Setelah sebulan menyiapkan semuanya, aku datang untuk melihat tempat pernikahanku. Letaknya di sebuah ballroom hotel ternama di New York. Ballroomnya di d******i warna putih kesukaanku dan hitam kesukaan bosku. Campuran warnanya terlihat elegan. Dekorasinya juga simple, kursi-kursi untuk tamu, dan meja panjang untuk letakkan hidangan. Hidangannya juga asli indonesia, ada rendang, ayam sambal dan hidangan indonesia lainnya.
Aku takut, aku takut pernikahan sementara dan pura-pura ini akan berakhir menyedihkan bagiku. Aku takut perasaan ku tak menentu. Aku takut aku jatuh cinta pada Pak Joan. Dan mirisnya lagi cinta itu tak berbalas. Aku takut Pak Joan akhirnya memiliki wanita yang ia cintai. Aku takut aku engga akan sanggup kehilangan dia.
Ya Allah... aku serahkan padamu. Aku serahkan hatiku padamu untuk kau jaga. Aku tak mau aku jatuh dalam pesona pria yang akan menjadi suami ku untuk waktu yang sebentar. Pleasee???
The wedding.
Aku duduk di antara keluargaku. Menyaksikan ijab kabul yang akan di lakukan oleh Pak Joan.
"Saya terima, nikah dan kawinnya. Deandra Alexelyza Carpenter binti Rudolf Carpenter dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 1000 dolar amerika di bayar tunai"
"Sah para saksi?"
"Sah!!!"
Airmataku tak dapat ku bendung lagi. Aku telah jadi istrinya. Dan aku harus bersiap jika aku jatuh cinta padanya.
Aku menghampiri, pria yang kini menjadi suamiku. Di sematkannya cincin ke jemari manisku yang di dalamnya terukir sebuah nama "Joan". Lalu kusematkan cincin ke jari suamiku yang terukir namaku di dalamnya.
Dia mengecup keningku, kecupannya begitu hangat. Darahku ikutan berdesir merasakannya.
Seusai mengganti kebaya dengan gaun. Pak joan membawaku ke lantai dansa. Dia juga terlihat tampan dengan setelan jas putih, dengan bunga putih di sakunya.
Gaunku tidak terlalu ribet. Gaun bak putri kerjaan yang sangat elegan, apalagi warnanya putih. Rambut panjangku di ikat setengah dengan bunga-bunga dan ranting menghiasi ikatannya. Like Queen Susan in Narnia.
Lagu A thousand Years mengiringi langkah dansa kami. Pak Joan terus menunduk melihatiku yang hanya sebatas dagunya. Sorot matanya terlihat begitu lembut. Tangannya mempererat rangkulannya di pinggangku. Membuatku merapat pada tubuhnya yang besar. Jantungku berdebar tak karuan. Hembusan nafasnya terasa di keningku. Membuktikan bahwa dia masih memandangku.
"Bapak kenapa liatin saya terus?" Kukeluarkan suaraku yang sejak tadi ku simpan.
"Emangnya salah mandang istri sendiri?" Jawabnya. Aku menggeleng.
"Kau terlihat cantik" bisiknya tepat di telingaku. Kurasakan kupu-kupu berterbangan di perutku.
"Mulai sekarang jangan panggil aku 'Pak' lagi. Aku suamimu" ujarnya.
"Jadi saya harus manggil anda apa? Mas?"
"Boleh juga. Dan satu lagi. Tidak usah memakai perkataan yang formal lagi. Kita sudah menikah sekarang. Yah, meskipun pura-pura"
Zzz... hatiku. Mencelos mendengar kalimat terakhirnya. Pura-pura.
"Aku mau ke duduk sebentar" ujarnya lalu pergi. Aku melengos sambil berjalan ke arah meja khusus untukku dan Pak Joan.
Baru saja akan duduk, sebuah tepukan terasa di bahu kananku. Aku menoleh, ke sumber dari tepukan itu. Sosok pria yang sangat kukenal dengan baik. Sosok pria yang pernah mengisi hatiku selama 5 tahun. Mantan kekasihku, ehmm tepatnya Mantan Backstreet ku. Rama.
"Ra-rama?" Kataku tergagap.
Sosok itu tersenyum lembut padaku. "Hai" balasnya.
"Kamu ngapain disini?" Tanyaku.
"Menghadiri pernikahanmu"
"Tapi kau..."
"Tidak di undang? Aku tau. Aku menyusup." Dia terkekeh.
"Ummm... bisakah kita.. kapan-kapan bertemu untuk menyelesaikan benang kusut di antara kita?" Lanjutnya.
"Ram... aku sudah menikah" ujarku.
"Iya. Hanya untuk memperbaiki silahturahmi?" Yakinnya. Aku terdiam sesaat.
"Baiklah... Senin depan, Kafe Ujung Jalan, jam 1 siang" ujarku cepat. Dia menganggukkan kepala, dan pergi.
"Siapa?" Suara bass mengejutkan ku. Aku menatapnya dengan mata melotot. Dia menatapku meminta jawaban.
"Mantan.." ujarku singkat. Gila. Ni bos bikin jantungan. Ngga lucu kan tiba-tiba aku step disini?
"Mantan pacar?" Kuanggukan kepalaku. Sambil duduk. "Ngapain?" Lanjutnya.
"Ngajak ketemuan senin depan jam 1 siang di kafe ujung jalan.... Eh!!!"
Sial keceplosan.
"Terus kamu setuju?" Ekspresi wajahnya tampak kesal.
"Ya. Sebenarnya aku yang ngajak ketemuan" jujurku.
"Terus kamu engga ijin ke aku. Aku suamimu" ujarnya setengah membentak.
"Yah... kok bapak yang ribet sih? Suka-suka saya dong" lawanku. Bosku itu diam dan merengut. Kenapa dia yang kesel coba?
Acara telah selesai sekitar jam 12. Pak joan sudah memboking hotel untuk semalam untuk para tamu yang akan menginap.
Pak joan memesan presiden suite untuk kami tempati. Aku melepaskan ikatan rambutku dan hiasan bunganya. Lalu mengikat rambutku membentuk sanggul. Kubersihkan seluruh make up, make upku tidak tebal. Aku lebih suka natural. Mamaku juga sempat mengomeliku karena terlalu tipis. Aku cuma pake blush-on karena kulitku putih pucat. Dan lipstik merah. Bibirku lebih terlihat seksi.
Baru saja akan membuka gaunku, aku baru ingat, gaun ini dirancang seperti gaun zaman kerajaan dulu. Tidak memakai sreting di belakangnya tapi tali. Ah sial... harus minta bantuan orang lain. Mama? Mama pasti sudah tidur karena capek. Pak Joan? Masa ama dia? Huh.
"Pak!!! Eh masss!!" Teriakku dari toilet.
Pak joan datang dengan lesuh, dengan mata mengantuk. Pakaiannya juga belum di ganti.
"Hmm?" Tanyanya malas.
"Tolong lepas talinya dong mas? Ga bisa nih" ucapku membalikkan badan.
Dia melepaskan satu per satu. "Korset sama Bra nya juga mau di buka ngga?" Dia menyeringaiku.
Aku membalikkan badan menatapnya. "Engga. Udah sana mas tidur aja. Ngantukkan?" Ujarku.
"Engga ah. Mau sunah rosul aja" dia mendekatiku.
"Eh... eh... kita kawin kontrak. Engga ada namanya begituan"
"Kita nikah secara sah. Engga ada yang namanya kawin kontrak. Nurut aja sama suami" pak joan menggendongku ke kasur. Dengan perlahan dia membuka gaunku.
"Mas..." ujarku takut.
Sorot gairah yang awalnya di tunjukkan olehnya. Berubah dengan sorot lembut.
"Baiklah... aku tak akan memaksamu" dia bangkit dan jalan menuju kamar mandi.
Aku bernafas lega. Gila... mengambil kesempatan dia, nyaris. Kupakai bajuku kembali. Menunggunya selesai mandi. Aku membuka koperku.
Shit...
Dimana baju ku?
Kenapa berubah jadi lingerie seksi dan underwear?
Mama...
Tbc.