BAB 6 - Pilihan

1029 Kata
"Boleh jadi, kau membenci sesuatu yang padahal baik untukmu dan boleh jadi kau mencintai sesuatu yang padahal sebenarnya buruk bagimu. Ingatlah, bahwa hanya Allah yang maha mengetahui segalanya. Serahkan semuanya pada-Nya" ______ Aku sedang duduk manis di atas kasur empukku sampai suara perempuan yang sangat aku kenali mengintrupsi lamunanku, "Nur? Kamu sedang apa nak? Mama boleh masuk? " sepertinya malam ini mama akan menanyakan jawabanku. Jujur aku belum terlalu yakin akan apa yang akan aku putuskan ini. Bismillah, semoga apa yang aku putuskan ini benar ya Allah aamiin. Akupun beranjak dari kasur tempatku bertengger, menuju pintu kamar dan membukanya. "Nur lagi ngga ngapa-ngpain kok ma", jawabku dengan tak lupa seutas senyum terukir diwajahku. "Masuk ma, ". Sekarang, aku dan mamaku sedang duduk di pinggiran ranjang tidurku. Jujur aku gugup. "Mama cuma mau ngajak kamu ke bawah sebentar, mama, papa sama kak Azam mau merundingkan masalah yang mama tanyakan padamu beberapa hari yang lalu". Hemm, benar dugaanku bahwa malam ini aku akan diinterogasi oleh mereka. Aigoo, pokoknya Bissmillah dan percaya bahwa Allah telah mempersiapkan rencana yang luar biasa untuk hambanya. Kemarin malam, aku sudah meminta petunjuk pada-Nya. Dalam solat istikhoro maupun tahajud, dan esoknya sampai malam ini, sepertinya hatiku telah mantap. Tak ada keraguan, meskipun aku mencoba berpikir ulang. Jawaban hatiku tetap sama. "Yaudah ma, yuk kita kebawa." kami berduapun beranjak dari ranjang tempat kami bertengger dan menuju ruang keluarga. ~~~~~ Hening sesaat, tidak ada yang membuka pembicaraan setelah beberapa menit kami berkumpul di ruang keluarga, sampai akhirnya papa membuka pembicaraan, "Anak papa udah sholat semua kan?, " tanya papa sembari melirik padaku dan kak Azam. "Sudah kok pa, mungkin adek tuh yang belum. Dia kan suka kebo, kali aja dia ketiduran lagi kek waktu itu", jawab kak Azam beserta pujiannya. Menyebalkan memang, kapan sih dia nikah? Kok malah aku yang mau dijodihin aja. Huh-_- "Papa yakin adek juga sudah sholat, ya kan cantik? ", Aaa papa mah emang the best deh, tau aja kalo anaknya ini cantik hihi. Huussh jangan takabur kamu Nur, waduh!! malaikat dalam hatiku mulai mengingatkan. "iya dong pa, adek sudah sholat kok. Baca Al-Quran juga udah", aduhh paa kok lama banget sih? Nur tu tau ini ujung-ujungnya bakalan bahas perjodohan kan? Untung saja, aku sudah mendapat jawaban atas doaku. Sehingga Dia memantapkan hatiku. Bukankah Allah tempat meminta segala sesuatu. Hal itu jelas tercantum di dalam kitab suci yang terjaga. Pada ayat ke-dua surah Al-Ikhlas. اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ  allohush-shomad ["Allah tempat meminta segala sesuatu."] (QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 2) "Ya sudah, langsung saja papa tanya sama Adek," papa menjeda perkataanya sejenak. "Bagaimana jawaban adek? Atas perjodohan yang waktu itu mama tanyakan sama adek?" Deg! aku sedikit gugup, tapi aku sudah yakin dan mantap dengan keputusanku. Aku menghela nafas sebentar, "Sebelumnya adek boleh nanya dulu ga pa, hal apa saja yang membuat kalian menerima kitbah dari lelaki yang sama sekali belum pernah adek lihat", jawabku cukup panjang dan tidak bertele-tele. "Kalau papa,- kenapa papa yakin? karena papa sudah cukup mengenalnya, walaupun kami jarang berbincang bersama, dan yang paling penting dia telah memiliki kriteria menantu sekaligus suami yang tepat, seperti yang adek ceritakan pada papa waktu itu, Dia tidak merokok, itu sesuai dengan kriteria adek kan?, dia juga tidak bertindik ataupun bertato, rambutnya tidak gondrong, dia juga tidak botak dan yang paling penting, ilmu agamanya diatas rata-rata. Terlebih lagi dia itu anak sahabat karib papa loh dek." Jelas papa pada ku dengan penuh keyakinan. "Kalau menurut mama sama kak Azam bagaimana?" kali ini aku melirik mama dan kak Azam secara bergantian. "Kalau mama sependapat dengan papa, dia rajin sholat, baik wajib maupun sunah. Puasa juga begitu. Sikap? Tidak usah diragukan lagi dek. Dia sopan dan santun. Mama baru ketemu beberapa kali aja sih, tapi mama udah yakin 99,9%". Kali ini aku melirik kak Azam dengan tatapan penuh tanya. "Kalo menurut kakak gimana kak? Dia beneran cocok buat aku?". Kak Azam awalnya diam, kakak ku ini memang kadang slow respon. Sampai akhirnya kak Azam mulai berkomentar "Kakak setuju! Kakak udah pernah ketemu beberapa kali, dan juga udah interogasi dia kenapa mau mengitbah perempuan kebo kayak kamu? " jawab kak Azam santai tanpa rasa bersalah. Astagfirullah, "sabar Nur" ingat dia kakakmu satu-satunya. Akupun mengerucutkan bibirku tanda tak setuju dengan apa yang barusan kak Azam katakan. Mama sama papa? Cuma senyum-senyum saja. "Beneran kak? kakak bilang sama lelaki itu kalau Adekmu ini kadang suka kebo?, lalu bagaimana responnya? ", mama pun bertanya dengan penuh semangat. Ayolah ma, masak iya anak mu yang cantik ini dibilang suka kebo kalau tidur? Bilangnya ke orang lain lagi. Protes kek, ini malah keppo sama itu orang. Sungguh ter-la-lu. "Responnya? biasa saja sih ma, ehh kalau tidak salah-, dia malah tersenyum dan mengatakan bahwa, "Bismillah, aku siap menerima apapun yang ada pada dirinya kak. Jadi kakak jangan khawatir", dia mengatakannya dengan sangat yakin dan mantap". "Masya Allah, tuh kan dek? Apa mama sama papa bilang tu benar kan? Jadi kamu jangan ragu lagi ya? Kamu sudah minta petunjuk sama Allah dan mama rasa kamu telah memiliki jawabannya". "Bismillah. Adek siap ma, pa, kak. InsyaAllah, adek mau dijodohkan dengannya." Jawabku dengan mantap. Entahlah, baik hati maupun pikiran ku tak ada yang protes, ataupun menentang apa yang ku katakan barusan. Mama, papa dan kak azampun melafazkan Alhamdulillah secara bersamaan. Seolah merasa lega setelah menahan sesuatu di hati mereka. Begitupun denganku rasanya di dalam dadaku lebih luas dan lega. Seolah benda tak kasat mata yang semula bersarang di sana, sudah lepas dan menghilang entah ke mana. Akan tetapi, rasanya aku masih tidak percaya dengan semua yang ada di hadapanku saat ini. Fakta di mana, aku-akan-menikah adalah fakta yang masih sering aku pikirkan dan tanyakan ulang pada diriku sendiri. "Apa kau benar - benar siap, Nur?!" "Pernikahan adalah ibadah jangka panjang, penyatuan dua keluarga dan dua orang asing yang di dalamnya akan ada begitu banyak kemungkinan - kemungkinan yang terjadi. Entah itu buruk, atau baik." Setiap kali pertanyaan itu muncul dan mengusikku, maka aku akan berdoa, "Wahai Allah yang Maha Pembolak - balik hati manusia. Hamba mohon, teguhkan hati hamba dalam kebenaran/ketaatan pada Islam." Semoga Allah menetapkan hatiku pada keputusan yang benar sesuai koridor Islam, yaitu koridor yang sudah Allah tetapkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN