Dimitri sedikit berjuang membuka pintu. Dengan satu tangan yang menahan tubuhku dan tangan lain yang membuka pintu, ia nampak kesulitan melakukannya. Tidak mudah membuka pintu itu dengan aku yang menempel seperti koala padanya. Tetapi aku tidak perduli. Bagiku menikmati otat keras yang memelukku membuat perasaan tidak nyaman ini sedikit lebih tenang. Aku sudah lama tidak berlindung dari pria dan tidak biasa dilindungi. Sedari dulu aku hanya mengandalkan kemampuanku sendiri bahkan untuk pengobatan nenek. Jadi dipeluk dan digendong seorang pria membawa getaran tersendiri di sudut hatiku. Klek Bunyi pintu terkunci sedikit menghentakku ke dalam kesadaran. Aku mengangkat wajahku untuk melihat dirinya yang berpaling ke arahku dari pandangannya ke pintu. Matanya yang tadi terlihat tanpa riak,

