Gritte duduk seorang diri di café. Sudah hampir setengah jam dia menanti seorang diri, menyapukan pandangan ke sekeliling setiap beberapa menit sekali, namun kembali tertuju ke pintu masuk yang masih tertutup. Gritte menghela napas, mengaduk kembali sedotan di dalam gelas tinggi berisi lemon tea dingin miliknya yang tinggal setengah. Ekspresi wajahnya tampak gelisah. Ada rasa tidak sabar menanti seseorang yang tadi sempat menghubunginya via telepon. Suara yang sudah sangat dia rindukan, kini kembali dia dengar lagi untuk kali pertama. Bahkan ini kali pertama sang penelepon menghubunginya. Biasanya dia hanya bisa menghubunginya melalui asisten pribadinya saja. Rasanya Gritte benar-benar senang bukan main, apa lagi saat dia memintanya untuk bertemu. Tanpa basa basi, Gritte langs

