Bagian 9

1861 Kata
Yona mengkucek-kucek matanya dan mencoba untuk mengumpulkan nyawa dan akan sehatnya setelah ia melewati mimpi yang sangat indah dengan Riko, mimpi di mana ia tengah asyik menjalin kasih dengan Riko dan membicarakan pasal pernikahannya, namun semua menghilang tepat di hari pernikahannya karena ia tiba-tiba terbangun dan tersadar. Ia merogoh ponselnya dan seketika matanya membulat sempurna, nyawanya seketika terkumpul dan dia terperanjat. “Anjir udah hampir jam tujuh, siap-siap di terkam sama manusia serigala itu” ucap Yona lalu ia berlari ke kamar mandi. Dengan cepat Yona merogoh sikat gigi lalu ia mencuci wajahnya. “Nggak usah mandi, kalau telat begini, udah jadi kebiasaan seorang Yoyo nggak mandi pagi” ucap Yona. Tiba-tiba pikiran Yona melayang, entah angin apa yang membawa sang manager menari-nari di pikirannya sambil seolah membisikkan sesuatu di telinganya. “Aku paling tidak suka dengan wanita yang jorok dan bau, kalau sampai kamu masuk kategori wanita itu, maka aku akan menyuruh mu pulang dan membersihkan diri. Dan ingat, bukan berarti kamu bebas dan tidak bekerja hari ini, kamu harus kembali lagi dan mengerjakan pekerjaan mu. Dan kau harus tau, waktu yang kau habiskan selama perjalanan, akan di bayar dengan jam berikutnya dan tidak ada kata lembur, yang seharusnya kamu kembali pukul tiga empat sore, maka kau harus kembali pukul tujuh malam” ucap manager dalam pikiran Yona itu. “Argh sial, lebih baik aku terlambat sedikit daripada aku harus harus kembali lagi, itu namanya aku rugi tiga kali dong. Aku harus membayar biaya transport ku, aku harus kerja sampai jam tujuh malam seorang diri, dan aku harus kerja lembur bagai kuda tanpa di bayar sama sekali. Siapa yang mau coba? Ogah dah, mending aku telat, paling juga dia bakalan ngomel” ucap Yona lagi, lalu ia bergegas membersihkan diri. Yona melajukan motornya dengan kecepatan melebihi hari-hari biasanya, ia sama sekali tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi dengannya selama perjalanan, yang ia pikirkan hanyalah omelan sang manager yang mungkin akan membuat kupingnya jadi pekak. Yona memarkirkan motornya, dengan cepat ia berlari menuju ruangan Alfredo. Sebelum mengetuk pintu, Yona menetralkan napasnya terlebih dahulu sambil menyiapkan mental tempenya itu menjadi mental baja. “Ya Allah, berpihaklah pada ku hari ini, semoga dia kesambet setan cinta yang membuatnya klepek-klepek dan kasmaran sehingga dia memaafkan ku hari ini, aku berharap kemarin dia bertemu dengan kekasihnya dan membuat hatinya berbunga-bunga, amin” ucap Yona. Tok… tok… Tok… tok… Kembali lagi Yona menetralkan napasnya sebelum ia memberanikan diri untuk menggenggam gagang pintu, dengan perlahan ia mendorong pintu dan tepat di hadapannya, Alfredo sedang sibuk dengan file-file yang ada di depannya. “Selamat pagi Pak, sa…” belum selesai Yona bicara, Alfredo sudah terlebih dahulu memotongnya. “Apakah saya sudah menyuruh anda masuk? Sebaiknya anda pulang karena ini sudah terlambat, anda di skors selama satu minggu” ucap Alfredo dengan lantang. “Loh Pak, saya kan cuma telat beberapa menit, kok langsung di skors sih Pak? Jangan begitu dong Pak” protes Yona. “Apa kamu tidak mendengar apa yang saya katakan? Kamu keluar dan pulang, kamu di skors selama satu minggu. Masih kurang jelas?” kata Alfredo dengan lantang. “Nyebelin banget sih jadi orang, dari pertama ketemu udah nyebelin, mimpi apa aku bisa berurusan sama dia?” ucap Yona pelan, namun ucapannya tak luput dari pendengaran Alfredo. “Kamu bilang apa tadi?” tanya Alfredo seolah tak mendengar sambil bangkit dari tempat duduknya, namun Yona tidak menghiraukannya dan memilih untuk berlalu. “Hei, saya bicara sama kamu, kenapa kamu malah pergi?” tanya Alfredo sedikit kesal. “Loh, Bapak maunya apa sih sebenarnya? Tadi Bapak meminta saya untuk keluar dan pulang, dan saya di skors selama satu minggu. Saya protes Bapak malah marah, saya nurut Bapak malah nanya kenapa saya pergi. Yoyo bingung tau Pak, Yoyo juga nggak mau telat dan Yoyo juga masih pengen kerja, tapi Yoyo nggak tau harus gimana, Yoyo juga nggak mau semua ini terjadi hiks… hiks.” Kata Yoyo sambil menangis. ‘Drama Korea di mulai, saatnya aku beracting supaya dia mengizinkan aku tetap bekerja, dan semoga hatinya tidak seperti batu, keras dan mengeras tak terlunakkan’ batin Yona sambil tersenyum devil. “Nggak usah drama, drama kamu nggak penting buat saya. Sekarang saya kasih kamu satu kesempatan, berikan alasan yang membuat saya yakin dan percaya dan menghapus semua hukuman kamu, dan alasannya harus benar-benar bisa saya mengerti sehingga saya bisa menerimanya, harus masuk akal.” Kata Alfredo tegas, lalu ia duduk dengan santai di tempat duduknya. ‘Apaan sih ini atasan sialan, ngasih kesempatan tapi harus ada alasan, itu namanya bukan kesempatan tapi menanyakan kenapa aku terlambat, dasar atasan sedeng. Kalau saja kamu itu di pasar, mungkin kamu nggak akan ada harganya atau murmer alias mrah meriah. Beruntung kamu atasan di kantor, jadi kamu bisa seenak jidat kepada bawahan kamu dan seenak p****t kuali untuk menindas bawahan mu. Kalau aku di beri kesempatan untuk jadi bos mu, maka aku akan memperlakukan mu lebih parah dari ini’ batin Yona kesal. “Kenapa diam saja? Pekerjaan saya masih banyak, bukan hanya menunggu penjelasan kamu saja. Atau mungkin kamu lebih memilih di skors daripada mengatakan alasannya kepada saya? Atau mungkin kamu sengaja, kamu ingin bersantai selama di skors karena bebas dari tugas dan menganggap ini cuti pribadi? Kalau kamu berpikir demikian, maka sebaiknya kamu memikirkan ke mana harus mencari pekerjaan, karena saya akan memecat kamu jika sampai pikiran kotor kamu memiikirkan hal itu.” Ancam Alfredo. ‘Eh bujuk, ini manager gila apa sedeng ya? Seenak jidat alias seenak p****t kuali aja ngambil kesimpulan plus membuat keputusan, herman alias heran deh sama manusia satu ini. Tadi dia maksa aku untuk keluar karena aku di skors, terus dia yang katanya berbaik hati minta aku untuk memberikan alasannya, dan sekarang dia mengancam aku, dan bilang kalau aku akan di pecat kalau aku memilih untuk di skors. Memangnya di skors itu pilihan? Itukan keputusan dia sendiri? Dasar aneh, saiko, gila, semua deh’ batin Yona. “Sepuluh, sembilan, delapan…”. Alfredo mulai menghitung mundur, membuat Yona tersadar dari pikirannya yang masih merutuki Alfredo. “Eh Pak, Bapak ngapain? Bapak lagi ngitung? Itu salah Pak, harusnya satu dua tiga gitu, bukan sepuluh sembilan delapan” potong Yona. “sampai di angka nol kamu nggak bicara, maka kamu harus keluar” Alfredo mulai kesal. “Ini kan saya bicara Pak, kenapa Bapak harus ngitung?” tanya yona dengan polosnya namun poltak alias polos-polos tak berotak. “Yona…” Alfrefo mulai menaikkan nada bicaranya, kali ini ia benar-benar kesal melihat Yona yang tak pernah serius dengannya. 'Anak ini, apakah dia tidak sadar kalau aku adalah atasannya? Apa dia pikir aku ini hanya atasan pakaian yang ada di pasar yang bisa ia abaikan seenaknya? Benar-benar menyebalkan, kesabaran ku hampir habis menghadapi wanita yang satu ini, beruntung belum ada staf yang masuk, kalau tidak aku akan mencekik mu karena sudah membuat ku malu' batin Alfredo. Tiba-tiba Yona menagis, dan sudah pasti ini adalah bagian dari drama Korea yang ia sebut itu, beracting semaksimal mungkin untuk mendapatkan perhatian dari Alfredo. "Hiks... hiks. Kenapa Bapak marah-marah terus sih Pak? Di sini saya di marahin terus, di luar saya harus menghadapi kenyataan pahit, hiks... hiks. Saya benar-benar minta maaf Pak karena saya telat, tapi saya memiliki alasan yang akurat kenapa saya bisa telat Pak. Pertama, saya harus mendapatkan kabar dari teman-teman saya kalau pacar saya selingkuh Pak, jadi saya harus mencari tahu kebenarannya dan menanyakan hal ini kepada pacar saya, semalaman saya memikirkan masalah ini sampai-sampai saya tidur terlaru larut, saya juga memikirkan persabahatan saya dengan teman-teman saya yang semakin renggang karena masalah ini, jadi saya nggak bisa tidur Pak, hiks... hiks. Bapak pasti pernah mengalami apa yang saya alami kan Pak? Saya yakin Bapak mengerti karena Bapak juga punya kekasih, hiks... hiks" ucap Yona panjang lebar dengan sedramatis mungkin. 'Eh, anak ini sudah punya pacar ternyata, tapi kenapa kisah percintaannya sesakit ini ya? Sudah pasti dong kita sakit hati kalau dengar pacar kita selingkuh? Dan aku yakin dia pasti menangis semalaman karena hal ini, benar-benar menyedihkan. Tapi tunggu, dia bilang apa tadi? Aku punya pacar? Sok tau banget ini anak, jangankan punya pacar, dekat sama wanita saja belum pernah. Dia nggak boleh tau kalau aku belum punya pacar, yang ada dia pasti akan ledekin aku terus dengan mulut embernya itu dan bilang kalau aku ini jomblo akut' batin Alfredo. "Sok tau kamu, saya sudah menikah. Lanjutkan alasan yang ke dua" kata Alfredo mencoba untuk setenang mungkin. 'Eh bujuk, udah married ternyata, papa muda dong? Ganteng banget ini anak udah jadi papa muda! Tapi sayangnya, sangat menyebalkan dan menjengkelkan, pokoknya seua deh yang nggak sesuai dengan hati ini, eaaa' batin Yona bermonolog. "Iya setidaknya kan Bapak pasti tau, apalagi Bapak udah menikah, sudah pasti berpengalaman" Yona tak mau kalah. 'Eh buset, percaya aja kalau aku udah nikah. Masa tampan-tampan begini udah jadi bapak-bapak? Dia bilang apa tadi? Berpengalaman? Maksud dia apa ini?' batin Alfredo. "Berpengalaman? Berpengalaman apa maksud kamu? Berhubungan badan?" tsnya Alfredo. 'Ih dasar pria m***m, masa dia nggak tau sih maksud pembicaraan aku ke mana? Atau jangan-jangan dia sengaja? Dia sengaja membahas ini karena belum ada orang? Dia sengaja meminta ku datang lebih awal karena ini? Awas saja kalau dia berani menyentuh ku, aku akan menendang adik kecilnya sampai dia masuk rumah sakit, bila perlu masuk rumah sakit jiwa sekalian' batin Yona. "Berpengalaman soal sakit hati dan patah hati Pak, masa itu aja harus dijelasin. Bapak udah nikah, artinya udah pernah pacaran dan sakit hati, kecewa, atau mungkin patah hati. Nggak mungkinkan hubungan Bapan sama mantan-mantan Bapak berjalan mulus terus? Atau mungkin dengan istri Bapak?" kata Yona. 'Udah di bilang belum pernah pacaran, dekat sama wanita saja nggak pernah, gimana ceritanya sakit hati, kecewa, patah hati atau apalah itu' batin Alfredo. "Yasudah, sekarang katakan alasan kedua kamu" kata Alfredo menghindari pertanyaan Yona. Yona menatap Alfredo, ada keraguan di dalam hatinya untuk mengatakan hal itu, namun Alfredo menatapnya seolah memaksanya untuk menjawab. "Maaf Pak, sebenarnya saya itu nggak pernah bangun sepagi ini. Bapak tau sendiri kan kalau saya itu kerja jam delapan? Jadi saya biasanya bangun jam tujuh atau jam tujuh lewat, itupun terkadang saya kebablasan jadi saya nggak mandi. Apalagi hari ini, saya..." belum selesai Yona bicara, Alfredo langsung memotongnya. "Hari ini kamu nggak mandi? Begitu?" tanya Alfredo. "Ih bukan begitu Pak, dengerin dulu makanya. Hari ini kan saya harus masuk jam tujuh pagi, sementara itu bukan jam kerja saya biasanya, jadi saya belum akrab, makanya kesiangan. Rencananya saya nggak mandi karena takut telat, tapi saya takut Bapak nggak marah karena saya nggak mandi, makanya saya bela-belain mandi, jadinya telat deh" Jelas Yona. "Bagaimana mungkin ada wanita seperti kamu ya, cantik-cantik tapi jorok. Jujur saya nggak suka sama orang yang jorok, apalagi itu wanita, benar-benar jauh dari tipekal pergaulan saya." ucap Alfredo dengan jelas. "Terima kasih ya pak sudah bilang saya cantik" ucap Yona sambil tersenyum genit, seolah itu adalah pujian. Seketika Yona terdiam, begitu juga dengan Alfredo. Alfedo kehabisan akal menghadapi wanita yang ada di hadapannya itu, sementara Yona kembali mencerna kalimat Alfredo yang terakhir. "Tapi kalau Bapak nggak suka sama orang yang seperti saya, kenapa Bapak meminta saya bekerja di sini? Atau jangan-jangan Bapak jatuh cinta ya sama sama saya?".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN