Reagan keluar dari kamarnya dengan langkah lebar. Aroma minuman keras yang begitu pekat dapat tercium dari tubuhnya, tetapi dia belum terlalu mabuk. Kesadaran diri pria itu masih begitu kuat. Walau langkahnya sedikit gontai, tetapi ia masih dapat berjalan menuju ke ruangan kerjanya yang berada tidak jauh dari kamarnya. Ia menutup pintu ruangan itu dengan kuat, lalu menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesarannya di ruangan tersebut. Ia memejamkan kedua matanya. Mencoba menenangkan dirinya. Bekas tamparan Selina pada wajahnya masih terasa memanas. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat menyadari rasa manis bibir wanita yang dicumbunya tadi masih begitu nyata terasa. Reagan merutuki dirinya sendiri yang malah mencium istrinya tadi. Padahal bukan itu yang ingin dilakukannya. Ia ing

