Chapter 6

1223 Kata
Terdapat pergerakan tanda perlawanan, tapi Reynard mencengkramnya kuat hingga susah bagi Reyhan bergerak. "Cuih! kebesaran nyali kau anak kecil, Saya akan mengingat mata kau!" Balas Reyhan mengunci tatapan meski dia tak bisa melihat paras Reynard, dia akan mengingat tatapan tajam matanya itu. Lantas semasih itu berlangsung, Viona beranjak meraih lengan Reynard dari belakang "Hei hentikan, lepaskan pacarku!" Menarik-narik lengan Reynard agar menjauh dari Reyhan. Reynard tak menghiraukan lantaran fokus kepada lelaki angkuh yang kini dia cengkram. Lantas, semasih Viona antusias menarik-narik sebagian lengannya, dia merasa risih maka dia menghempaskan satu tangannya sejenak hingga terciptalah dorongan kuat ke tubuh Viona. Brughh! Wanita itu tersungkur membuat Reynard lekas menghentikan aksinya sejenak. Sementara Reyhan bangkit, kemudian membantu kekasihnya berdiri "Kamu gak apa-apa sayang ..." "Aduhh, sakit ..." Keluh Viona dengan khas manjanya kian menumbuhkan amarah didalam diri Reyhan. Melirikkan netranya pada Reynard kemudian mengulang kalimat yang sama. "Akan saya ingat baik-baik mata kau, cam kan itu!" ancamnya. Sebatas di balas menyeringai saja oleh Reynard. Tak ingin lama-lama berdiri disana perlahan mereka berdua hengkang dari sana lantaran dari segi Fisik tak akan mungkin Reyhan menang melawan Reynard. __ Selepas kedua insan itu pergi, Reynard masih berdiri ditempat yang sama, meredamkan amarah dalam jiwanya terhadap kedua sejoli sang pembeli rumahnya tadi. Tak lama kemudian kembali teringat suatu perkara yang masih menganggu pikirannya. Apa lagi kalau bukan tentang keluarganya? Ya, dia teringat kembali isi surat itu, membuatnya muak lama-lama didalam rumah itu. Meski kini waktu sudah larut malam, dia bergegas pergi keluar rumah. Awal mula terpikir hendak ke tempat sahabatnya terdekatnya-Kenzie tapi dia teringat si Kenzie kini masih dalam kesulitan juga, maka tak tepat baginya datang kesana. Semasih di jalan, akhirnya dia berhenti sejenak, memakirkan kendaraannya di bahu jalan beranjak duduk diantara trotoar jalan itu-sendirian, awal mula rencana kumpul bersama teman-temannya yang lain, tapi menilik suasana hati kini sangat tidak tepat bila kesana. Pikiran berkecambuk tak menentu menuntun siasatnya lebih baik menghilangkan rasa penatnya terlebih dahulu. Lantas berlalu kini tiba di suatu tempat Clubbing khusus orang dewasa. Meski dari segi usia dia belum diperbolehkan masuk kedalam tempat hiburan malam, tetapi tak sulit bagi seorang Reynard. Duduk diantara kursi meja lekas memesan beberapa minuman pada bartender. Segelas, dua gelas, tiga gelas yang diminumnya masih belum membuatnya mabuk. Lantas menoleh ke seluruh penjuru arah menyaksikan banyaknya kaum perempuan khas wanita penghibur berlalu lalang mencari mangsa berupa lelaki hidung belang. Netranya berlalu dari hal itu, menoleh ke suatu arah tampak ada seorang perempuan se-usia setara dirinya sedang asik berjoget ria bersama teman-teman wanita. Entah mengapa tatapan dia terkunci pada wanita itu, Menutup kembali wajahnya dengan Masker andalannya kemudian menuntun langkahnya menuju kesana. Dentuman keras musik Remix yang dimainkan oleh DJ sangatlah asik berjoget ria, kini dia sudah berada tepat didepan gadis itu. Mata keduanya saling menatap dan mengunci tetapi tak dapat berbincang lantaran bising. Hanya gerakan tubuh yang asik bergoyanglah yang mereka lakukan hingga senyuman merekah dari keduanya. Tak lama berselang Gadis itu berlalu, Semula pergi hendak ke arah teman-temannya lagi. Tetapi semasih gadis itu melangkah tiba-tiba dia dilecehkan oleh seorang pria yang sengaja menyentuh bagian gundukannya. "Hai Cantik ..." Goda lelaki itu. Sementara si Gadis berteriak "Hei!" seraya menangkis tangan dia yang hendak meraih benda terintinya. Lelaki itu tak menggubrisnya, lantaran menganggap dia wanita penghibur sesuai busana yang di pakainya, maka tak henti sang pria hendak melakukan hal yang sama. Sebelum itu terjadi, Reynard beranjak mendorong kuat tubuh lelaki itu sampai dia menabrak meja yang diduduki oleh beberapa macam orang, menumbuhkan perhatian publik seluruh ruang didalam Clubbing itu. "Woi, apa-apan loe!" pekik Lelaki itu tak terima beranjak mendekat hendak menghajarnya, tapi sebelum tangan sampai, Reynard sudah dulu membuatnya tersungkur. Braak! Brak! Brak! Sampai darah muncrat dari indra penciumnya. "Aarggh!" "Gua paling jijik liat orang baj'ngan kayak loe, ngerti?" Pekik Reynard semasih menghujamnya. "Bangs't! apa urusan loe hah! tak usah loe ikut campur. Apa cewek itu pacar loe hah?" Tanya lelaki itu. Membuat Reynard terdiam sejenak lantaran sesungguhnya dia tak mengenali siapa gadis itu, semasih dia diam tiba-tiba di samping lelaki tadi datang beberapa lelaki dewasa berdiri tegak tampak sangat menyeramkan menatap ke arahnya. "Ada apa joe?" Tanya salahsatu dari mereka. "Ada yang mau cari gara-gara sama gua, Bray." Balas lelaki itu menelunjuk Reynard. "Oh ... Cuma urusan sama Bocah ingusan rupanya." Ucap lelaki dewasa itu, kemudian menatap tajam temannya, "Kau saja yang t***l!" Pekiknya sembari mengayunkan sebuah tamparan padanya. "Plak!" Dalam artian dia murka, hanya masalah dengan anak kecil saja dia sampai tersungkur seperti itu. Sesudahnya, dia menatap tajam ke arah Reynard. Maka, insting Reynard sudah traveling pada hal yang bukan-bukan. Melirik sejenak ke arah gadis itu kemudian berkata "Hei, Kamu, cepat pulang lah sudah larut malam" tak ayal gadis itu senyum-mengangguk kemudian menuruti perkataan Reynard, Keluar dari tempat hiburan malam itu. Selepas Gadis itu pergi, Reynard masih berdiri di tempat yang sama kedua mata menatap sekeliling, mendapati begitu banyak pasang mata yang fokus melihat ke arahnya. Tetapi yang paling utama dia bidik adalah lelaki dewasa yang berdiri tegap di hadapannya itu, seakan siap hendak menghujam tubuhnya. Tak henti dia berkutat didalam hati, maju atau memundur kah dirinya terhadap banyaknya orang yang hendak menyerangnya itu? __ Semasih berkutat tiba-tiba serangan langsung datang padanya, Seet! Beruntung dia sigap dan tangkas sehingga pukulan itu dapat dia hindari lantas perkelahian pun terjadi, Reynard di keroyok oleh beberapa orang lelaki dewasa itu, tak disangka mereka adalah suatu kelompok Gangster. Satu, dua dan tiga orang masih bisa di tumbangkan dengan lincahnya, tapi tak dipungkiri jumlah mereka sangatlah banyak. Maka tak heran dia terkena berbagai macam pukulan hingga bagian mulutnya berdarah di balik masker andalan. Braak! Dia tersungkur menabrak kursi dan meja yang tersedia di sana. Tak ada satupun insan yang ikut campur dalam perkelahian ini, lantaran mengetahui betapa beringasnya kelompok Gangster sang penguasa wilayah itu. Semasih keadaan dirinya sangatlah bahaya, tiba-tiba ada sebuah tangan seorang lelaki meraihnya kemudian menyeretnya pergi. "Hei!" Kejut Reynard, tetapi dia bagai kerbau di cokok hidungnya, menurutinya pergi tanpa peduli siapa sebenarnya lelaki itu. Sementara para anggota gangster tentunya tak terima, mereka mengejar hingga keluar dari tempat hiburan malam itu. Mereka berdua (Reynard dan lelaki itu) lantas di kejar-kejar oleh para kelompok Gengster, Reynard pun di tarik secara terus-menerus oleh lelaki yang tak dikenalinya itu hingga sampai di suatu gang cukup nyaman bersembunyi. "Huff ... Huff ... Sepertinya disini aman bro" Ucap lelaki itu sembari sesekali menoleh-memastikan keadaan aman. "Siapa loe?" Reynard tangkis tangan dia yang mengenggam tangannya erat, lantaran tak tahu lelaki ini kawan ataukah lawan? Bukannya di jawab langsung oleh lelaki itu, dia malah menyodorkan bungkus rokok padanya "Nih, Rokok" Reynard meraihnya sembari memutar matanya. Tidak langsung dia hisap Zat Nikotin tersebut lantaran dia enggan membuka maskernya didepan pria yang tak dikenalinya. "Cara loe berkelahi tadi sangat oke, Bro" Cetus Pria itu secara tiba-tiba. Reynard sebatas meliriknya saja. Lantas si Pria itu menatapnya, "Gua Simon." Sembari mengulurkan tangan-memperkenalkan diri. Reynard tak menjawabnya, bahkan tak merespon uluran tangan dia. Membuat si pria menyeringai kemudian berkata, "Oke, oke siapa nama loe itu gak penting. Cari hiburan di sana sudah gagal loe dapatkan bukan? Apakah loe sekarang mau hiburan lain?" Tawarnya secara tiba-tiba. "Hiburan lain? Maksud loe?" Tanya Reynard sedikit mengerutkan kening. "Kalo loe mau hiburan, ikuti gua sekarang." Pungkas Simon penuh misteri bagi Reynard. "Cih, aneh ni orang" Awalnya dia enggan menurutinya, Tapi entah mengapa tumbuh rasa penasaran pada lelaki misterius itu. Maka, secara perlahan kakinya berpijak ke arah Lelaki itu melangkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN