Belum Siap Menikah

1128 Kata
Seperti yang sudah di jadwalkan sebelumnya, Fresia akhirnya datang memenuhi undangan wawancara dengan di antar oleh Mas Moka. Mereka ke Surabaya naik motor supaya nanti tidak macet. Mas Moka menjemput Fresia pukul 4 subuh, saat kabut tebal masih menyapa kota Batu. “Fres, pernah ke kota Surabaya sebelumnya?” tanya Mas Moka di perjalanan. “Nggak pernah, Mas,” jawab Fresia. “Aku itu cuma pernah ke Malang aja. Paling ke Jogja atau Bali pas acara study tour sekolah doang,” imbuhnya kemudian. “Kamu perlu jalan jalan, Fre, supaya otak kamu nggak ngefreeze,” canda Mas Moka. Fresia tertawa mendengar ucapan Mas Moka barusan. “Iya, nanti kalau aku sudah punya uang banyak,” celotehnya menanggapi candaan Mas Moka. “Nah, harus itu.” Motor semakin melaju di jalanan yang mulai ramai. Mereka sudah berkendara selama lebih dari 1 jam. Sempat berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar juga. Fresia mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya karena cuaca yang dinging. Semburat jingga mulai merebak dari singgananya di ujung Timur. Perjalanan terasa singkat saat motor yang di tumpangi mereka memasuki kawasan elit perkantoran Surabaya, berhenti di depan sebuah gedung BCA tower di jalan Diponegoro. Mereka mengambil tiket parkir lalu masuk ke dalam gedung. Bertanya kepada satpam yang bertugas lalu ke lantai 7, tempat dimana perusahaannya berada. Mas Moka menunggu di luar saat Fresia masuk ke dalam untuk melakukan wawancara. Fresia masuk ke dalam, menunggu di sebuah ruangan bersama beberapa orang yang juga tengah menunggu wawancara sama seperti dirinya. Setelah menunggu beberapa saat, ada seorang pria yang mengenakan pakaian jas formal menyuruh mereka untuk masuk ke ruangan lain satu persatu. Fresia semakin gugup melihat orang masuk satu persatu. Pukul 12.45 wib, Fresia menyelesaikan sesi wawancaranya. Ia menghubungi Mas Moka, lalu mereka bertemu di parkiran. Mereka naik motor dan motor melaju meninggalkan area gedung BCA Tower tersebut. Di perjalanan, mereka berhenti di sebuah warung ayam geprek untuk mengisi perut. “Gimana tadi wawancaranya?” tanya Mas Moka di sela acara makan. “Menurut aku sih lancar, Mas, tapi nggak tahu juga penilaiannya nanti seperti apa,” jawab Fresia. Ia sudah berusaha maksimal saat wawancara tadi, ia hanya bisa menunggu hasilnya dengan pasrah dan bersiap untuk kemungkinannya nanti. “Berdoa saja, apapun hasilnya nanti itu adalah yang terbaik untuk kamu,” ujar Mas Moka menasehati. “Hehm.” Fresia hanya mengangguk. “Hasil pengumamannya kapan?” tanya Mas Moka lagi. “Minggu depan,” ajwab Fresia. “Lama juga ya?” “Ternyata ini perusahaan baru, Mas. Cabang pertama di Surabaya, jadi banyak banget tadi yang melakukan wawancara. Kayaknya perusahaan juga butuh banyak pegawai baru,” jawab Fresia. “Ya, semoga saja kamu salah satunya.” Mas Moka tersenyum. “Amin.” Fresia kembali mengaminkan doa baik untuknya. “Setelah ini mau balik ke Tulungagung atau menunggu di Batu?” “Maunya sih balik, Mas, karena aku kan ke Batunya mendadak, jadi nggak bawa banyak barang. Mungkin besok aku balik terus H-2 aku balik lagi ke Batu.” Fresia sudah merencanakan hal ini sejak meninggalkan gedung BCA Tower tadi. “Oke.” Mas Moka hanya mengangguk. “Mas Moka sendiri gimana? Skripsinya lancar?” tanya balik Fresia setelah sebelumnya hanya Mas Moka yang terus bertanya kepadanya. “Hah, capek ngejar dosennya,” sahut Mas Moka. “Ya, semua mahasiswa pasti mengalami hal itu, Mas,” oceh Fresia menahan senyum. “Dosen aku itu susah banget di temui, Fre, sibuk banget. Maklum aja, beliau kan wakil dekan. Banyak banget kerjaannya. Apalagi beliau juga sedang mengambil S3 di UB, jadi tambah sibuk lagi. Aku bahkan sering ke UB buat nyariin Beliau,” celoteh Mas Moka panjang lebar. “Oh, ya? Dulu kayaknya Rania juga gitu deh, sibuk nyari dosen yang ngambil gelar s2 di UM. Dia juga pernah tuh sampai ke rumah dosennya.” Fresia teringat dengan kisah Rania sebelum mendapatkan gelar Spd. “Untung saja aku nggak sampai kayak gitu. Mas Moka tahu sendiri kalau aku tiap ke kampus itu naik ojek, bakalan repot banget kalau harus wara-wiri kayak kalian,” imbuhnya kemudian. “Tapi dosen kamu juga nyebelin kan ya.” “Wah, kalau itu nggak usah ditanya lagi, Mas, super banget pokoknya. Masalahnya dia itu nyuruh aku ngulang skripsi dari awal pas selesai sidang. Terus pas udah aku tulis ulang, eh, malah nggak di cek sama sekali. Pokoknya menguras tenaga dan emosi aku banget.” Fresia teringat dengan perjuangannya untuk mendapatkan gelar SE. “Dan akhirnya kamu berhasil melewati itu semua dan mendapatkan gelar kamu.” “Alhamdulillah.” Fresia tersenyum tipis. “Emangnya Mas Moka sampai mana skripsinya?” tanyanya kemudian. “Aku bab 4, Fre, analisisnya nggak pernah bener. Mata aku sampai panas lama lama di depan laptop,” keluh Mas Moka. “Hahahaha, aku dulu juga gitu sih, hitung sampai puluhan kali karena nggak nemu persamaan yang tepat. Belum lagi nulis isinya, terus rangkumannya, saran juga. Bagian penutup juga susah tuh, harus mempertahan penelitian kita. Banyak banyak cari referensi aja sih,” ujar Fresia memberi nasehat. “Udah banyak bangte, Fre, sampai hardisk aku full sama dokumen dokumen. Tapi tetep aja baca tulisan, angka bikin aku tambah pusing. Hah, entahlah... pusing aku mikirin skripsi yang nggak kelar kelar.” Mas Moka mengangkat bahunya tak acuh. Fresia tertawa kecil. “Nikah aja kalau gitu, kan udah punya calonnya,” candanya kemudian. Mas Moka mendongak ke depan. “Nikah juga butuh persiapan, Fre,” ucapnya. “Aku belum siap,” lirihnya kemudian. Fresia hanya diam tak menanggapi ucapan Mas Moka. “Ayo makan lagi, kebanyakan cerita kita,” oceh Mas Moka saat melihat makanan Fresia masih banyak. Sedangkan rawon di hadapan pria itu sudah tandas. Fresia hanya tersenyum, lalu lanjut makan. Setelah mengisi perut, mereka kembali meneruskan perjalanan menuju Kota Batu. Sesekali bercerita, menikmati perjalnan yang terasa baru bagi seorang anak rumahan seperti Fresia. Ia senang melihat pemandangan yang ia lalui di kanan kiri, ternyata memang menyenangkan bisa keluar dari zona nyaman kita. Perjalanan terasa cepat saat motor Moka berhenti di depan rumah Mbak Yuni. Fresia turun dari motor lalu menyerahkan helm yang ia pakai kepada Mas Moka, helm milik Rania. “Mau mampir?” tawar Fresia. “Nggak, Fre, udah sore,” jawab Mas Moka menolak. “Oh.” Fresia mengangguk. “Sekali lagi makasih ya, Mas, udah nganterin aku ke Surabaya,” ujarnya tersenyum tulus. “Santai aja, Fre.” Balas Mas Moka tersenyum. “Ya udah, aku balik dulu ya. Salam buat Mbak Yunit,” pamitnya kemudian. “Iya, hati hati di jalan, Mas.” Fresia menunggu sampai motor Mas Moka menghilang dari pandangannya. Fresia lalu masuk ke dalam rumah, berada di atas motor hampir 3 jam ternyata cukup menguras tenaganya. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya lalu bergegas mandi dan berganti baju. Ia akan rebahan sebentar sebelum nanti membantu Mbak Yuni untuk masak makan malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN