Pertandingan itu dimenangkan oleh Amara dan Aria. Nalika mengeryit sebal pada Amara, sama sekali tidak memedulikan Braja yang mencoba merayu di sampingnya. Saka mengangguk bertepuk tangan, ia memenangkan juara kedua dengan semua bola yang dilahap habis olehnya.
Ala hanya kebagian menjadi pencetak angka bagi Tim Amara dan Aria saja.
Sedangkan juara ketiga dimenangkan oleh Khafka dan Bela, keduanya adalah tim paling muda karena sama-sama masih kelas dua belas.
“Maaf, Bebe,” ucap Ala dengan tangan yang melingkari lengan kiri Saka.
Tapi lelaki itu hanya tersenyum dengan tangan mengelus puncak kepala gadisnya. “Kita menang, Bebe,” jawab Saka. “Kedua juga gak apa-apa, aku akan selalu memastikan aku memang,” tambahnya.
“Bukan juara pertama,” sahut Ala.
“Yang penting menang,” Saka menubrukan kening mereka pelan.
Mata Ala terkesiap dengan gestur baru yang Saka berikan padanya. “Jangan bikin kaget, Pak Sakala,” tegurnya dengan bisikan yang jelas di telinga Saka.
“Biarin, biar yang lain liat dan gak berani deketin kamu,” tegas Saka dengan tatapan tajam yang membuat Ala merasa ia sedang diintimidasi.
“Mulai posesif,” Ala mendelik jahil.
“Kamu beneran gak apa-apa?” tanya Saka. Kali ini nada suaranya lebih serius.
“Hm?”
“Soal tadi,” ada nada marah dalam suaranya, “soal di belakang tadi.”
Genggaman tangan Ala bertambah erat di lengan Saka. Ingat dengan ketakutannya tadi. Ingat dengan tatapan Braja Krisna yang berhenti di dadanya. Lalu turun ke pahanya. Perasaan risih itu.
Bibir Ala membulat, kepalanya kemudian megangguk-angguk, “Gitu doang kok, aku gak apa-apa, Bebe,” jawabnya dengan senyum meyakinkan. Ia bertepuk tangan saat MC memanggil Khafka dan Bela sebagai juara ketiga.
Tatapan Saka masih teratah pada Ala yang berada di sampingnya saat ia menggeser posisi berdirinya, sebelum ia menoleh ke depan saat namanya dan Ala dipanggil untuk mengambil hadiah sebagai juara kedua.
Tangan Saka segera merangkul pinggang Ala, menuntunnya, dan mereka jalan bersama. Ala tersenyum dengan lebih berani, lebih percaya diri, dan matanya yang lebih berbinar. Tapi baik Saka atau pun Ala, keduanya sepakat tanpa bicara untuk tidak menoleh pada Braja Krisna.
Ala yang takut dan Saka yang benci pada orang yang mendekati miliknya.
Medali dengan angka dua dipakaikan pada Ala dan Saka, juga sebuket bunga yang dipeluk oleh Ala, juga hadiah yang dijanjikan Darja Hadi.
“Terima kasih, Kakek,” ucap Ala saat menerima sekoper hadiah yang dijanjikan.
“Hadiah utamanya untuk juara dua adalah Vespa Primavera!” ucap MC yang disambut tepuk tangan dari semua cucu-cucu dan tamu undangan. Para aspri yang ikut dengan bosnya itu juga bertepuk tangan.
Ala menutup mulutnya yang terbuka dan ikut bertepuk tangan. Matanya menoleh pada Darja Hadi dan mengangguk sopan. Tangan kanannya di raih Saka dan mereka berdua saling menoleh sebelum tersenyum bersama.
-o0o-
Ferrari hitam Saka berhenti tepat saat jam menunjukan pukul lima sore. IA menoleh pada gadis yang masih memeluk buket bunga itu.
“Kamu suka banget sama bunga?” tanya Saka.
“Ini pertama kalinya aku dapet buket bunga.”
Sebelah alis Saka terangkat, “Kamu udah dua lima, Ala, gak mungkin ini pertama kalinya kamu dapet buket bunga,” sergahnya.
Tidak ada. Ala ingat tidak pernah ada bunga di setiap apa yang dilakukannya. Saat semua orang mendapat bunga di kelulusan SMP, ia sedang berduka karena ayah meninggal. Di kelulusan SMA, ia tidak mendapatkan setangkai pun.
Saat wisudanya juga begitu, semua orang dapat bunga. Semua orang dapat dari orang tuanya. Ia tidak ada yang datang. Ia tidak ada yang membawakan. Tapi itu tidak pernah jadi pikiran untuknya.
Hari-hari itu, ia membeli bunga sendiri. Bukan untuknya, tapi untuk dibawa ke makam mama dan ayah.
“Malah ada orang yang dapet bunga di hari kematiannya, Pak Saka,” jawab Ala sambil menoleh pada bosnya itu, “Itu juga cuma sebagai syarat taburan di atas pusara.”
Saka tersenyum saat setangkai mawar putih terulur ke depannya.
“In case kalau Pak Saka belum pernah menerima bunga sepanjang hidup,” ucap Ala dengan senyum yang lebar. “Panitia bikin tim berpasangan, tapi bunga yang dikasih cuma satu,” keluhnya.
Tangan kanan Saka mengambil bunga dari tangan Ala, “Saya sudah banyak dapat bunga, Ala. Meski saya tidak pernah mengharapkannya. Tapi terima kasih, ini bunga pertama yang saya terima dari kamu.”
Mata Ala melihat keluar, ke bangunan rumah yang selama dua minggu menjadi tempat berlindungnya. Rumah yang ternyata membawa Ala pada petualangan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Siapa yang menyangka kalau orang yang sudah menawarkan tempat tinggal dengan harga murah itu adalah bosnya sendiri.
Juga apa yang ditawarkan padanya untuk hari ini.
“Hari ini seru banget,” komentarnya dengan bibir tersenyum lebar, ia menoleh pada Saka yang masih memegang setangkai bunga “terima kasih, Pak Saka.”
“Ini baru hari pertama, Ala,” jawab Saka.
Kening Ala berkerut, “Kita hanya jadi pacar kalau ada acara kan, Pak?”
“Kamu lupa dimana kamu bekerja?”
Ala mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menatap Saka tidak percaya. “Pak Saka ini enggak ada di pembicaraan kita kemarin.”
“Saya bilang sebulan, Ala,” ulang Saka dengan kerlingan yang membuat Ala mengingat semua yang Saka lakukan padanya sepanjang siang ini.
Bagaimana Saka menyentuh pinggangnya, bagaimana Saka menggenggam tangannya dan tidak melepaskannya, bagaimana Saka menyelamatkannya saat Braja Krisna mendekatinya, juga saat Saka membuat mereka berdua memenangkan juara kedua. Itu menyenangkan, membuatnya merasa diinginkan.
Tapi kalau setiap hari seperti ini, rasanya ia tidak akan sanggup menghadapi Saka.
Ala tahu kalau ia tidak akan bisa menghadapi hal-hal yang mungkin bisa saja terjadi di kantor.
“Di kantor ada banyak orang yang bisa mengadukan kita pada Kakek. Ada banyak yang akan membuat kita jadi terlihat sungguhan atau hanya pura-pura. Dan kalau kita ketahuan, bukan cuma saya, tapi kamu juga akan dapat konsekuensinya,” Saka menoleh, “kamu mungkin dipecat saat itu juga.”
“Pak Saka itu gak adil!” protes Ala.
“Itu sebabnya seulan adalah waktu yang ideal.”
“Karena Pak Saka cuma bisa bertahan pacaran selama sebulan?” tanya Ala.
Kemarin, setelah rumor yang tersebar itu, Lisa memberi tahu kalau Sakala Rangga adalah buaya. Saka terkenal dengan hubungannya yang tidak pernah sampai lama. Sebulan adalah waktu yang paling lama untuk Saka. Dalam satu bulan, ia akan melihat bagaimana seseorang menjalani hidupnya.
Ada yang mengatakan kalau kebiasaan baru juga harus dimulai di satu bulan pertama. Itu supaya terbiasa. Bagi Saka itu berlaku dengan baik padanya. Selama ini, tidak ada yang pernah membuatnya ingin terus terbiasa setelah sebulan itu. Jadi bukan karena ia adalah buaya, tapi memilih itu penting.
Seorang yang membuat nyaman juga penting.
Penilaiannya selama dua minggu ‘menampung’ Ala di rumahnya, ia merasa tidak perlu menjadi orang lain. Ala protes dan meminta bantuannya tanpa ragu. Gadis itu melakukan semua tugasnya dengan baik dan sama sekali tidak mengeluh meski Saka akui Ala sama cerewetnya dengan sebelum gadis itu tau kalau ia bukan bosnya.
Itu yang membuatnya merasa ini seru.
“Ini adil, Bebe,” jawab Saka sengaja menggoda, “sekarang cium aku. Di belakang kita ada yang lagi ngawasin kita berdua soalnya,” lanjutnya dengan suara yang membuat Ala terperanjat.
"Apa?"
Tapi tangan Saka naik meraih sisi wajahnya, menahan agar gadis itu tidak menoleh. Karena Saka tahu ada yang mengikutinya sejak mobilnya keluar dari Sport Center Wise tadi. Meski tidak selalu ada di belakangnya, ia hapal dengan semua gerak-gerik keluarganya. Termasuk ini, ia diikuti.
“Jangan lihat ke belakang, tapi lihat aku!”
Suara itu seperti perintah yang tidak bisa Ala tolak.
Katakan ia m***m, tapi bayangan tubuh Saka yang tanpa kaus pagi itu, juga apa yang ia dengar di rekaman yang diberikan Saka padanya, dan bagaimana sepanjang hari ini tangan Saka yang di pinggangnya, membuat pikiran Ala terasa kosong.
Dan ia tidak bisa mundur saat tangan Saka meraih tengkuknya, menariknya mendekat, dan membuat wajah mereka saling berhadapan tanpa jarak. Detik berikutnya, Ala membelalak saat bibir lembut Saka memagut bibirnya.
-o0o-