BAB 15

2851 Kata
Sewajarnya Miyu yang selalu tidak pernah absen memberikan kabar kepada Aya dan Nana, kabar terbarunya yang cukup buruk turut disampaikan. Sesibuk-sibuknya Aya dan Nana, mereka tetap rajin meminta kabar Miyu. Bukan karena faktor kehamilan Miyu, memang kebiasaan itu sudah dilakukan sejak SMA. Dua wanita itu saja yang bersikap protektif tanpa diminta. Jadi, sikap protektif mereka semakin menjadi-jadi setelah Miyu mengandung. Ketika Miyu mengecek ponsel setelah kepergian Kanata, dia melotot melihat ribuan notifikasi chat dan panggilan tidak terjawab. Tidak hanya panggilan telepon melalui sosial media, ada pula yang langsung tertuju ke ponselnya. Ratusan spam chat juga memenuhi seluruh sosial media Miyu. Miyu memang terbiasa diperlakukan demikian, tetapi sungguh ini adalah notifikasi terbanyak yang pernah dia dapatkan. Aya dan Nana memecahkan rekor mereka. Tidak ingin semakin memicu kekhawatiran sahabatnya, Miyu segera mengirimkan kabar. Balasan yang didapat pun secepat kilat berhubung hari ini adalah hari Minggu sehingga Aya dan Nana dalam mode sangat siaga. Tanpa basa-basi lebih jauh lagi, keduanya segera berangkat ke RSU Bunda di Menteng, dekat dengan café Anomali dan rumah Miyu. “Miyu, apa-apaan, sih?! Kok bisa?! Gue ‘kan udah bilang jangan terlalu over work!” “Anak lo gimana?! Siapa yang bantuin lo semalam?! Kalau bisa, gue pengen ketemu buat berterimakasih!” Miyu tidak habis pikir melihat betapa cepatnya kedatangan Aya dan Nana. Sejauh yang Miyu ketahui, Aya berada di Kemayoran dan Nana di Tanah Abang. Jarak mereka lumayan jauh dari Menteng. Namun, secara anehnya, durasi kedatangan mereka terlampau cepat. “Tenang dulu, tenang. Ini di rumah sakit, jangan berisik,” ujar Miyu berusaha sabar dan bersikap setenang mungkin di hadapan kedua sahabatnya yang berwajah panik. “Duduk dulu, jangan buru-buru.” Mematuhi teguran Miyu, kedua wanita itu mendudukkan diri di kursi meja makan, tidak jauh dari Miyu. Panik masih terpasang di wajah mereka lengkap dengan keringat dingin yang mengucur deras. Tidak ada perasaan tenang yang menyelimuti Aya dan Nana. Bagi Miyu, itu wajar. Siapa yang tidak khawatir setelah mendapat kabar buruk dari seorang sahabat yang tiba-tiba rawat inap di rumah sakit? Walau sepanik itu, Aya dan Nana memahami situasi. Mereka harus menetralkan diri dan mendinginkan kepala. Mau merasa panik rasanya tidak pantas karena terlalu terlambat. Miyu sudah melalui banyak masalah sejak semalam dan dibantu dengan baik oleh orang lain. Maka, kepanikan Aya dan Nana jadi tidak mendasar. Aya meletakkan botol air mineral usai menenggaknya secara rakus. “Jadi, bisa tolong jelaskan kronologinya sedetail mungkin?” Masih dalam posisi berbaring, Miyu mengangguk kecil sambil menarik napas panjang. “First of all, gue baik-baik saja. Nggak ada masalah dalam kandungan gue. Yah, bisa dibilang itu cukup ajaib berhubung kondisi gue semalam termasuk parah. Berkat bantuan seseorang, gue dan kandungan gue terselamatkan.” “Beneran? Wajah lo masih pucat,” sahut Nana khawatir menatap wajah pucat Miyu sedari memasuki kamar inap. “Beneran. Gue kena demam tinggi gara-gara kelelahan,” Miyu terkekeh kecil, “nggak bisa disalahkan juga. Semalam ‘kan satnight, sudah pasti café bakal jadi sarang tongkrongan.” “Terus, siapa yang nolongin lo?” Aya mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar inap, sorotnya memancarkan sedikit campuran kaget dan bingung. “Ini perasaan gue doang atau lo memang ditempatkan di kamar kelas tinggi?” Miyu melengos pelan. Reaksi Aya terhadap kamar inap pilihan Kanata sangatlah wajar. Siapa pun pasti akan langsung melotot jika melihat sahabatnya ditempatkan di ruangan mewah. Hal pertama yang dipikirkan Aya adalah tagihan rumah sakitnya! Berbeda dari sebelumnya, kali ini Miyu tidak langsung menjawab. Terhadap perubahan raut di wajahnya dalam sepersekian detik. Perubahan itu tertangkap oleh mata Aya dan Nana. Lantas, mereka menangkapnya sebagai perwujuhan enggan dari Miyu. Jujur saja, Miyu tidak ingin memberitahu perihal Saionji Kanata kepada sahabatnya. Miyu ingin apa-apa yang berkaitan dengan Saionji Kanata biarlah menjadi rahasia ‘kecil’ bersamananya. Sayangnya, Miyu tahu itu tidak bisa. Cepat atau lambat Aya dan Nana akan mengendus Kanata, begitu juga orang-orang lain. Percuma saja untuk berusaha menyembunyikannya. Maka, Miyu menunjuk kartu nama Kanata yang tergeletak di nakas. Tindakan Miyu membuat Aya dan Nana sedikit bingung. Butuh waktu sekitar dua menit untuk memahami maksud Miyu. Aya mengambil kartu nama Kanata dari nakas lalu kembali duduk di kursi meja makan. Ia nyaris tersedak kala membaca nama salah satu perusahaan multinasional terbesar dari Jepang di kartu nama Kanata. “S—Saionji Phantom Company Group?!” seru Aya luar biasa syok, mengagetkan Miyu dan Nana. “I—ini serius…? Miyu, b—bagaimana bisa lo punya—ah, lebih jauh lagi, ketemu sama orang sepenting ini?” Tidak tahan melihat kekagetan Aya, Nana menyambar kartu nama Kanata, mendecak kecil. “Apaan, sih? Kenapa lo sekaget dan selebay itu?” Aya langsung menoleh ke Nana, bersungut-sungut. “Itu kartu nama Saionji Kanata, Direktur Utama perusahaan multinasional dari Jepang yang tenar! Parah lo kalau sampe nggak tahu dia!” Secara skeptis, Nana mengamati kartu nama Kanata. “Ini punya orang sepenting itu? Serius?” “Memangnya ada orang b**o yang berani cetak kartu nama pake identitas orang itu secara sembarangan? Selain itu, lihat kualitas kartu namanya, bukan main-main. Artinya, itu asli.” Tatapan skeptis Nana ganti arah ke Miyu yang terbaring lemah di ranjang. Nana tidak meragukan Aya dan Miyu, hanya saja cukup tidak bisa dipercaya kejadian seperti drama picisan terjadi pada kehidupan Miyu. Seorang Direktur Utama muda, tampan, dan kaya raya menjadi pangeran berkuda putih yang menyelamatkan Miyu. Benar-benar terdengar seperti drama. Akan tetapi, eksistensi kartu nama Kanata menjadi bukti valid yang tidak bisa digugat. “Miyu, lo beneran ditolong sama laki-laki yang punya kartu nama ini?” tanya Nana pada akhirnya, tidak mau menerka aneh-aneh lagi. Miyu tersenyum tipis. “Iya. Dia salah satu pelanggan café yang rajin datang setiap hari. Karena setiap hari, gue dan dia jadi kayak semacam kenalan. Semalam, dia yang nolongin gue segalanya sampe pagi.” Aya dan Nana tercengang. Hampir saja mereka ternganga begitu saja secara tidak elit jika tidak memiliki pengendalian diri yang kuat. Drama picisan yang sering ditampilan di drama Asia, kini benar-benar terjadi di kehidupan Miyu! “Seriusan nih?” gumam Aya kehabisan kata-kata. Nana mengembuskan napas panjang. “Terus, apa lagi yang belum kami ketahui? Apa cuma sekedar begitu aja?” Inilah pertanyaan yang Miyu wanti-wantikan. Dia sudah menyiapkan diri untuk membeberkan segala hal tentang Kanata, termasuk dialah pasangan one night stand yang menjadi ayah dari kandungan Miyu. Topik utama itu sudah Miyu siapkan sebaik mungkin agar dapat diterima oleh Aya dan Nana. Bagaimanapun, mereka berhak tahu masalah utama tersebut. Miyu berdehem kecil, mengumpulkan segenap keberanian sekaligus membulatkan tekad. Manik hijaunya menatap Aya dan Nana penuh keseriusan. “Dia juga orang yang sama yang jadi pasangan one night stand gue.” Singkat, jelas, dan padat. Sangat singkat dan padat sampai-sampai kedua sahabatnya melongo kaku di tempat. Miyu sengaja mengatakannya secara singkat lebih dahulu agar mereka tidak dapat mencernanya baik-baik sebelum dijelaskan rinciannya. Dia juga ingin mengetahui respon pertama yang pastinya tidak baik-baik saja. Ya, sahabat mana di dunia ini yang merespon bagus atas kejadian yang menimpa Miyu? Aya dan Nana masih termangu di tempat. Keduanya melongo kepada Miyu tanpa berkata-kata. Benar-benar bungkam dengan tatapan dan raut yang campur aduk. Mereka tidak bisa memercayai pendengaran mereka. Mereka lebih tidak bisa berpikir normal lagi karena tidak mengira hubungan Kanata dan Miyu benar-benar bak drama picisan Asia. Setelah mereka kira hanya sebuah kebetulan seorang Saionji Kanata berlangganan di café Anomali dan mengenal Miyu, ternyata apa yang sesungguhnya terjadi sangat jauh dari terkaan! “Tunggu, tunggu,” celetuk Nana menyudahi keheningan membuat Aya dan Miyu menoleh kepadanya, sama-sama tertarik dari lamunan masing-masing, “lo bilang apa tadi? Lo dan Dirut Jepang itu pasangan one night stand?” Dibandingkan Aya, sejak dulu Nana lebih emosional dalam menanggapi situasi. Berhubung wataknya lebih tomboy dan mudah terpancing emosi, Miyu mengantisipasi diri dalam menghadapi Nana daripada Aya. Bukan berarti Miyu meremehkan Aya, melainkan Miyu paham Aya akan selalu memahami situasi Miyu dengan kepala dingin, berbanding terbalik dari Nana. Bisa gawat kalau Nana mengamuk di rumah sakit, bukan? “Sejak kapan lo tahu? Statement lo udah valid? Apa buktinya? Kenapa baru bilang sekarang?” tanya Nana beruntun dengan wajah masam, memberikan sinyal tanda bahaya kepada Miyu. “Hari ini, valid, kartu nama itu, karena baru tahu,” jawab Miyu setenang dan senormal mungkin demi menghindari menyiram minyak ke api amarah Nana yang mulai memercik. Kening Nana mengernyit. “Kartu nama?” “Partner one night stand gue ninggalin kartu nama yang sama kayak kartu nama itu. Ada di rumah gue.” Aya membulatkan mata. “Jadi, dia tahu kalau lo partner dia?” Miyu menggeleng kecil. “Dia nggak tahu. Dari pertemuan pertama di café sampai sekarang, dia nggak tahu sama sekali. Kayaknya cuma gue yang tahu.” “Tapi, statement itu belum bisa dipastikan valid. Bisa aja memang ada orang iseng yang cetak kartu nama Saionji Kanata. Seperti yang kita semua tahu, Saionji Kanata itu sangat terkenal sebagai pebisnis muda yang sukses dari Jepang. Jadi, nggak bakal heran lagi kalau banyak yang berusaha jatuhin reputasi dia,” tutur Nana masih bermuka masam meski tidak begitu parah lagi. “Gue paham. Walau gue udah klaim valid, gue masih punya niat untuk membicarakan ini sama dia.” “Kalian tukeran nomor?” tanya Aya mulai heboh.   “Nggak. Tapi, dia udah kasih nomornya dari kartu nama yang dia kasih berhubung dia yang mencantumkan diri sebagai penanggungjawab gue di sini.” Aya melengos pelan, bersandar pada kursi sambil melipat tangan. “Sekarang sudah jelas kenapa lo ditempatkan di kamar inap satu orang begini. Buat ukuran Dirut perusahaan besar selevel Saionji, kamar segini nggak ada apa-apanya.” Ya, Miyu juga memahaminya sejak mengetahui Kanata menceburkan diri menjadi penanggungjawabnya di rumah sakit. Bagi Kanata, tagihan rumah sakit hanya masalah kecil. Jika Kanata mau, dia dapat menempatkan Miyu di rumah sakit yang lebih bergengsi dan mahal tanpa perlu berpikir dua kali. Saionji Phantom Company Group adalah salah satu perusahaan multinasional tersukses dari Jepang. Didirikan dan dipimpin oleh keluarga Saionji, perusahaan tersebut telah melebarkan sayapnya ke kancah internasional hingga mensejajarkannya dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Bergerak di beragam bidang, perusahaan pimpinan Saionji Kanata tersebut menjadi salah satu perusahaan besar yang tidak bisa diremehkan eksistensinya. Indonesia menjadi salah satu dari sekian negara yang terkena terpaan ketenaran Saionji Phantom. Dapat dilihat dari brand pakaian SAIO dan SEIO yang sangat digandrungi. Produk kecantikan yang diciptakan oleh perusahaan Kanata, Seiko Sai, juga tidak kalah tenar di Indonesia. Itu hanyalah sebagian kecil dari bukti kesuksesannya, masih ada sekian lagi bukti yang jika disebutkan akan membuat kepala pusing. Bila ada yang bertanya, Miyu masih tidak menduga orang sehebat dan setenar Kanata akan menjadi pasangan one night stand-nya. Miyu tidak pernah menerka sampai sejauh itu. Jangankan menerka, kepikiran saja tidak. “Oke, kita bicarakan ini baik-baik sama dia.” Suara Nana kembali meruntuhkan kesunyian kamar. Ucapannya sukses memicu kekagetan Aya dan Miyu, lebih-lebih lagi Miyu. Memang benar sebelumnya dia berkata akan membicarakan masalah ini dengan Kanata. Tetapi, Miyu masih belum memutuskan detail tepatnya! Nyali dan tekad Miyu masih kecil! “Wait a damn second, apa maksud lo, Na? “Kita”?” tanya Miyu mulai dijerat oleh rasa panik. Alis Nana naik sebelah, raut masamnya masih terpasang di wajah cantiknya. “Tepat seperti ucapannya. Kita bicarakan ini baik-baik sama Tuan Jepang itu. Lebih cepat lebih baik. Berhubung lo sama dia udah semacam kayak kenalan, kita nggak perlu nunggu lama-lama lagi buat ngelurusin semuanya.” “I—iya, sih, gue bilang gue bakal bicarain ini baik-baik sama dia, tapi—” Nana menoleh ke Aya. “Besok gue bakal absen dari kantor. Lo gimana? Lebih baik kita semua ikut hadir buat bahas ini.” “Hm…, nggak tahu lagi, deh. Gue masih sibuk sama persiapan film terbaru. Bakal susah buat absen.” “Gitu? Kalau lo berkenan pembicaraan terjadi tanpa lo, bilang aja.” “Gue pengen ikut.” “Ya udah, berarti lo….” Miyu tidak mendengarkan percakapan Aya dan Nana lebih lanjut. Dia terlalu syok hingga merasa tidak sanggup lagi untuk bersuara. Mental dan tekad Miyu masih belum siap, tetapi kedua sahabatnya sudah mengajukan pembicaraan serius dengan Kanata besok! Bagaimana Miyu tidak stres memikirkannya?! Sudah cukup dengan segala drama kebetulan yang terlalu menjengkelkan, jangan ditambah lagi! Miyu menyentuh perutnya, lalu mengelusnya penuh kelembutan. Kira-kira, diakah ayahmu, Nak? *** “Oi, Kanata, kau akan pergi ke sana lagi?” tanya Santa lesu mengikuti langkah Kanata memasuki mall Pacific Place. Kanata hanya menjawab singkat menggunakan deheman, sibuk mengotak-atik ponselnya. Berwajah masam, aura yang Kanata keluarkan sedari siang benar-benar tidak nyaman untuk dirasakan. Santa menjadi korbannya. Entah apa yang sedang Kanata kesalkan, yang jelas Santa yakin masih ada kaitannya dengan wanita kenalan yang telah Kanata bantu kemarin malam. Mendecak kecil, Kanata memasuki Starbucks yang kebetulan tidak ramai antrian. Santa pasrah mengekor Kanata. Tidak mau memperparah suasana hati Kanata yang sedang buruk, Santa membungkam mulutnya. “Asian Dolce Latte, less ice.” pesan Kanata saat gilirannya tiba. Santa melengos melihat Kanata tidak memesankan minuman andalannya. Keburukan suasana hati Kanata tampaknya lebih buruk dari yang dia duga. Kanata menyingkir begitu saja sesudah membayar, meninggalkan Santa di antrian. Pria itu kembali berkutat pada ponselnya yang masih sunyi tanpa notifikasi. Apa yang Kanata tunggu? Notifikasi dari Miyu. Wanita itu tidak kunjung menghubunginya meski Kanata sudah berkata tidak perlu sungkan. Kanata paham Miyu bukanlah tipe wanita yang gemar memanfaatkan orang lain, tetapi apa salahnya menghubungi Kanata selaku penanggungjawab Miyu? Ini sudah malam. Sepuluh jam telah berlalu sejak Kanata meninggalkan Miyu. Wajar baginya untuk merasa khawatir, bukan? “Oi, Kanata, kau belum menjawab pertanyaanku,” celetuk Santa menghampiri Kanata yang sedang menunggu pesanan. “Apa yang harus kujawab, huh?” sahut Kanata cuek. Santa melengos pelan. “Kau akan kembali lagi ke rumah sakit?” “Aku penanggungjawabnya.” “Oke, kapan?” Kanata diam. Miyu saja tidak menghubunginya meski Kanata adalah penanggungjawabnya. Ini membuat perasaan Kanata berkecamuk tak karuan. “Sir Kanata!” Kanata mengambil alih kopi pesanannya yang telah siap disajikan. Masih berwajah masam, dia melangkah menuju salah satu kursi yang kosong tanpa mengalihkan manik matanya dari layar ponsel. Batinnya tidak menyerah memelototi layar itu seolah-olah dengan begitu notifikasi Miyu akan segera muncul. Kanata mendecak pelan. “Kenapa dia tidak menghubungi—” Belum sempat omelan Kanata selesai, sebuah panggilan masuk terpampang di ponselnya. Buru-buru Kanata mengecek, berharap itu adalah panggilan dari Miyu. Melihat nomor pemanggil adalah nomor tidak dikenal, harapan Kanata semakin besar. Tanpa berpikir dua kali, Kanata menerima sambungan telepon tersebut. “Halo?” “Halo. Dengan Tuan Saionji?” Santa bergidik melihat perubahan raut dan aura Kanata yang sangat drastis setelah menerima telepon dari seseorang. Dapat dia pastikan itu adalah telepon dari wanita kenalan Kanata yang telah pria itu tunggu sejak tadi. “Ya, saya. Nona Agatha, kah?” “Benar. Maafkan saya yang baru menghubungi Anda. Saya turut senang atas perhatian Anda yang meninggalkan kartu nama untuk saya.”    “Tidak perlu dipikirkan. Anda harus banyak beristirahat.” “Benar, saya lakukan itu.” Kanata melirik etalase kaca yang memamerkan jejeran kue manis. “Apakah sekarang Anda sendirian, Nona Agatha?” “Uh? Begitulah. Teman-teman saya tidak bisa menemani karena urusan pekerjaan. Mereka sudah mengunjungi saya siang tadi. Saya baik-baik saja, Tuan Saionji.” Sendirian? Hanya teman-temanmu saja yang berkunjung? batin Kanata sedikit bingung. “Kebetulan saya sedang di luar, dalam perjalanan ke rumah sakit. Ada yang Anda inginkan?” Santa hampir tersedak Americano karena ucapan Kanata. Sejak kapan pria itu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit? Bahkan pertanyaan Santa saja diabaikan! “Huh? Eh? Anda tidak perlu repot-repot, Tuan Saionji. Saya baik-baik saja di sini. Tolong beristirahat lebih banyak sebelum hari Senin tiba besok, Tuan Saionji.” Senyum geli Kanata terkulum sangat tipis karena nada kaget Miyu bercampur perhatian. Dalam sambungan telepon, suara Miyu yang lembut berubah menjadi sedikit lebih melengking sehingga terdengar cukup menggemaskan. “Tidak perlu memikirkan hal-hal sepele seperti itu, Nona Agatha. Saya pun baik-baik saja,” Kanata menghabiskan sisa kopinya sebelum bangkit berdiri, “saya akan datang. Ada makanan atau minuman yang tidak Anda sukai?” Suara Miyu terdengar semakin panik. “Ah, astaga, Anda tidak perlu repot-repot datang apalagi membawakan sesuatu untuk saya. Anda sudah sangat membantu saya di sini.”     “Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Akan menjadi lancang bagi saya untuk datang tanpa membawakan apa pun, bukan?”      Terjadi jeda yang cukup lama dari Miyu. Sepertinya, wanita hamil itu sedang dilema besar gara-gara tindakan Kanata. Kanata tidak akan memermasalahkan. Sikap yang ditunjukkan Miyu termasuk wajar. “S—Saya tidak memiliki makanan dan minuman yang saya hindari.” Senyum Kanata tercetak. “Baiklah. Terima kasih atas jawaban Anda. Saya akan segera tiba setengah jam lagi.” “Baiklah, terima kasih banyak. Tolong, berhati-hati di jalan, Tuan Saionji.” “Tentu.” “Kalau begitu, saya akhiri.” “Silakan.” Sambungan telepon berakhir, menyisakan Kanata yang tersenyum lebar dalam dunianya, sepenuhnya mengabaikan eksistensi Santa yang menyaksikan segalanya dari awal. Tanpa peduli, Kanata kembali mengantri untuk memesankan kue dan minuman untuk Miyu. Melihat tingkah menyebalkan Kanata, Santa berusaha meredam segala u*****n mutiaranya. “Dasar, memangnya kau remaja sekolahan yang lagi kasmaran?” gumam Santa jengkel menatap Kanata mengantri dengan masih berkutat pada ponsel. “Hah…, terserahlah.” TO BE CONTINUED 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN