Ay bernapas lega ketika lift tidak lagi bergerak turun. Didorongnya dadaa Marcell agar mundur dan memberinya jalan untuk mendekat ke arah pintu. "Lain kali tolong jaga sikap Bapak, jangan seperti tadi. Saya tidak ingin menjadi bahan gunjingan teman-teman kerja saya, juga Bapak harus menghargai perasaan istri Bapak," ujar Ay seraya menekan tombol open. Marcell tercenung, Ay berbicara menggunakan bahasa formal. Ingin sekali menyahut dan berbicara tentang banyak hal, tapi pintu lift sudah terlanjur terbuka dan Ay dengan tegas melangkahkan kakinya melewati pintu. "Aku masih menunggu kesediaanmu untuk rujuk, anak kita butuh Papanya untuk mendampingi dan menjaganya," seru Marcell sebelum Ay terlanjur menjauh. Ay berhenti sejenak. Dadanya kembali sesak mendengar ucapan Marcell, tapi ia berusa

