Bab 2. Perubahan Sikap Briana

1405 Kata
Sungguh, Briana tak menduga jika Marcell akan bertanya seperti itu, mengungkit masalalu. Inilah hal yang sedari tadi dia khawatirkan. Briana takut, Marcell akan menanyakan kembali tentang keputusannya kala itu dan Briana tak 'kan sanggup membohonginya. “Ya, aku bahagia. Sangat bahagia,” jawab Briana sembari tersenyum lebar. Senyum yang berbanding terbalik dengan kenyataan hidup yang dia jalani selama lima tahun ini. Briana sendiri tidak tahu, kenapa barusan dia bisa lancar berkata bohong menjawab pertanyaan Marcell. Tapi baguslah, begitu pikir Briana. Karena dengan demikian, Marcell tak ‘kan mencari tahu kebenaran mengenai keputusan yang dulu Briana ambil saat memutuskan hubungan. Marcell berdecak setelah mendengar jawaban Briana. Dia nampak tidak suka, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Marcell kemudian memundurkan kursi dan menyandarkan punggung pada sandaran kursi empuk itu. “Kembalilah ke ruanganmu dan tinggalkan berkasnya! Saya akan mempelajarinya nanti sebelum tanda tangan.” Dengan isyarat tangannya, Marcell mengusir Briana. “Baik, Pak.” Lega. Itulah yang dirasakan Briana saat ini. Buru-buru wanita itu berdiri, lalu membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan yang terasa mencekam baginya itu. Setibanya di luar ruangan Marcell, Briana mengembuskan napas kuat-kuat. Seolah, dia baru saja terbebas dari sebuah kejadian yang sangat mengerikan. “Kenapa, Bri?” tanya Satya yang sudah berada di meja kerjanya kembali dengan tatapan heran. “Eh, tidak apa-apa, Mas. Saya hanya merasa lega karena laporan yang saya buat, nggak ada yang salah.” “Kamu ‘kan memang jago kalau soal keuangan, Bri. Makanya dulu Bu Dilla kekeuh mengajukan kamu sebagai asistennya. Dan beliau sangat puas dengan pekerjaan kamu karena sebelum-sebelumnya, Bu Dilla selalu dibuat repot dengan ulah asistennya yang nggak becus bekerja,” balas Satya sembari beranjak. “Mas Satya bisa aja bikin aku besar kepala.” Briana pun bisa tersenyum setelah berada di luar ruangan Marcell. Tidak seperti tadi yang selalu tegang ketika dia berada di dalam ruangan yang sama dengan sang mantan. “Aku duluan, ya, Mas,” pamit Briana kemudian. Namun, langkahnya terhenti ketika Satya menginterupsi. “Lift-nya lagi nggak bisa dipakai, Bri.” “Oh.” Hanya itu yang keluar dari bibir Briana karena ketika dia hendak bertanya lebih lanjut kenapa lift-nya bisa tiba-tiba rusak, Satya sudah keburu membuka pintu ruangan Marcell dan menghilang di balik pintunya yang tertutup rapat. Mau tidak mau, Briana akhirnya turun menggunakan tangga darurat. “Kamu kenapa keringetan seperti itu, Bri? Apa Pak Marcell sangat menakutkan?” cecar Rasti pelan ketika Briana baru saja sampai di mejanya. Sementara dua sahabat lainnya, hanya menatapnya penuh tanya. Sahabat-sahabat Briana itu tak berani heboh karena ada sosok Megan yang senantiasa mengawasi dan terlihat tidak suka, terutama dengan Briana. Briana hanya tersenyum menanggapi keingintahuan para sahabat sambil mengelap keringat di keningnya dengan tissue yang barusan disodorkan Surya. Sungguh, pengertian sekali laki-laki itu. Tapi sayangnya, perhatian dan cinta Surya tak mampu menembus benteng kokoh yang sepertinya sengaja diciptakan oleh Briana. “Bri, Pak Marcell memintamu untuk kembali ke ruangannya!” seru Megan ketika Briana baru saja mendudukkan diri. “Apa kamu membuat kesalahan?” tanyanya kemudian dengan tatapan menyelidik. Briana menggeleng lemah, lalu segera beranjak. “Saya akan kesana sekarang.” “Bri ….” Surya menatap khawatir pada sang sahabat. Begitu pula dengan Rasti dan Nila tentunya, dari bangkunya di ujung sana. “Nggak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Briana pelan, mencoba menenangkan meski sejatinya dia sendiri merasa tidak nyaman. “Cepat, Briana!” Seruan Megan bagai cambuk yang membuat Briana seketika berlari kecil keluar dari ruangan dengan diiringi tatapan iba dari sahabat-sahabatnya. Sekaligus, tatapan tidak suka terhadap Megan yang dinilai begitu arogan. Masih dengan berlari kecil, Briana menaiki anak tangga menuju lantai tujuh di mana ruangan direktur berada. “Kenapa tadi mengusirku, kalau bisa ditunggu? Merepotkan saja,” kata Briana dengan kesal setelah tiba di lantai yang dituju. Wanita itu memutuskan berhenti sejenak untuk mengatur deru napasnya. “Oh. Jadi menurut kamu, perintah saya itu merepotkan?” Briana yang sedang mengatur napas, seketika menoleh ke arah sumber suara. “Ya, Tuhan. Kenapa dia seperti hantu? Belum cukupkah Engkau menyiksaku dengan bayangannya yang terus menghantuiku selama ini, Tuhan? Kenapa sekarang Kau kirim dia dalam wujud yang nyata?” Briana yang terkejut, menepuk pelan dadanya. “Kenapa lama sekali? Saya harus buru-buru ke ruang rapat!” Briana memberanikan diri menatap Marcell setelah menghela napas panjang. “Maaf, Pak. Lift-nya rusak, jadi saya lewat tangga darurat. Lagipula, Bapak 'kan bisa meninggalkan berkas itu di meja sekre —” “Siapa bilang lift-nya rusak?” Setelah mengatakan demikian dan setelah menyerahkan map yang tadi dia bawa, Marcell segera masuk ke dalam kotak besi yang letaknya tak jauh dari tangga darurat. Di belakang Marcell, Satya tersenyum pada Briana. “Mas Satya! Awas kamu, ya!” geram Briana yang merasa dikerjain oleh sekretaris bosnya itu. Sayangnya, Satya tak mendengar ancaman Briana karena pintu lift keburu tertutup. Meski ternyata lift-nya bisa digunakan, Briana tak langsung turun menggunakan lift itu. Dia memilih tetap tinggal di sana untuk beberapa saat. Setelah menyandarkan punggung pada dinding di samping lift, Briana kemudian memejamkan matanya. Briana merasa sangat lelah pagi ini padahal belum genap dua jam dia berada di kantor. Lelah bukan lelah raga karena banyaknya pekerjaan, tapi lelah jiwa karena pertemuan dengan seseorang di masa lalunya. Ya. Pertemuannya dengan Marcell pagi ini, membuat mood Briana jadi berantakan. Pikirannya kacau dan perasaannya menjadi tidak tenang. Segala kemungkinan mulai bermunculan dan memenuhi isi kepalanya. Tentang dirinya. Tentang Marcell. Terutama, tentang keselamatan Moana. Tanpa sadar, bulir bening berjatuhan membasahi pipinya. “Cukup, Bri, kamu kuat. Kamu nggak boleh nangis lagi,” kata Briana menyemangati diri sendiri sembari mengusap air matanya. Briana yang hendak memencet tombol lift mengurungkan niat, kala ponsel yang dia genggam bergetar. Buru-buru wanita itu melihat siapa yang menghubunginya. Senyum Briana pun terbit ketika melihat foto profil Moana pada layar ponselnya. “Halo, Sayang. Baru bangun?” sapa Briana dengan lembut. Di seberang sana, Moana membalas sapaan Briana dan membenarkan dugaan wanita yang dia panggil bunda itu. Lalu, Moana menanyakan apakah Briana bisa pulang untuk makan siang bersama karena dia ingin disuapi. Gadis kecil yang sedang sakit itu sampai memohon-mohon dan mengancam tidak akan makan jika Briana tidak pulang. “Maaf, Sayang, kalau siang ini Bunda belum bisa. Pekerjaan Bunda masih banyak dan harus segera Bunda elesaikan. Moa bisa ngerti, kan, Sayang? Moa makan disuapin Nenek dulu, ya. Bunda janji, nanti malam Bunda akan ajak Moa dan Nenek makan di luar. Moa juga boleh membeli boneka yang Moa inginkan.” Setelah menjanjikan demikian agar Moana tak lagi merengek dan setelah gadis kecilnya itu mengerti, Briana kemudian menutup ponselnya. Wanita itu menghembus napas kuat-kuat kemudian. Seolah, hendak membuang semua beban berat yang selama ini menghimpit dadanya. “Oh, jadi seperti ini kelakuan kamu? Mencuri-curi waktu kerja untuk urusan pribadi?” tuduh Marcell yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu lift dan mendengar Briana sedang berbicara di telepon. Entah kapan lift itu berbunyi ketika pintunya terbuka. Yang jelas, Briana yang tengah fokus membujuk Moana sama sekali tak mendengar suara dentingnya. Dan sebagai balasan atas tuduhan Mercell barusan, Briana pun menggelengkan kepala. “Tidak seperti itu, Pak. Baru kali ini anak saya telepon di jam kerja karena dia sedang sakit —” “Apapun yang terjadi dengan anakmu, itu bukan urusan saya,” sahut Marcell ketus. Setelah mengatakan demikian, Marcell segera berlalu ke ruangannya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Dia sengaja tidak menyuruh Satya karena hendak melihat apakah Briana masih berada di sana atau tidak. Namun, Marcell merasa kecewa sekaligus cemburu ketika mendengar suara lembut Briana membujuk anaknya tadi. “Beruntung sekali anak itu terlahir dari rahimnya. Tapi yang lebih beruntung adalah ayah dari anak itu. Siapa dia? Kenapa orangku tidak bisa menemukan identitas suami Briana?” Di dalam ruangan, Marcell melempar apapun yang ada di atas meja kerjanya. Sementara Briana yang sudah kembali ke ruangannya, menjadi pendiam. Sapaan, pertanyaan, dan candaan dari sahabat-sahabatnya tak mampu membuat Briana membuka bibirnya. Wanita itu hanya menanggapi dengan gelengan, anggukan, atau mengangkat sedikit bahu hingga membuat ketiga sahabatnya merasa heran. Keheranan Rasti, Nila dan Surya semakin berlanjut ketika di jam istirahat Briana tak mau bergabung bersama mereka untuk makan siang. Briana lebih memilih untuk makan bekal yang dibawa di taman, di samping mushola. Hingga jam pulang kantor tiba, perubahan sikap Briana hari ini masih menyisakan tanya bagi ketiga sahabatnya. “Ada yang tahu, nggak, dia kenapa?” tanya Rasti yang dijawab gelengan kepala oleh kedua sahabatnya dengan tatapan yang terus tertuju ke arah Briana yang semakin menjauh. Sementara dari kejauhan, seseorang terus memperhatikan Briana dengan tatapan tak terdefinisikan. bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN