Bab 2. Insiden Setelah Pernikahan

1018 Kata
Hari ini adalah hari yang sungguh menyakitkan untuk Olivia. Di hari ini dirinya harus mendapatkan dua kabar yang sungguh menyakitkan, hatinya sangat sakit sesaat mengetahui fakta kalau calon suaminya, Adrian, pria yang selalu ada di sisi Olivia saat dia merasa sedih, mengkhianatinya dengan kakaknya, Sovia. Adrian, yang selama ini selalu ada di sisi Olivia saat dia merasa sedih, pria yang selalu membuat Olivia tertawa dengan lelucon konyolnya, pria yang selalu merawat Olivia saat dia sakit. Namun hari ini, semua kenangan indah itu hancur berkeping-keping. "Kenapa takdir ku selalu seperti ini, apa aku tidak di perbolehkan untuk bahagia? Kenapa harus aku, aku tidak sanggup, kenapa!!" teriak Olivia di dalam kamarnya. Dia menghancurkan semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya, termasuk foto-foto indah mereka berdua. Sementara itu, Adrian merasa sangat bersalah. Dia merasa terjebak dalam situasi yang sangat sulit. Dia mencintai Olivia, tetapi karena kesalahannya, dia terpaksa menikahi Sovia. Dia merasa seolah-olah dia telah menghancurkan hidup Olivia. Setelah acara pernikahan, Olivia memilih untuk kembali ke dalam kamarnya. Rasanya dia masih belum sanggup untuk melihat Adrian dan Sovia yang sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Jauh di lubuk hati Adrian, dia merasa bersalah kepada Olivia, wanita yang selama 3 tahun selalu menemaninya. Dia melihat sekeliling mencari keberadaan Olivia, namun tidak ditemukan olehnya. Dia merasa seolah-olah dia telah kehilangan sebagian dari dirinya. "Dimana Olivia?" Tanya Adrian kepada Sovia, dia mengarahkan pandangannya mencari calon istrinya. Ah, ralat, tapi mantan calon istrinya. atau lebih tepatnya saat ini sudah menjadi adik ipar nya. Adrian merasakan hampa di hatinya, seolah ada sesuatu yang hilang. Sovia mengendus kesal, dia menatap Adrian. "Kenapa kamu menanyakan dirinya? Hari ini adalah hari pernikahan kita, jangan buat orang-orang berpikiran yang tidak-tidak karna sikapmu! Olivia pasti saat ini tengah menangis, dia menangis karna mengapa dia terlahir dari seorang w*************a, dan harus menanggung karma atas perbuatan Ibunya. Haha.." "Sovia!" bentak Hans, suara yang kuat tersebut membuat Sovia terdiam, dia mengendus kesal dan langsung pergi dari hadapan Adrian dan Ayahnya. "Susul Sovia, Ardian! Kamu ingin calon anakmu kenapa-kenapa? Cepat susul putriku!" Mendengar ucapan ibu mertuanya, Adrian dengan terpaksa langsung menyusul Sovia. Entah kenapa perasaan Adrian saat ini sangat gundah, dia membayangkan bagaimana sakitnya Olivia sesaat mendapatkan kabar bahwa dirinya saat ini telah resmi menjadi suami kakaknya. Dan kabar bahwa dirinya telah menghamili kakaknya, mungkin kata maaf saja tidak akan cukup untuk menutupi luka hati Olivia. "Maafkan aku, Olivia." lirih Ardian. Dia menatap nanar kamar Olivia yang saat ini tertutup rapat, tidak ada cahaya di dalam kamar tersebut. Dan bisa di pastikan kalau saat ini Olivia tengah dengan kegelapan kamarnya. Semalaman penuh waktu Olivia dia habiskan di dalam kamarnya. Olivia mengunci dirinya sendiri, dia tidak keluar dari kamarnya selama acara itu berlangsung. Dia hanya bisa meratapi nasibnya, merasakan luka yang sangat dalam di hatinya. Semalaman penuh Olivia menangis. Sementara itu, Hans merasa sangat bersalah. Dia merasa seolah-olah dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Olivia. Dia merasa seolah-olah dia telah gagal sebagai ayah. Dia merasa seolah-olah dia telah mengkhianati kepercayaan putrinya. Di tengah malam, Hans mendapatkan panggilan dari perusahaan. "Apa tidak bisa diwakilkan?" tanya Hans kepada sekretarisnya di balik telepon. "Tidak bisa tuan, untuk saat ini Anda harus datang ke perusahaan." "Baiklah, aku akan datang ke perusahaan," jawab Hans, suaranya berat. Malam-malam sekali, tepatnya pukul 12 malam, Hans mengendarai mobil menuju perusahaan. Dia menolak saat supir menawari untuk mengantarkannya. Hans tidak ingin kesediaannya diketahui oleh siapapun. Dalam keadaan bingung dan rasa bersalah, Hans mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak memperhatikan jalan dengan baik. Dan kemudian, terjadi hal yang tidak diinginkan. Hans menabrak seseorang. Sandra merasa panik saat mendapatkan kabar dari suaminya, Hans. Dia langsung membangunkan Sovia dan Adrian, menantunya. "Sovia, Adrian, bangun! Ayah kecelakaan!" Teriak Sandra dengan suara parau, memanggil keduanya. Suara teriakan Sandra terdengar sampai kamar Olivia, tentu hal itu membuat Olivia terkejut, dia langsung keluar dari kamarnya, dia tidak memperdulikan bagaimana saat ini kondisinya yang masih dengan kondisi kedua matanya yang sembab. "Apa yang terjadi pada Ayah, Buk?" Tanya Olivia dengan suara gemetar, wajahnya pucat pasi. Walaupun dia kecewa karena ayahnya menyembunyikan identitas aslinya, tapi tetap saja Olivia mengkhawatirkan ayahnya. "Ayah kecelakaan, dia menabrak seseorang, kita harus segera ke rumah sakit." Jawab Sandra dengan suara getir, dia memanggil kembali putrinya, Sovia. Sovia dan Adrian keluar dari kamarnya, mereka menghampiri Sandra dan Olivia yang tengah menunggu mereka di depan kamar mereka. "Ada apa sih Buk? Kenapa malam-malam teriak? Ibu lupa hari ini malam kedua ku dengan suamiku!" Seru Sovia dengan nada kesal, namun dia sengaja mengucapakan hal tersebut lantaran dia melihat Olivia. "Sovia, bukan saatnya berbicara seperti itu! Sekarang kita harus ke rumah sakit!" Ujar Sandra, dia menarik tangan Sovia untuk mengikutinya. Olivia langsung menyusul ibu dan kakaknya, dia melewati Adrian yang hendak mencoba berkomunikasi dengannya. Hatinya masih sangat sakit dengan pengkhianatan yang diberikan oleh Adrian kepadanya. Adrian mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, tentunya bersama mertua, istri, dan Olivia, wanita yang dia cintai. Sesampainya di rumah sakit, Sandra langsung berlari menghampiri Hans suaminya, disusul dengan Sovia. Namun saat Olivia hendak ikut menyusul ibu dan kakaknya, tangannya ditahan oleh Adrian. Adrian menahan tangan Olivia, dia menarik Olivia ke dalam pelukannya. Rasanya masih sama, dia masih sangat mencintai Olivia. Adrian menangis dalam pelukan Olivia, dia berulang kali mengucapkan kata maaf kepada Olivia. "Maafkan aku Olivia, sungguh maafkan aku." Olivia tidak merespon apapun, dia hanya terdiam diri. Olivia membiarkan Adrian menangis sambil memeluknya, sama seperti Adrian, hatinya juga masih sama mencintai Adrian, namun dia tidak mau larut lagi. Olivia melepaskan pelukan Adrian. "Kita sudah usai, aku harap kamu bahagia bersama kakakku, aku akan mendo'akan yang terbaik untukmu, Adrian." ucap Olivia yang terdengar dingin bagi Adrian. "Oliv--" Adrian tidak mampu berkata lagi, Olivia meninggalkannya. Olivia berlari menghampiri ayahnya yang tengah bertumpu dengan kedua tangannya. "Ayah?" Panggil Olivia. Saat hendak mendekat ke arah ayahnya, Olivia mendapatkan tamparan keras dari ibunya, tamparan yang sangat keras membuat tubuhnya terdorong ke samping. "Semua ini gara-gara kamu, sialan! Anak pembawa sial! Belum puas kamu hah? Kehadiranmu itu sangat membawa sial untuk keluargaku! Gara-gara memikirkanmu yang selalu menangis, suamiku menabrak seseorang yang berpengaruh di negara ini, dia bisa saja dengan sekejap menghancurkan keluargaku!" Teriak Sandra dengan suara yang menggelegar, matanya merah penuh amarah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN