Sepeninggalan Iori, Riku merasa seluruh dunianya senyap. Ia paham apa ayng dikhawatirkan oleh Iori. Tapi bukankah ini terlalu mendadak? Napasnya bahkan mulai memberat walau selang oksigen tak bergeser sedikitpun dari hidungnya. Yamato yang menyadari hal itu seketika menepuk pelan pundak Riku, “Hei, kau baik baik saja? Jangan terlalu dipikirkan, Riku. Bernapaslah perlahan”
“Aku akan memanggil dokter”, ucap Tsumugi kemudian bertolak menuju pintu keluar, yang kemudian ditahan oleh jawaban Riku.
“Tidak! Aku, baik. Tidak perlu memanggil dokter. Hanya sesak sedikit”, Riku kemudian berusaha tersenyum walau kentara sekali ia sedang berusaha mengatur napasnya yang memburu. Batu kecil beruntun pun akhirnya lolos, tak kuasa lagi ia tahan.
“Riku!” Mitsuki berseru khawatir. Namun sekali lagi, Riku melembaikan sebelah tangannya, memberi isyarat bahwa ia tidak butuh dikhawatirkan. Setelah batuknya mereda, ia bersandar lemas di tempat tidur yang memang sudah diatur posisinya lebih tinggi.
“Tak apa. Ini hanya serangan kecil. Aku oke”, ungkap Riku dengan suara lemah. Mereka berusaha mempercayai sang center. Kembali berusaha tenang walau rasa khawatir masih bergelayut erat dalam benak masing-masing.
“Boleh aku istrahat sebentar?” lanjutnya
Yang lain awalnya hanya diam, kemudian tersenyum hangat. Kembali membuat sang center tenang agar tidak membebani lebih dari ini.
“Istirahatlah, Riku. Kami tak akan kemana-mana”, ucap Mitsuki yang kemudian dibalas dengan gumaman kata terima kasih oleh Riku.
***
Saat Riku sudah terlelap, Yamato keluar untuk mencari Iori. Bermaksud membicarakan hal ini lebih lanjut. Ia tahu, semua orang juga tahu bagaimana khawatirnya mereka pada Riku. Tapi Keputusan ini, tidak kah ini harus dibahas bersama dalam kondisi yang lebih kondusif?
Iori duduk di bangku taman, punggungnya tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. Wajahnya terlihat biasa saja. Terlalu biasa.
Yamato mendekat pelan, lalu duduk di sebelahnya tanpa permisi.
“Wah,” katanya ringan. “Kupikir kamu akan berdiri sambil menatap matahari pagi seperti protagonis drama remaja.”
Iori tak menoleh.
“Kalau begitu aku akan berdiri sekarang, supaya sesuai dengan imajinasimu.”
“Sudah, sudah. Duduk saja. Bangku ini cukup luas untuk dua orang yang sama-sama keras kepala.”
Hening kecil.
Angin menggerakkan ujung rambut Iori.
“Kau marah padaku?” tanya Iori tiba-tiba.
Yamato menyandarkan punggungnya, menatap langit.
“Tidak.”
“Tidak terdengar meyakinkan.”
“Aku hanya berpikir waktunya buruk.”
Iori menghela napas tipis. “Keputusan tetap harus dibuat. Kondisi Riku tidak stabil. Kita tidak bisa berjudi dengan kesehatannya hanya karena sentimen.”
“Sentimen, ya.”
Yamato menoleh kini. Tatapannya tidak tajam, tapi serius.
“Kau benar soal risikonya. Tapi cara menyampaikannya… itu yang melukai.”
Iori terdiam.
“Aku tidak bermaksud melukainya.”
“Tentu saja tidak. Kau selalu berpikir paling rasional di antara kita.” Yamato tersenyum miring. “Tapi Riku bukan grafik performa yang bisa kamu pindahkan posisinya begitu saja.”
Angin kembali berembus.
Iori menatap tangannya sendiri.
“Aku hanya ingin memastikan semuanya aman.”
“Aman untuk siapa?”
Pertanyaan itu menggantung.
Iori menjawab pelan. “Untuk grup. Untuk konser. Untuk… dia.”
Yamato tersenyum tipis.
“Kalau hanya soal konser, kita bisa mengatasinya. Fans bukan monster. Mereka manusia. Mereka mengerti.”
Ia menoleh sedikit lebih dekat.
“Tapi Riku? Dia mendengar satu hal saja: ‘Kau tidak cukup.’”
Iori mengepalkan jarinya pelan.
“Itu bukan maksudku.”
“Aku tahu.” Yamato menyenggol bahu Iori ringan. “Masalahnya, si i***t merah itu terlalu tulus untuk membedakan niat dan kata-kata.”
Iori akhirnya menoleh.
“Dia tersenyum.”
“Ya,” jawab Yamato pelan. “Itu yang paling mengkhawatirkan.”
Hening lagi.
Kali ini lebih berat.
“Aku tidak ingin dia memaksakan diri lagi,” kata Iori, hampir seperti pengakuan. “Kalau dia tetap menjadi center dalam kondisi seperti itu… dia akan menghancurkan dirinya sendiri.”
Yamato mengangguk pelan.
“Dan kau pikir dengan mengambil posisinya, dia akan berhenti merasa harus bersinar?”
Iori tak menjawab.
“Riku ingin berdiri di sana bukan karena ego,” lanjut Yamato. “Dia ingin berdiri di sana bersama kita. Bersama kamu. Aku tidak keberatan dengan usulanmu, malah setuju.”
Kalimat terakhir itu lembut, tapi tepat sasaran.
Angin berembus lagi, membawa aroma rumput basah.
“Aku tidak pandai berbicara seperti Kak Mitsuki,” gumam Iori.
“Syukurlah. Satu Mitsuki saja sudah cukup membuat kepalaku pusing.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Iori terangkat tipis.
Yamato berdiri, menepuk bahu Iori.
“Saat ia sudah boleh keluar dari sini, bicaralah lagi padanya. Bukan sebagai pengganti center. Tapi sebagai partner. Tentunya kita akan ikut”
Iori menatap ke arah gedung rumah sakit yang tinggi menjulang di hadapannya.
“Dan kalau dia tetap bersikeras?”
Yamato tersenyum, kali ini lebih lembut.
“Kalau begitu kita lakukan apa yang selalu kita lakukan.”
“Apa?”
“Kita berdiri di sampingnya. Bukan di depannya.”
Sunyi itu kembali turun, tapi kali ini tidak sesakit sebelumnya.
Iori akhirnya berdiri.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena tidak marah.”
Yamato terkekeh pelan.
“Siapa bilang aku tidak marah? Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memarahimu.”
Iori mendengus kecil.
Dan untuk sesaat, dua sosok itu berdiri sejajar, menatap langit yang mulai mulai menjadi lebih cerah.