Spontan Akira melontarkan kalimat itu, kalimat yang mampu menggemparkan kedua atasannya itu. Meskipun ia tidak begitu mengharapkan Alfredo untuk menyetujui permintaannya, namun ia memiliki maksud dan tujuan tersembunyi melontarkan pertanyaan yang terdengar konyol itu.
Deg...
Jantung Claudia serasa berhenti berdetak mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan Yona, semua sungguh di luar dugaannya,namun ia masih mencoba untuk tetap tenang menghadapi Yona.
'Sial, kenapa dia justru menanyakan gaji? Dasar mata duitan. Tapi tidak apa-apa, bukan berarti dia menerima tawaran ini. Mungkin saja dia hanya berbasa basi, masih ada kemungkinan dia menolak tawaran Alfredo' batin Claudia.
"kamu itu ya, kalau urusan duit langsung nyambung tuh otaknya" kata Alfredo.
"Hehe, namanya juga naik jabatan Pak, otomatis gajinya juga naik dong pak, kan tanggung jawabnya udah semakin besar" kata Yona sambil terkekeh.
"Baiklah, kalau soal gaji, sudah pasti gaji kamu akan naik. Tapi saya harus melihat kinerja kamu dulu, kalau kinerja ksmu bagus, saya akan memberikan gaji sesuai dengan jabatan kamu. Bahkan saya akan memberikan gaji lebih dari Claudia kepada kamu, karena kalau kamu sudah menjadi asisten saya, otomatis Claudia akan menjadi bawahan kamu" jelas Alfredo.
'Sial, kenapa sih Alfredo harus jelasin masalah besaran gaji antara aku dan Yona? Dan kenapa juga harus membahas soal atasan dan bawahan? Kalau sampai Yona menerimanya, yang ada dia akan memanfaatkan jabatannya ini untuk menindas ku. Ini nggak bisa di biarkan, aku harus melakukan sesuatu' batin Claudia.
Mendengar semua menuturan Alfredo, Yoba langsune mengalihkan pandangannya kepada Claudia, tatapan yang sulit di artikan namun jelas sedang merencanakan sesuatu.
'Seru juga nih kalau semua staff jadi bawahan ku, kapan lagi aku jadi atasan seperti ini ya kan? Yang jelas bukan atasan pssar meski bos ku adalah atasan pasar saiko' batin Yona.
"Ehem, bagaimana Yona? Apa kamu akan menerima tawaran ini? Bagian ini berat loh Yona, saya takut kamu tidak akan mampu karena kamu belum memiliki pengalaman. Tapi kamu nggak usah khawatir, kalau kamu memang nggak mau menerimanya, saya bisa menggantikan kamu karena saya juga sudah memiliki banyak pengalaman" Ucap Claudia.
"kamu sebenarnya mau nolongin atau ngejatuhin sih? Dasar genit, aku nggak akan biarin kamu ngehina aku lebih jauh lagi' batin Yona kesal.
"Kalau begitu saya terima, tapi Bapak harus ingat ya, kalau gaji saya akan di naikkan sebagai mana mestinya" ucap Yona yang di jawab dengan anggukan oleh Alfredo.
"Tapi Pak, Yona kan belum tau apa-apa," protes Claudia.
"kamu tenang saja, saya akan mengajari Yona semuanya. Kalau begitu, ayo kita kembali, jam makan siang sudah hampir habis" kata Alfredo mengakhiri.
"Pak, saya di traktir kan? Soalnya saya nggak punya uang, hehe. Kalau nggak, saya ngutang dulu deh sama bapak, nanti potong gaji, hehe" ucap Yona malu-malu sambil terkekeh.
'Aduh malu banget, tapi nggak ada pilihan lain' batin Yona.
"Iya, saya yang traktir. Kalau begitu kalian tunggu saya di depan ya, saya mau bayar dulu" Jawab Alfredo singkat.
Dengan girang Yona pergi ke luar, sementara Claudia hanya bisa menahan emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun.
=====
Jam menunjukkan pukul lima sore, waktu yang di tunggu-tunggu oleh Wulan dan teman-temannya.
“Akhirnya pulang juga, kita harus segera ke rumah Yoyo sebelum semuanya terlambat” ucap Jesica.
“Iya benar, semua harus di bicarakan dan di kelarin, supaya tidak ada lagi masalah yang merusak persahabatan kita” timpal Asih.
Keempat bersahabat itu berjalan dengan cepat bersama dengan Lisa, namun tiba-tiba langkah mereka terhenti saat melihat Yona berada tak jauh dari mereka.
“Loh, itu Yoyo bukan?” tanya Sarah.
“Iya benar Yoyo, bukannya dia nggak kerja? Ngapain dia ada di sini? Atau jangan-jangan pagi tadi dia memberikan surat pengunduran diri dan menunggu kita di sini untuk berpamitan?” timpal Wulan.
“Oh Yoyo so sweet banget deh” kata Asih.
“Bukan so sweet, tapi sedih t***l, itu artinya kita nggak bakalan bisa bareng sama Yoyo lagi, itu artinya Yoyo bakalan pergi ninggalin kita” Jesica langsung menoyor kepala Asih.
“Tau nih, t***l banget sih, temannya mau pergi malah senang, ih pengen di jitak lagi nih anak kayaknya” timpal Sarah.
“Yasudah, daripada kita diam di sini, lebih baik kita samperin Yoyo dan tanyain apa yang sebenarnya terjadi” kata Wulan yang di jawab dengan anggukan oleh sahabat-sahabatnya.
Wulan dan teman-temannya berlari menghampiri Yona yang tengah berjalan dengan santai, lalu mereka meneriaki nama Yona bak Yona adalah seorang maling.
“Yoyo…” teriak mereka bersamaan, kecuali Lisa.
Yona menoleh mencari asal suara, seketika senyum tersungging di bibirnya saat melihat keempat sahabatnya berlari menghampiri dirinya. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah, bukan empat orang sahabat, tapi ia melihat lima orang wanita sedang berlari menghampiri dirinya.
‘Apa ini? Siapa wanita itu? Apa mereka sudah menggantikan posisi ku? Apa mereka sudah mengganti ku dengan wanita itu? What? Segitu jahatnyakah mereka?’ batin Yona tak menyangka.
‘Tapi tunggu, sepertinya firasat ku tidak benar, tidak mungkin mereka menggantikan posisi ku dengan wanita itu. Pertama, mereka menghampiri ku dengan senyuman, itu artinya mereka masih sahabat-sahabat ku. Kedua, mereka masih memanggil ku dengan sebutan Yoyo, yang artinya mereka masih menganggap ku sebagai kepala tim mereka. Sepertinya itu hanya firasat kotor ku saja, mungkin akan lebih baik aku menanyakan langsung kepada mereka daripada menyimpulkan sendiri tanpa bukti yang justru akan merugikan diri ku’ batin Yona lagi.
“Yoyo, kamu ke mana aja? Kok nggak kerja?” tanya Jesica.
“Iya YO, kenapa kamu nggak kerja? Kita nyariin kamu tau” timpal Asih.
“Kamu tau nggak, kita hubungin kamu tapi tidak ada jawaban, kita udah berpikir yang nggak-nggak tau nggak sih” timpal Sarah lagi.
Tiba-tiba Yona teringat saat ia memakai ponselnya dalam beberapa menit, ia sama sekali tidak menghiraukan pesan masuk di WhatsAppnya karena ia langsung mencari kontak Riko dan mengirimkan pesan singkat kepada kekasihnya itu. Ingin rasanya ia membuka pesan yang masuk ke ponselnya saat itu, namun Alfredo langsung menatapnya tajam dari kaca spion, terpaksa ia harus memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
“Sudahlah, sebaiknya kita cari tempat untuk membicarakannya, sepertinya di sini bukan waktu yang tepat” kata Wulan.
“Bagaimana kalau ke café saja?” usul Sarah, yang di jawab dengan anggukan oleh yang lain.
Baru saja mereka ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba seseorang memanggil nama Yona.
“Yona” suara seorang wanita yang berasal dari belakang mereka.
“A*jir, bu Claudia. Ada masalah apa ini Yo, apakah ini sangat darurat?” tanya Asih, sementara Yona hanya mengangkat bahunya seolah menjawab ‘tidak tahu’.
“Yona, saya antar kamu pulang ya, soalnya ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu” kata Claudia.
“Yah, pasti Yoyo nggak jadi pulang bareng sama kita, secara yang ngajal dia kan HRD, nggak mungkin dia bisa menolak ajakannya” bisik Jesica kepada teman-temannya.
“Iya benar, aku jadi penasaran dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin Yona bisa dekat dengan ibu Claudia? Kalau mereka sangat dekat, itu artinya Yoyo nggak bakalan lever lagi berteman dengan kita, itu artinya dia bakalan benar-benar pergi ninggalin kita” timpal Asih.
“Hust, jangan berasumsi yang tidak-tidak. Mungkin saja mereka ada urusan, dn itu hanya kebetulan saja. Kalian tau kan kalau Yoyo nggak pernah dekat dengan ibu Claudia, bahkan dia bicara dengan ibu Claudia hanya saat interview dan saat dia di panggil waktu itu. Kalian juga tau kan kalau Claudia bukan tipe orang yang ada buku baru lupakan buku lama, ada teman baru lupakan teman lama? Jadi sebaiknya kalian positif saja, kita dengarkan apa jawaban Yoyo.” Protes Sarah.
“Iya benar, aku setuju dengan Sarah. Kalian juga tau kan kalau Yoyo itu tipe orang yang setia kawan? Jadi nggak mungkin Yoyo seperti itu, dia juga bukan tipe orang yang suka membedakan kasta. Lagipula, kalau Yoyo menerima ajakan ibu Claudia, kita nggak ber hak buat ngelarang dia. Kita juga harus mengerti posisi Yoyo sebagai bawahan seperti kita, di mana tidak akan enak rasanya kalau menolak ajakan bos, takut-takut pekerjaan kita jadi taruhannya. Banyak bukan di zaman sekarang seperti itu? Menggunakan jabatan untuk menindas yang posisinya masih di bawah. Lagipula yang terpenting sekarang, Yoyo masih tetap di sini dan kita masih bisa dekat dengan Yoyo, kita juga masih bisa hang out bareng lagi” timpal Wulan.
“Maaf ya Bu, saya nggak bisa. Kebetulan saya sudah ada janji dengan teman-teman saya untuk pergi ke suatu tempat” tolak Yona membuat teman-temannya membulatkan mata tak percaya karena Yona dengan beraninya menolak ajakan Claudia.
“Gila si Yoyo, beraninya dia menolak ajakan Bu Claudia” ucap Asih tak percaya, yang di jawab dengan anggukan oleh teman-temannya yang lain.
“Kan bisa di cancel, bisa kan perginya kapan-kapan? Sebaiknya saya antar kamu pulang ya” kata Claudia lagi.
“Maaf sekali lagi Bu, kalau ibu ingin mengantar saya pulang, itu bisa kan lain waktu? Saya dan teman-teman saya ingin membicarakan hal penting, jadi saya nggak bisa pulang sama ibu” tolak Yona lagi.
‘Sialan anak ini, beraninya menolak ajakan saya, dia benar-benar membuat saya malu di depan teman-temannya. Bisa turun harga diri saya kalau begini! Awas kamu ya Yona, kamu tunggu pembalasan saya’ batin Claudia kesal, namun ia berusaha untuk menutupi kekesalannya.
“Yasudah kalau begitu, besok saya anter kamu pulang ya, ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu, dan ini penting sekali. Kalau begitu saya duluan ya” ucap Claudia ramah.
Baru saja Claudia berlalu, tiba-tiba seseorang kembali memanggil nama Yona.
“Yona…”.
Kembali lagi mereka berbalik ke asal suara, dan betapa terkejutnya sahabat-sahabat Yona melihat siapa yang memanggil nama Yona, sementara Yona biasa saja melihat orang yang kini semakin mendekati mereka.
“Anjir, pak Alfredo?” bisik Asih.
“Astaga, sepertinya ada teka-teki yang harus kita cari tau jawabannya” kata Jesica.
“Dan kunci jawabannya itu ada sama Yona” timpal Sarah.
“Saya Pak” jawab Yona sopan.
“Ada apa ibu Claudia manggil kamu?” tanya Alfredo.
“Ini perhatian atau kepo yah?” bisik Asih.
“Mungkin kepo, dan mungkin juga dari kepo itu ingin menunjukkan perhatiannya. Aduh, semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya, apalagi antara Yoyo dan pak Alfredo” timpal Jesica.
‘Kepo banget sih ini atasan pasar saiko, bikin ilfil aja deh. Yah terserah dialah mau ngapain manggil aku, dan itu urusan kita berdua, bukan uruan anda Bapak atasan pasar saiko.’ Batin Yona.
“Nggak apa-apa kok Pak, ibu Claudia hanya menawarkan untuk mengantar saya pulang” jawab Yona.
"Dan kamu menolak ajakannya makanya ibu Claudia pergi?" tebak Alfedo.
'Ya iyalah, udah tau masih nanya, dasar atasan pasar saiko' batin Yona kesal.
"Saya hanya takut dia mengatakan yang tidak-tidak sama kamu, dan untungnya firasat saya salah." lanjut Alfredo.
Wulan dan yang lainnya menatap Yona dan Alfredo bergantian, seolah-olah bertanya apa yang sebenarnya terjadi, namun sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan jawaban dari raut wajah sahabat dan juga bosnya itu.
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya yang mengantar kamu pulang?".