Dilema

1027 Kata
Ford kini berada di mobil dengan buket bunga mawar yang amat besar dan terlihat mahal. Inilah cara dia memanjakan Cindy. Kekasihnya itu menyukai kemewahan. Apa lagi jika sedang marah, maka bisa dipastikan jika Ford akan mengerahkan segalanya agar Cindy tenang dan menjadi kucing yang manis. Ford mendesah, masa-masa luar biasa untuk merayu gadis yang ia anggap berharga sepertinya sudah lama sekali berlalu. Justru Ford merasa ini agak membosankan. Mencoba mencari pembenaran dari segala yang ia lakukan pada Cindy---terdengar sangat tidak menyenangkan. Sekarang Ford merasa tidak tertarik merayu Cindy seperti dahulu. Apa lagi gadis itu berlagak seperti bos yang menuntutnya pertanggung jawabannya. 'Aku nggak boleh berpikir kayak gitu. Jika aku kehilangan Cindy maka aku nggak bisa lagi melihat fisik yang mirip sama ibuku. ' "Oh apakah membutuhkan psikiater? Apa perasaanku ini normal atau sebenarnya aku mengidap kelainan kejiwaan yang membuatku membutuhkan bantuan psikiater?" Kepala Ford terasa memberat, dia serasa tidak bisa bernafas di setiap langkahnya. Itu karena bayangan Swana yang tersenyum ceria ada di dinding-dinding koridor yang ia lewati saat menuju lift. Ford sudah melalui lantai bawah tanah apartemen yang dihuni Cindy, Ford masuk ke lift setelah memastikan semua aman. Tidak boleh ada skandal seperti yang terjadi di Jakarta. Tidak seperti kedatangannya di hari-hari sebelumnya, Ford disambut dengan lemparan vas bunga yang hampir mengenainya. Semua sesuai dugaannya, Cindy menggila untuk hal yang tidak ia ketahui. "Apa kamu sudah gila! Aku nggak datang buat bertengkar dan lihat kamu mabuk! " Ford akhirnya tidak bisa menahan emosi. Dia maju dan mencengkeram rambut Cindy hingga wajahnya mendongak ke arahnya. "Cindy, jangan menganggap kalau aku ngalah bearti aku lemah. Kamu salah besar jika menganggap aku kayak gitu. " "Ford... Kamu ngasih aku cincin yang belum sempurna, karena itu teman-temanku menghinaku! " ucap Cindy. Dia mendesis dan sangat terlihat seksi. Cindy menyukai Ford yang kejam seperti ini. Gadis itu merasa Ford yang ganas jauh lebih menantang dari pada Ford yang lembut dan suka mengalah. "Itu pilihanmu sendiri. Kurasa kamu yang lebih tau niatmu minta cincin pilihan Swana. " Nyali Cindy menciut. Tidak ada lagi acara marah dan mata yang berapi-api. Cindy tau benar jika Ford yang sedang marah bisa bertindak sangat kejam. "O-okey. Aku minta maaf. " Nyatanya ucapan Cindy tidak berpengaruh pada Ford. Dia menyeret Cindy ke kamar dan mengikat kedua tangannya di ranjang. Cindy sudah bisa menebak hukuman apa yang sedang dipersiapkan oleh Ford. "Ford, jangan lakulan itu. Aku lelah karena pekerjaanku seharian ini. " "Apa kau pikir alasanmu itu efektif menghentikanku? Kamu terlalu meremehkan ku, Cindy. " Ford sudah mengeluarkan segala mainan yang dulu mampu membuat mereka berdua mengila. "Aw, jangan lakukan itu Ford. Kita bisa langsung ke inti. " Cindy terus menjerit saat benda-benda mainan ranjang mereka bergiliran mampir di tubuhnya. Cindy menggila dan terus menjerit sebagai reaksi dari dildo ataupun benda lainnya. "Ford, ini sudah cukup, " ucap Cindy sambil bergetar. Dia lelah dengan klimaks-klimaks yang diciptakan oleh benda itu. Cindy menginginkan Ford. Sudah sangat lama sekali mereka melakukannya. Bisa dibilang sejak Ford pindah ke Manhattan. "Lalu apa mau mu, Cindy? " tanya Ford dengan suara dalam dan lembut. Berbeda dengan Cindy yang berantakan, Ford masih tetap rapi. "Aku mau kamu Ford. Aku mau ---" Cindy pingsan karena lemas hasil o*****e yang datang terakhir kali. Ford mendesah lega melihat gadis itu sudah tenang. Dia pun melepaskan tali yang mengikat di ranjang dan membenahi kondisi Cindy yang berantakan. Setelah semua dirasa sesuai tempatnya, Ford meninggalkan Cindy untuk pulang. . . . Di apartemen Ford. Ibu hamil itu tidak bisa tidur setelah kepergian Ford. Swana memutuskan untuk menonton tv sambil menelpon Brandon di ranjang sebab, secara tidak sengaja Swana melihat status Brandon di akun resminya. "Mengapa kamu sangat nakal Brandon. Pantas saja dia menelpon Ford. " Dari jauh Swana mendengar kursi berderik dan suara tawa Brandon. Swana menebak jika pria itu duduk di kursi yang mirip dengan kursi kerjanya. "Kau belum melihat kejahilanku yang lain, Swana. Katakan padaku, apakah si bodoh sekarang menemui wanita ular itu? " tanya Brandon. Swana tersenyum miris. Memang benar dia tidak menghalangi Ford bertemu dengan Cindy, tapi tetap saja hatinya merasa sakit. Dia membenci perasaan cemburu dan benci yang datang bersamanya. "Ya, dia menemuinya. Oleh karena itu aku memutuskan untuk bergelung di ranjang di temani film romantis dan menelpon pria tampan. " "Percayalah, aku sangat terharu mendengar pujianmu. " "Benarkah? Memangnya kenapa? " "Sebab gadis-gadis yang sudah melihat Ford biasanya tidak menganggap aku tampan lagi. Sepertinya sihir Ford tidak berlaku padamu. " Swana terdiam sejenak. Ucapan Brandon memang benar adanya. Siapapun yang melihat Ford pasti akan terpesona. Dia memiliki ketampanan yang tegas dan keras. Berbeda dengan Brandon yang memiliki ketampanan yang lembut dan nakal. 'Sayangnya aku juga tersihir oleh pesona Ford, Brandon. Aku juga sama seperti gadis yang lain. Yang membedakan, aku tidak memiliki keberanian mengungkapkan perasaan cintaku. ' "Bearti mereka buta. " "Baiklah ibu hamil. Kamu harus istirahat. Nggak baik tidur malam. " Swana menyetujui perkataan Brandon. "Kurasa kau benar. Aku akan menutup teleponnya. " Tut. 'Aku memang harus tidur. Lagi pula Ford belum tentu pulang. Mengingat kehidupan Manhattan yang bebas,' batin Swana. "Lagi pula aku cukup puas karena Brandon membuat Cindy terkena getahnya. " Swana merasa lega setelah berbicara dengan Brandon. Dia merasa uneg-unegnya keluar dan tenang. Itu sebabnya Swana bisa terlelap dengan begitu mudah. Dia tidak tau jika Ford sudah tiba dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Awalnya Ford hendak membaringkan diri di samping Swana. Namun hal yang mengejutkan terjadi, tubuhnya tiba-tiba bereaksi melihat Swana yang tidur dengan wajah polos. "Lagi-lagi tubuhku beraksi hanya dengan melihat Swana. Dia seperti petir yang menyambarku bahkan tanpa ia sadari. " Merasa frustasi karena kehidupan seksualnya yang kacau, Ford memutuskan menuntaskan hasratnya di kamar mandi. "Ugh, mengapa aku justru tidak bereaksi saat bersama Cindy?" gerutu Ford di kamar mandi. "Aku benar-benar kacau. " Ford kembali ke ranjang untuk ikut tidur bersama Swana. Sayangnya si junior enggan memberi Ford kompromi. Benda itu kembali hidup dan menyiksa Ford. "Ya ampun. Mengapa hari ini tidak ada satu pun yang sesuai dengan rencana. Bahkan juniorku ikut menentangku! " kesal Ford. Kini dia mengalami dilema. Dia bingung memilih antara melampiaskan hasratnya pada Swana atau kamar mandi seperti tadi. "Tsk, sialan. " Akhirnya Ford memilih opsi yang kedua. Dia tidak ingin mengganggu Swana yang tidur hanya karena ia bernafsu melihat istrinya tidur. Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN