Bara terdiam. Langkah kakinya yang baru saja memasuki rumah, membuatnya tak mampu lagi meneruskannya saat melihat Citra berdiri menantinya dengan kedua tangan terlipat di d**a. Tatapannya tajam, dengan sisa air mata yang ada di pipi. Bara menghela napas panjang. Awalnya berniat pulang dan menjelaskan semua yang terjadi tadi pagi, malah harus mendapatkan sikap dingin Citra yang masih saja belum menyapanya. Bara menutup pintu rumah, menguncinya dan melangkah pelan mendekati Citra yang masih menatapnya tak lepas. Bara benar-benar pasrah dengan apa pun yang terjadi. Asalkan jangan sampai ada kata pisah yang ke luar dari bibir Citra. Dia benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah dengan wanita yang berhasil mengubah hidupnya menjadi jauh lebih baik seperti saat ini. Bara men

