Seperti biasa, bang Zain akan bekerja dan aku akan ke kampus. Sebenarnya jadwal ngamousku sudah tak begitu padat. Paling, sepekan tiga sampai empat kali pertemuan dengan beberapa mata kuliah berbeda. Bang Zain mengantarku terlebih dahulu sebelum akhirnya menuju kantor tempat dia bekerja. Aku berjalan gontai menyusuri jalanan menuju gedung fakultas. Aku sengaja berpamitan dengan bang Zain di dalam mobil. Agar mata dari orang - orang asing tidak tertuju pada kami atau lebih tepatnya tertuju pada bang Zain. Saat kakiku baru saja akan memasuki kelas, tepukan pelan pada pundakku berhasil mengitrupsi langahku saat ini. Seketika aku menoleh dan mendapati seorang perempuan yang ternyata adalah Dila. Wajahnya terlebih lebih ceria daripada terakhir kali kami bertemu hari itu. Aku tersenyum dan me

