"Sepupu lu rada-rada koslet, Sis?" tanyaku pada Siska yang tak lain tantenya si Damar. Tuh anak kalau bicara suka sembarangan. Enak saja menunggu jandaku? Dia pikir aku mau jadi janda? Ya walaupun banyak gosip kalau Haris berselingkuh.
"Maklumin aja, La ... namanya juga brondong. Tapi, emang sih dia pernah jujur sama gue. Katanya dia suka sama lu?"
"Apa?" Tentu saja aku terkejut. "Ah, paling juga bohong dia, Sis. Mana mungkinlah dia suka sama aku. Kalau suka biasa, bisa jadi tapi kalau lebih dari suka, kayaknya enggak. Cuma jujur aja, gue risih denger omongan dia yang sering ngawur," kataku kesal.
Bukan sekali dua kali Damar mengatakan kalimat, menunggu janda. Sudah lebih dari dua kali. Kan, kurang ajar.
"Tapi, soal suami lu yang selingkuh, kayaknya bener deh, La. Lu aja yang gak peka. Gak punya firasat. Gue sih kalau punya suami modelan suami lu, udah gue cakar-cakar mukanya. Gimana gak gue cakar? Di depan istri sendiri, santai banget bawa cewek laen. Idih gila!"
Entahlah, aku juga tidak tahu. Kenapa aku tidak marah? Kenapa aku tidak cemburu? Justru aku merasa masa bodoh. Sempat sih tersinggung tapi hanya sebatas itu. Tidak ingin marah apalagi mencakar wajahnya.
"La?"
"Hm?"
"Apa mungkin sikap cuek lu ke suami gini, karena sebenarnya lu udah gak cinta ama dia?"
Pertanyaan Siska membuatku menoleh cepat. Lalu, cepat-cepat juga fokus kembali ke jalan raya. Hampir saja menginjak rem mendadak.
"Ngomong apaan sih lu?"
Aku tak bisa menjawab. Apa mungkin benar dugaan Siska? Ah tidak tahu. Saat ini tidak usah memikirkan perasaan lagi. Berumah tangga selama lima tahun rasanya perasaan cinta bukan prioritas utama.
"Dih lu mah gitu. Gue ngomong serius, La ... ngomong-ngomong, mertua lu masih bertingkah gak?"
Ya Allah, kenapa Siska jadi mengintrogasiku seperti ini? Kalau mengingat ibu mertuaku, agak kesal juga. Bagaimana tidak kesal? Belakangan ini, ibu mertuaku banyak permintaan. Belum lama, ia minta beli mobil baru padahal ibu mertua tinggal di rumahku. Tetapi gayanya sudah seperti pemilik rumah. Lagi-lagi aku tidak mau memikirkan prilaku ibu mertua. Menurutku buang-buang waktu. Lebih baik aku fokus memikirkan perusahaan dan pekerjaan.
"Ya gitu deh, Sis. Belum lama dia minta dibeliin mobil. Alasannya bosen pake mobil lama. Enggak tau itu emak-emak. Masih aja seneng hedon. Heran gue." Aku tak bisa menutupi perilaku ibu mertua dari Siska. Selama ini memang selalu kukabulkan apapun yang diminta Haris atau ibunya. Bagiku, karena aku sekarang sudah tidak punya orang tua, maka ibu mertua sudah kuanggap selayak ibu sendiri. Ayah mertuaku sudah meninggal dunia sejak Haris masih sekolah SMP.
"Ya ampun, La ... dia begitu karena lu terlalu manjain. Emang ya, ibu sama anak, sama-sama benalu. Sorry nih, gue jadi sewot. Cuma, La ... saran gue sebagai sahabat, lebih baik lu mesti agak tegas dikit. Jangan terus-menerus mengabulkan maunya mereka. Ngelunjak!"
Aku hanya terdiam mendengar pesan yang disampaikan Siska. Memang benar yang dikatakan Siska. Aku juga merasa kalau Ibu mertua semakin banyak maunya, banyak tingkahnya.
"Makasih sarannya, Sis. Oke deh, lain kali gue gak akan ngabulin maunya."
Setelah itu, tidak ada perbincangan diantara kami. Seolah aku dan Siska tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Aku sendiri mengingat sikap dan ucapan ibu mertua dan Haris. Sikap Haris yang semakin hari, semakin tak peduli padaku. Sikap Ibu yang semakin hari, semakin banyak maunya. Astaghfirullah ....
Tiba di kantor, aku dan Siska langsung bersiap meeting. Gara-gara kejadian yang dialami Haris, meeting dengan klien harus diundur. Untung saja mereka sangat pengertian, tidak mempermasalahkan jadwal yang diundur.
Usai meeting, kusuruh Siska masuk ruangan. Kami akan menggarap iklan produk ternama di negeri ini. Harus benar-benar matang konsepnya.
"Budgetnya dinaikin dikit apa sih, La?" protes Siska saat kami baru memulai pembahasan.
"Gak apa-apalah, Sis. Ini kan klien lama kita."
"Tapi, keuntungan yang kita dapat enggak sesuai. Jangan terlalu baiklah jadi orang. Ah lu mah."
Aku terdiam, mengecek keuntungan yang kami peroleh dari proyek ini.
"Keuntungannya lebih besar dari tahun lalu, Sis. Enggak apa-apalah." Aku masih bersikukuh dengan budget yang sudah kami tawarkan ke klien.
"Ya udahlah, terserah lu. Lu yang punya perusahaan ini." Akhirnya Siska menyerah.
Kami pun tenggelam dalam perbincangan dan pengerjaan proyek awal yang baru saja ditangani. Siska, gadis tomboy yang selalu bisa aku andalkan. Kepiawaian dan kreatifitas yang dimilikinya membuat perusahaan ini semakin maju. Oleh karenanya aku sering kali memberinya gaji lebih atau bonus setiap kami menang tander.
kami istirahat ketika makan siang. Siska mengajakku makan siang di kantin kantor. Tujuannya supaya tidak terlalu jauh dan lebih cepat mengerjakan penggarapan awal proyek. Aku pun setuju.
Sampai di kantin, tanpa aku duga ada Damar di sana. Siska mengajakku bergabung dengannya. Sumpah, malas sekali melihat bocah tengil satu ini.
"Hai, Mbak Laila. Makin siang, makin cantik aja."
Tuh, mulai tidak sopan. Baru saja aku duduk.
"Mar, Laila masih bini orang. Tahan dulu godainnya."
Akhirnya Siska menegur sepupunya. Aku tak menanggapi sapaan Damar.
"Susah nahannya, Tan. Lagian aku yakin seribu persen kalau sahabat Tante itu sebentar lagi bakal jadi janda. Yakin aku!"
"Astaghfirullah ... lu tuh bener-bener kurang ajar, ya? Enggak punya etika banget."
Aku tak bisa menahan diri. Kalau bukan saudara Siska, sudah kusumpal mulutnya dengan sepatu. Menyebalkan.
"Maaf, Mbak. Menurutku, Mbak terlalu berharga jadi istri dia. Suami Mbak itu bukan sekali dua kali selingkuh, berkali-kali, Mbak. Nih, temenku ada yang bilang, katanya suami Mbak juga suka Clubbing. Emang Mbak gak punya firasat?"
Aku menarik napas panjang. Berusaha meredam amarah yang mulai menguasai. Sejujurnya aku memang tidak punya firasat apapun tentang Haris.
"Dam, udah deh. Kita ke sini mau makan siang nih! Lagian lu ngapain jemput gue jam segini? Tadi kan gue udah bilang, jemput jam empat sore."
Ternyata kedatangan Damar ke sini untuk menjemput Siska.
"Ya gak apa-apa kali, Tan. Aku enggak masalah nungguin Tante selesai kerja dari pada di rumah bengong. Enggak ada kerjaan."
"Makanya nyari kerjaan dari pada godain istri orang." Aku langsung menyela. Mendelik ke arah Damar yang terkekeh. Dasar brondong edan.
Setelah makan siang, aku dan Siska kembali ke kantor lagi. Damar bersikukuh menunggu Siska di kantin.
"La, maafin si Damar, ya? Susah emang tuh bocil, udah gue omongin jangan suka godain lu, tetep aja godain. Lu jangan marah, ya?" Siska tampaknya tak enak hati akan sikap Damar yang tidak sopan. Aku juga sebenarnya risih tiap ketemu brondong itu.
"Iya gak apa-apa. Gue maklumin aja dah."
Jam empat sore, pekerjaan kami akhirnya kelar. Aku memutar pinggang ke kanan dan kiri. Kedua mataku terasa perih, pinggang rasa mau remuk.
"Alhamdulillah akhirnya kelar juga. Sis, kita pulang sekarang yuk!"
"Ayok dah! Buset, badan gue rasa pada remuk ini. Ampun ah!"
Aku tersenyum melihat tingkah Siska yang memutar tubuhnya kekanan dan kekiri. Kami keluar ruangan bersama. Berjalan beriringan menuju area parkir.
"Emang si Damar nungguin di parkiran?"
"Katanya gitu."
Ternyata benar, Damar sedang berdiri di samping mobilnya. Mobil Damar terparkir di samping mobilku.
"Dam, cabut!" ajak Siska saat berdiri di depan Damar.
"Tar dulu, Tan. Nunggu calon istriku pulang duluan." Jawaban Damar membuatku dan Siska menoleh bersamaan, menatapnya.
"Calon istri? Siapa calon istri lu?" tanya Siska. Aku memalingkan wajah, membuka pintu mobil bagian kemudi.
"Tuh, calon istriku. Laila Hussein."
Seketika gerakan tanganku terhenti. Membalikkan badan, menatapnya kesal.
"Hai, calon istri ...."
"Kampret!" makiku sambil membuka pintu mobil, menyalakan mesin, lalu meninggalkan mereka.
"Kalau bukan saudara Siska, udah aku cakar mulutnya!"