4 | Familier

2901 Kata
Dapat kudengar suara mesin memasuki gerbang, lalu berbelok tepat di pintu utama. Kuluruskan bajuku, dan dengan sigap, aku berjalan keluar. Namun sosok yang tidak diharapkan justru turun dari mobil. Aku mendengus. "Dex." Tawanya bergema sembari melepas kacamata hitamnya. "Ah, Louie. Apa sih yang menahanmu di sini? Ayah merindukanmu, tahu." "Tidak usah basa-basi," potongku cepat, "mana barangku?" Menyeringai, Dexter merogoh kantongnya, dan menjatuhkan plastik berisi botol kecil di telapakku. Kukantongi plastik itu, dan berbalik – sebelum ia mencegahku lagi. "Hei, kau tidak menyambut kakakmu dengan pelukan? Senyuman? Kau bahkan tidak mengajakku masuk? Damn, Lil' Louie. You're such an arse." "Aku sibuk. Tidak punya waktu untuk omong kosongmu, kak." Kulanjutkan langkahku menaiki tangga. Sejak pulang dari Amerika, aksennya kedengaran semakin t***l. "Hei, ayolah Louis!" pria berlagak aneh dan genit itu menyusulku, dan kini kami berdua menaiki tangga ke arah pintu masuk. Dan parahnya, Dexter melanjutkan ocehan bodohnya. "Rumahmu ini jauh sekali dari London, tahu?" ujarnya sambil mengelap keringat. "Entah roh apa yang berhasil membujukmu tinggal di pedalaman Skotlandia. Aku sih, tidak. Manor tua ini pasti berhantu. Hiii." "Lantas, kenapa kau kesini?" langkahku berhenti. "Lebih baik suruhanmu yang mengantar barang tadi. Pulang sana." Dexter menyeringai, lalu berbisik pelan seolah ada yang memata-matai kami. "Dua kata. Mainan barumu. Aku ingin mencicipinya." "Tidak." Dexter mengejarku lagi, namun aku mempercepat langkah–terus berjalan tidak peduli. Kuangkat daguku, menyuruh pelayan membanting pintu tepat di wajahnya. "Heh, Lo-" [BRAK] Mampus. Aku membuka kulkas dan menaruh botol kecil itu, sebelum sebuah tepukan mendarat di bahuku. "Dasar b******k, wajahku baru perawatan, tahu! Aku hanya bercanda. Dasar t***l!" umpat Dexter sembari mengusap-usap hidungnya yang lebam. "Anggap saja itu hadiah," tukasku sembari membanting pintu kulkas. Dexter mengerutkan dahinya, "maksudmu?" "Hadiah atas sudah membuat dua mainan lamaku mati," balasku sinis. "Seharusnya kau tahu diri saat datang ke sini, kak." "Whoa, whoa." Dexter terkekeh. Dengan senyum bodohnya, ia meraih botol 1962 Dalmore yang tersampir di meja, menuangkan isinya dengan asal-asalan, dan menyodorkannya padaku. "Chill down, Louie. Kali ini, aku hanya ingin mencicipinya saja." "Tidak," kutepis tangannya yang terancung. Pria b******k ini memutar matanya, dan dengan kesal, bersandar di sampingku. "Yah, kalau begitu, sebenarnya ada masalah yang harus kau urus, sih." kekehnya sembari sambil wine, mengeluarkan ponselnya. "Siapa lagi yang kau hamili? Perkosa? Bunuh?" "Gosh, Louie. Ini dari Ayah." Beberapa menit kemudian, Dexter bercerita tentang masalah terbaru ayah dengan Earl of Suffolk. Sudah kuduga, ini tujuan sebenarnya Dexter ke sini. "Ayah ingin kau bernegosiasi. Jika gagal, intimidasi, oke? Dia minta kau yang–" "Kau yang urus," balasku acuh tak acuh. "Huh, aku?" Dia lantas tertawa terbahak-bahak, "serius? Kau minta aku—Dex si tukang skandal—berurusan dengan Earl of Suffolk? Gila. Satu Inggris Raya akan heboh." Tidak menjawab, aku hanya mendelik. Menatap etsa hitam putih berukiran merpati, di dinding yang berkilau oleh cahaya matahari pagi. Harga diri keluarga b*****h ini pasti sudah runtuh jika aku tidak ada. "Ayah sudah menunggu untuk perencanaannya. Eksekusinya dilaksanakan minggu depan." Dengan senyumannya yang t***l, dia meletakkan gelas dan memasang kacamatanya, beranjak keluar. [Klik] Kukepalkan tangan rapat-rapat. Emosi mulai naik di dadaku. Sehingga aku berkeliling, mencari apapun yang bisa kujadikan pelampiasan sebentar. Dan aku menemukannya. Di balik pintu yang terkuak, makhluk itu sedang terkulai. Bak seorang dewi, ia bergelung di atas kasur. Tidur anggun dengan ekspresi yang polos. Rambut gelap menghiasi wajahnya. "Mmm..." Sambil bergumam pelan, ia membalikkan badannya. Kini lekuk tubuhnya samar-samar terlihat, disinari cahaya biru. Itu dia. Pelampiasanku. ───※ ·❆· ※─── [Setelah Prolog] Malam mulai larut. Di dalam akuarium, ikan putih yang kurus sedang berenang dengan tenang. Sedangkan ikan-ikan lainnya (yang lebih gendut) mondar-mandir seperti cacing kepanasan. Aku tertegun. Mungkin mereka sedang lapar? Pria itu tidak memberi mereka makan hari ini. "Makanan," ujarku sambil menaburkan butir-butir cokelat ke dalam kaca. Segera, belasan ikan berwarna-warni di dalamnya berebut. Namun, ikan putih yang kurus justru tersisih. Dengan sedih ia menyingkir di samping, tidak berani mendekati kerumunan. "Hei, jangan menyendiri," tegurku, "nanti kau kelaparan. Makan, oke?" Kutuangkan beberapa butir makanan ikan ke genggamanku, dan menaburkannya khusus untuk ikan putih itu. Melihat itu, sepertinya semangatnya kembali, dan ia melahapnya dengan riang. Sejenak, aku seperti mendapat kilasan balik. Ikan itu mirip aku. Aku sepanjang hidupku. Kecil dan kurus. Di sekolah, tidak bisa bergaul karena terlalu malu. Di rumah, tidak bisa melawan ayah. Aku seorang yang pendiam, lemah, dan bahkan setelah lulus sekolah, aku membiarkan diriku dirundung di tempat kerja. Dan bahkan setelah lepas dari itu semua, tadi pagi—saat pria itu menyerangku—aku hanya diam saja, terkapar. Kurasakan amarah saat mengingat kejadian tadi pagi. Bagaimana dia menyerangku tiba-tiba, membuatku merasa seperti ingin mati. Aku ingin menghajarnya. Namun aku tidak bisa melawan. Sama saja dengan mencari celaka. Tapi jujur saja, aku lelah jadi orang lemah dan tidak berdaya. Andai saja... andai saja aku bisa berubah. Jadi orang lain, misal. Dan seperti biasa, satu suara ketukan memecahkan lamunanku. "Anda ditunggu di dapur, Nona." ───※ ·❆· ※─── "Hapus wajah itu," ujarnya sambil mendorongku berlutut. Aku terjatuh di depan kakinya, dan dengan segera ia menurunkan celana. Bagian tubuhnya yang besar terancung di depan mukaku, membuatku tak nyaman. Pikiran itu muncul lagi. Memintaku untuk menurutinya saja, cepat-cepat menyelesaikannya. Tapi, dadaku dipenuhi amarah. Api benci yang terus kupikirkan kemarin, dan dipicu serangan tadi pagi membuatku muak, sungguh muak. Dia b******k, b******n, tidak pantas aku turuti. Peduli amat dia membeliku mahal sekali. Rasa marah itu semakin berkobar. Dan seperti Edmond Dantes, kali ini aku akan melawan. "Tidak," ucapku sambil menggeleng. "Aku, tidak mau." Antiklimaks? Ya. Perkataanku patah-patah, tapi percayalah, butuh keberanian yang besar untuk mengucapkannya. "Aku bukan bertanya, tapi memerintah. Lakukan saja." Dia menyodorkan miliknya lagi. Aku tetap menggeleng. Dan kali ini, kucoba menatap matanya yang gelap dengan tajam. Nampak mata gelapnya mulai berang. "Tidak," ujarku final. Kutajamkan tatapan mataku sekalian. Dia mengunyah pipi, membuat rahangnya semakin terlihat. Ketegangan mengudara, dan– "Baiklah," pungkasnya sambil berbalik. Hah? Sejenak, aku berkedip tidak percaya. Tidak ada ucapan ketus? Makian? Kemarahan? Mujizat kah ini? Dia membuka kulkas, lalu berjalan ke atas meja dapur. Dibalik badannya yang selalu terbalut jaket hitam, ia mencampur sesuatu ke dalam air. Kemudian, ia meminumnya sedikit. Aku bernapas lega. Sepertinya dia bersungguh-sungguh. Penderitaanku hari ini selesai. Aku beranjak berdiri, ingin kembali ke kamarku, bahkan ingin mengucapkan selamat malam. Namun dugaanku salah. Sejurus kemudian, sosoknya yang hitam berbalik. Jemarinya yang dingin menarik daguku. Dengan pandangannya yang marah, dia menekan bibirku dan mulutnya dengan paksa. Dia melumat bibirku sebentar, dan kemudian menggigitnya kuat-kuat. Rasa sakit menyengat bibirku, membuatku refleks berteriak, sebelum akhirnya dia mengambil kesempatan itu. Dia memaksa lidahnya masuk, membuka rahangku lebar-lebar. Sementara mulutku tetap terbuka, ia menuang gelas berisi cairan yang dia buat tadi ke dalam tenggorokanku. Cairan yang terasa panas dan pahit, membakar kerongkonganku. Terasa persis seperti hidupku. Setelah ia memastikan agar cairan itu tidak lolos setetes pun, aku terbatuk-batuk. Namun belum selesai aku terbatuk, ia mendorongku hingga aku jatuh berlutut. Dia meraba wajahku, dan dengan jarinya yang dingin, membuka mulutku kembali. Dan miliknya yang menekan paksa ke dalam. Tanpa suara, ia menarik rambutku kencang, sehingga ukurannya yang besar masuk sempurna hingga kerongkongan. Mulutku yang mungil terasa sesak. Aku sulit bernapas. Namun dia tidak berhenti. Dia menjambak rambutku lagi, membuatku melihat ke atas. Mukanya terlihat meradang. Ia meraup rambutku, dan mulai menggerakkan kepalaku dengan kasar. Maju mundur. Bagian tubuhnya berotot dan keras, menjejali mulutku tanpa jeda. Napasku sesak. Sesaat, aku kagum dengan mulut bawahku yang mampu menerima benda ini berkali-kali. Aku mengepalkan tangan, bersiap mengigitnya dari dalam. Tapi, rasa panas yang aneh muncul dari dalam perut. Tunggu. Mengapa tiba-tiba tubuhku terasa hangat? Rasa panas tadi menjalar hingga syarafku. Niat ingin melawan seakan dihapusnya. Namun pria ini tidak peduli, makin mempercepat tempo mulutku. Wajahnya terlihat meringis saat aku memandangnya lagi. Mataku terasa basah. Tidak, tidak. Cairan apa itu tadi? Kupandang matanya, meminta jawaban. Oh, dan belas kasihan yang tak mungkin kudapatkan. "Tunggu ," jawabnya, seolah bisa membaca pikiranku. Dia sedikit memperlambat tangannya. Benar saja. Sesaat, rasa hangat tadi sekarang membakar tubuhku, membuat dadaku mencuat. Tanpa sadar, panas itu membuatku ikut menjilat tubuhnya di dalam. Sedikit menikmati miliknya yang kenyal. Aku bahkan menghisapnya sedikit. Entah kenapa, rasanya nikmat saja. Hangat... Perbuatanku membuat senyum tipis terlukis di wajahnya. Dan ekspresi itu, entah kenapa, membuat dadaku senang. Kucengkeram pahanya dengan kuku seraya kudorong mulutku dalam. Rasa sesak tadi kurasakan kembali, namun sekarang berbeda. Benda di mulutku kini rasanya nikmat, membuatku ingin lagi dan lagi. Alam bawah sadar menguasaiku, melempar akal sehatku jauh-jauh. Tangan besarnya sudah tidak meraup rambutku lagi. Sekarang aku yang menggerakan kepalaku sendiri. Hangat... Kupandang wajahnya, mencari ekspresi yang bisa kuartikan sebagai pujian, dan dia menyeringai. Aku gembira. Sebagai rasa terima kasih, kuhisap benda itu kuat-kuat untuk yang terakhir kali, sekalian kupandang matanya. Dan ia mencapai kepuasannya. Rasa asin mulai memenuhi kerongkonganku, namun dia kembali menekan wajahku. Dalam. "Habiskan semuanya. Tenggak. Itu hukuman pertamamu hari ini." Hanga– Tidak, tidak! Apa yang barusan kulakukan? Mataku terbelalak. Bulu kudukku menegang, saat sadar tentang apa yang kulakukan tadi. Ia akhirnya melepaskan rambutku, dan aku jatuh terhuyung dengan mulut yang berlumuran. Badanku terbanting di lantai, dan aku memejamkan mata. Berusaha tidak melihat lidahku sendiri yang meraup cairannya untuk kutelan. Tapi api yang dipantik di dalamku masih menyala, membuatku gelisah tak karuan. Tubuhku kepanasan, organ-orang intiku berdenyut, putus asa ingin sentuhan. Setengah sadar, aku mengapit celah di antara pahaku erat-erat, berusaha menenangkan kedutannya. Ia menjambak rambutku lagi dan menatapku. Masih dengan wajah dinginnya. "Katakan kalau aku salah, tapi rasanya kau sangat menikmati milikku tadi. Apakah itu benar?" Dengan cepat aku menggeleng. "Tidak, tidak! Aku tidak sengaja." "Oh ya? Jadi mengapa kau tadi menjilatnya, menghisapnya, hm? Kau menyukainya?" Suara beratnya membuat tubuhku semakin membara. Aku terguncang, menggeleng lemah. "Jadi jelaskan reaksimu ini." Dia menarik piyamaku hingga robek, kancingnya berterbangan. Menunjuk dadaku yang ujungnya mengeras. Aku masih menggeleng. Walau seluruh reaksiku mengatakan ya, akal sehatku yang tersisa akan kupertahankan sekuat tenaga. Dia mengangkat ujung alisnya. "Kau menyukainya. Lihat ini." Tangannya memasuki celana dalamku, mengusap-usap lipatan yang basah total disana. Ia memilin dadaku, meremasnya dengan tangan yang satu lagi. Syarafku menegang, akhirnya mendapatkan apa yang tubuhku inginkan. Dan hasilnya, aku menggeliat hebat, suara-suara m***m lolos dari mulutku tanpa bisa kukendalikan. "Ini...haah...semua...karena-haah...obatmu,," ujarku seraya ia melanjutkan aktivitasnya. Pandanganku mulai berkabut, dan pikiranku sudah tak jernih. "Benarkah? Aku juga meminumnya, dan tidak terjadi apa-apa," sanggahnya sambil terus menekan klitorisku. Terasa sengat, dan aku menggelinjang. Pelepasanku akan segera tiba. "Uhm..uhmm." Aku menggeleng lagi, daya berpikirku hampir habis. "Kau menyukainya, jalang." Pandangannya menusuk tajam, seperti hinaannya. Jarinya menekan sekuat tenaga, dan– "AH!" Punggungku melengkung, dan aku mendesah nyaring, melepaskan sesuatu. Apa itu? Pelepasanku? Kesadaranku? Harga diriku? Mungkin semuanya. Setelah itu, pandanganku menggelap. Kurasakan tubuhku melayang. Terhempas pelan pada kayu berlapis kaca, yang kuingat sebagai meja makan. Dan Ia berdiri di situ, diantara kakiku, melepas semua pakaiannya. Saat tudung jaketnya tersingkap, saat jaketnya terlepas...saat itulah kupandang sosoknya dengan jelas, untuk pertama kalinya. Mata biru gelapnya bak batu permata. Berkilau. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, wajahnya bak dilukis, walau dengan rambut cokelat yang acak-acakan. Dia tampan... Tubuhnya yang selalu tertutupi kini sangat terekspos. Otot-ototnya menonjol, terpatri di badannya, bentuknya sempurna. Keringat menghiasi wajahnya. Dengan mata yang dingin... ...dia terlihat seperti mimpi.... Dan bagaikan khayalan, ia mendekat, dan bibirnya yang selembut permen kapas bertemu dengan milikku. Seraya lidahnya masuk, ia menangkup pipiku dan menekannya, masuk lebih dalam. Mulutnya seperti mint segar, dan aku membalas ciumannya bagai kehausan. Kami terus bertaut, dan kurasakan tetesan saliva mengaliri daguku. Sejurus, jarinya mengesampingkan celana dalamku, dan rasa hangat yang familier memasukiku lagi. Aku bergetar, menggeliat senang. Kuangkat kaki, dan dengan milikku, kuremas dalam-dalam benda yang menusukku itu. Rasa panas yang dia berikan sungguh candu. Kurentangkan tanganku kedepan, memeluk sosoknya yang terus menghujam tubuhku. Hangat dadanya menempel di pipiku. Mataku mendelik keatas, tenggelam dalam sensasi nikmat. "Ah, ya, teruskan, terus, terus–" Kupeluk dia dalam-dalam dan aku melenguh di telinganya. Tersenyum senang. "Jalang," bisiknya dingin. Ia menyeringai tipis. Seringai yang membuatnya semakin tampan. Lalu ia bangkit dari rengkuhanku, dan menyusuri tubuhku. Meremas payudaraku pelan, lalu tangannya naik, meraba leherku. "Nikmati sensasinya, jalang." Lalu dia mencekik. Aku terkesiap. Napas langsung tertahan di dadaku, membuat hujaman kejantanannya semakin terasa. Dia mempercepat temponya, dan seketika aku tenggelam dalam ekstasi yang ia berikan. Milikku yang menggila semakin mengetat. Mataku mengejang ke atas, lidahku terjulur keluar. Ia menggeram, lalu ibu jarinya membelai bibirku lembut. Aku menjilatnya, tertawa bahagia. "Jalang." Aku melahap jarinya, mengisapnya tanpa henti. Sembari menatapnya, ditengah-tengah desahanku, kukedipkan mata. "Kau menyukaiku, hm?" Aku mengangguk. "Tubuhmu hangat, aku baru sadar. Aku sangat—nghh, suka." Dia tergelak, "kau suka hangat?" Kudekap tubuhnya erat-erat, hawa kami menyatu. "Mhmm, suka. Sangat suka." "Kau mau tahu apa yang lebih hangat, jalang?" "Iya." Dia mencekikku kembali, membuat dindingku mengejang ketat. Aku terus mendesah seraya ia menghujam lebih dalam. Seraya temponya makin cepat, aku mengerang, tenggelam dalam puncak yang membuatku lega. Lalu, dengan suaranya yang serak dia menggeram. Sepertinya pelepasanku tadi di dalam mengenai miliknya. Ia menghempas tubuhnya satu kali, dan cairan intimnya memenuhiku. Turun mengalir di pahaku. Hangat. Aku menyukainya. Ia melepaskanku, dan menarik kursi meja makan di samping. Dia duduk dengan miliknya yang masih menetes, entah cairan siapa. "Turun dari situ. Bersihkan ini." Dari atas meja makan yang tinggi, kupaksa diriku bangkit dan aku jatuh terduduk. Sensasi nikmat tadi masih mengisi kepalaku, dan aku merangkak di lantai, duduk diantara kedua pahanya. Menyambar tetesan tadi hingga bersih tidak tersisa. Aku tergelak. Rasanya lucu. Ia menatapku dingin, dan bangkit dari kursinya. Diraupnya gelas berisi cairan ungu tadi, dan menenggak yang tersisa. Setelah selesai, dia melempar gelas itu ke lantai. "Mari kita mulai." ───※ ·❆· ※─── Berjam-jam. Atau mungkin hanya beberapa menit. Setelah tadi, dia meraup rambutku lagi. Mendorongku ke atas meja makan, kemudian memainkanku dengan jarinya. Kemudian ia memasukiku lagi. Mengirim sensasi ketat dengan otot-ototnya. Terus dan terus. Setiap hentakan, hujaman, hempasan seperti membawaku ke surga. Aku terbang diantara awan-awan, bersama burung dan elang. Kemudian aku memasuki terowongan pelangi, dan bermain disana hingga puas. Beberapa saat kemudian, ia mengangkatku lagi. Memompaku di depan kaca jendela yang dingin. Ia membuka tirai, nampak halaman luas bersalju menutupi taman bunga. Namun saljunya sudah menipis. "Menunduk," bisiknya. Di depan taman, orang-orang dengan senapan berjaga menjelang subuh. "Lihat, mereka yang di bawah? Jika mereka mengadah ke atas, kau akan terlihat." Bisikannya yang serak selanjutnya mengirim sensasi panas, hingga ke tulang. "Seorang jalang yang sedang dipakai tuannya." Aku mengangguk, melenguh nyaring. Aku tidak peduli lagi. Setiap sentuhan, setiap bisikan, ia memberiku kehangatan yang selalu aku dambakan. Aku bahkan tidak bisa mengenali suara-suara yang keluar dari mulutku sendiri—terengah-engah bagaikan putus asa. Namun mendengarnya, ia mengerang, dan kurasakan miliknya memenuhiku lagi dengan cairannya. Entah sudah yang keberapa. Aku terlalu hanyut hingga tak terasa, ia mengangkat dan menghempasku lagi di atas meja makan. Sensasi terbang tadi sudah menghilang, menyisakan kantuk yang berat. Tapi rasa bergetar masih tertahan di perutku, pelepasanku hampir tiba. Di bayanganku, aku akan mendarat di atas awan. Aku membuka mata, menatap wajahnya. Matanya masih gelap, namun raut mukanya sudah tidak beku. Dia menatapku seperti lapar dan terus bergerak. Mata kami bertemu. Dia menatapku dalam. Aku tersipu, hatiku gembira karena dia tidak dingin lagi. Kututup mataku untuk yang terakhir. Sejenak, aku merasa menjadi botol soda. Diguncang kuat-kuat, kemudian– Dia mencekik kuat-kuat, dan sekali lagi, aku pun tiba. –dicabut tutupnya. Dan aku tahu, bukan itu saja yang terlepas. Kali ini, kesadaranku.... ───※ ·❆· ※─── "Hei." "Hei, hei." Aku menepuk pipi tembamnya perlahan. Tidak ada jawaban. "Bangun." Masih tidak ada. Lamat-lamat, putik dadanya yang merah mulai melemah. Matanya menutup perlahan, dan kuraba lehernya. Denyut nadinya semakin teratur. Dia jatuh tertidur setelah pelepasan. Aku mendengus. Bagus. Reaksi obat tadi sudah selesai rupanya. Dan setelah terangsang seperti gila, wajar saja tubuhnya sangat kelelahan. Oke, kuakui, itu semua karena kurangsang secara paksa. Yang gila sungguhan itu Dexter, jujur saja. Dari mana dia mendapat obat ini? Sensasinya mampu membuatku terbang. Membuat tubuh gadis itu ekstra nikmat. Jarang sekali obat seperti itu bisa berdampak padaku. Benda itu terlalu ampuh. Aku menarik punyaku keluar. Menggapai handuk yang tadi kusiapkan, dan mengelap tubuhku hingga bersih. Kuambil handuk baru dan menyiramnya dengan air hangat di wastafel. Di atas meja makan, kuhampiri dia lagi, dan kuusap tubuhnya pelan-pelan. Setelah itu, kuseka benihku yang masih tersisa di bibirnya. Sempurna. Sekarang wajahnya terlihat seperti gadis polos yang lugu. Yah, walaupun dia telanjang. Perlahan, kuangkat tubuhnya ke atas, kutaruh dalam gendonganku. Dengan mainanku dalam dekapan, aku keluar dari dapur. Kususuri lorong-lorong manor. Baru satu dua pelayan yang bangun pagi. Dan dia masih tak sadarkan diri. Kuraba pahanya, dan aku tersenyum tipis. Makanan yang kuberikan akhir-akhir ini bekerja. Tubuhnya yang dulu kurus semakin memadat, makin sesuai dengan seleraku. Aku mendorong pintu kamar. Kutaruh badannya di atas kasurku. Kau istirahat disini, untuk hari ini saja. Berhubung dia suka selimut, kututup dirinya dengan selimut tebal. Aku berpaling ke belakang, dan komputerku masih menyala. Di layarnya masih terpampang sisa-sisa pencarian nama. Omong-omong, sebelum pergi ke dapur, satu tokoh menarik mataku tadi. Seorang gadis dari Hamlet, karya Shakespeare. Terdengar klise, tapi sesuai untuknya. Makhluk indah yang malangnya ditelantarkan, tidak dianggap. Ophelia. Kumatikan komputer itu, dan aku berbaring di sisinya. Puas. Aku menoleh, memandang Ophelia lagi. Ia tertidur dengan pulas. Rambut hitamnya teruntai, senyum manis yang belum pernah kulihat terukir di wajahnya yang jelita. Transaksi terbaik yang pernah kulakukan. Ophelia. Mainanku yang indah. Aku memejamkan mata. Ingin kubuang obat itu, tapi aku putuskan untuk menyimpannya. Hanya untuk berjaga-jaga. Aku masih punya banyak rencana untuknya. •❆•❆•❆•❆•❆•❆• To Be Continued.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN