Obsesi Muldoko

1871 Kata

"Maafkan aku Wengi, maafkan aku." Perasaan Wengi semakin tidak menentu mendengar apa yang Muldoko katakan, jadi benar kalau selama ini dia hanya termakan hasutan. "Jadi benar kalau selama ini semua yang Mas Mul katakan padaku sebuah kebohongan?" tanya Wengi sambil menatap sang sahabat yang sedang menangis seperti anak kecil itu. Perlahan Muldoko menganggukkan kepala. Sial! Benar-benar di dunia ini memang tidak ada yang namanya sahabat sejati. Semua itu bohong, semua itu palsu! Ikatan bernama persahabatan adalah sebuah hubungan semu berbalut kepalsuan dan berakhir pada sebuah penghianatan, itulah yang Wengi yakini saat ini. "Aku juga meminta maaf padamu, Hans," ujar Muldoko sambil menatap Hans yang hanya diam tidak tahu harus berkata apa. "Apa yang membuat kamu melakukan hal itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN