Nana turun dari mobil dengan ceria. Dengan selembar kertas di tangannya, Nana berlari masuk ke dalam rumah. Mengacuhkan teriakan Rumi, pengasuhnya agar tidak berlari. Nana masuk ke dalam rumah buru-buru dan mencari Ella. Nana berlari menuju kamar Ella. Mengetuk-ngetuk pintu kamar Ella.
"Aunty... Aunty Ella! Aunty...!" panggil Nana dari luar pintu. Tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar Ella.
Nana kembali mengetuk-ngetuk pintunnya. Lagi-lagi tidak ada sahutan sedikitpun dari dalam. Nana yang tidak sabar pun meraih gagang pintu. Memutarnya lalu mendorong daun pintu agar terbuka. Perlahan Nana masuk ke kamar Ella.
"Aunty... Aunty Ella! Aunty... Aunty dimana?" ucapnya.
Nana mendesah kecewa saat tidak menemukan Ella di dalam kamar. Kamar itu kosong. Nana pun kembali keluar dari kamar Ella. Dengan berlari tentu saja. Berniat mencari Ella di tempat lain. Dia sering melihat Ella duduk di ayunan. Mungkin saja Auntynya itu sedang ada disana. Masih dengan wajah cerianya Nana berlari mencari Ella ke belakang rumah. Namun karena terburu-buru, Nana tidak sadar jika di depannya ada orang.
Tubuh mungil Nana menabrak Rumi. Hampir saja bocah itu jatuh terjengkang jika saja Rumi tidak sigap menangkapnya.
"Aduhh... Non Nana! Dibilangin jangan lari. Nanti kalo jatuh lagi gimana?" ujar Rumi.
Nana berdecak. Berontak dari pegangan Rumi. "Ih... Mbak Rumi awas! Nana mau ke kolam renang!" protesnya karena Rumi tidak melepaskan tubuh Nana dari pegangannya.
"Non Nana kalo mau berenang, ganti baju dulu. Itu seragamnya biar Mbak cuci ya!"
Nana menggeleng cepat dengan wajah kesalnya. Gadis kecil itu memberengut saat tubuhnya ditarik Rumi menuju ke kamarnya.
"Nana bukan mau berenang, Mbak."
"Lah terus Non Nana mau ngapain coba ke kolam renang?"
"Nana mau cari Aunty Ella."
Rumi menghela nafas panjang. Menggeleng pelan. "Non Nana cari Non Ella?"
Nana mengangguk. "Iya. Nana mau tunjukin nilai ulangan harian Nana, Mbak."
"Bilang dong Non dari tadi! Ternyata Non Nana lari-lari karena pengen nunjukin nilai ulangannya sama Non Ella?" tanya Rumi.
Nana mengangguk. "Non Ella lagi keluar, Non."
Nana mencembikkan bibirnya. "Aunty Ella kemana?"
"Non Ella lagi ke supermarket. Ikut Mbok Inah belanja."
Nana mendesah kecewa. "Yah... Mbak Rumi bilang dari tadi dong. Kan Nana nggak perlu capek-capek lari-larian nyari Aunty Ella!" omel bocah itu.
Rumi melongo mendengar ocehan majikan kecilnya itu. Pintar sekali bocah itu membAlikkan kata-katanya. Benar-benar persis seperti Daddynya. Menyebalkan.
"Ya udah deh. Nana tunggu Aunty Ella di kamar aja. Nana males disini sama Mbak Rum. Huh.."
Rumi menggeram pelan. Gemas pada mulut ceplas-ceplos bocah itu. Membiarkan Nana naik tangga satu persatu dan masuk ke kamarnya di lantai atas.
***
Nana mengucek matanya dengan tangannya yang mungil saat dibangunkan Rumi untuk makan siang. Nana menggeliat malas di ranjangnya. Tadi setelah pulang sekolah dia main di kamar sampai
ketiduran.
"Ayo Non Nana makan dulu. Non Nana kan belum makan tadi pas pulang sekolah!" ujar Rumi.
Nana bergelung malas di balik selimut. "Nana ngantuk Mbak. Nana nggak usah makan, ya? Nanti malam aja makannya."
"Aduh.. jangan Non. Nanti Mbak Rum dimarahin sama Daddynya Non Nana kalo tau Non Nana ngga makan siang."
Nana berdecak kesal. "Tapi kan Nana ngantuk, Mbak. Nana pengen tidur lagi," rengeknya.
"Non Nana makan dulu. Nanti boleh tidur lagi. Ayo Mon!" bujuk
Rumi.
Nana kembali merengek. "Nggak mau, Mbak. Nana mau tidur!" Rumi mendesah pelan. Bagaimana cara agar Nana mau turun dan makan siang.
"Oh iya. Non Nana tadi katanya nyari Aunty Ella, ya. Aunty Ella udah pulang tuh. Sekarang lagi makan siang."
Mata Nana yang tadi redup langsung membulat seketika. Nana buru-buru bangun dari tidurnya. "Aunty Ella udah pulang dari belanja? Kapan?"
"Udah. Tadi pas Non Nana tidur," jawab Rumi.
Nana melotot pada Rumi. "Kok Mbak nggak bangunin Nana dari tadi, sih. Huh..." Dengan buru-buru Nana menyibak selimutnya. Turun dari ranjang. Menuju ke meja belajarnya. Nana mengambil kertas miliknya yang tadi ingin dia tunjukkan
pada Ella.
Secepat mungkin Nana turun dari tangga untuk menuju ke ruang makan. Menemui Aunty Ellanya. Sedang Rumi berteriak-teriak mengingatkan Nana agar berhati-hati saat turun dari tangga. Nana tersenyum sumringah saat melihat Ella sedang duduk di kursi makan sambil mengupas buah apel.
"Auntyyy!!" pekik Nana ceria lalu berlari menghampiri Ella.
Ella tersentak kaget. Hampir saja apel di tangannya jatuh ke lantai. Gadis itu memasang wajah cuek saat Nana mendekatinya.
"Aunty. Liat deh. Tadi Nana ulangan dapat nilai seratus!" Nana menyodorkan kertas yang dia pegang pada Ella.
Ella diam tidak menjawab. Masih sibuk mengupas apel tanpa repot menoleh pada Nana. Ella tidak menggubrisnya sedikitpun. Dia memotong-motong apel yang tadi dia kupas untuk dijus. Sementara Nana terus mengoceh menjelaskan tentang ulangannya di sekolah.
"Nilai Nana paling bagus kata Bu Guru. Nana pinter kan, Aunty?"
Ella tidak menjawab sedikitpun. Lalu gadis itu berdiri dan masuk ke dapur. Meninggalkan Nana sendirian. Nana mendesah kecewa. Auntynya tidak menghiraukannya sedikitpun. Padahal dia sangat berharap Ella menyambutnya.
PAling tidak dia tersenyum seperti kemarin. Lalu menggendong Nana.
Nana terdiam di depan meja makan. Meremas kertas putih di tangannya. Aunty Ella kembali lagi seperti sebelumnya. Tadinya Nana pikir Aunty Ellanya sudah tidak marah lagi padanya. Dan mau berteman dengan Nana.
"Aunty Ella..." ucap Nana lirih.
Nana membuang kertas ulangannya begitu saja ke lantai. Lalu kembali masuk ke kamarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ella kembali ke meja makan dengan segelas jus apel ditangannya. Sampai di meja makan, dia mengernyit saat tidak mendapati Nana ada disana. Bukannya tadi Nana turun karena ingin makan siang? Lalu kemana lagi anak itu sekarang.
Ella sudah akan duduk di kursi dan menikmati makan siangnya. Tapi tanpa sengaja melihat kertas putih yang tergeletak di lantai. Ella mengambilnya. Merapikan kertas yang terdapat bekas remasan tangan. Raina Clara Adrian. Itu kertas ulangan milik Nana yang dia tunjukkan tadi.
Ella membaca satu-persatu soal ulangan yang dijawab Nana dengan benar. Ternyata anak itu pintar juga. Meskipun tulisannya acak-acakan tapi Nana mampu menjawab semua soal dengan benar. Tak lupa dia membubuhkan gambar senyum di sebelah namanya.
Anak itu benar-benar menggemaskan, batin Ella. Sayangnya dia adalah putri Aliandra. Pria kejam yang suka sekali menyakitinya.Jika teringat pria itu ingin rasanya Ella menaburkan bubuk sianida ke dalam kopinya. Pria arogan yang berstatus sebagai suaminya. Apa seperti itu sikap seorang suami pada istrinya?
Kurang ajar, batin Ella. Dia benar-benar muak. Belum juga sebulan dia tinggal di rumah ini bersama monster itu. Tapi rasanya sungguh tidak betah. Andaikan El tau dia ada disini. Pasti Ella akan langsung meminta pria itu menjemputnya. Membawa kabur dia kembali ke Sydney.
Ella mendesah. Pasti sampai detik ini El tidak tau jika dia tidak ada di apartemennya. El pasti sedang bersenang-senang dengan para gadis yang menjadi fansnya di kampus. Dasar playboy sialan, umpat Ella dalam batinnya. "Permisi, Non."
Ella terkejut saat melihat Rumi ada di depannya. Mengagetkan saja Rumi ini, ucapnya dalam hati. Tanpa lebih dulu mendengar jawaban Ella, Rumi mengambil piring yang tersedia di meja. Lalu mengisinya dengan lauk dan sayur. Tidak lupa menuang segelas s**u ke dalam gelas dan meletakkannya di nampan.
"Buat siapa, Mbak?" tanya Ella begitu Rumi mengangkat nampan itu di tangannya.
"Buat Nana, Non. Dia nggak mau makan. Nangis terus dia. Nggak tau kenapa. Rewel banget!" ujar Rumi sedih.
Ella terdiam. Kenapa lagi anak itu menangis? Apa mungkin karena Ella tadi? "Permisi Non, saya mau ke atas dulu. Bujuk Non Nana makan," pamit Rumi.
"Iya Mbak," jawab Ella sembari menganggukkan kepalanya.
***
Setelah makan siang, Ella pun membereskan meja makan. Membawa piring dan gelas yang kotor ke dapur. Lalu mencuci piring. Meskipun dia berstatus nyonya rumah, tapi dia juga ikut beres-beres rumah. Dia terbiasa hidup mandiri selama dua tahun di luar negeri. Tidak enak rasanya jika sekarang menganggur dan hanya ongkang-ongkang kaki.
Hidup seperti patung di rumah. Karena Aliandra tidak pernah berbicara padanya sedikitpun kecuali memarahi dan mengancamnya.
Benar-benar terlalu. Aliandra berangkat kerja sebelum Ella bangun. Lalu pulang saat dia sudah di kamar. Jadi selama hampir sebulan bisa dihitung berapa kali mereka bertemu.
Ella tau dia bukanlah wanita yang diinginkan oleh Aliandra menjadi istrinya. Jadi wajarlah jika dia tidak menganggap Ella ada. Dan Ella tidak ingin terlalu memikirkannya. Toh dia sudah terbiasa tidak dianggap. Ella mengernyit melihat Rumi yang masuk ke dapur dengan bersungut-sungut dan wajah frustasi. Sambil membawa nampan yang masih utuh isinya.
"Mbak, kenapa?" ujar Ella menunjuk pada nampan yang tergeletak di meja dapur.
Rumi mendesah pelan.
"Non Nana nggak mau makan, non. Dia nangis terus. Nggak tau minta apaan. Ditanya nggak mau ngomong!" keluhnya putus asa.
Ella terdiam. Kasihan juga anak itu kalau sampai tidak makan. Walau bagaimanapun Ella punya hati. Dia tidak tega sebenarnya pada anak kecil itu. Tapi dia selalu sebal jika mengingat Nana lah penyebab Aliandra menyakitinya. Ella menghela nafas panjang. Lalu diangkatnya nampan berisi makan siang Nana. "Biar saya coba bujuk Nana deh. Siapa tau dia mau makan."
Rumi mengangguk senang dan mendukung Ella yang akan membujuk Nana. Ella meraih gagang pintu kamar Nana. Mendorongnya sedikit. Terlihat sosok mungil itu sedang berbaring di atas ranjang sambil memeluk boneka teddy bear seukuran tubuhnya.
Wajahnya tenggelam di bawah bantal. Tapi dari bahunya yang bergetar, Ella tau anak itu sedang menangis.
Pelan-pelan Ella masuk ke kamar Nana. Meletakkan nampan makan siang Nana ke atas nakas samping tempat tidurnya.
"Nana!" panggil Ella.
Bocah kecil itu masih terus menangis tak menoleh sedikitpun. Ella kembali memanggilnya. Kali ini Ella mengusap punggung mungilnya dengan lembut.
"Nana. Makan dulu yuk. Nana kan belum makan siang!" bujuknya.
Isakan Nana pun berhenti. Gadis kecil itu menoleh. Mengangkat wajahnya dari balik boneka. Lalu menatap Ella tak percaya.
"Aunty?" ucap Nana serak. Bahunya masih bergetar naik turun.
Ella tersenyum. Mengusap lembut rambut Nana. "Nana makan dulu yuk. Aunty suapin ya? Mau?" ujarnya.
Nana terdiam memandangnya lama. Lalu mengangguk. "Gendong?"
"Nana mau digendong Aunty?"
Nana mengangguk. Ella pun tersenyum.
"Aunty gendong. Tapi Nana janji harus habisin makan siangnya ya!"
Nana mengangguk sambil tersenyum senang.
"Ya udah sekarang Nana berhenti nangis. Ayo Aunty gendong. Kita makannya di bawah aja ya?"
Nana mengusap air matanya. Lalu berhambur memeluk Ella. Ella tersenyum. Tidak sulit baginya untuk berinteraksi dengan anak-anak. Karena sewaktu di Sydney, dia juga bekerja di sebuah
tempat penitipan anak. Pekerjaan lain selain bekerja di restoran milik sahabatnya, El.
Ella pun menggendong Nana turun. Mengajaknya ke halaman belakang rumahnya. Duduk di atas ayunan. Ella menyuapi Nana makan sambil mendengarkan bocah itu bercerita tentang teman-teman di sekolahnya.
"Aunty.." panggil Nana.
"Hm?"
"Menurut Aunty, Mommy Rosa kapan ya pulangnya?" tanya Nana polos
Ella tersentak. Menatap Nana lekat. Gadis kecil itu menatapnya penuh harap. Sepertinya dia sangat akrab dengan Rosa, kakaknya.
"Nana sayang sama Mommy Rosa ya?" tanya Ella.
Nana mengangguk. "Nana sayang Mommy Rosa, Aunty. Mommy Rosa baik sama Nana. Sering temenin Nana main. Sering gendong Nana," ucap Nana sembari tersenyum.
Ella langsung mengelus lembut rambut anak itu. Sesaat kemudian Nana menunduk sedih.
"Daddy bilang Mommy Rosa nggak akan balik. Terus Daddy bilang Nana nggak boleh lagi nanyain Mommy Rosa," ucap Nana lirih.
Matanya berkaca-kaca. Ella pun tidak tega melihatnya. Gadis itu membawa Nana ke dalam pelukannya. Mengusap punggung Nana dengan lembut.
"Nana jangan sedih lagi, ya. Mulai sekarang, Aunty Ella yang akan temenin Nana main. Aunty juga akan gendong Nana. Mau kan?"
Nana pun langsung tersenyum sumringah. "Mau Aunty! Nana mauu!"
Ella terkekeh lalu mencubit pipi Nana yang membuatnya gemas. "Tapi Nana harus janji dulu sama Aunty," ujar Ella.
"Nana nggak boleh nangis lagi. Terus Nana harus makan yang banyak!" ucap Ella.
Nana menangguk cepat. Kemudian memeluk Ella dengan erat.
***
Pukul tujuh malam Aliandra sudah pulang ke rumah. Kebetulan saat itu Ella dan Nana sedang makan malam. Nana duduk di samping Ella. Ella mengambilkan Nana nasi dan lauk. Juga menuangkan air putih di gelas Nana. Nana makan dengan lahap. Memakan semua yang di taruh Ella di piringnya.
Aliandra berjalan ke arah meja makan. Menghampiri Nana yang sedang makan dengan lahap.
"Wah... anak Daddy pinter ya makannya banyak," puji Aliandra.
Nana mendongak dan langsung tersenyum senang. "Daddy! Daddy udah pulang?"
Aliandra mengangguk. Lalu mengecup kepala Nana lembut. Dan mengambil tempat duduk di sebelah Nana.
Aliandra menciumi pipi Nana dengan gemas. Nana memberengut menjauhkan wajahnya dari Aliandra. Kesal karena Aliandra mengganggunya makan. "Daddy! Sana! Daddy bau! Daddy belum mandi!" keluh Nana kesal.
Aliandra terdiam. Lalu membaui dirinya sendiri. "Masa sih Daddy bau?" ucapnya tak percaya.
Sementara Nana terkikik geli. Begitu juga dengan Ella yang menahan tawanya melihat wajah konyol Aliandra. Merasa dikerjai oleh putrinya, Aliandra langsung menjadi gemas. Aliandra menciumi pipi Nana membabi buta. Membuat gadis kecil itu tertawa kegelian. Ella ikut tertawa melihat Nana dan Aliandra.
Aliandra mendongak. Menatap Ella tajam dan sinis. Sehingga gadis itu pun langsung terdiam tanpa kata.
"Kenapa kamu ketawa?" sentak Aliandra.
Ella menelan ludahnya. Takut pada tatapan mengintimidasi pria itu. Ella pun menghabiskan makannya. Lalu membereskan piringnya. Dan masuk ke dapur. Dia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Daddy monster Nana lagi. Lebih baik dia mengalah dari pada menantang dan memicu amarah pria itu.