Arash mulai terfokus pada pekerjaan yang ada di London. Dia bahkan jarang mengangkat telepon dari Emy, lebih tepatnya mengabaikan teleponnya. Hal itu berlangsung selama beberapa bulan. Karena sudah menjadi kebiasaan, dia tidak lagi menganggap Emy sosok penting yang perlu ia perdulikan. Sementara Emy, dia mulai merasakan kalau semua ini salah. Dia dulu berpikir kalau kemewahan akan membuatnya bahagia, lalu rencananya untuk mengambil hati Arash saat pernikahan akan berjalan lancar. Nyatanya semua berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan. Emy tersiksa dengan pengabaian Arash. Padahal perutnya sudah sangat besar. Kini segala upaya yang ingin ia lakukan untuk merebut hati Arash mulai padam. Dia lebih mengkhawatirkan bayinya. Dia mulai berpikir kalau perutnya tumbuh lebih besar dari pad

