Rama seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Dia mencari-cari Ajeng ke seantro kelas 12. Para kakak kelas memandanginya sinis. Bahkan ada yang naik pitam karena merasa terusik.
"Lo nggak liat gue lagi ngapain, hah?" hardik kakak kelas di kelas 12 IPS 4 itu yang kelihatannya sedang sibuk menggambar sesuatu.
Sebenarnya Rama sudah ragu mau mendatangi kelas 12 yang satu ini. Menurut penuturan sebagai siswa, kelas ini adalah sarangnya cowok-cowok brandal. Jangankan adik kelas seperti Rama, guru-guru saja banyak yang dilawan, bahkan ditantang berkelahi. Sayangnya, Rama terlalu berani mengambil keputusan.
"Ma-maaf, Kak, gue cuma mau nyari cewek itu aja, kok," Rama tersenyum kecut. Kelihatan dari gerak-geriknya bahwa ia sedang ketakutan berhadapan dengan kakak kelas berambut keriting itu.
"Di sini nggak ada yang namanya Ajeng!" kakak kelas itu berdiri setelah sebelumnya menciptakan bunyi berdecit akibat meja yang digesernya. Postur tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Rama. "Gue paling nggak suka sama orang yang datang ke kelas gue cuma mau nanya alamat atau nyari orang aja. Emangnya kelas gue ini rumahnya pak RT apa!"
Rama ngomel dalam hati, siapa yang nganggap pak RT? Gue, kan, cuma nanya di sini ada Ajeng atau nggak, udah itu aja. Kalo nggak ada, ya, bilang nggak ada, beres. Nggak usah pake marah-marah juga kali, Kak.
"Ya, udah, Kak, kalo gitu, gue pe-permisi dulu! Maaf, Kak, mengganggu."
Waktu Rama hendak beringsut dan meninggalkan kelas itu, bahu sebelah kanannya mendadak direngkuh dengan kuat, terasa ditarik paksa untuk kembali ke posisi semula.
"Eh, eh, tunggu dulu! Enak banget lo main pergi-pergi aja."
Terpaksa Rama pun menoleh dan kembali berhadapan dengan kakak kelas yang kedua lengan seragamnya tergulung sedikit itu. Kalo bukan kakak kelas, udah gue ajak berantem kali ni orang.
"Ajeng nggak ada di kelas ini, kan, Kak!"
"Iya."
"Ya udah, Kak, gue mau tanya ke kelas sebelah dulu."
Kakak kelas itu memajukan mukanya yang terdapat sedikit jerawat di bagian dahi hingga membuat Rama terkejut dan memundurkan wajah refleks.
"Lo udah mengganggu kegiatan menggambar gue," kakak kelas itu lalu mengambil sebuah kertas di mejanya dan mengibar-ngibarkannya di depan muka Rama. "Lo liat ini! Gambaran gue jadi jelek, kan. Lo tau, ini adalah tugas Kesenian gue dari Bu Risanda. Kalo nilai gue jelek gara-gara kedatangan lo barusan, lo mau tanggung jawab?"
Sesekali Rama melirik gambar itu, dia mau tertawa, tapi ditahannya saja daripada berakibat fatal. Itu pohon kelapa atau sapu lidi! Dasar gambaran lo aja yang jelek, Kak. Pake acara nyalah-nyalahin kedatangan gue segala. Sekalian aja gambar pemandangan dalam celana.
Gambaran itu semacam pemandangan di pedesaan yang ada gunung-gunungnya, sawah-sawah, rumah-rumah dan pepohonan, mirip gambaran anak SD. Jika dilihat baik-baik, gambar pedesaan di kertas itu bagaikan sedang dilanda kebakaran, berantakan.
"Masa salah gue, sih, Kak, kalo gambaran Kakak dapat nilai jelek?" Rama berusaha membela diri karena dia merasa tidak bersalah.
Namun seseorang yang wataknya memang tak mau kalah, ya, pasti akan selalu menyalahkan orang lain. "Jelas salah lo, lah! Lo udah mengganggu konsentrasi gue. Habis jam istirahat ini, gambarnya dikumpul dan lo udah ngerusak semuanya. Gue nggak bisa terima ini. Sekarang lo ikut gue!"
Kakak kelas itu langsung menarik tangan Rama dan hendak menyeretnya ke suatu tempat. Dia tampak marah sekali seolah Rama terang-terangan telah mempermalukannya di depan umum.
"Mau kemana, Kak?"
Semakin bertanya, dia semakin menarik tangan Rama. Rama dipaksanya berjalan cepat menyusuri koridor kelas 12.
"Lo musti gue kasih pelajaran!"
Sambil melangkah dengan terpaksa, Rama terus mengumbar penolakannya. "Tapi gue nggak salah, Kak. Gue, kan, cuma-"
Kakak kelas itu menoleh ke arahnya dan memadang tampang yang luar biasa mengerikan seperti preman yang mengancam ibu-ibu untuk menyerahkan semua isi dalam tasnya.
"Diam!" bentaknya. "Nggak usah banyak cincong. Kalo lo nggak mau ikut gue, gue bakal gebukin lo sama teman-teman preman gue. Lo pilih mana?"
Terpaksa Rama menurut saja waktu kembali diseret lagi. Dalam perjalanan, tiba-tiba saja terlintas di pikirannya, apakah ini merupakan bagian dari kutukan si cewek eksentrik itu karena gue udah deketin dia beberapa hari ini?