No Voice 2

1248 Kata
"Oh Alanis sayang, bagaimana kabarmu?" Alanis tersenyum mendapat sambutan antusias saat datang ke rumah Kathrine dan Daniel. Pagi tadi ibu mertuanya mengirimkan pesan untuk datang ke rumah keluarga Matthew. Ibu dan ayah mertuanya memang selalu memperlakukan Alanis dengan baik dan penuh kasih sayang, seakan-akan Alanis adalah putri kandung mereka sendiri. Alanis menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya dengan bahasa isyarat. Membuat Kathrine tersenyum dan memeluk menantunya sayang. Tidak seperti David, kedua orangtuanya mau belajar menggunakan bahasa isyarat sejak Alanis menikah dengan David. "Hari ini Mom ingin membuat kue untuk acara nanti malam. Apa kau mau membantuku, Nak?" Alanis sedikit mengernyit dan menggerakkan tangannya seolah menanyakan acara apa yang akan diadakan nanti malam. "Apa David tidak memberi tahu mu? Hari ini adalah ulang tahun pernikahan Mom dan Daddy." Alanis menggeleng kaku. Pagi tadi David berangkat ke kantor dengan terburu-buru bahkan sarapan yang ia buat tidak David habiskan. Semalam pun suaminya pulang ketika ia sudah terlelap. "Mungkin David hanya lupa." Hibur Kathrine begitu melihat raut sedih menantunya. Alanis mengepalkan tangan kanan di depan d**a lalu membuat gerakan memutar satu kali, "ma-a," ujarnya. Ia meminta maaf karena sama sekali tidak mengetahui hari penting untuk mertuanya. Kathrine tersenyum memaklumi lalu mengajak menantunya untuk ke dapur. Tahun ini pertama kalinya Kathrine merayakan hari ulang tahun pernikahannya dengan tambahan anggota baru, jika tahun kemarin ia masih merayakan hanya dengan suami serta anaknya, kini ada Alanis yang ikut merayakan. Sungguh ia tak sabar untuk menunggu malam. "Apa kau lelah?" Kathrine bertanya saat melihat raut wajah Alanis yang lebih pucat dari biasanya. Seluruh pelayan yang biasanya bertugas memasak di dapur memang telah ia liburkan, mengingat di hari spesial ini ia ingin khusus memasak makanannya sendiri. Alanis menggeleng seraya tersenyum. Ia tidak merasa lelah sama sekali, hanya saja ia merasa sedikit gusar mengingat ia tidak memiliki hadiah apapun untuk diberikan pada kedua mertuanya nanti malam. "Sayang, ada apa?" Tanya Kathrine lembut. Alanis jelas menyembunyikan sesuatu. Menghela nafas pelan Alanis lalu mengutarakan kegusarannya, dan membuat ibu mertuanya tertawa. "Alanis dengarkan Mom, kau tidak perlu memberikan apapun untuk Mom dan Dad. Di keluarga kami hadiah bukanlah yang utama. Asal semuanya bisa berkumpul bersama itu sudah cukup bagi kami." Alanis tersentuh mendengar ketulusan dari kata-kata mertuanya. Kathrine lalu memeluk menantunya sayang. Mengelus rambut pirang Alanis dengan lembut. Sebelum malam menjelang, semua makanan yang Alanis dan Kathrine buat telah selesai. Kini Alanis sedang bersiap-siap di kamar David. Dulu setelah ia menikah dengan David, ia pernah tidur di kamar ini untuk beberapa malam sebelum David membawanya ke apartemen milik laki-laki itu yang letaknya lebih dekat dari kantornya. Alanis kembali mematut dirinya di depan cermin dengan gaun berwarna merah maroon pemberian ibu David. Sesekali ia memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia belum memoles wajahnya sedikitpun, hingga ia bisa melihat betapa pucat dirinya pada pantulan cermin. Tidak sadar bagaimana mulanya, yang Alanis rasa tubuhnya menyentuh lantai cukup keras lalu semua berubah gelap. ------------------------------------------------------ David mengatur nafasnya yang terengah. Bagitupun wanita di depannya. Cecilie tiba-tiba saja menciumnya dengan menggebu saat keduanya sedang membahas kelanjutan bisnis antara perusahaan David dan ayah Cecilie di kantor David. Awalnya mereka membicarakan urusan bisnis di sofa yang memang tersedia di dalam ruangan David, hingga tiba-tiba Cecilie mencium David dan diterima begitu saja oleh lelaki tiga puluh satu tahun itu. Mereka hendak melanjutkannya jika saja ponsel David tidak berdering. Membiarkan Cecilie menyandarkan kepala didadanya, putra tunggal keluarga Matthew mengangkat panggilan tersebut. "David! Kemana saja kau? Apa kau tak membaca pesan dari Mom, hah?" "Aku terlalu sibuk untuk membuka kotak masuk di ponsel Mom. Kenapa tidak langsung menelepon saja. Mom tau aku tidak bisu untuk sekedar mengeluarkan suara di telepon." "Ah, Mom tidak perduli. Sekarang cepat kau pulang ke rumah. Alanis tiba-tiba pingsan dan sampai sekarang belum sadarkan diri." Panggilan dititup secara sepihak oleh ibunya. Alanis? Untuk apa perempuan itu berada di rumahnya? "Telepon dari siapa?" Tanya Cecilie pelan. Tiba-tiba David mengumpat membuat wanita yang masih bersandar di dadanya terkejut. "Ada apa?" David menggeleng lalu buru-buru berdiri dari duduknya. "Aku harus pulang Cecil. Aku lupa kalau hari ini aku memiliki acara penting." David lalu bergegas melangkah keluar dari ruangannya meninggalkan Cecil yang mendengus sebal. ------------------------------------------------------ David memacu mobilnya secepat yang ia bisa. Sial sekali, ia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan orangtuanya. Ditambah lagi Alanis telah lebih dulu berada di rumahnya, padahal ia yakin sekali tidak pernah memberi tahu wanita itu sejak awal mereka menikah. Sesampainya di rumah, David langsung menuju ke lantai dua tempat kamarnya berada. Disana ia melihat Alanis yang tertidur di ranjang dengan wajah pucat serta kedua orangtuanya yang duduk di samping alanis dengan wajah yang... bahagia? "Apa yang terjadi Mom?" "Aaww!" David mengaduh begitu lengannya dicubit. "Anak nakal! Apa kau melupakan hari penting ini?" Kathrine kesal dengan anaknya yang baru sampai dirumah pukul setengah delapan malam. "Sayang, sudah. Kau akan mengganggu Alanis." Daniel mencoba melerai. "Ada apa dengan Alanis?" David bertanya pada kedua orangtuanya. Tibi-tiba senyum bahagia muncul dari wajah ibu dan ayahnya. "Selamat David. Kau akan menjadi Ayah." Kini Kathrine telah memeluk putra tunggalnya erat. "A-yah?" ulang David terbata. "iya, tadi Dokter Maria datang dan memeriksa Alanis. Dokter Maria bilang, kemungkinan besar Alanis hamil." Ujar Daniel semangat. "Tapi Mom membuat Alanis terlalu sibuk di dapur hingga ia kelelahan dan pingsan. Maafkan Mom David." Sesal Kathrine, "tapi tenang saja, ia tadi sudah sadar dan saat ini tertidur karena kepalanya masih pusing." David sendiri hanya bisa mematung. Ia sungguh tak siap dengan berita yang baru ia dengar ini. Suara ringisan Alanis membuat mereka semua buru-buru mendekati Alanis. "Sayang... kau sudah bangun?" Kathrine sudah duduk di samping kanan Alanis sedangkan Daniel dan David berdiri dibelakangnya. Kathrine lalu memeluk Alanis sambil mengucapkan terimakasih berulang-ulang pada menantunya. Setelah pelukannya terlepas, Alanis hanya bisa tersenyum lemah. "Kau memberikan hadiah paling istimewa untuk ulang tahun pernikahan Mom dan Dad." Alanis, Kathrine dan Daniel semua bersuka cita atas berita kehamilan Alanis. Masih dengan senyum yang sama mata Alanis bertubrukan dengan tatapan David. Tidak ada senyuman disana. Yang terlihat hanya tatapan datar bahkan terkesan dingin. ------------------------------------------------------ Perjalanan pulang Alanis dan David hanya diisi keheningan. Sesekali terdengar helaan nafas berat David. Sesampainya di apartemen mereka David langsung mengeluarkan apa yang sejak tadi ingin ia katakan. "Bagaimana bisa kau hamil?" Alanis sudah sempat mengira pertanyaan inilah yang akan David tanyakan padanya. Alanis menggeleng sebagai jawaban. Ia memang tidak sempat menanyakan pada dokter yang memeriksanya tadi. Sejak awal menikah, Alanis dan David telah merencanakan untuk tidak memiliki anak di tahun pertama pernikahan mereka, oleh karena itu selama tujuh bulan pernikahan, David selalu menggunakan pengaman saat mereka berhubungan. "Kau ingatkan apa yang kita sepakati di awal menikah?" Alanis mengangguk sebagai jawaban. Dikeluarkannya buku kecil yang selalu menjadi alat komunikasi dengan David. "Maaf. Aku juga tidak tahu kenapa aku tetap bisa hamil." "Apa kau ingin menjebakku?" "Menjebak apa?David, aku sungguh tidak tahu kalau aku akan hamil." "Kau jelas-jelas menjebakku dengan merencanakan kehamilan ini kan? Kau berencana membuat aku terjebak dalam pernikahan selamanya bersamamu." Alanis terdiam kaku saat menyadari arti perkataan David. Sebelum sempat ia menulis di buku kecilnya, David mendengus lalu masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras hingga membuat Alanis berjingkat kaget. Sadar bahwa David marah, Alanis lalu memilih duduk di sofa ruang tamu mereka. Ia tau David marah padanya, namun apa tidak bisa David menerima kehamilannya ini? Anak mereka terlanjur berkembang di rahimnya tanpa mereka rencanakan sebelumnya. Dan sebagai seorang calon ibu Alanis tidak memungkiri bahwa dihatinya muncul perasaan bahagia. Meskipun sekarang ia sadar dengan pasti, pernikahannya tidak akan bertahan lama. Tbc~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN