Freya duduk termenung di meja makan. Makanan di piringnya belum tersentuh sama sekali. Kedua tangannya memegang garpu dan juga sendok, namun tak berniat untuk memakan nasi dan lauk pauk di hadapannya. Setelah mengunjungi kedai langganannya, Fresia kembali pulang ke rumah Mbak Yuni dengan satu keputusan yang akan ia pilih. Saat sampai di rumah, ternyata Mbak Yuni sudah pulang bekerja. Wanita itu pulang lebih awal karena ada urusan pribadi.
Mbak Yuni duduk di hadapannya, wanita itu menyantap makanan dengan khidmat. Ia sesekali melirik Freya yang belum menyentuh makanannya. "Sudah dapat hasil dari wawancara kemarin, Fre?" tanyanya kemudian.
Fresia menoleh ke arah Mbak Yuni. Ia diam sejenak lalu memutuskan menggeleng. "Aku belum lolos, Mbak," jawabnya berbohong.
Setelah hampir seharian menggalau di dalam kamar, akhirnya Fresia memutuskan untuk menolak tawaran pekerjaan di Surabaya. Ia akan menggeleti passion-nya sebagai seorang penulis. Ia ingin pekerjaan yang nyaman dan sesuai dengan passion dirinya. Sehingga nanti ia akan bekerja tanpa beban yang menumpuk.
"Nggak apa apa." Mbak Yuni tersenyum. "Masih banyak kesempatan yang akan datang," imbuhnya kemudian.
Fresia meletakkan garpu dan sendok di kedua sisi piring. "Sebenarnya aku pernah mengajukan kontrak novel di salah satu aplikasi novel online, Mbak. Alhamdulillah, kontrak aku di ACC," ceritanya kemudian.
"Aplikasi novel online?" tanya Mbak Yuni mengerutkan keningnya.
"Jadi dari dulu kan aku suka banget nulis, terus udah lama juga aku nulis di salah satu aplikasi novel online. Beberapa waktu lalu aku dihubungi oleh editor aplikasi tersebut. Aku mengajukan beberapa kontrak dan akhirnya di ACC. Alhamdulillah, aku bisa dapat penghasilan dari menulis novel," terang Fresia panjang lebar.
"Oh, begitu?" Mbak Yuni mengangguk mengerti. "Ya udah, selamat ya, Fre. Mungkin rejeki kamu bukan di Surabaya tapi di aplikasi novel online tersebut," ucapnya tulus. "Terus nanti kerjanya gimana? Kantornya dimana?"
"Kantor pusatnya sih di Singapore, Mbak. Aku nulisnya bisa dimana aja, yang penting setor naskah sesuai kesepakatan kontrak," jawab Fresia. Ia mengambil kembali sendok dan garpu dan lanjut makan. Perasaannya lega setelah bercerita dengan Mbak Yuni.
"Wah, kerja di rumah? Enak dong," seru Mbak Yuni. "Tapi pasti harus sesuai target ya?"
Fresia mengangguk membenarkan ucapan Mbak Yuni tersebut. "Karena hobby aku sejak dulu nulis, jadi nggak terlalu berat sih, Mbak. Semoga aja pekerjaan aku nanti bisa lancar ya, Mbak. Amin." Fresia mendoakan hal baik untuknya.
"Amin. Semoga pekerjaanmu lancar ya, Fre." Mbak Yuni ikut mengaminkan.
Fresia tersenyum. Ia bersyukur karena Mbak Yuni mendukung apapun yang ia lakukan. Ia juga merasa tidak enak karena sudah berbohong kepada Mbak Yuni.
Keesokan harinya, Fresia memutuskan untuk kembali ke Tulungagung. Toh, pekerjaannya bisa dilakukan di mana saja sehingga ia memutuskan untuk pulang saja. Meskipun Mbak Yuni tak keberatan jika Fresia tingga di rumahnya lebih lama lagi.
Fresia pulang ke Tulungagung menggunakan Kereta Api Dhoho Penataran pukul setengah 2 siang. Sebelum pulang, tak lupa ia membeli beberapa oleh oleh untuk orang rumah. 2 box lapis tugu untuk adik dan kakaknya, dua box singkong keju untuk ibu dan neneknya juga beberapa keripik tempe.
Stasiun Malang riuh dengan para pengunjung yang berdatangan dari berbagai tempat. Tak pernah sepi dengan wajah wajah bahagia juga kesedihan bagi yang tengah berpisah. Semua orang datang dengan membawa barangnya masing masing. Fresia teringat dengan stasiun zaman dulu.
Saat Fresia masih SD dulu, ia sering bepergian ke Malang. Dulu tidak ada tiket elektronik, yang ada hanya tiket berbentuk persegi panjang dan cukup tebal, tiket yang menurutnya unik. Dulu juga banyak yang berjuangan di sekitar stasiun dan bahkan di dalam kereta selama perjalanan.
Fresia merindukan suasana zaman dulu, makanan makanan zaman dulu yang sering ia beli. Sate 02, keripik, kipas bergambar princess, juga gelak tawa orang orang yang saling bersanda gurau padahal tak saling mengenal. Dulu, rasanya kekeluargaan jauh lebih kental daripada sekarang.
"Selamat menjalani hidup baru, Fre," ujar Fresia sebelum masuk ke dalam kereta dan pulang ke kampung halamannya.
***
Keesokan harinya Fresia mulai menjalani pekerjaannya sebagai author di salah satu platform novel online. Sepanjang hari dia disibukkan merangkai imajinasi yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Menulis kisah upik abu dan bertemu dengan pangeran tampan sempurna. Menuangkan imajinasinya tentang pasangan yang bahagia selama lamanya.
Freya yang menekuni pekerjaannya sebagai seorang penulis dengan hati berbunga bunga. Bekerja dengan passion dan juga keahliannya memang terasa lebih mudah. Ia tak bisa membayangkan jika dulu menerima pekerjaan di Surabaya. Mungkin sekarang ia masih harus kesana kesini mencari pelanggan sekuritasnya.
Di dalam kamarnya yang cukup sempit, hanya terdengar ketikan keyboard laptop dan juga deru kipas angin. Ia tengah sibuk menulis cerita saat tiba tiba ponselnya berdering nyaring.
08587479XXXX
Calling!
Fresia menatap layar ponselnya cukup lama. Ada sebuah nomor baru yang menelfonya. Ia enggan untuk menganggat nomor baru yang tidak ia ketahui. Namun ini sudah yang ke 3 kalinya nomor tersebut menelfon. Jemarinya kemudian bergerak untuk menganggat panggilan tersebut.
"Halo," sapa Fresia kemudian.
"Halo, ini aku, Fre, Zevanya, teman SMA kamu."
"Oh, hai, Zev. Apa kabar? Lama banget kita nggak ketemu, ya?" tanya Fresia mendesah lega. Ia fikir orang aneh atau penipuan yang akhir akhir ini sering terjadi.
"Iya." Zevanya terdiam. "Kamu masih di Malang?" tanyanya kemudian.
"Enggak. Ini aku udah di rumah, baru balik ke Malang kemarin," jawab Fresia ramah. "Ini tumben banget kamu telfon aku, kenapa, Zev?" tanyanya kemudian. Nadanya halus supaya Zevanya tidak tersinggung.
"Ehm..." Zevanya kembali terdiam. "Aduh, aku bingung harus mulai darimana, Fre," imbuhnya kemudian.
Fresia mengerutkan keningnya. "Kenapa, Zev? Kamu lagi ada masalah? Nggak apa apa, cerita aja ke aku?" ujarnya kemudian. Meskipun dulu saat SMP mereka nggak dekat karena memang beda kelas, tidak ada salahnya menawarkan bantuan yang mungkin sedang Zevanya butuhkan.
"Fres, sebenarnya... ehm, kamu rekam deh, obrolan kita saat ini," pinta Zevanya kemudian.
"Hah?" Fresia tentu saja bingung. Tapi ia tak bertanya lebih lanjut, ia pun menekan tombol rekam di ponselnya. "Udah, Zev."
"Bukan maksud apa apa, Fre, aku cuma takut terjadi hal fitnah karena obrolan kita ini cukup serius." Zevanya kembali bersuara. "Kamu sering ketemu sama Rania, nggak?" tanyanya kemudian.
"Rania? Akhir akhir ini udah jarang sih," sahut Fresia jujur. "Dia sekarang kerja di tempat les, Zev, deket UB, jadi kita jarang ketemu. Aku juga sering pulang ke Tulungagung, sementara dia terus di Malang," jelasnya kemudian. "Kalian masih saling kontak 'kan ya?" tanya Fresia, mengingat dulu saat SMP Zevanya lebih dekat dengan Rania.
"Masih." Zevanya diam sejenak. "Aku telfon kamu karena kaget dengar kabar terakhir dari Rania," ujarnya kemudian.
"Kabar? Kabar apa?" tanya Fresia heran. Pasalnya, sebagai sepupu Rania ia sama sekali tak mendengar kabar apapun.
"Kamu jangan kaget ya, pastiin dulu apa ini beneran atau enggak. Aku kirim foto ke kamu."
Terdengar jeda selama beberapa menit, sampai beberapa notif pesan masuk ke ponsel Fresia.
"Coba kamu cek dulu," pinta Zevanya kemudian.
Meskipun heran, Fresia tetap melakukan apa yang diminta oleh Zevanya barusan. Ia segera mengecel pesan dari Zevanya yang ternyata berupa gambar. Ada 2 gambar yang di kirim oleh teman SMP-nya itu. Pertama, seseorang yang tengah duduk di atas tempat tidur. Kedua seseorang berdiri di depan kaca dengan baju yang sama. Meskipun dua foto tersebut tak memperlihatkan wajah orang di foto, tapi forasat Fresia mengatakan jika dia...
"Itu Rania 'kan, Fre?" tanya Zevanya setelah jeda cukup panjang.
Fresia terlalu terkejut melihat foto tersebut hingga memilih bungkam cukup lama.
"Fre, kamu di sana 'kan?" tanya Zevanya untuk kedua kalinya.
"Hah? Iya, aku dengar, Zev." Fresia kembali diam. "I-ini... foto yang dikirim Rania ke kamu?" tanyanya terbata bata.
"Iya," sahut Zevanya lirih. Wanita itu mungkin juga masih bingung dengan keadaan yang terjadi.
"R-rania... H-hamil?" Fresia masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Berita mengejutkan yang membuat jantungnya bergemuruh.