan setelan orang mau lari pagi. Di sekeliling lehernya bergantung-gantung pluit bertali merah. Topinya juga berwarna merah. Dia jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Pak Firman. Kalau dilihat dari wajahnya, tampaknya guru ini adalah suku Jawa. "Siapa ketua kelas di sini?" tanya Pak Bun dengan tatapan seperti mencari-cari seseorang. "Saya, Pak!" seorang cewek berambut lurus sepanjang di bawah pundak mendadak mengacungkan tangannya. "Oh, cewek, toh, ketua kelasnya. Siapa namamu?" "Tika Prilita, Pak. Pak Firmannya kemana, ya, Pak? Sedang sakit atau gimana?" Pak Bun mengernyit. "Loh, Bapak kira kalian sudah tahu kabarnya, ternyata belum, toh. Pak Firman sekarang tidak mengajar di sini lagi. Dia dikeluarkan oleh kepala sekolah karena suatu alasan." Seisi kelas mendadak seperti terserang bisul sebesar langsat, gelisah. Tentu saja mereka kaget mendengar informasi itu. Padahal, baru saja kemarin mereka masih melihat Pak Firman mengajar olahraga untuk kelas 11. "Dikeluarkan dengan alasan apa, Pak? Pak Firman, kan, termasuk guru baru juga di sekolah kita," tanya Tika. "Kalau kalian mau tau dan kalau berani, tanya aja sama kepala sekolah. Bapak juga tidak tahu kenapa. Sudah, sudah, kita mulai saja pelajaran olahraganya, tapi sebelum itu Bapak absen dulu." "Iya, Pak." Saat olahraga tengah berlangsung di lapangan, tepatnya saat Pak Bun menginstruksikan bagaimana cara yang baik dalam memasukkan bola basket ke dalam ringnya, pandangan Rama justru tertuju pada bagian pinggir lapangan yang agak jauh. Seorang cewek digelandang oleh Pak Anton, guru Sejarah, dan tampaknya akan menerima hukuman. "Cewek itu lagi," gumam Rama. Andika menyentuh lengan Rama dengan cuilan. "Ram, itu, kan, cewek yang kemarin dihukum pagi-pagi. Eh, liat, dia make celana olahraga lagi. Kok, aneh banget, sih?" "Nggak ngerti juga gue." "Loh, lo, kan, kemarin sempat ngobrol sama dia di lapangan ini. Masa lo nggak sempet nanya, sih, kenapa dia selalu make celana olahraga?" "Gue sempet nanya, tapi dia nggak mau jawab. Gue tanya kelasnya di mana juga dia nggak jawab. Kok, gue jadi penasaran, ya, Dik!" Andika tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. "Eh, Ram, atau jangan-jangan Pak Firman dikeluarkan dari sekolah karena menghukum dia kemarin." "Ah, ngawur aja, lo. Emangnya siapa cewek itu, kok, bisa jadi penyebab Pak Firman dikeluarkan? Anaknya kepala sekolah? Bukan, kan. Anaknya kepala sekolah nggak sekolah di sini tau." "Eh, Ram, lo jangan salah. Gue pernah baca buku, katanya jangan sekali-sekali gangguin anak aneh kalo nggak mau dapat keanehan juga. Nah, mungkin aja itu juga berlaku buat Pak Firman karena udah berani-berani mengganggu cewek aneh itu." "Maksud lo Pak Firman kena semacam kutukan gitu? Kayaknya lo kebanyakan nonton sinetron, deh." "a***y, apa hubungannya, kampret?" "Sinetron horor maksudnya." "Rama, Andika," Pak Bun tiba-tiba menyela obrolan mereka. Wajahnya tampak berang. "Ngobrolin apa kalian di situ? Coba sebutkan istilah-istilah apa saja yang terdapat dalam olahraga basket!" Rama dan Andika mendadak terdiam. Mereka sama sekali tidak menyimak penjelasan dari Pak Bun tadi, sehingga mustahil jika mereka mampu menjawab pertanyaan itu. "Lo, sih, ngajakin gue ngobrol," bisik Andika yang menyenggol lengan Rama. "Anjir, lo! Lo tuh yang ngejelasinnya kepanjangan, makanya Pak Bun sampe dengar." "Ayo sebutkan!" desak Pak Bun. Rama dan Andika tersenyum kecut, lalu serentak menjawab, "Nggak tau, Pak!" "Bagus, bagus! Berarti sudah siap kena hukuman, ya!" Rama mendesah. Dia bergumam kepada Andika. "Ya elah, dihukum lagi." "Sekarang kalian maju dan berdiri satu kaki sambil memegangi telinga!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN