No Voice 7

1175 Kata
Ya Tuhan, David mendesah pelan. Tidak menyangka perlakuannya tadi sangat-sangat kasar dan menakutkan, sangat pantas kalau Alanis menangis. David terus menonton rekaman setelah ia pergi. Kening laki-laki itu mengerut saat melihat ternyata Alanis--- . . . . . . . . . [No voice-7] Ternyata Alanis Duduk dilantai dan menangis. Terlihat jarinya yang membuka lembar demi lembar buku kecil miliknya dan berhenti entah di lembar ke berapa. David dapat melihat pundak wanita itu bergetar, menandakan bahwa tangisan Alanis tidak berhenti. Beberapa menit berlalu dan Alanis masih setia dengan posisinya. David lalu mempercepat rekaman ke 10 detik berikutnya, masih tidak ada perubahan, laki-laki itu terus mempercepat rekamannya secara bertahap namun sampai waktu berlalu beberapa jam Alanis masih saja bertahan di posisinya walau bahunya sudah tidak nampak bergetar lagi. Bahkan apartemen miliknya berubah gelap gulita. David mematikan layar tv di depannya lalu bersandar pada kursinya. Apa ia sangat keterlaluan pada istrinya itu? ........................ Alanis bangun dengan lemas pagi harinya. Tidak berniat untuk cepat-cepat beranjak dari tempat tidur, perempuan hamil itu memilih duduk sambil memeluk kedua lututnya. Pikirannya melayang memutar penyebab ia bangun dengan kondisi mata dan tubuh yang sangat tidak nyaman ini. Pertengkarannya dengan David kemarin sore- tidak. Sangat tidak pantas kalau kejadian kemarin disebut pertengkaran, karena kenyataannya hanya David yang marah-marah padanya. Akan sangat cocok di sebut pertengkaran jika ia juga dapat beradu argumen dengan David walau ia tau itu mustahil. Mustahil? Kata yang akan selalu ada dalam kamus hidupnya. Alanis mendengkus lalu tersenyum. Bukan senyum bahagia namun senyum kemirisan meratapi kisah hidupnya. Mungkin saat ini hanya dua hal yang sangat mustahil dalam hidupnya. Pertama, mustahil ia dapat berbicara. Kedua, mustahil... David dapat berubah mencintai ia apa adanya. Meringis kecil, Alanis mengusap lembut bagian perutnya. Setelah kemurkaan David padanya ia lupa bahwa ia tidak makan malam, padahal sejak tahu bahwa ia hamil sebisa mungkin asupan nutrisi untuk kandungannya tidak pernah kekurangan. Seperti calon ibu pada umumnya. Terkadang hadir rasa tidak percaya bahwa di dalam perutnya kini tumbuh kehidupan baru, namun terkadang ia begitu bahagia dan tidak sabar untuk menanti kelahirannya. Benar-benar kebahagiaan bisa menjadi seorang ibu. ........................................................................ Beberapa hari berlalu, David menimbang keputusannya untuk kembali ke apartemen. Dapatkah ia hidup seperti awal pernikahannya? Apalagi dengan segala permasalahan yang terjadi diantara ia dan Alanis akhir-akhir ini. Atau kah ia harus tegas memilih kelanjutan hubungan mereka, berpisah atau terus bersama? Ia harus secepatnya memutuskan. Setelah membuka pintu apartemen, David masuk seperti biasa. Berusaha untuk tidak menghiraukan kehadiran Alanis yang duduk dengan gelisah di ruang tengah. "David!!" Langkah laki-laki tiga puluh satu tahun itu terhenti begitu mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakang. Dengan ragu ia menoleh dan mendapati seorang wanita menatap marah padanya. "Begitukah sikap mu pada istri yang senantiasa menunggumu bekerja, hah?!" Menggaruk tengkuk David lalu memberikan cengiran pada ibu kandungnya yang tanpa diundang hadir di apartemennya. "Mom? Kau datang untuk mengunjungi kami? Kenapa tidak bilang terlebih dahulu kalau-" "Kalau aku akan datang kemari, begitu? Lalu kau akan sampai lebih dulu ke apartemen ini untuk bersandiwara, bahwa kau suami yang tidak pernah meninggalkan istrinya yang sedang hamil sendirian?" "Mom... kenapa marah-marah begitu. Aku pergi karena ada masalah pekerjaan. Lagi pula Alanis bukan anak kecil yang akan menangis jika ditinggal sendiri buktinya dia bisa mengajak teman laki-lakinya kemari," sindir David melirik pada Alanis yang hanya menunduk. "Teman? Kau memiliki teman, Sayang?" Tanya Kathrine antusias. Alanis mengangguk lalu berbicara menggunakan bahasa isyaratnya, bahwa laki-laki yang dimaksud David adalah teman masa kecilnya. Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di Nottingham. David mendengkus sebal. Lalu berlalu untuk masuk ke kamarnya. Meninggalkan ibu dan istrinya yang masih asik bercerita. ................................................................... "Jadi, kau belum pernah mengantarnya ke dokter kandungan?" David menunduk tanpa menjawab apapun. Keterdiaman sang anak membuat Kathrine menghela nafas berat. Sungguh ia kecewa pada anak laki-lakinya yang begitu cuek terhadap istrinya. "David, kau tahu?" David akhirnya mengangkat kepalanya untuk bertatapan dengan sang ibu. "Masa kehamilan adalah masa dimana kesulitan dan kebahagiaan menjadi satu untuk seorang wanita. Dan sebagai seorang suami, peranmu sangat penting untuk berada disisi Alanis. Ia tentu sangat membutuhkan perhatianmu, apalagi dengan kekurangannya yang tidak dapat berbicara seperti kita." "Mom tau sampai saat ini kau masih belum bisa bahasa isyarat. Apa kau tidak mau berusaha untuk belajar? Setidaknya agar Alanis tidak harus selalu menulis perkataannya lewat buku." "Maaf Mom, aku kesulitan jika harus belajar bahasa isyarat seperti itu." Kathrine menghela nafas pelan. "Mom, apa anakku nanti akan lahir... mmh... seperti ibunya?" "Maksudmu?" Kathrine kurang paham akan pertanyaan anaknya. "Apa anak yang lahir dari seorang perempuan cacat akan-" "David! Jaga ucapanmu! Bagaimana bisa kau menyebut kondisi Alanis sebegitu rendahnya." Kathrine mngeram marah pada anak sematawayangnya. "Tidak ada seorang pun yang ingin lahir dengan keadaan berbeda. Semua itu sudah diatur oleh Tuhan. Tidak sepantasnya kita membeda-bedakan atau merendahkan kondisi Alanis." "Mom tidak mau tahu. Besok kau harus mengantar Alanis untuk mengecek kandungannya." Kathrine lalu berlalu dari hadapan putranya. Tanpa mereka sadari, Alanis mendengar semua percakapan mereka, meskipun ibu mertua dan suaminya telah mencoba memelankan suara mereka. ........................................................................ Malam cukup larut saat David masuk ke kamarnya. Perasaan canggung langsung menyelimuti begitu matanya bertemu pandang dengan Alanis yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur mereka. Dilihat dari bahasa tubuhnya, wanita itu kelihatan sama canggungnya dengan David dan memilih fokus pada buku yang sedang ia baca. Tidak mau terlalu perduli, David memilih masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih sedikit dan berganti pakaian dengan kaos tipis yang menjadi pakaian wajib ketika ia ingin tidur. Saat keluar dari kamar mandi, mata David tak sengaja melihat kamera pengintai yang ia pasang di kamar ini untuk memata-matai Alanis masih terpasang di tempat yang aman. Sepertinya Alanis masih tidak sadar karena kamera yang ia pasang pun ukurannya sangat kecil. Melihat laki-laki yang masih berstatus suaminya itu berdiri di depan kamar pintu kamar mandi mereka, Alanis mencoba peruntungan dengan menulis sebuah pertanyaan pada buku kecilnya. "Apa Mom tidak apa-apa kita biarkan tidur di sofa?" Malam ini entah kenapa Kathrine memaksa untuk menginap di apartemen mereka meskipun ia tahu bahwa hanya ada satu kamar tidur yang bisa ditempati. David sebenarnya telah menawarkan diri untuk menggantikan ibunya tidur di sofa ruang kerjanya dan membiarkan sang ibu tidur bersama Alanis namun Kathrine menolak keras. Takut ibunya kembali marah akhirnya David hanya bisa membiarkan. "Tidak perlu khawatir. Mom sudah bilang kalau sofa di ruang kerja cukup besar untuk tempatnya tidur." David lalu duduk di samping Alanis. Jawaban David mendapat anggukan dari Alanis. "Mau kemana?" Cegah David saat Alanis akan beranjak pergi. Ia menahan lengan istrinya. Alanis lalu menyentuh baju yang ia kenakan dan menunjuk pintu kamar mandi setelahnya. "Kau ingin mengganti pakaianmu?" Untuk kesekian kalinya Alanis mengangguk. "Kenapa harus di kamar mandi? Kenapa tidak mengganti pakaian di sini saja?" Pipi Alanis merona begitu menyadari maksud perkataan David yang masih belum menyadari perkataannya sendiri, beberapa detik berlalu hingga David melepaskan lengan Alanis lalu beranjak pergi ke bagian kasur yang biasa ia tempati saat tidur. Dalam hati ia tak berhenti mengutuk mulutnya yang sama sekali tidak bisa terkontrol. Inilah yang membuatnya tak siap untuk tidur satu kamar lagi dengan Alanis. Setidaknya, dalam waktu dekat. Tbc~ Terimakasih untuk vote dan komennya^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN